Beranda blog Halaman 719

Kabar Baik Liverpool, Klopp Beberkan Kondisi Van Dijk

Manajer Liverpool, Juergen Klopp ungkap kondisi terkini duo bek andalan The Reds yang dibekap cedera, Virgil van Dijk dan Joe Gomez. Sejak alami cedera parah tahun lalu, kondisi kedua bek andalan Liverpool itu dikabarkan semakin membaik dan kerap memamerkan momen latihan mandiri. Dalam konferensi pers jelang duel melawan Leeds United, Klopp membeberkan bagaimana progres dari pemulihan cedera anak asuhnya itu. Pelatih asal Jerman ini mengaku kedua pemainnya berada di jalur penyembuhan yang tepat meskipun masih membutuhkan waktu cukup lama.

Liverpool Disarankan Untuk Melepas Roberto Firmino

Legenda Liverpool John Aldridge mengatakan sudah waktunya Roberto Firmino dijual. John berpandangan Jurgen Klopp keliru saat memasang Firmino sebagai starter pada laga leg kedua perempat final Liga Champions melawan Real Madrid pekan lalu. Ia menilai Firmino tak seharusnya tampil pada laga sepenting tersebut. Ditambahkan, performa Firmino mulai menurun sehingga Liverpool harus mulai mempertimbangkan untuk menjualnya dan lebih mengandalkan striker anyar Diogo Jota.

Pogba Yakin Greenwood Bisa Jadi Pemain Kelas Dunia Kelak

Meski masih sangat muda, Mason Greenwood sudah menunjukkan potensi yang menjanjikan sebagai calon andalan Manchester United di masa mendatang. Paul Pogba bahkan menilai Greenwood merupakan pemain yang punya peluang besar untuk menjadi pemain kelas dunia. Pogba berpendapat, Greenwood harus lebih giat daripada pemain lain, percaya diri dan memiliki keinginan kuat. Itu bisa merupakan syarat khusus agar menjadi seorang pemain yang hebat di dunia.

Mino Raiola Beberkan Gaji Pogba, Minta Untung Banyak

Gelandang Manchester United, Paul Pogba dikabarkan meminta kenaikan gaji luar biasa untuk kembali menandatangani kontrak dengan tim Setan Merah. AS melaporkan, Pogba, lewat agennya, menuntut gaji 500.000 pounds per minggu untuk menandatangani kontrak baru di MU. Agen pemain asal Prancis itu, Mino Raiola telah memberitahu MU bahwa jumlah itulah yang diperlukan untuk membujuknya memperpanjang masa tinggalnya setelah Juni 2022. Beberapa klub peminat Pogba juga telah diberi tahu terkait besaran gaji sang gelandang. Raiola juga menuntut biaya tambahan untuk Pogba dari hak komersial. Total, jika dijumlah dengan gaji, Raiola minta 800 ribu pound atau Rp 16 miliar seminggu untuk Pogba.

Gary Neville Kecam Proposal Liga Super Eropa

Legenda Manchester United dan Inggris Gary Neville menentang ide pengguliran Liga Super Eropa, bahkan ia mengkritik klub-klub yang telah mendaftar untuk kompetisi baru itu. Neville menyatakan bahwa pihak-pihak yang telah menandatangani proposal tersebut harus dihukum dengan pengurangan poin. Reaksi Neville itu muncul setelah otoritas seperti Liga Primer Inggris dan UEFA mengutuk komplotan rahasia yang berusaha menggulirkan Liga Super Eropa. Neville pun melihat Liga Super Eropa sebagai bentuk keserakahan klub-klub papan atas Eropa.

Pemain Paling Diremehkan Dalam Sejarah Liga Primer Inggris

Dalam sebuah kompetisi, selalu ada saja pemain yang kerap tampil memukau. Namun begitu, tidak sedikit dari mereka yang tidak mendapat perhatian lebih. Artinya, meski terus kesankan para penggemar, pemain tersebut jarang mendapat sorotan dan cenderung diremehkan. Padahal, sekali lagi, bila melihat kontribusinya bagi tim, seringkali ada pemain tersebut dalam daftar paling berpengaruh.

Pada kesempatan kali ini, kami akan menyajikan daftar pemain paling diremehkan di kompetisi Liga Primer Inggris.

 

Steed Malbranque (Fulham)

Semua pecinta Liga Primer Inggris tentu ingat dengan nama Steed Malbranque. Steed Malbranque begitu diingat ketika masih membela Fulham. Dalam total 172 penampilan yang dijalani, dia berhasil melesakkan sebanyak 32 gol.

Steed Malbranque dibeli Fulham dari Lyon sebagai salah satu gelandang paling kreatif yang pernah ada. Lebih dari itu, dia bahkan pernah menjadi pencetak gol terbanyak klub pada musim 2002/03, saat Fulham masih terus berjuang untuk keluar dari zona degradasi.

Steed Malbranque, selama karirnya di Fulham, dianggap sebagai salah satu pemain paling berpengaruh bagi tim. Meski tak selalu ciptakan momen spektakuler, aksinya di lapangan seringkali mengundang decak kagum. Dia adalah pemain yang selalu memberikan 110% kemampuannya untuk klub yang dibela.

 

Youri Djorkaeff (Bolton)

Youri Djorkaeff merupakan salah satu pemain terbaik yang dimiliki timnas Prancis. Sebelum datang ke Liga Primer Inggris untuk membela Bolton, Youri Djorkaeff lebih dulu tampil bersama banyak klub, termasuk Paris Saint Germain dan juga Inter Milan.

Pada saat bergabung dengan Bolton di kompetisi Liga Primer Inggris, Youri Djorkaeff tampil luar biasa bersama dengan nama-nama hebat seperti Ivan Campo dan Jay-Jay Okocha, yang berada dibawah asuhan pelatih Sam Allardyce.

Sebagai pemegang gelar Piala Dunia bersama Prancis, Youri Djorkaeff punya segalanya untuk bisa menjadi pemain andalan. Benar saja, dia menjadi salah satu pemain yang ditakuti lawan ketika berada di atas lapangan. Dia punya keterampilan berkelas dan kemampuan tak tertandingi, untuk bisa mencetak sebanyak 20 gol dari 75 pertandingan yang dijalani.

 

Diego Forlan (Manchester United)

Masa Diego Forlan di Manchester United memang banyak diremehkan orang. Padahal, meski hanya dua tahun membela Setan Merah, dia berhasil persembahkan gelar Liga Primer Inggris dan juga Piala FA. Forlan menjadi salah satu pemain yang cukup diandalkan MU, yang didatangkan dari Independiente pada 2002 silam. Namun memang ada beberapa hal yang membuatnya sedikit lambat berkembang hingga sang pemain memutuskan hijrah ke Villarreal pada tahun 2004.

Forlan yang mampu mencetak 17 gol dari 98 pertandingan bersama MU banyak dipandang remeh. Namun begitu dia pernah menjadi pahlawan MU di laga krusial. Salah satu momen terbaiknya bersama MU, yang pastinya tidak akan dilupakan penggemar adalah ketika dia berhasil mencetak dua gol ke gawang Liverpool, untuk memberikan kemenangan 2-1 bagi MU pada Desember 2002 silam.

 

Paolo Di Canio (West Ham)

Paolo Di Canio, pria Italia yang punya cerita istimewa di tanah Britania. Di Canio sudah banyak sekali membela klub Italia, dimana salah satu karirnya pernah terukir bersama West Ham. Meski bukan tim dari negara asalnya, Di Canio berhasil keluar sebagai seorang legenda. Namun sayang, namanya tak terlalu didengungkan.

Dia datang ke West Ham pada tahun 1999 dan langsung menjadi pemain penting bagi The Hammers. Di Canio bisa bermain di berbagai posisi sekaligus mampu menciptakan deretan gol yang tak terlupakan oleh para penggemar. Salah satu gol terbaiknya adalah sepakan voli nya ke gawang Wimbledon.

Selama tampil di Inggris, dia dikenal sebagai pemain yang tangguh. Dengan segala performa terbaiknya di klub tersebut, Di Canio bahkan berhasil menyabet gelar pemain terbaik West Ham menurut para suporter pada tahun 2000 silam.

 

Tugay (Blackburn)

Tugay Kerimoglu, seluruh penggemar Liga Inggris di era 2000 an tentu masih ingat betapa heroiknya aksi pemain ini di tengah lapangan Blackburn Rovers.

Tugay pindah ke Blackburn dari Rangers pada tahun 2001 dengan biaya senilai 1,3 juta euro atau setara 22 miliar rupiah. Dia sudah berusia 31 tahun saat itu namun masih memiliki kualitas terbaik sebagai seorang gelandang. Pengalamannya bersama klub Turki, Galatasaray, juga tidak bisa diremehkan. Dia berhasil meraih enam gelar liga dan piala domestik lainnya.

Saat datang ke Blackburn, Tugay menjadi idola di lini tengah tim. Dia banyak membantu tim dalam hal serangan maupun pertahanan. Pada tahun 200 atas aksi luar biasanya di lapangan, termasuk mencetak gol-gol indah, Tugay berhasil menyabet penghargaan sebagai pemain terbaik klub.

Dia mencetak gol terakhirnya pada usia 38 tahun dan menjadi salah satu pencetak gol tertua di Liga Primer Inggris, sebelum putuskan pensiun pada tahun 2009.

 

Matt Le Tissier (Southampton)

Tak banyak yang memandang Matt Le Tissier sebagai seorang pemain hebat. Padahal, aksinya di lapangan sering mengundang decak kagum. Dia tak jarang mencetak gol indah dan menampilkan aksi-aksi memukau di atas lapangan. Salah satu spesialisasinya adalah menjadi algojo penalti. Sepanjang karir, dari sebanyak 50 kesempatan tendangan penalti yang didapat, pemain berjuluk ‘Le God’ ini hanya gagal sebanyak satu kali saja.

Matt Le Tissier menghabiskan kebanyakan karirnya bersama Southampton. Selama 16 tahun karirnya bersama tim tersebut, dia berhasil mengemas 209 gol dari total 540 pertandingan. Dia benar-benar mencintai klub tersebut dan kerap menolak tawaran dari klub besar. Mungkin karena tidak pernah bermain untuk tim ternama itulah, sosoknya jarang diketahui publik.

 

Mario Balotelli (Manchester City)

Nama Mario Balotelli memang lebih lekat dengan berbagai hal kontroversi ketimbang rentetan prestasi. Akan tetapi jangan salah, musimnya bersama Manchester City layak membuat sang pemain mendapat pujian.

Balotelli merupakan pemain yang turut andil dalam memberikan gelar Liga Primer Inggris pertama bagi Manchester City. Dia bahkan tak jarang membantu tim dalam pertandingan lewat gol-gol ciamiknya.

Namun tetap saja, Balotelli lebih sering dipandang sebagai bocah yang tak serius, ketimbang pemain yang selalu tampil mengagumkan. Maka dari itu, sebagai bentuk protes darinya yang terus dikritik, pemain asal italia ini pernah melakukan selebrasi dengan memperlihatkan kalimat bernada “Why Always Me?”.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=2kTJdY5kbIE[/embedyt]

 

Sumber referensi: FourFourTwo, Punditfeed

Bagaimana Klub Sepak Bola Menghasilkan Uang?

0

Seperti sebuah perusahaan yang harus memperhatikan roda keuangan, klub sepakbola pun begitu. Klub harus bisa mengatur agar pengeluaran tak lebih besar dari pemasukan, bahkan sebisa mungkin harus mendapatkan keuntungan.

Karena tak dapat dipungkiri, dibutuhkan banyak modal untuk menjalankan manajemen klub. Dimana klub harus mengeluarkan uang untuk membayar gaji pemain dan staf manajemen, biaya transfer pemain, perbaikan stadion dan tempat latihan, dana fasilitas medis, biaya promosi klub dan macam-macam yang nominalnya tidak kecil.

Untuk memenuhi semua itu, klub harus memiliki aliran pendapatan yang sangat besar. Lalu, bagaimana klub sepakbola menghasilkan uang? Apakah hanya dari sponsor?

Untuk itu, kali ini Starting Eleven akan membahas daftar sumber pendapatan klub sepakbola yang ternyata tidak hanya dari sponsor!

 

Pendapatan dari Pertandingan (Matchday Revenue/Gate Receipt)

Hari pertandingan adalah saat yang menyenangkan bagi banyak orang. Dari sisi penggemar, mereka senang karena bisa melihat kesebelasan andalannya bermain. Dari sisi pemain, hari pertandingan bisa jadi ajang untuk pembuktian. Sedangkan, dari sisi klub, hari pertandingan itu artinya sama dengan hari bertambahnya pendapatan klub.

Di Indonesia hal itu lebih dikenal dengan istilah pendapatan dari penjualan tiket pertandingan. Untuk jenis tiketnya dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu tiket yang dijual di hari H dan tiket terusan atau musiman yang dijual sejak awal musim.

Pendapatan dari sektor ini biasanya akan semakin tinggi saat tim yang bermain adalah tim-tim besar.

Selain dari penjualan tiket, klub juga bisa mendapat tambahan pemasukan dari hasil menyewakan stadion ke pihak lain dan kafe atau restoran milik klub yang ada di area sekitar stadion.

100% pendapatan dari stadion bisa masuk ke manajemen klub apabila stadion itu adalah milik sendiri, namun jika bukan, maka klub harus membayar biaya perawatan, sewa dan lainnya pada pihak pengelola stadion.

 

Hak Siar Televisi

Sumber pendapatan klub lainnya berasal dari hak siar televisi. Baik hak siar pertandingan domestik (liga, cup) maupun kompetisi internasional (Liga Champions, Liga Eropa, dan lainnya).

Dengan kata lain, jika kompetisi yang diikuti klub semakin banyak maka pemasukan dari hak siar akan semakin besar. Bahkan, untuk klub yang memiliki banyak prestasi, pendapatan dari sektor ini juga akan semakin tinggi.

Sejauh ini, nominal pendapatan hak siar terbesar masih dipegang oleh klub-klub Liga Inggris. Dengan rata-rata keuntungan sebesar 123 juta pounds atau setara dengan Rp 2,13 triliun.

Pemasukan itu dua kali lebih besar dari liga-liga top Eropa lain seperti La Liga 56 juta pounds atau Rp 971 miliar, Serie A 52 juta pounds atau Rp 902 miliar, Bundesliga 52 juta pounds atau Rp 902 miliar dan jauh diatas Ligue 1 yang ‘hanya’ menerima 27 juta pounds atau Rp 468 miliar.

Premier League memang masih jadi liga paling diminati dan diperebutkan hak siarnya. Yang akhirnya membuat harga hak siarnya semakin naik dari tahun ke tahun.

Salah satu penyebab yang menjadikan harga hak siar Liga Inggris sangat mahal yaitu karena target pasar Liga Inggris adalah Asia. Bisa dilihat dari jam tayangnya yang mengikuti jam tayang prime time Indonesia.

Contohnya bisa kita lihat dari pertandingan MU kontra Arsenal yang ditayangkan pada pukul 18.00. Di Inggris, pertandingan tersebut digelar pada pukul 12.00 siang, itu bukanlah waktu ideal untuk orang-orang Inggris menonton bola di TV.

Namun, pertandingan tersebut masuk ke jam tayang prime time Indonesia. Mengutip dari neliti.com, prime time Indonesia dimulai dari pukul 18.00-23.00. Jadi, bukan hal aneh jika ada banyak stasiun TV rebutan hak siar Liga Inggris.

Lalu, bagaimana uang hak siar didistribusikan?

50% pendapatan dari siaran akan dibagi rata pada 20 klub. Lalu, 25%-nya akan dibayarkan dalam bentuk ‘Merit payment’ (prize money berdasarkan posisi di klasemen akhir musim).  25% sisanya akan digunakan untuk biaya fasilitas setiap pertandingan klub yang disiarkan di Inggris. Kemudian, untuk pendapatan siaran Internasional dan pendapatan komersial pusat akan dibagi rata pada 20 klub.

 

Pendapatan Komersial

Sponsor, penjualan merchandise (jersey, aksesori, dll), tur pramusim, coaching clinic, penjualan hak penamaan stadion dan membuka akademi sepak bola adalah deretan sumber pendapatan lainnya yang cukup besar bagi klub.

Namun, dari semua sumber pemasukan komersial tadi, pendapatan dari sponsor adalah yang paling besar. Biasanya, sponsor yang paling banyak mendatangkan uang bagi klub, namanya terpampang di jersey bagian depan.

Selain sponsor, pendapatan terbesar kedua dari sektor komersial adalah dari penjualan Merchandise, seperti kostum klub, syal, topi, dan pernak-pernik lainnya. Pendapatan klub dari penjualan merchandise bisa mengalami peningkatan yang cukup signifikan ketika mereka berhasil mendatangkan pemain bintang. Karena mayoritas para penggemar mereka akan langsung berburu jersey atau pernak-pernik lainnya tentang pemain bintang tersebut.

Dengan kata lain, sektor ini bisa jadi ladang uang terbesar untuk klub yang punya banyak pendukung.

Seperti saat Juventus menjual kostum Cristiano Ronaldo pada musim panas tahun 2018 silam. Sejak direkrut dari Real Madrid, Juventus telah berhasil menjual jersey dengan nomor punggung 7 tersebut dengan total penjualan 60 juta dolar atau sekitar Rp 849 miliar hanya dalam kurun waktu 24 jam sejak Ronaldo tiba di Turin.

 

Hadiah Uang

Sumber pendapatan klub lainnya adalah prize money atau hadiah uang dari kompetisi.

Sudah bukan rahasia lagi jika mengikuti kompetisi bisa berdampak positif pada keuangan klub. Biasanya, penyelenggara kompetisi akan menyediakan hadiah uang atau prize money bagi tim yang menang atau imbang. Ada pula yang menyediakan uang tampil, di luar kemenangan atau hasil imbang, UEFA memberlakukannya di Liga Champions dan Liga Europa.

Jadi ketika tampil di dua ajang itu, setiap klub minimal menerima uang tampil per pertandingan. Jika menang atau imbang, klub akan mendapat tambahan hadiah uang. Liga Champions sendiri memberi hadiah uang 15 juta euro atau Rp 261 miliar, sedangkan runner-up menerima 10,5 juta euro atau Rp 182 miliar.

Sementara hadiah uang untuk fase grup Liga Champions adalah 12 juta euro atau Rp 209 miliar. Adapun liga-liga domestik juga menyediakan hadiah uang. Secara umum, nilai uang berdasarkan posisi klub di klasemen akhir. Jadi makin tinggi posisi sebuah klub, makin besar pula hadiah uangnya, dan sebaliknya.

 

Transfer Pemain

Sektor ini tak selalu memberi keuntungan bagi klub sepakbola. Karena, klub bisa saja membeli pemain dengan harga tinggi, namun saat dijual kembali, harganya malah dibawah harga beli alias rugi.

Meski begitu, klub juga bisa mendapat keuntungan yang sangat besar dari penjualan pemain jika mampu menjualnya dengan harga lebih tinggi dari harga beli.

Seperti yang terjadi pada tahun 2010, ketika Raheem Sterling diboyong Liverpool dari QPR, The Reds mengeluarkan biaya 490 ribu pounds atau setara dengan Rp 9,4 miliar. Namun pada tahun 2015, Liverpool menjual Sterling ke Manchester City dengan mahar 43,8 juta pounds atau setara Rp 842 miliar.

Itulah sumber-sumber pendapatan klub sepakbola. Ternyata tak hanya disibukkan dengan berbagai macam pertandingan, setiap klub juga harus bisa bekerja keras agar klub mereka bisa tetap mendapat asupan pendapatan agar kehidupan klub mereka bisa terus berjalan.

 

Bahaya Dibalik Sponsor Judi di Jersey Klub Sepak Bola

0

Pada awalnya, jersey hanya difungsikan sebatas sebagai pembeda untuk membedakan tim yang sedang bertanding di lapangan. Lalu, klub mulai berinovasi dengan jersey mereka. Beragam desain, corak, dan warna menjadikan jersey bertransformasi menjadi sebuah identitas klub.

Seiring perkembangan zaman, industri mulai masuk ke ranah sepak bola. Dimulai pada akhir 70an, klub-klub Liga Inggris seperti Liverpool dan Arsenal mulai memasang nama/logo perusahaan yang jadi sponsor mereka. Di waktu yang bersamaan, klub Italia, Udinese juga jadi pelopor dengan memasang nama sponsor mereka di jersey yang mereka pakai. Tujuan dari hal tersebut jelas, yakni demi mendapat pemasukan tambahan.

Sejak saat itu, beragam nama, logo, dan merk ternama mulai tertampang di bagian jersey klub sepak bola. Mulai dari perusahaan rokok, produsen otomotif, perusahaan elektronik elektronik, maskapai penerbangan, merk makanan dan minuman, hingga sedekade terakhir ini, perusahaan judi juga nampak jadi sponsor klub-klub sepak bola Eropa.

Namun sepertinya, era sponsor judi di jersey klub sepak bola sepertinya akan segera berakhir. Hal tersebut tak lepas dari rencana dua liga top Eropa, yakni Liga Primer Inggris dan La Liga Spanyol yang berencana melarang nama/logo perusahaan judi terpampang di bagian jersey klub.

Dikutip dari football espana, pemerintah Spanyol telah mengirim surat resmi ke semua klub soal pelarangan sponsor judi di La Liga mulai akhir musim ini. Direncanakan sejak Juli tahun lalu, pada awalnya klub diberi tenggak waktu selama 3 tahun untuk melepas atribut judi di jersey mereka. Namun, aturan tersebut direvisi dan secara resmi akan berlaku mulai musim depan.

Tak hanya dilarang beriklan di bagian jersey saja, pemerintah Spanyol juga melarang nama, logo, atau merk situs judi terpampang di papan iklan berjalan di dalam stadion. Perusahaan judi juga tak lagi diizinkan untuk mensponsori nama stadion klub-klub La Liga.

Aturan tersebut tidak keluar atas dasar sentimen tertentu. Dasar otoritas liga melarang sponsor judi tak lepas dari direvisinya aturan periklanan judi yang dibatasi di Spanyol. Dibalik itu, ada alasan moral dan dampak negatif yang ditimbulkan dari maraknya iklan judi yang jadi bahan pertimbangan pemerintah Spanyol.

Senada dengan otoritas La Liga, Liga Primer Inggris juga akan segera memberlakukan aturan pelarangan yang sama. Hal tersebut menyusul revisi aturan undang-undang perjudian yang baru dikeluarkan pemerintah Inggris.

Pada Juli tahun lalu, House of Lords atau Majelis Tinggi Britania Raya menerbitkan laporan berjudul ‘Gambling Harm-Time for Action’. Pada intinya, laporan setebal 192 halaman itu berisi himbauan dan larangan perusahaan judi jadi sponsor klub sepak bola Inggris. House of Lords merekomendasikan agar perusahaan judi tidak lagi diizinkan untuk beriklan di jersey klub atau bagian lain dari perlengkapan klub mulai tahun 2023.

Bila Inggris dan Spanyol jadi menerapkan aturan pelarangan sponsor judi tersebut, maka mereka akan mengikuti jejak Liga Super Turki dan Serie A Italia. Sudah sejak musim lalu, Serie A melarang klub pesertanya menampilkan sponsor judi di jersey mereka.

 

Lalu, siapa saja pihak-pihak yang terdampak aturan tersebut?

Di La Liga musim ini, 35% klub peserta masih disponsori perusahaan judi. Sebanyak 7 dari 20 peserta La Liga sponsor utamanya masih rumah-rumah judi. Mereka adalah Alaves, Cadiz, Granada, Levante, Real Betis, Sevilla, dan Valencia.

Sementara itu, situasi di Liga Inggris lebih parah. Musim lalu saja, 61% klub besar di Liga Inggris disponsori oleh perusahaan judi. Rinciannya, 27 dari 44 klub teratas di Inggris menaruh nama rumah judi di jersey mereka.

Di musim ini, jumlah klub Premier League yang disponsori perusahaan judi telah berkurang. Namun, masih ada 8 klub yang memasang sponsor judi di bagian depan jersey mereka. Kedelapan klub tersebut adalah, Burnley, Crystal Palace, Fulham, Leeds United, Newcastle United, Southampton, West Ham United dan Wolverhampton. Sementara itu, Aston Villa dan West Bromwich Albion menampilkan sponsor judi di lengan jersey mereka.

Klub-klub tersebut jelas harus bergerak cepat untuk menemukan sponsor baru. Di kala pandemi seperti ini, tentu bukan barang mudah untuk bisa memutus kontrak kerja sama dengan sponsor lama sekaligus mencari dan menjalin kerja sama dengan sponsor baru.

Sebagian klub yang masih didanai perusahaan judi menentang larangan tersebut. Menurut mereka, pencabutan sponsor judi dalam waktu singkat sangat berpotensi merugikan keuangan klub. Alasan yang masuk akal, sebab selama ini sponsor judi telah memberi sumber pendapatan yang signifikan.

Kerja sama sponsorship klub sepak bola dengan perusahaan judi menciptakan sebuah simbiosis. Dukungan finansial dari sponsor judi memberi klub pemasukan. Sementara itu, imbalan yang diterima perusahaan judi adalah jangkaun pasar yang lebih luas lewat investasi mereka kepada klub, termasuk iklan situs mereka di berbagai tempat di klub, termasuk jersey.

Bagaimanapun, klub butuh dana untuk bertahan di papan atas. Dan sponsor judi memberi klub dana yang tidak sedikit yang mana dana tersebut dapat diinvestasikan untuk meningkatkan fasilitas klub maupun menggaji karyawan, termasuk menggaji para pemainnya.

Bila nominal kontrak kerja sama klub Liga Inggris di 2 divisi teratas dengan para perusahaan judi yang jadi sponsornya digabung, ada dana sebesar 110 juta pounds pertahun yang hilang saat larangan sponsor judi jadi diterapkan.

 

Dampak negatif paparan iklan sponsor judi di jersey klub sepak bola

Namun, dibalik berlimpahnya dana yang disuntikkan perusahaan judi kepada klub-klub sepak bola Eropa, terdapat bahaya yang mengintai. Bahaya tersebut berupa dampak negatif yang dihasilkan dari iklan-iklan situs judi yang ditampilkan klub baik saat pertandingan, maupun di luar pertandingan.

Dengan jersey yang selalu tersorot kamera, secara otomatis situs judi jadi fitur yang selalu ada di tiap pertandingan yang disiarkan di seluruh dunia. Selain tampil saat pertandingan, nama atau logo perusahaan judi juga terlihat di berbagai game sepak bola, seperti PES dan FIFA yang banyak dimainkan penggemar.

Artinya, secara tidak langsung para penggemar telah dikondisikan untuk melihat pejudian sebagai hal biasa. Sayangnya, sebagian dari penggemar tersebut masih berusia di bawah umur. Masalahnya, hasil audit dari Komisi Perjudian Inggris pada tahun 2018 lalu mencatat ada 55.000 anak usia 11-18 tahun yang terindikasi kecanduan judi.

Dalam hasil studi yang lain, Komisi Perjudian Inggris menemukan ada lebih dari 400.000 orang yang terlibat masalah perjudian, dimana ada 2 juta lainnya yang punya resiko paparan yang sama. Dalam studi tersebut juga ditemukan bahwa sebagian orang memasang taruhannya di situs judi yang jadi sponsor klub yang mereka dukung.

Dalam statistik lain yang dikeluarkan oleh sebuah badan publik di inggris, sekitar 370.000 anak-anak berusia antara 11-16 tahun ikut dalam sebuah taruhan minimal seminggu sekali. Hal ini menunjukkan bahwa anak muda telah jadi korban paparan iklan judi yang ditampilkan oleh klub sepak bola yang mereka tonton.

 

Lalu, bagaimana solusinya?

Klub yang masih disponsori perusahaan judi bisa meniru langkah inovatif yang dilakukan Aston Villa dan Everton. Tadinya, dua klub Liga Primer Inggris itu disponsori perusahaan judi, tetapi keduanya kompak membatalkan kontrak di tengah jalan.

Everton memutus kontrak kerja sama sponsorship senilai 9,6 juta pounds pertahun dengan perusahaan judi asal Kenya, SportPesa. Sementara Aton Villa memutus kontrak kerja sama sponsorship senilai 8 juta pounds pertahun dengan W88, situs judi bola online yang berbasis di Asia.

Namun, pada pertengahan tahun lalu, dua klub tersebut kompak memutus kontrak kerjasama sponsorship mereka dengan perusahaan judi tersebut. Keduanya juga kompak mengikat perjanjian sponsorship baru dengan Cazoo, sebuah perusahaan start-up asal di Inggris.

Everton menjalin kerjasama dengan Cazoo selama 3 tahun dengan nilai kontrak 10 juta pounds pertahun. Sementara Aston Villa sepakat mengikat kontrak 12 juta pounds pertahun selama 2 musim dengan perusahaan yang bergerak di bidang jual beli mobil bekas tersebut.

Selain nominalnya lebih besar, disponsori perusahaan non-judi juga memberi Everton dan Aston Villa dampak positif dalam penjualan produk komersialnya. Berdasarkan laporan OffThePitch, per September tahun lalu, Everton dan Aston Villa dilaporkan mencatat peningkatan penjualan jersey masing-masing sebesar 60% dan 50% dibandingkan musim panas lalu.

Angka tersebut berasal dari maksimalnya penjualan replika jersey kedua klub. Musim lalu, saat masih disponsori perusahaan judi, Everton dan Aston Villa dilarang menjual replika jersey anak-anak yang memuat nama atau logo perusahaan judi dan alkohol. Larangan tersebut sesuai dengan aturan yang diberlakukan pemerintah Inggris.

Cazoo merupakan perusahaan non-judi, sehingga Aston Villa dan Everton bisa menjual replika jersey anak-anak yang sama persis dengan jersey yang dipakai tim utama. Fakta inilah yang memicu penjualan jersey kedua klub itu naik secara signifikan.

Kemitraan Aston Villa dan Everton bersama Cazoo menjadi bukti dari manfaat kerjasama sponsorship dengan perusahaan non-judi. Keduanya telah membuktikan bahwa bekerja sama dengan perusahaan non-judi justru bisa memberi keuntungan yang jauh lebih positif.

Dengan laga klub Liga Inggris dan Spanyol yang disiarkan ke seluruh dunia, sejatinya kita yang di Indonesia juga ikut terpapar iklan judi yang tampil di jersey klub. Maka dari itu, pelarangan sponsor judi di jersey klub sepak bola merupakan langkah yang sangat positif dan mesti didukung.

Bagaimanapun, sepak bola adalah olahraga yang sangat menjunjung tinggi sportivitas. Sangat kontras dengan perjudian yang acap kali tak peduli dengan nilai-nilai normatif. Dengan hilangnya sponsor judi di jersey klub sepak bola, maka iklan judi di lingkungan sepak bola juga ikut hilang. Dengan begitu, iklim sepak bola bisa lebih sehat.

***

Sumber Referensi: Sky Sports, The Guardian, Football League World, 90min, Forza Italian Football