Beranda blog Halaman 610

Kisah Manis Celtic Invincible Musim 2016/2017

0

Celtic adalah tim pertama dari kawasan Britania Raya yang menjuarai Piala Eropa pada tahun 1967, yang sekarang bernama Liga Champions.

Selalu menarik jika membicarakan sejarah dari klub raksasa Liga Skotlandia ini, apalagi jika kita flashback ke medio 2010 hingga 2019, dekade itu jadi salah satu dekade paling mengesankan bagi Celtic FC, dengan tak sekalipun mengakhiri musim hanya dengan meraih satu trofi saja.

Pencapaian yang paling bersejarah tentu saja pada musim 2016/2017. Kala itu klub yang bermarkas di Glasgow ini meraih Treble Winner bersama Brendan Rodgers pelatih anyar sekaligus eks pelatih Liverpool. Meski cuma treble domestik, catatan itu sangat memuaskan karena Celtic mengakhiri musim 2016/2017 dengan tanpa menerima sekalipun kekalahan atau yang sering disebut dengan Invincibles.

Rekor unbeaten Celtic itu terbentang dalam 47 pertandingan, dengan rincian pertandingan yang terbagi dalam tiga kompetisi, yaitu di Liga, Piala Liga, dan Piala Skotlandia 2016-2017.

Merangkai Kisah Bersama Pelatih yang Terbuang

Di balik kisah Invincibles Celtic itu, pelatih mereka, Brendan Rodgers sempat menganggur selama semusim setelah pada Oktober 2015 dipecat oleh Liverpool. Sebelum akhirnya direkrut Celtic pada awal musim 2016/2017.

Dari situ kisah manis Celtic era Brendan Rodgers dimulai. Karier Rodgers bersama Celtic pun melesat bak roket. Brendan Rodgers menikmati masa kebangkitan dan menyatukan ambisi dengan Celtic.

Meskipun di awal kariernya bersama Celtic sempat kalah oleh Lincoln Red Imp di ajang Liga Champion, eks pelatih Liverpool itu menutup musim 2016-2017 dengan raihan treble bareng klub raksasa Skotlandia tersebut.

Selain sebagai ajang pembuktian bagi Rodgers, yang istimewa adalah rekor tanpa kekalahan di tiga kompetisi lokal tersebut baru kali itu terjadi sepanjang sejarah Celtic.

Rekor Celtic Musim 2016/2017

Kemenangan dua gol tanpa balas atas Hearts pada Mei 2017 menandakan bahwa tim asuhan Brendan Rodgers menjadi tim pertama yang menjuarai liga dengan catatan tanpa kekalahan setelah Rangers pada tahun 1899 silam. Dan itu adalah Piala Liga Skotlandia keenam Celtic secara berturut-turut.

Mereka juga mencetak rekor baru dalam pengumpulan poin dengan total 106 poin, yang justru mengalahkan rekor 105 poin milik klub Celtic itu sendiri pada musim 2003/2004, kala dilatih Martin O’Neill.

Celtic berhasil mengakhiri musim dengan margin poin terbesar dalam sejarah sepak bola Skotlandia dengan 30 poin diatas Aberdeen yang finis di urutan kedua, dan selisih 39 poin dengan rival abadinya di Glasgow, Rangers.

Kebetulan musim 2016/2017 jadi musim pertama Rangers kembali ke kasta tertinggi Liga Skotlandia setelah sempat terdegradasi ke divisi empat pada tahun 2012.

Tak sampai di situ, setelah menjuarai Liga Primer Skotlandia dan Piala Liga Skotlandia, prestasi Scott Brown CS berlanjut kala melakoni laga sulit melawan Aberdeen, Celtic menang dengan skor tipis 2-1 di Final Piala Skotlandia pada 27 Mei 2017. Hasil ini melengkapi catatan manis Brendan Rodgers di musim pertamanya setelah mempersembahkan Piala Liga pada publik Glasgow.

Ini menjadi pencapaian yang mengesankan dalam semusim bagi Celtic yang mana mereka hanya kehilangan poin dalam empat pertandingan saja, salah satunya mendapat hasil seri kala melawan rivalnya, Rangers.

Skuad Celtic Musim 2016/2017

Selain pelatih anyar mereka, para pemain pun berperan penting dalam mengantarkan Celtic meraih treble winner kompetisi domestik. Pada musim 2016/2017 Celtic memiliki materi skuad yang cukup apik, bahkan kekalahan terakhir yang mereka alami adalah pada Mei 2016 silam. Setelah itu, Celtic belum pernah terkalahkan di pertandingan domestik selama musim 2016/2017.

Kala itu Celtic banyak dihuni oleh pemain-pemain hebat pada masanya seperti sang penjaga gawang Craig Gordon yang sangat apik dalam mengawal gawang Celtic hingga di akhir musim Liga, Celtic tak terkalahkan dan hanya kebobolan 25 gol dari 38 pertandingan.

Lalu di lini belakang ada bek tangguh kaya pengalaman yang kini sudah menikmati masa pensiunnya, Kolo Toure yang ikut Brendan Rodgers bergabung dari Liverpool dengan status bebas transfer, dan ada nama Kieran Tierney di sisi kiri, ia sekarang bermain untuk tim London Utara, Arsenal. Kala itu meski baru menginjak usia 19 tahun, penampilan Tierney sangat memukau hingga memunculkan minat dari tim Inggris seperti Arsenal.

Di lini tengah ada sosok Il Capitano Scott Brown yang seolah tak tergantikan untuk memimpin rekan-rekanya selama mengarungi musim 2016/2017. Selain itu ada nama Stuart Armstrong yang menyumbangkan satu gol pada laga pamungkas melawan Hearts. Selain nama tersebut ada nama Callum McGregor dan James Forrest yang masih setia membela Celtic hingga sekarang.

Kedigdayaan Celtic juga tak lepas dari peran para pemain depannya, seperti sayap produktif, Scott Sinclair yang didatangkan dari klub Liga Inggris Aston Villa. Ia tampil moncer dengan mencatatkan 25 gol dan 11 assist di semua kompetisi selama musim 2016/2017.

Posisi Ujung tombak diisi oleh Leigh Griffiths dengan torehan 18 gol dan 15 assist dan Moussa Dembele, pemain muda yang menyuguhkan penampilan impresif dengan catatan 32 gol nya.

Uniknya, kala Celtic melakoni laga terakhirnya melawan Hearts, Kolo Toure masuk di menit 74’ sebagai pemain pengganti dan menjadi pemain pertama yang merasakan gelar Invincibles dengan dua klub yang berbeda setelah sebelumnya ia juga termasuk dalam skuad Arsenal 2003/2004.

Setelah musim 2016/2017 jadi musim paling bersejarah bagi Celtic, tiga musim selanjutnya Celtic tetap menjaga konsistensi dengan selalu menjuarai Liga Skotlandia sebelum tren positif itu akhirnya diputus oleh Rangers era Steven Gerrard pada musim 2020/2021.

Sumber: The Celtic Wiki, Transfermarkt, EuroSport, Kompas

Cuma Pemain Ini Yang Mampu Meraih Trofi EPL, Trofi UCL dan Piala Dunia

Meraih trofi Piala Dunia menjadi pencapaian terbesar seorang pemain sepakbola. Jangankan berhasil naik ke panggung tertinggi ajang prestise itu. Bisa tampil di gelaran Piala Dunia saja sudah menjadi sebuah kebanggaan bagi seorang pemain. Meski menjadi trofi yang tergolong sulit didapat, sudah ada banyak pemain yang berhasil meraih trofi Piala Dunia. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang selain berjaya bersama tim nasionalnya, juga sukses mengukir cerita bersama klub yang dibelanya dengan mampu meraih trofi Liga Champions Eropa.

Tak sampai disitu saja, kali ini kita akan bicara tentang pemain Liga Primer Inggris yang tidak hanya berhasil meraih trofi Piala Dunia dan Liga Champions saja, namun juga trofi EPL yang seringkali dianggap sulit untuk didapatkan, mengingat kompetisi tersebut tergolong sebagai salah satu yang paling ketat di dunia.

Kira-kira siapa sajakah pemain yang berhasil meraih trofi Liga Champions, Piala Dunia, dan Liga Primer Inggris? Simak ulasannya berikut ini.

Fabien Barthez

Fabien Barthez merupakan salah satu kiper legendaris di dunia. Pemain yang sudah pensiun dan putuskan untuk menjadi seorang pembalap ini memiliki karir yang terbilang luar biasa. Membela timnas Prancis, Fabien Barthez berhasil menjadi bagian dari tim nasional Prancis yang mampu meraih trofi Piala Dunia tahun 1998.

Di turnamen tersebut, dia hanya kebobolan sebanyak dua gol, dan mampu memegang rekor sebagai kiper dengan clean sheet terbanyak (10) di ajang Piala Dunia bersama Peter Shilton.

Pemain yang catatkan 87 caps bersama tim ayam jantan itu juga sebelumnya berhasil meraih trofi Liga Champions Eropa bersama Marseille pada 1993 silam. Setelah putuskan pindah ke Manchester United, Barthez juga sukses meraih trofi Liga Primer Inggris bersama MU sebanyak dua kali, yakni pada tahun 2001 dan 2003.

Juliano Belletti

Juliano Belletti mungkin menjadi nama yang tidak terlalu dikenal oleh khalayak, mengingat pria asal Brasil ini sudah putuskan pensiun sejak 2011 lalu. Meski menjadi pemain yang tidak terlalu mendapat banyak sorotan, Belletti pantas menjadi pujian setelah pada tahun 2002 dia berhasil meraih trofi Piala Dunia bersama timnas Brasil.

Selain itu, Belletti yang tergabung ke dalam skuad Barcelona juga mampu sumbangkan trofi Liga Champions Eropa. Ketika itu, dia sukses membantu Barca kalahkan Arsenal di final Liga Champions pada tahun 2006. Tak sampai disitu saja, setelah putuskan hijrah ke Chelsea pada tahun 2007, Belletti juga menjadi bagian tim yang memenangkan trofi Liga Primer Inggris pada tahun 2010.

Sebelum pensiun, Belletti putuskan untuk pulang ke Brasil terlebih dahulu dan sempat bergabung dengan Fluminense.

Pedro Rodriguez

Pedro Rodriguez pernah menjadi fenomena saat masih membela FC Barcelona. Dia memenangkan banyak sekali trofi bergengsi, termasuk Piala Dunia bersama timnas Spanyol. Ya, di era kejayaan Spanyol, Pedro sukses menyumbangkan trofi Piala Dunia. Dirinya yang ketika itu masih menjadi bagian dari FC Barcelona juga bahkan berhasil sumbangkan trofi Liga Champions Eropa untuk Blaugrana.

Tak tanggung-tanggung, Bersama Barcelona, Pedro mampu sumbangkan tiga trofi Liga Champions, yaitu pada 2009, 2011, dan 2015. Lalu ketika putuskan pindah ke Chelsea, Pedro Rodriguez juga memiliki nasib yang sama dengan Belletti.

Dia yang kini berstatus sebagai pemain AS Roma mampu sumbangkan trofi Liga Primer untuk Chelsea pada tahun 2017.

Gerard Pique

Sama seperti Pedro, Gerard Pique juga berhasil sumbangkan trofi Piala Dunia di era kejayaan timnas Spanyol pada tahun 2010. Selain itu, dia yang ikut dalam barisan terbaik yang pernah dimiliki FC Barcelona juga berhasil sumbangkan sebanyak tiga trofi Liga Champions Eropa. Tidak berlebihan bila Gerard Pique tergolong ke dalam generasi emas timnas Spanyol dan FC Barcelona.

Namun tahukah kalian bila sebelum berjaya bersama Barcelona, Gerard Pique juga pernah meraih trofi prestise bersama Manchester United.

Ya, pria yang kini berusia 34 tahun itu pernah memenangkan trofi Liga Champions Eropa sekaligus Liga Primer Inggris bersama tim Setan Merah. Saat itu, Pique masih berusia muda sebelum akhirnya kembali pulang ke Barcelona.

Thierry Henry

Thierry Henry layak disebut sebagai salah satu pemain legendaris yang pernah ada. Dalam perjalanan karirnya, pria Prancis yang sempat menjabat sebagai pelatih AS Monaco itu tercatat membela banyak klub besar. Dua diantaranya adalah Arsenal dan FC Barcelona.

Bersama Arsenal, Thierry Henry jelas masuk ke dalam daftar legenda. Dia begitu digdaya dan banyak ciptakan momen-momen bersejarah. Salah satu momen terbaiknya tentu saat membawa Arsenal meraih trofi emas Liga Primer Inggris pada tahun 2004. Itu menjadi satu-satunya trofi yang saat ini belum mampu disamai oleh klub Liga Primer Inggris manapun.

Kemudian pada tahun 2006, dia nyaris membawa Arsenal memenangkan trofi Liga Champions Eropa. Sayangnya, di partai puncak dia harus mengakui kehebatan FC Barcelona, yang disitu juga terdapat nama Juliano Belletti.

Namun, setelah dirasa cukup mengukir cerita bersama Arsenal, Thierry Henry putuskan hengkang ke Barcelona. Pada tahun 2009, dia lalu menjadi bagian dari skuad Blaugrana yang berhasil sumbangkan enam trofi mayor dalam satu kompetisi, termasuk Liga Champions Eropa.

Perlu dicatat pula, sebelum berjaya bersama klub yang dibelanya, Henry lebih dulu mampu menjuarai Piala Dunia bersama tim ayam jantan pada tahun 1998.

N’Golo Kante

Terbaru, ada pemain asal Prancis yang bergabung dalam daftar elit ini, yaitu N’Golo Kante. Seperti diketahui, Kante merupakan bagian dari timnas Prancis yang berhasil meraih trofi Piala Dunia 2018 di Rusia. Dia bermain begitu luar biasa dan mendapat banyak sekali pujian. Sikapnya yang sederhana juga semakin membuat pemain berusia 30 tahun ini banyak mendapat penghormatan.

Masuknya Kante ke dalam skuad ayam jantan tentu tak lepas dari perannya yang luar biasa bersama Leicester City dan Chelsea. Ya, di tahun 2016, Kante sukses menarik perhatian khalayak setelah ia mampu sumbangkan trofi Liga Primer Inggris untuk kali pertama bagi The Foxes. Setelah direkrut Chelsea pada musim berikutnya, Kante kembali berhasil sumbangkan trofi Liga Primer Inggris.

Prestasi terbarunya tentu saat dirinya berhasil tampil brilian di ajang Liga Champions Eropa. Dalam laga puncak melawan Manchester City, Kante yang tampil apik di lini tengah Chelsea berhasil membawa trofi bergengsi itu ke lemari piala the blues.

 

Menjaga Mimpi dan Jalan Karier Si Kurus, Kurniawan Dwi Yulianto

0

Melamun di teras rumah pernah dilakukan setiap manusia kala hidup sedang keadaan sungsang. Paling mudah mengobatinya dengan mengingat mimpi yang dahulu ditulis pada secarik kertas lalu tertempel dalam ingatan saban hari.

Mengubah mimpi jadi motivasi dengan bertanggung jawab pada pilihan  dan disiplin dalam mengerjakan. Jalan yang ditempuh memang panjang dan berkeringat, tapi percaya pada proses diuji dalam perilaku bukan omongan sambil lalu.

Pria bernama lengkap Kurniawan Dwi Yulianto merawat mimpi menjadi pemain bola dengan dua alasan. Pertama, bisa masuk televisi. Kedua, jalan-jalan ke luar negeri numpak pesawat gratis. Meski mula-mula karier di dunia sepak bola tidak direstui orang tua.

Mimpi anak Magelang itu bukan isapan jempol. Memulai di SSB Wajar Magelang sejak kelas 1 SMP, mimpi Si Kurus  berpijak satu kaki di bumi. Membunuh homesick serta menabung uang jajan demi sepasang sepatu.

Moncer di lapangan dan sekolah jadi modal Kurniawan untuk lanjut ke sekolah ke tingkat lanjut atas. Pilihannya, melanjutkan ke SMA Taruna Nusantara melalui jalur beasiswa berprestasi atau Diklat Salatiga.

Kurniawan muda memilih Diklat Salatiga ketimbang masuk SMA Taruna Nusantara. Konsekuensinya, ia sempat kena “marah” dan ditantang pihak sekolah.

“Kalau pilih Diklat Salatiga, saya ingin lihat empat tahun akan datang. Pemain depan Timnas Indonesia diperkuat oleh anak muda bernama Kurniawan Dwi Yulianto,” kata guru SMP Kurniawan, Zahri yang ditirukannya.

Gairah berjuang ia lakoni dengan mengikuti seleksi di Diklat Salatiga. Baginya, waktu adalah pedang. Sesiapa saja melanggarnya akan dilibas oleh pedang yang tajam. Ia bangun pukul setengah lima saban hari dan berusaha tidak berbuat curang setiap latihan agar tak kehilangan mimpi-mimpinya menjadi pesepakbola.  

Mimpi-mimpi itu, ia jaga dengan empat nilai. Pertama perilaku disiplin. Si Kurus yang menetap di “mess”  saat Diklat Salatiga patuh terhadap aturan. Kebiasaan di rumah dicucikan dan dibangunkan ia rubah dengan mencuci pakaian sendiri dan bangun tidur tepat waktu. 

Meski saat itu bergaji 13 ribu rupiah. Hasilnya ia tabung untuk membeli sepatu baru.

Kedua, tanggung jawab pada diri sendiri. Ia tak ingin orang di sekitarnya merasa kesusahan akibat tindakannya. Oleh karena itu, pilihan-pilihan yang ditempuhnya adalah harus dijalani sekuat tenaga.

Ketiga, kerja keras secara sportif. KDY bercerita saat melakoni latihan di Diklat Salatiga saban ba’da Subuh. Ia tak pernah coba-coba mengelabui pelatih saat pemanasan. Sebab di sana akan tercermin perilaku kompetitif sekaligus sportif.

Terakhir, optimisme menjadi pemain profesional yang ditayangkan televisi sekaligus mampu “jalan-jalan” ke luar negeri naik pesawat gratis.

Jatuh Bangun Karir

Namun ia pernah berada di titik nadir kehidupan. Kurniawan hanya bisa berkeluh kesah kepada sang ibu. Dalam karier menjadi penari lapangan, Ibu baginya sebagai satu-satunya orang yang mampu mengangkat moralnya saat terjatuh.

“Kamu sudah terlanjur dan kecebur (di bola) dan pilihannya hanya satu, tutup mulut mereka dengan prestasi,” katanya menirukan ucapan ibunya.

Barangkali sebelum ucapan itu terlontar dari mulut sang Ibu. Kurniawan sudah membayar kekesalan gurunya di SMP saat memilih Diklat Salatiga ketimbang SMA Taruna Nusantara dengan keterpilihannya menjadi pemain timnas yang diboyong tur ke Italia.

Tak berhenti di sana, petualangannya di Benua Biru ia lanjutkan bermain untuk klub Swiss. Golnya bersama FC Luzen menjadikan dirinya sebagai pemain Indonesia yang berhasil mencetak gol di kompetisi resmi Benua Eropa.

Pun usai pulang dari Sampdoria. Ia benar-benar memegang ucapan ibunya saat membawa klub juara di kompetisi Indonesia. Bersama PSM tahun 2000 dan Persebaya tahun 2004 berhasil mengantarkan juara. Lalu, saat membela Macan Kemayoran, ia merengkuh double runner up di Liga Indonesia dan Copa Indonesia tahun 2005.

Bersama Timnas Indonesia, ia turut serta dalam tiga kali gelaran Piala Tiger pada tahun 1998, 2000, dan 2004/2005 dengan prestasi terbaik juara dua.

Deretan juara dan kesempatan menjadi pelatih melampaui dua mimpi Kurniawan kecil, disorot televisi dan jalan-jalan ke luar negeri naik pesawat gratis.

Ke Como Bukan Akhir KDY

Mimpi “jalan-jalan naik pesawat”  keluar negeri KDY ternyata tak berhenti saat menjadi pemain. Apalagi setelah tim kasta kedua Liga Italia atau Serie B, Como 1907 merekrut Kurniawan Dwi Yulianto sebagai salah satu staf pelatih.

Kurniawan Dwi Yulianto telah sepakat sebagai asisten pelatih klub yang baru saja promosi ke Serie B itu. Pria kelahiran Magelang mengatakan akan dikontrak selama lima tahun.

“Saya dikontrak lima tahun oleh Mola. Semoga semua berjalan baik dan bagus bagi karier saya,” ujar Kurniawan Dwi Yulianto.

Selain itu, Kurniawan Dwi Yulianto mengatakan kalau selama di Eropa, dia tak akan tinggal diam. Sebagai pelatih, ia akan terus memperbanyak ilmu kepelatihan utamanya yang formal.

“Saya ingin mengejar lisensi kepelatihan UEFA Pro. Sebab, saya berkarier di Eropa dan kesempatan itu pun terbuka,” tutur Kurniawan Dwi Yulianto.

Kurniawan mengakui bahwa kontrak bersama klub barunya tak terlepas dari peran para pemilik klub tersebut yang orang Indonesia, antara lain Mirwan Suwarso, MOLA, dan Djarum.

Sebelum menjadi asisten pelatih Como 1907, karier pelatih Si Kurus dimulai dari Chelsea Soccer School Indonesia di Jakarta pada 2014. Empat tahun selanjutnya, ia menjadi pelatih kepala bersama Ponaryo Astaman di klub Borneo FC pada gelaran Piala Presiden 2018.

Pada tahun yang sama, Si Kurus dipilih federasi sepak bola Indonesia, PSSI untuk mengemban tugas baru sebagai asisten pelatih Timnas Indonesia U-23. Ditunjuknya Kurniawan mengisi kekosongan posisi tersebut sepeninggalan Yunan Helmi yang mengundurkan diri dan kini menjadi pelatih kepala Barito Putera.

Mantan punggawa timnas Indonesia juga pernah melatih klub asal Malaysia, Sabah FA. Kontraknya bersama kontestan baru di Liga Malaysia itu berlangsung hingga Desember 2021.

Namun, Sabah FA melalui keterangan resminya, mengkonfirmasi penghentian kerja sama dengan pelatih Kurniawan Dwi Yulianto pada 30 November 2020. Kurniawan Dwi Yulianto kehilangan jabatannya di Sabah FA karena dianggap tidak memenuhi target yang dibebankan kepadanya.

Sabah FA hanya mampu finis di peringkat ke-10 dalam klasemen akhir Malaysia Super League 2020 atau satu garis di atas zona merah. Pria yang akrab disapa Si Kurus hanya mampu memberikan sembilan poin, hasil dari dua kali menang, tiga kali imbang, dan enam kali kalah.

Petualangan Si Kurus di Negeri Pizza memang bukan kali pertama. Saat menjadi pemain ia bergabung dengan Timnas Indonesia Primavera untuk ikut tur di Italia selama dua tahun. Ia pun dikontrak oleh klub asal Swiss, FC Luzern.

Kedua kali ini, KDY jelas tidak akan hanya mampir “jalan-jalan” seperti mimpi masa kecilnya. Kesempatan yang diberikan oleh pemilik Como 1927 selama setengah dekade ke depan akan digunakan untuk menimba ilmu kepelatihan di Eropa.

 

Referensi : Akurasi TV, Skor.id, Buka Talk, Tirto.id, Estu Ernesto, Tabloid Bola

Mengenang Prestasi Mencengangkan PSV Eindhoven Musim 2004/2005

Musim 2004/2005 menjadi kisah tersendiri bagi klub Belanda PSV Eindhoven. Momen terbaik skuad PSV ketika itu mampu menaklukan Liga Belanda bahkan mampu mencapai Babak Semifinal Champions League.

Meskipun di sisi lain PSV sebelumnya telah digembosi dengan hengkangnya para pemain bintang mereka. Dan pemain yang didatangkan di musim itu pun tidak semewah yang hengkang. Bagaimana kisah mereka selama mengarungi musim yang indah itu?

Transfer Pemain PSV 2004/2005

Menjelang musim baru 2004/2005 PSV ditempa banyak isu tentang perpindahan pemain bintang mereka.

PSV kehilangan ” Batman dan Robin ” mereka yakni Mateja Kezman dan Arjen Robben yang pindah ke Chelsea. Sebagai imbalannya, bek Brasil, Alex pindah dari Chelsea ke Eindhoven.

Selain Kezman dan Robben, satu lagi pemain penting yang hengkang yakni sayap Denmark Dennis Rommedahl yang terbang ke Charlton, Kiper Ronald Waterreus, yang sudah bersama PSV selama 10 tahun, juga pindah ke Manchester City.

Sementara, pemain yang dibeli PSV pada musim itu antara lain ada Robert Brasil, yang sebelumnya bermain di Spartak Moscow. Ada juga seorang Jefferson Farfan yang dibeli dari klub Alianza Lima. Kemudian Damarcus Beasley dibeli dari Chicago Fire, dan Phillip Cocu kembali ke PSV dari Barcelona dengan status bebas transfer.

Guus Hiddink dan Strateginya

Transfer keluar masuk pada tubuh PSV dilakukan langsung oleh sang pelatih, Guus Hiddink.

Hiddink saat itu menggabungkan fungsi pelatih kepala dan direktur olahraga di PSV, sehingga dia bisa merekrut pemain sendiri. Dan dia melakukan pekerjaannya dengan cerdas.

PSV di bawah Hiddink terkenal bermain dengan skema 4-3-3 ala Belanda, meski Hiddink biasa mengubahnya dalam permainan menjadi 4-4-2 atau bahkan 3-5-2.

Di lini tengah pertahanan, ada duo center back Alex dan Wilfred Bouma. Alex, tidak hanya menjadi pemimpin pertahanan, tetapi juga pemain yang sering mencetak gol melalui set piece.

Di kanan pertahanan ada Andre Ooijer, yang perannya bisa digeser ke tengah jika diperlukan, di sebelah kiri pertahanan ada pemain Korea, Lee Young-Pyo.

Kekuatan utama Eindhoven berada di tengah lapangan. Bahkan kemudian, PSV memiliki kombinasi yang kuat dari tiga gelandang dari yakni Johann Vogel, sang kapten Mark van Bommel dan gelandang senior Phillip Cocu. Mereka adalah trio gelandang andalan Hiddink yang memiliki kemampuan berbeda dan saling melengkapi.

Format 4-3-3 Hiddink lengkap dengan tiga orang penyerang di depan yakni trio, Jefferson Farfan, Park Ji Sung dan Striker Jangkung Jan Vennegoor of Hesselink. Sayap lincah Beasley juga sering masuk dijadikan kunci super sub lini serang yang dipunyai Hiddink.

Juara Eredivisie 2004/2005

Memasuki musim di bawah bayang-bayang Ajax menjadi tantangan tersendiri bagi pasukan Guus Hiddink. Hiddink ternyata mampu menjawab tantangan tersebut dengan tidak terkalahkan di 16 pertandingan pertama PSV.

Laju 12 clean sheet berturut-turut adalah prestasi yang membanggakan ketika itu. PSV dan Guus Hiddink menderita kekalahan pertama mereka pada Desember 2004, dan setelah itu tidak terkalahkan lagi bahkan kemenangan 4-0 di Amsterdam atas sang rival, Ajax pada Bulan Maret 2005 semakin menegaskan mereka adalah raja Liga Belanda.

Hiddink bersama PSV sepanjang musim Eredivisie 2004/2005 mencapai rekor dengan hanya kalah satu kali di Liga.

Pesaing terdekat ketika itu, AZ-Alkmaar tidak konsisten seiring mereka baru membangun tim. Ajax yang diasuh Ronald Koeman ketika itu juga terperosok, sedangkan Feyenoord kuat dalam penyerangan dengan Dirk Kuyt dan Salomon Kalou, tapi masih memiliki pertahanan yang keropos.

PSV mampu finis menjadi Juara Eredivisie dengan 87 poin, total poin tertinggi PSV dalam penyelenggaraan Liga Belanda. Pasukan Guus Hiddink yang menakutkan itu mencetak total 89 gol dan hanya kebobolan 18.

Semifinal Champions League 2004/2005

Selain di Eredivisie, PSV musim itu juga berlaga di Liga Champions. PSV ketika itu memulai dengan babak kualifikasi ketiga dan mampu mengalahkan klub Crvena Zvezda dengan agregat 7-3.

PSV pun lolos ke babak penyisihan grup, berdasarkan hasil pengundian fase grup Champions League, tim asuhan Hiddink ini tergabung di grup E bersama Arsenal, Panathinaikos, dan Rosenborg.

Awal turnamen grup PSV kalah 0-1 dari Arsenal. Tapi kemudian di Belanda, PSV mampu memenangkan seluruh laga kandangnya tiga kali berturut-turut, pertama dengan mengalahkan Panathinaikos, dan kemudian dua kali mereka mengalahkan Rosenborg.

Hal yang paling menarik dimulai di babak knockout. Di sana, PSV dapat dikatakan beruntung dengan hasil drawing yang membawa mereka melewati tim-tim besar seperti Juventus dan Chelsea di perdelapan final dan juga melewati tim besar lainya macam Liverpool dan Bayern di perempat final.

Di perdelapan final, PSV bertemu dengan wakil Prancis, Monaco. Di pertandingan pertama di Eindhoven, PSV menang 1-0 dengan gol bek mereka Alex. Di Leg kedua PSV kembali menang di Prancis dengan Skor 2-0 dengan gol dari Jan Vennegoor of Hesselink dan Beasley. PSV kemudian mampu masuk ke babak perempat final.

Di perempat final PSV bertemu salah satu klub raksasa Prancis lainnya, Lyon. Di Leg pertama di Lyon mereka bermain imbang 1-1. Begitupun di Leg 2 di Eindhoven yang berakhir imbang 1-1. Kekuatan kedua tim hampir berimbang ketika itu.

Sampai akhirnya pertandingan harus diselesaikan lewat adu tendangan penalti. Gomes kiper PSV menjadi penyelamat dengan menggagalkan dua tembakan penalti Lyon dari Essien dan Abidal. PSV menang lewat drama adu penalti 4-2 dan maju ke babak semifinal. Di semifinal, PSV ditunggu tim raksasa Italia, AC Milan.

PSV bertemu Milan di semifinal yang notabene saat itu sedang dalam performa terbaik. Di Leg pertama di Milan, PSV tidak berkutik dan dipaksa menyerah dengan skor 2-0 oleh gol Tomasson dan Shevchenko. Namun, kekalahan itu tidak menyurutkan semangat PSV di Leg kedua yang berlangsung di rumah sendiri.

Benar saja, ketika itu PSV mampu mengamuk dengan unggul lebih dahulu 3-0 atas Milan hingga menit ke 90. Kemenangan agregat atas Milan 3-2 pun hampir saja didapat. Nahas, sebelum itu terjadi, malapetaka datang di menit 90 plus 1. Ketika itu gawang PSV jebol oleh Ambrosini yang membuat PSV kalah agregat gol tandang. Mimpi PSV melaju ke final pun terpaksa pupus.

Ironisnya, tim yang begitu hebat di musim 2004/2005 itu perlahan mulai luntur. Mark van Bommel di musim panas pergi ke Barcelona. Vogel dibeli oleh Milan pada musim panas yang sama tahun 2005. Park JI-sung pindah ke Manchester United dibawah asuhan Ferguson. Rekan senegaranya Lee Young-Pyo juga pergi ke Tottenham. Musim berikutnya juga menjadi era terakhir Guus Hiddink, sebelum akhirnya ia berlabuh ke Timnas Australia.

Kisah Squad PSV 2004/2005 memang mencengangkan. Mengejutkan mata sepak bola Eropa. Ramuan Hiddink dengan skuad yang tidak terlalu mewah bak menyihir dunia persepakbolaan di musim itu. Juara Eredivisie dengan rekor poin tertinggi, rekor juara dengan sekali kalah, bahkan masuk semifinal di Champions League menjadi bukti kisah manis PSV Eindhoven.

 

Sumber Referensi : footballcritic, balls, transfermarket, showsport

Berita Bola Terbaru 18 Januari 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan terkini 18 Januari 2022

CHELSEA PERTIMBANGKAN GAET PERISIC DARI INTER MILAN

Chelsea dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk merekrut Ivan Perisic dari Inter Milan. Chelsea sekarang sedang memburu pemain baru di sisi kiri. Mereka cuma punya Marcos Alonso saja di pos tersebut. Pasalnya Ben Chilwell mengalami cedera lutut parah. Thomas Tuchel menilai Perisic adalah opsi yang ideal untuk memperkuat area kiri timnya. Pemain asal Kroasia tersebut dikenal fleksibel dan bisa bermain di sejumlah pos lain. Akan tetapi Chelsea tak sendirian dalam memburu Perisic. Kabarnya Perisic juga diminati oleh Tottenham dan Arsenal.

LIVERPOOL TERTARIK BOYONG CAMAVINGA DARI MADRID

Liverpool menginginkan Eduardo Camavinga dari Real Madrid yang berpotensi meninggalkan klub ibu kota Spanyol tersebut. Liverpool dilaporkan telah diberitahu bahwa Madrid menghargai Camavinga dengan 45 juta pounds atau setara Rp 881 miliar di tengah rumor bahwa gelandang itu bisa meninggalkan Santiago Bernabeu musim panas ini. Penjualan itu akan mewakili keuntungan 12 juta pounds untuk pemain yang mereka tandatangani tahun lalu. Luka Modric, Toni Kroos, dan Casemiro saat ini menghalangi Camavinga dari mengamankan peran reguler di lini tengah Real Madrid.

GENGSI, VAN DEE BEEK TOLAK TAWARAN NEWCASTLE UNITED

Gelandang Manchester United, Donny van de Beek dikabarkan menolak kesempatan untuk bergabung dengan Newcastle United dengan status pinjaman selama sisa musim ini. Van de Beek tidak ingin mewakili klub yang saat ini berjuang keluar dari jurang klasemen Liga Inggris. Kubu Eddie Howe awalnya diprediksi bisa mengontrak pemain Belanda itu akhir bulan ini dengan dasar dia akan menjadi pemain inti untuk Piala Dunia. Jika Donny van de Beek mengiyakan tawaran Newcastle, maka besar kemungkinan ia akan turun kasta musim depan.

CHELSEA TERTARIK PINJAM LAYVIN KURZAWA DARI PSG

Chelsea dilaporkan telah membuka pembicaraan dengan PSG untuk merekrut Layvin Kurzawa dengan status pinjaman. Pemain Prancis tersebut cuma jadi cadangan di PSG saat ini, dengan hanya bermain sebanyak 153 pertandingan untuk PSG sejak bergabung pada 2015 silam. Dia tersisihkan dan belum membuat satupun penampilan di Ligue 1 di bawah arahan Mauricio Pochettino musim ini. Faktanya, Kurzawa bermain lebih teratur di Paris kala Thomas Tuchel memimpin di klub tersebut, sehingga pemain dan manajer sudah saling mengenal dengan baik dan sepertinya tertarik untuk bereuni lagi.

NEWCASTLE SIAP REKRUT KIPER PSG KEYLOR NAVAS

Newcastle United seolah tak henti melakukan gebrakan di Januari 2022 ini. terbaru, klub berjuluk The Magpies itu ingin membajak kiper PSG, Keylor Navas.  Melansir dari laman BBC, Newcastle telah melayangkan tawaran untuk Navas selaku eks kiper Real Madrid tersebut. Tawaran yang disodorkan oleh Newcastle untuk Navas ini diyakini bernilai fantastis. Namun PSG memilih menolak tawaran itu. Alasannya ialah PSG menolaknya karena Les Parisiens masih membutuhkan Navas. Namun hal ini tak membuat Newcastle menyerah begitu saja.

RODGERS BUKA KEMUNGKINAN LEPAS TIELEMANS KE ARSENAL

Gelandang 24 tahun Leicester City, Youri Tielemans memang masih jadi andalan Brendan Rodgers untuk mengisi lini tengah. Sejauh ini, dirinya sudah mengoleksi lima gol serta dua assist dari 14 pertandingan di Liga Inggris. Dengan hal tersebut, Tielemans pun menjadi incaran tim-tim besar Eropa dan Arsenal tengah diklaim mempunyai minat paling serius terhadapnya. Walau Tielemans masih terikat kontrak dengan The Foxes sampai 2023, Rodgers ternyata tidak mau menutup kemungkinan apabila dirinya bisa saja melepas salah satu gelandang terbaiknya itu, apabila memang mempunyai keinginan untuk bermain dengan klub yang punya reputasi lebih baik.

FLORENTINO PEREZ SEBUT LUCA MODRIC PANTAS DAPAT BALLON D’OR

Presiden Real Madrid, Florentino Perez merasa terpukau dengan permainan Luka Modric di musim ini, terutama usai mengantarkan Los Blancos juara Piala Super Spanyol 2021/22. Menurut Perez, Modric di musim ini bermain sangat apik dan ia merasa hal itu layak diganjar trofi Ballon d’Or 2022. “Tanpa ingin menyombongkan diri, mereka (Courtois dan Modric) adalah dua yang terbaik di posisinya. Kiper terbaik dan Modric dalam performa yang patut ditiru, dia layak memenangkan Ballon d’Or lagi,” ucap Perez selepas pertandingan.

BENZEMA TAK TERIMA DIANGGAP PELAYAN RONALDO

Bintang Real Madrid, Karim Benzema, menegaskan ia bukan cuma sekadar pelayan Cristiano Ronaldo saja saat mereka bermain bersama di ibukota Spanyol itu. Kerjasama keduanya berperan penting dalam kesuksesan Madrid selama satu dekade terakhir, tetapi tak sedikit yang merasa Ronaldo adalah protagonisnya, dengan Benzema memainkan pemeran pembantu saja. Memang, keduanya memenangkan berbagai trofi bersama-sama dan, meski Ronaldo mencetak lebih banyak gol ketimbang Benzema, striker Prancis itu menepis anggapan bahwa ia memainkan peran yang lebih inferior.

CEDERA, WIJNALDUM HARUS MENEPI SELAMA 3 MINGGU

Kabar buruk menimpa PSG. Gelandang mereka, Georginio Wijnaldum harus menepi selama 3 minggu. Pemain asal Belanda itu cedera saat bertanding membela PSG melawan Brest akhir pekan kemarin. PSG mengumumkan kalau Wijnaldum alami keseleo pergelangan kaki kiri dengan kerusakan parsial pada ligamen lateral internal. Durasi pemulihannya menimbulkan tanda tanya apakah Wijnaldum bisa bermain pada pertandingan melawan Real Madrid 15 Februari nanti di babak 16 besar leg pertama Liga Champions.

EFEK MESSI, PSG KEBANJIRAN 8 SPONSOR BARU

Melansir dari laman Marca, tak hanya di dalam lapangan, kontribusi Lionel Messi di luar lapangan juga sangat besar bagi PSG. Mereka mendapatkan delapan sponsor baru sejak kedatangan sang mega bintang. Di antaranya, perusahaan ternama seperti DIOR dan Crypto langsung menjalin kerja sama dengan Les Parisiens sejak kehadiran Messi di kota Paris. Lalu, Nike akan terus menjadi apparel PSG hingga 2032 dengan nilai 75 juta euro per tahun, sementara Coca Cola baru-baru ini memperbarui kontrak sampai 2024 sebagai sponsor untuk PSG.

HASIL PERTANDINGAN SERIE A

AC Milan kalah dari Spezia pada laga pekan ke-22 Serie A Liga Italia di San Siro. Rossoneri menyerah dengan skor 1-2. Milan lebih dulu unggul berkat gol dari Rafael Leao di akhir babak pertama. Namun Milan kebobolan dua gol di babak kedua, masing-masing melalui Kevin Agudelo di menit 64, dan Emmanuel Gyasi di menit 90+6. Kekalahan ini membuat Milan gagal menyalip Inter Milan di posisi puncak klasemen Serie A. 

Pada laga lainnya, Napoli sukses membungkam tuan rumah Bologna dengan skor 2-0. Hirving Lozano membuka skor di menit 20. Kemudian Lozano kembali mencetak gol keduanya di menit 47. Kemenangan ini tetap membuat Napoli duduk di posisi ketiga klasemen sementara. Pada laga lainnya malam tadi, Fiorentina menang 6-0 atas Genoa.

KALAHKAN MESSI LAGI, LEWANDOWSKI JADI PEMAIN TERBAIK FIFA 2021

FIFA mengumumkan penghargaan pemain terbaik pria pada Selasa (18/1) dini hari WIB di Zurich, Swiss. Lewandowski menjadi pemenang setelah menyisihkan Lionel Messi dan Mohamed Salah selaku di nominasi tiga terbaik. Ini menjadi gelar kedua bagi Lewy secara beruntung Striker Bayern Munchen dan Polandia itu meraih Penghargaan Pemain Pria Terbaik FIFA tahun lalu, mengalahkan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi untuk penghargaan tersebut. Selama 2021, Lewy berhasil mencetak 51 gol dalam 45 pertandingan untuk klub dan negara.

FIFA FIFPRO WORLD XI 2021: MESSI, RONALDO DAN HAALAND MASUK SKUAD

Selain mengumumkan pesepakbola terbaik di 2021, The Best FIFA Award 2021 juga umumkan skuad terbaik yaitu Men’s FIFA FIFPRO World XI. Pemilihan World XI berdasarkan pemilihan suporter sepakbola dari seluruh dunia, para pelatih, pemain, dan juga panel FIFA. Dari 23 nominasi, 11 pemain terbaik untuk skuad pun dipilih. Posisi kiper dihuni Donnarumma, di bek ada Bonucci, di tengah ada Jorginho, sementara untuk sektor penyerang, kali ini diisi oleh empat pemain yaitu Robert Lewandowski, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Erling Haaland.

ERIK LAMELA SABET GELAR PUSKAS AWARD

FIFA Puskas Award 2021 jatuh pada Erik Lamela. Lamela mencetak gol berkelas saat membela Tottenham Hotspur. Gol Lamela ke gawang Arsenal dalam lanjutan Premier League pada 14 Maret 2021 bisa terpilih lantaran proses penciptaannya yang sungguh indah. Dia melepaskan tembakan rabona yang membawa Tottenham Hotspur memimpin 1-0. Lamela mengalahkan dua pesaingnya, yakni gol Patrik Schick, yang dicetak pada ajang Euro 2020. Serta gol salto Mehdi Taremi ke gawang Chelsea di Liga Champions.

RONALDO DIGANJAR PENGHARGAAN SPESIAL FIFA 2021

Cristiano Ronaldo bukannya bertangan hampa di Penghargaan FIFA 2021. Megabintang sepakbola Portugal ini diganjar sebuah penghargaan spesial. Dia menerima penghargaan spesial karena menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa di level internasional. Pada September lalu, Ronaldo sukses melampaui rekor 109 gol pesepakbola legendaris Iran Ali Daei yang bertahan selama 15 tahun. Dalam pidatonya, Ronaldo turut mengungkapkan gairahnya untuk terus bermain sepakbola. Meski segera menjejak usia 37 tahun pada 5 Februari mendatang, Ronaldo belum berniat pensiun dalam waktu dekat.

DAFTAR LENGKAP PEMENANG THE BEST FIFA AWARDS 2021

Ada 11 penghargaan yang diberikan dalam The Best FIFA Awards 2021. Penghargaan Spesial Terbaik FIFA: Cristiano Ronaldo, Kiper Pria Terbaik FIFA: Edouard Mendy (Chelsea), Pelatih Pria Terbaik FIFA: Thomas Tuchel (Chelsea), Pemain Wanita Terbaik FIFA: Alexia Putellas (Barcelona), Kiper Wanita Terbaik FIFA: Christiane Endler (PSG), Pelatih Wanita Terbaik FIFA: Emma Hayes (Chelsea/Inggris), Penghargaan Gol Terbaik FIFA (Puskas): Erik Lamela (Tottenham Hotspur), Penghargaan Penggemar FIFA: Penggemar Denmark dan Finlandia dan Penghargaan Fair Play FIFA yang diraih Tim putra dan staf medis Denmark, serta yang terakhir penghargaan Men’s FIFA FIFPRO World XI.

EDEN HAZARD INGIN TINGGALKAN REAL MADRID

Eden Hazard gagal bersinar di Real Madrid. Hazard sejauh ini baru bermain sebanyak 59 kali di seluruh kompetisi. Cuma lima gol dan 10 assist dikemasnya. Dikabarkan, Hazard sudah berbicara dengan pihak Real Madrid mengenai keinginannya untuk pergi. Hazard meminta Madrid menerima tawaran dari klub manapun yang meminati dirinya. Kontrak Hazard sendiri masih berlaku sampai tahun 2024. Harganya di pasaran, ada di angka hanya 18 juta Euro atau setara Rp 293 miliar.

BRENTFORD BERMINAT BAWA KEMBALI ERIKSEN KE EPL

Brentford dilaporkan tertarik untuk merekrut mantan gelandang serang Inter Milan, Christian Eriksen. Tawaran kontrak berdurasi enam bulan pun telah dilayangkan salah satu tim promosi Liga Inggris musim ini tersebut kepada perwakilan gelandang asal Denmark tersebut. Sebelumnya, gelandang serang berusia 29 tahun itu sempat mengungkapkan niatnya untuk tetap berkiprah di pentas sepak bola profesional meski sempat alami penyakit jantung.

INTER JALIN KONTAK DENGAN DYBALA DARI JUVENTUS

Demi memenuhi ambisi scudetto hingga Liga Champions, Inter Milan dikabarkan berniat membajak Paulo Dybala. Inter Milan sampai menyodori Dybala sebuah tawaran kontrak menggiurkan agar sang pemain mau meninggalkan Juventus. Inter menawarinya kontrak jangka panjang berdurasi lima tahun dan gaji sebesar 7,5 juta euro atau setara Rp 122 miliar per musimnya. Inter Milan kini masih menunggu Dybala mau menerima tawaran itu atau tidak.

BENZEMA LEWATI CATATAN RONALDO DI PIALA SUPER SPANYOL

Karim Benzema membantu Real Madrid menjuarai Piala Super Spanyol lewat golnya ke gawang Bilbao. Penyerang 34 tahun itu sudah membuat 5 gol di ajang Piala Super Spanyol. Lima gol Benzema rupanya melewati catatan Ronaldo, eks rekannya di Madrid. Pemilik 5 Ballon d’Or itu baru mengoleksi 4 gol di ajang Piala Super Spanyol. Benzema juga mengalahkan jumlah trofi Ronaldo. Eks Lyon itu sudah mengoleksi tiga gelar, sementara Ronaldo baru dua kali juara.

USAI TEKEN KONTRAK BARU, UMTITI MALAH CEDERA

Barcelona menerima kabar buruk di tengah upaya mereka melepas Samuel Umtiti, setelah bek Prancis itu mengalami patah metatarsal saat latihan. Pemain 28 tahun ini baru saja menandatangani kontrak anyar berdurasi empat setengah tahun pekan lalu. Kini sepekan usai perpanjang kontrak, Umtiti malah cedera dan akan menjalani operasi. Blaugrana awalnya berharap bisa meminjamkan Umtiti Januari ini atau menjualnya permanen di bursa transfer musim panas mendatang.

BARCELONA ULTIMATUM DEMBELE TANDA TANGANI KONTRAK BARU DALAM 48 JAM

Ousmane Dembele hampir kehabisan waktu setelah ia terus berpikir panjang soal tawaran perpanjangan kontraknya di Barcelona. Dia sedang dalam negosiasi kontrak baru selama lebih dari satu bulan. Barca tidak dalam posisi untuk terus membayar Dembele dengan gaji besar. Bukan hanya beban upah klub yang besar, tapi karena Dembele dinilai belum membuktikan diri layak digaji besar. Barcelona memberi Dembele waktu 48 jam untuk mengambil keputusan. Jika ia tidak kunjung menandatangani kontrak baru, Barca akan mencari pembeli di bursa transfer Januari 2022 ini.

AC MILAN KALAH DARI SPEZIA, ASOSIASI WASIT ITALIA MINTA MAAF

Asosiasi Wasit Italia (AIA) meminta maaf kepada AC Milan karena kesalahan yang dibuat Marco Serra dalam laga Liga Italia kontra Spezia. Pada laga itu, sejatinya, sebelum Gyasi mencetak gol kemenangan bagi Spezia, Milani sempat mencetak gol lewat sontekan Junior Messias. Sebelum bola dikontrol Messias, Ante Rebic yang mencoba menerobos kotak penalti, dijatuhkan pemain Spezia. Lalu, bola jatuh di kaki Messias dan disarangkan ke gawang lawan. Akan tetapi, wasit Marco Serra membuat kesalahan dengan malah meniup peluit dan tidak membiarkan laga berlanjut, padahal bola masih dikuasai pemain Milan. Sontak, para pemain Milan protes dan mengerubungi Serra.

AUBAMEYANG TINGGALKAN PIALA AFRIKA KARENA MASALAH JANTUNG

Pierre-Emerick Aubameyang dipastikan tidak akan membela Timnas Gabon di Piala Afrika 2021. Pasalnya, pemain 32 tahun tersebut dikembalikan ke Arsenal karena permasalahan jantung. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Federasi Sepak Bola Gabon (Fegafoot) melalui media sosial resmi, Senin (17/1) malam WIB. Selain Aubameyang, Mario Lemina juga dikembalikan ke klub. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) sebelumnya melaporkan bahwa Aubameyang mengalami lesi jantung pasca pulih dari COVID-19.

HASIL PIALA AFRIKA: KAMERUN DITAHAN IMBANG CAPE VERDE

Kamerun gagal melanjutkan tren positif di laga ketiga Grup A Piala Afrika 2022 setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 lawan Cape Verde, Senin (17/1). Bertanding di Stadion Omnisport Paul Biya, Kamerun unggul lebih dulu lewat Vincent Aboubakar di menit 39. Akan tetapi, Cape Verde mampu membuat kejutan di babak kedua lewat gol Garry Rodrigues. Di laga lain, Burkina Faso imbang 1-1 dengan Etiopia. Hasil itu cukup membawa Burkina Faso finis sebagai runner-up Grup A di bawah Kamerun.

Everton yang hobi Gonta Ganti Pelatih Sejak Moyes Cabut

Umumnya gonta-ganti pelatih hanya dilakukan oleh klub klub besar, karena ekspektasi klub yang tidak terealisasi atau target yang meleset. Namun hal itu tidak berlaku untuk Klub papan tengah Everton.

Everton belakangan ini sering melakukan tradisi gonta-ganti pelatih. Apalagi semenjak tidak ditangani David Moyes. Pelatih yang kini menukangi West Ham itu adalah pelatih Everton paling lama terakhir. Terhitung sudah 11 tahun ia melatih Everton, dari 2002 hingga 2013.

Lamanya Moyes melatih Everton tak membuat pelatih setelahnya bernasib sama. Sejak 2013, Everton sering gonta-ganti pelatih. Siapa saja pelatih Everton yang sering dipecat? Apakah ada keterkaitan satu sama lain akan sebab “singkatnya umur” mereka di everton?

 

Roberto Martinez (2013-2016)

Pada tahun 2013, ada nama Roberto Martinez yang akhirnya menjadi suksesor Moyes di Everton. Martinez, ketika itu baru saja memenangkan Piala FA bersama Wigan Athletic.

Dia melakukan tugas bagus di musim pertamanya 2013/2014, dan hanya gagal lolos ke Liga Champions saat Everton menutup musim ketika itu.

Pelatih asal Spanyol itu menangani everton sebanyak 143 kali, memenangkan 62 pertandingan, imbang 37 kali, dan 44 kali kalah.

Sayangnya, pada akhir musim 2015/2016, Everton ketika itu menoreh hasil buruk bersama Martinez. Meskipun maju ke semifinal di Piala Liga, akhirnya manajer Spanyol itu tak bisa lari dari pemecatan.

Ronald Koeman (2016-2017)

Tidak seperti Moyes, yang dibayangkan banyak fans Everton ada pelatih yang akan lama menukangi klub, ternyata tidak.

Sebenarnya harapan bagi fans Everton hadir ketika itu setelah ada pembelian saham oleh taipan Iran, Farhad Moshiri pada tahun 2016 oleh pemilik sebelumnya, Kenwright.

Akhirnya Everton menunjuk Ronald Koeman menggantikan Roberto Martinez sebagai manajer Everton, ini adalah tindakan pertama Farhad Moshiri sebagai pemegang saham di klub.

Koeman tampaknya menjadi target utama Moshiri sejak Martinez dipecat pada Mei 2016. Koeman meninggalkan Southampton untuk menandatangani kontrak tiga tahun di Goodison Park.

Masa jabatan pertama Koeman di Goodison tentu menunjukan hasil positif. Everton finis di urutan ketujuh di Liga Inggris serta berhak lolos ke Liga Europa.

Namun, serangkaian pertandingan pembuka yang menyakitkan di musim kedua Koeman pada 2017/2018 terjadi. Sebelum ia dipecat pada pertengahan musim Oktober, ketika itu Everton masih berjuang di zona degradasi dengan hanya meraih delapan poin dari sembilan pertandingan.

Koeman pun meninggalkan Everton setelah memimpin 58 pertandingan, dengan 24 kali menang, 14 kali seri dan 20 kali kalah.

David Unsworth (2017)

Setelah pemecatan Ronald Koeman, Everton telah menyerahkan kendali sementara kepada manajer U23 mereka David Unsworth sebagai pelatih ad interim, sembari menunggu datangnya manajer baru.

Di era Unsworth, The Toffees berada di tengah-tengah rentetan lima pertandingan tanpa kemenangan. Dewan Everton tidak bisa memutuskan manajer hingga akhir musim dan David Unsworth mengalami kesulitan menjaga tim ketika itu.

The Toffees gagal memenangkan sepuluh pertandingan berturut-turut, dan hanya menang sekali dalam rentang empat belas pertandingan, sebelum dewan akhirnya mengambil keputusan.

Sebagai bentuk kekecewaan para penggemar, klub yang berada dalam pertempuran degradasi itu sangat membutuhkan seseorang untuk memastikan mereka selamat dari degradasi. Sampai tidak lama setelah itu dewan mempekerjakan Sam Allardyce sebagai manajer sementara berikutnya.

Sam Allardyce (2017-2018)

Ditunjuk sebagai pelatih, Allardyce melakukan tugasnya sesuai kapasitasnya, meski antusias fans terhadap penunjukan Allardyce kurang. Namun, keraguan itu dibuktikan Allardyce dengan catatan tujuh pertandingan tak terkalahkan berturut-turut pada masa jabatan pertamanya.

Sayangnya, Allardyce tidak bisa mempertahankan itu, dan Everton kembali merosot di papan klasemen. Allardyce telah melakukan tugasnya dan menghindari jurang degradasi bagi Everton.

Tetapi standar permainannya tidak cukup baik, dan tidak sesuai dengan harapan fans maupun sang pemilik.

Maka, pada 16 Mei 2018, Dewan Everton kembali membuat keputusan untuk memecat Allardyce. Dengan gengsi Moshiri, Everton merasa sudah waktunya untuk memulai lembaran yang baru bersama pelatih baru. Dua minggu kemudian, klub memutuskan menunjuk Marco Silva sebagai manajer Everton berikutnya.

Marco Silva (2018 – 2019)

Penunjukkan Marco Silva sebagai manajer Everton merupakan kehendak Farhad Moshiri. Terlebih Marco Silva adalah patuh dambaan Farhad Moshiri.

Pemilik Everton awalnya berusaha keras untuk menunjuk bos Watford saat itu, Marco Silva, sebagai penerus Ronald Koeman di Goodison Park pada November 2017. Tetapi kala itu Watford menolak untuk melepasnya, dan membuat Moshiri menahan diri sampai Silva benar-benar keluar dari Watford. Itulah mengapa Moshiri dulu menunjuk pelatih sementara Sam Allardyce.

Marco Silva pada 31 Mei 2018 menandatangani kontrak tiga tahun dengan Everton. Setelah pengangkatannya itu, Moshiri berkata:

“Kemampuan Silva ditopang oleh filosofi sepakbola yang kuat, etos kerja yang keras, dan antusiasmenya dalam merangkul Everton.”

Ironisnya itu hanya kembang lambe. Semusim berselang, kembali pengulangan terjadi, umur pelatih Everton dibawah Moshiri tidak bertahan lama. Setelah performa puncak pada periode pertama Marco Silva yang menghasilkan Everton finis urutan delapan klasemen, Silva tidak bisa menghindar di pertengahan musim periode keduanya. Ia dipecat Dewan Everton pada bulan Desember setelah rentetan hasil buruk yang membuat Everton merosot ke zona degradasi.

Duncan Ferguson (2019)

Moshiri dan Brands kembali menunjuk pelatih interim di tengah musim. Mantan Pemain dan asisten pelatih Everton, Duncan Ferguson ditunjuk menangani Everton hingga akhir musim. Ia akan menjadi pelatih keenam yang datang sejak Farhad Moshiri mengambil alih Everton.

Duncan Ferguson mengakui bahwa dia sebenarnya tidak dalam kerangka untuk menggantikan Marco Silva, tapi sebatas diminta untuk mengambil alih klub sementara oleh Moshiri, bersama Direktur teknik Brands.

“Saya di sini untuk menstabilkan keadaan tim, sampai mereka menemukan siapapun itu pelatihnya.”

Sampai pada akhirnya Moshiri benar benar menunjuk pelatih pada musim baru 2019/2020. Tak tanggung-tanggung, Moshiri mendatangkan pelatih papan atas Carlo Ancelotti. Harapan muncul lagi dari klub dan fans.

Carlo Ancelotti (2019 – 2021)

Carlo Ancelotti menerima kontrak empat setengah tahun yang diajukan The Toffees. Ancelotti sangat antusias dengan tantangan barunya, terlebih ia didukung proyek Moshiri yang akan memberinya kesempatan untuk melakukan terobosan.

Dalam awal debutnya, Ancelotti berhasil membawa Everton untuk sementara berada di peringkat tujuh klasemen Premier League. Di awal sentuhan tangan Ancelotti, Everton berhasil meraih lima kali kemenangan dari sembilan pertandingan yang dimainkan di seluruh kompetisi resmi.

Keberhasilan Ancelotti membawa Everton berada di jajaran papan atas menjadi sorotan karena berhasil melakukannya hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan. Tak hanya itu, Everton saat itu berpeluang besar masuk ke kompetisi antarklub Eropa, seperti UEFA Europa League maupun UEFA Champions League.

Harapan dari fans muncul ketika Ancelotti dinilai tepat sebagai pelatih yang ditunjuk Moshiri selama ini, dan berharap akan dipertahankan lama di Everton.

Kembali yang terjadi sebaliknya, di musim keduanya. Ancelotti mendapat pinangan dari klub besar Real Madrid, dan itu tentu saja sulit ia tolak. Moshiri sebagai pemilik pun susah untuk menghalangi Ancelotti pergi.

Total dua tahun dihabiskan Ancelotti di Everton. Total 67 pertandingan dilaluinya bersama The Toffees di semua kompetisi, dengan catatan 31 menang, 14 seri dan 22 kali kalah.

Rafael Benitez (2021 – 2022)

Moshiri dan Brands kembali mencari pelatih baru sepeninggal Ancelotti. Akhirnya, Everton menunjuk Rafael Benitez sebagai pelatih barunya pada juni 2021.

Farhad Moshiri telah mengklaim Rafael Benitez akan diberikan waktu lama dan dukungan keuangan untuk menghidupkan kembali Everton.

Benítez adalah penunjukan pelatih permanen kelima Moshiri. Menurut TalkSport, Moshiri menyatakan bahwa dia bertanggung jawab dengan penunjukan Benitez sebagai pelatih baru yang kontroversial karena pernah melatih rival, Liverpool, dan akan mendukung Benítez dengan dana yang besar.

Umur kepelatihan Benitez pun ternyata tidak lama. Di tengah musim, semenjak rentetan hasil buruk, Everton hanya mampu duduk di papan bawah klasemen. sampai pada terakhir kalah melawan tim juru kunci Norwich City di pertengahan Januari 2022. Ia pun dipecat setelah kekalahan itu.

Menyoal berbagai peristiwa datang dan perginya para pelatih Everton, mungkin ada keterkaitan akan hasil buruk yang melanda sehingga klub dan fans merasa tidak puas. Berbeda pada era Moyes, sebelas tahun menjadi tim yang konsisten tidak pernah terperosok di jurang degradasi.

Faktor Farhad Moshiri dan Michael Brands menjadi penting untuk diperhatikan. Ketidaksabaran pemilik mungkin juga menjadi faktor. Ekspektasi tinggi fans ketika kedatangan pemilik baru pun tidak sesuai harapan.

Sekarang apa yang ingin dilakukan Everton dan Moshiri? Apakah mereka ingin menjadi seperti dulu dengan satu pelatih yang berproses panjang seperti Moyes, atau gonta-ganti pelatih ini masih akan berlanjut setelah Benitez?

Sumber Referensi : fourfourtwo, royalbluemerseyside, skysports

Drama Pemain Indonesia yang Berkarier di Lechia Gdansk

0

Dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali. Begitulah kira-kira nyanyian para pecinta sepak bola tanah air ketika disodorkan pemberitaan bahwa Witan Sulaeman tak mendapat banyak menit bermain di Lechia Gdansk.

Kasus yang dialami Witan Sulaeman kurang lebih hampir sama dengan yang pernah diderita Egy Maulana Vikri. Meskipun ia sempat menarik perhatian dalam debutnya pada laga persahabatan melawan klub kasta keempat bersama Lechia Gdansk senior, nyatanya memang belum cukup meyakinkan Tomasz Kaczmarek selaku pelatih anyar untuk terus memakai jasa Witan.

Merasa Dejavu, akhirnya fans Indonesia murka, mereka sempat mengancam akan meng-unfollow akun media sosial Lechia Gdansk apabila tak kunjung memainkan Witan Sulaeman. Bahkan netizen sempat menyindir manajemen Lechia dengan kalimat “No Witan No Party” di salah satu lembar komentar postingan Lechia Gdansk.

Bak drama sinetron, kisah Witan Sulaeman bersama Lechia Gdansk pun terus berlanjut. Hingga beberapa hari yang lalu Witan santer dirumorkan dengan klub FK Senica dengan FK Senica yang memposting huruf W,I,T,A dan N. Yang mana FK Senica juga dibela oleh Egy Maulana Vikri.

Sebagai Batu Loncatan

Dengan bergantinya kursi kepelatihan ke Tomasz Kaczmarek, sebetulnya Witan diprediksi akan mendapat banyak menit bermain daripada Egy. Namun, ternyata pernyataan tersebut hanya isapan jempol.

Akhir-akhir ini akun media sosial milik Lechia Gdansk sering mendapat hate comment dari para netizen yang kesal karena Witan Sulaeman tak kunjung diberikan menit bermain oleh Lechia. Mereka takut bahwa Witan akan bernasib sama seperti Egy.

Berkaca dengan track record Egy di Lechia Gdansk, ia juga jarang mendapat menit bermain di level tim senior, namun Egy tak keberatan dengan hal itu, bahkan ia sudah tau kalau ia bakal jarang dimainkan jika memutuskan bergabung dengan Lechia Gdansk pada 2018 lalu.

Egy sempat menyatakan bahwa tujuan ia bergabung dengan Lechia Gdansk bukan untuk mencari menit bermain. Ia sadar kalau tak akan langsung mendapat banyak menit bermain dalam tahun pertamanya di Eropa.

Salah satu tujuan Egy memilih Lechia Gdansk adalah guna memperbaiki fisiknya. Apalagi sejauh ini, ia merasa kualitas fisiknya jauh dibawah standar pemain Eropa saat itu. Ia pun telah belajar banyak di sana, dan hal itu dibuktikan Egy ketika bergabung ke FK Senica sekarang.

Witan Sulaeman diharapkan bisa meniru langkah yang sudah dilakukan Egy, yang menjadikan Lechia Gdansk sebagai batu loncatan guna mempersiapkan diri menghadapi persaingan yang sebenarnya apabila ia dilepas Lechia ke klub lain. Toh usia Witan juga baru menginjak 20 tahun, perjalanan karier Eropanya masih panjang.

Rumor yang beredar adalah Witan kabarnya akan segera merapat ke klub Slovakia, FK Senica menyusul Egy. Hal itu tidak menutup menunjukan kedua pemain ini bakal berduet di FK Senica. Apalagi, walau kontrak Egy di FK Senica sudah habis, Dusan Bogdanovic selaku agen dari kedua pemain tersebut sempat menyampaikan bahwa ia sedang mengusahakan perpanjangan kontrak bagi pemainnya itu. Let’s see.

Nah, netizen yang mengirim ucapan kurang mengenakan di laman postingan Lechia Gdansk tak melihat sudut pandang itu. Mereka hanya mau gampangnya saja, dan hanya ingin melihat Witan lebih banyak bermain daripada Egy. Ayolah percaya proses, jangan jadi kaya bapak Exco yang itu, nggak percaya proses.

Sedikit Berterima Kasih Pada Lechia Gdansk

Sebelum kalian kembali menyerbu laman komentar postingan Lechia Gdansk, kita harus melihat dari sudut pandang yang menarik. Jika dipikir lagi seharusnya kita berterima kasih pada klub Polandia ini.

Lechia Gdansk adalah salah satu klub Eropa yang mengawali tren merekrut pemain muda Indonesia pada tahun 2018 lalu. Kala itu, Egy jadi rekrutan pertama mereka. Setelah kesepakatan ini terjadi banyak pemain muda Indonesia yang menyusul Egy untuk berkarier di luar negeri, contohnya seperti Witan Sulaeman, Bagus Kahfi, dan Asnawi Mangkualam. Bahkan kalau tidak bermain di Gdansk, Egy mungkin tidak akan dilirik oleh FK Senica.

Terlepas dari kontroversinya, Lechia Gdansk sudah menjadi aktor protagonis dalam pengembangan pemain muda Indonesia. Mereka mau menampung pemain dari negara Asia tenggara yang bahkan tak masuk seratus besar peringkat FIFA. Kita patut berterima kasih.

Win Win Solution

Seperti yang kita ketahui bersama, fasilitas dan pola latihan di Eropa sangatlah berbeda, mereka memiliki nilai lebih dalam segala aspek apabila dibandingkan dengan yang ada di Indonesia.

Lechia Gdansk mau mendidik dan membina pemain muda Indonesia sesuai dengan kurikulum sepak bola Eropa. Mereka juga diberi kesempatan untuk bertanding dan bersaing dengan pemain lokal sana, yang notabene lebih berpengalaman dengan kultur sepak bola Eropa.

Dari segi fisik dan teknik, pemain Indonesia yang menimba ilmu di sana juga diperbaiki gizinya, dibiasakan melakukan angkat beban, dan makan makanan sehat guna mendukung pola latihan yang baik agar siap menghadapi sengitnya persaingan di liga-liga benua biru.

Harusnya kita sebagai masyarakat yang sadar akan hal tersebut, berterima kasih dengan Lechia Gdansk. Memang, mereka terkesan dimanfaatkan dan jarang mendapat menit bermain, tapi tak dapat dipungkiri “pencapaian” Egy di Slovakia sekarang adalah buah dari latihan kerasnya selama tiga tahun bersama Lechia Gdansk. It’s a win win solution. Lebih baik dijadikan alat marketing tapi skill olah bola meningkat, daripada hanya stuck di Liga “Dagelan”. Mau jadi apa?.

Sekarang dengan status Witan yang masih terikat kontrak dengan Lechia Gdansk, kabar yang menyatakan bahwa Witan akan ke FK Senica mungkin sebagai pemain pinjaman, seperti yang disampaikan oleh sang agen Dusan Bogdanovic.

“Witan Sulaeman saat ini masih menjadi pemain Lechia Gdansk, Kemarin kan saya sudah bilang ada banyak tim yang meminta Witan Sulaeman untuk meminjam salah satunya FK Senica,” kata Dusan Bogdanovic saat dihubungi Bola Sport pada Kamis (13/1/2022). Kayaknya sih tinggal tunggu pengumuman resmi aja dari pihak FK Senica.

Kabarnya tren merekrut pemain Indonesia tetap akan dilanjutkan oleh pihak Lechia Gdansk. Siapa pun nanti yang akan menggantikan Witan harapannya ia bisa mencontoh pendahulunya. Serap ilmu sebanyak-banyaknya dan terapkan dengan baik di pertandingan klub maupun tim nasional nanti. Tetap support terus pemain muda Indonesia yang berani meninggalkan zona nyamannya.

Sumber: Transfermarkt, Bolasport, Bola.com

Piala Afrika 2021: Kisah Limbe Si Kota Hantu

0

Limbe Omnisport Stadium menjadi tempat pertandingan Grup F yang berisi Mali, Tunisia, Mauritania, dan Gambia, serta satu pertandingan Grup E antara Sierra Leone menghadapi Guinea Khatulistiwa. Limbe juga akan menyelenggarakan dua pertandingan babak 16 besar Piala Afrika.

Limbe termasuk daerah di Kamerun yang  terletak di kaki Gunung Kamerun dan berhadapan dengan Samudera Atlantik. Daerah yang dikenal sebagai Victoria dan lalu diubah melalui Keputusan Presiden tahun 1980 menjadi Limbe.

Limbe adalah sub-divisi dan ibu kota Divisi Fako yang di dalamnya terletak Buea—ibu kota regional Wilayah Barat Daya.

Limbe terdiri dari Limbe 1, 2, dan 3 menyaingi Kumba sebagai ibu kota ekonomi dari Wilayah Barat Daya. Memiliki luas permukaan 185 km2 dan membuka dari Teluk Man O War menyeberang ke Teluk Ambas ke Barat, lalu ke Teluk Guinea.

Limbe berubah menjadi apa yang dikenal sebagai kota hantu. Pasalnya, ancaman kelompok separatis untuk menyerang siapa saja yang bepergian, bekerja, atau bersekolah dianggap sebagai simbol pemerintah pusat.

Dalam suatu kesempatan, sebuah kelompok yang mengatasnamakan Ambazonia mengancam akan menyerang stadion di hari pertandingan. Dalam orasi yang disampaikan, mereka telah memasang sejumlah bahan peledak (IED) di Limbe Omnisport Stadium jika pertandingan Piala Afrika tetap digelar di daerah itu.

Guna mengantisipasi gejolak, pemerintah pusat mengerahkan ribuan personel militer dan polisi untuk mengamankan Limbe dan stadion sepak bola berkapasitas 20.000 penonton yang dibangun pada 2012 dan diresmikan pada 26 Januari 2016.

Limbe Omnisport Stadium sedikit stadion di dunia yang dibangun di atas bukit dan memiliki pemandangan laut yang menakjubkan. Pada November 2016, stadion ini menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola wanita sebagai bagian dari turnamen internasional pertamanya.

Asal Usul Kota Hantu

Pada 9 Januari 2017, Agbor Balla mendeklarasikan Operasi Perlawanan Kota Hantu (OGTR), yang terutama ditandai dengan kepatuhan ketat pada ritual duduk di rumah setiap Senin dan Selasa atau hari lain yang dinyatakan oleh pimpinan CACSC. Selama periode ini, penduduk dari dua wilayah Anglophone di Kamerun menjauh dari kantor dan tempat bisnis sehingga menghentikan semua kegiatan politik dan ekonomi.

Pada Agustus 2017, Presiden Paul Biya memerintahkan pembebasan beberapa tahanan tetapi menghindari dialog yang memicu protes massal pada September 2017 dengan 500.000 orang.

Tanggapan pemerintah adalah tindakan keras brutal yang berujung pada proklamasi kemerdekaan pada 1 Oktober 2017. Sementara sekitar 900.000 pengunjuk rasa tak bersenjata merayakan deklarasi ini, pasukan pemerintah menembak ribuan dengan senapan otomatis dan helikopter.

Ini menandai dimulainya serangan militer terhadap desa-desa, perintah agar desa-desa dievakuasi, eksodus massal penduduk desa ke Nigeria, menciptakan 50.000 pengungsi, dan 200.000 pengungsi internal hari ini.

Semua ini mendorong kampanye bersenjata oleh warga sipil untuk mempertahankan rumah dan desa mereka, yang mengarah ke pemberontakan bersenjata besar-besaran.

Rakyat sipil daerah Kamerun Selatan bersatu untuk  mengambil alih kepemimpinan perjuangan, menyusul penangkapan dan penahanan pimpinan CACSC.

Diaspora Anglophone menggantikan pencarian awal untuk pemulihan federalisme dua negara bagian dengan permintaan untuk Negara Bagian Ambazonia yang terpisah.

Beberapa kelompok muncul, memobilisasi nasionalisme Anglophone di Kamerun dan sekitarnya menuju pencapaian Ambazonia.

Organisasi Masyarakat Kamerun Selatan (SCAPO), Forum Afrika Selatan Kamerun Selatan (SCSAF), Gerakan untuk Pemulihan Kemerdekaan di Kamerun Selatan (MoRISC), dan Kamerun Selatan di Nigeria (SCINGA). Lainnya adalah Southern Cameroon National Council (SCNC), Republic of Ambazonia (RoA), Ambazonia Governing Council (AGC) dan Southern Cameroon Youth League (SCYL).

Kelompok serupa lainnya yang memproyeksikan nasionalisme dan aspirasi Anglophone juga dibentuk di Eropa dan Amerika.

Front Persatuan Konsorsium Ambazonia Selatan Kamerun (SCACUF) di bawah kepemimpinan Sisiku Julius Ayuk Tabe muncul sebagai organisasi payung bagi semua kelompok ini. SCACUF mendirikan Southern Cameroon Broadcasting Corporation (SCBC) untuk mempertahankan aspirasi Anglophone melalui propagandanya.

Saat ini, Dewan Pengurus Ambazonia telah berganti nama menjadi Pemerintah Sementara Ambazonia.

Penderitaan Perang Sipil.

Ada risiko dari serangan semacam itu di semua tempat AFCON, terutama di Limbe. Meskipun Limbe adalah salah satu dari sedikit kota yang relatif tenang di wilayah Anglophone.

Dua serangan bom selama turnamen sepak bola Kejuaraan Afrika pada Januari 2020, salah satunya melukai petugas polisi, dan menyoroti kerentanan kota.

Sebuah kelompok separatis bersenjata, Pasukan Aksi Fako (FAF) mengaku bertanggung jawab atas setidaknya satu dari ledakan IED tersebut. Terlebih lagi, kelompok yang sama baru-baru ini aktif di Buea, ibu kota Wilayah Barat Daya dan dekat dengan Limbe.

Lebih dari satu juta orang telah dipaksa meninggalkan rumah mereka.

“Rasanya seperti neraka di bumi,” kata Akame Kingsley Ngolle, pria mengelola sebuah sekolah di Munyenge di utara Limbe, tetapi harus melarikan diri ketika peluru mulai beterbangan.

Sebagian besar guru dan murid berhasil sampai ke Limbe juga, dan sekolah beroperasi kembali, meskipun di tempat sewaan. Dinding kayu di lantai dasar gedung tiga lantai membuatnya terasa seperti solusi sementara.

Para guru harus menghadapi banyak kesulitan, termasuk siswa yang telah kehilangan pendidikan selama bertahun-tahun. Tidak ada yang pergi ke sekolah atau melakukan banyak hal pada Hari Senin juga. Seperti kebanyakan Wilayah Anglophone Kamerun, Limbe berubah menjadi apa yang dikenal di sini sebagai “Kota Hantu”, karena ancaman kelompok separatis untuk menyerang siapa saja yang pergi bekerja atau sekolah.

Harapan Damai di Tangan Kamerun

Rupa-rupa perang yang dilancarkan oleh pemerintah terhadap masyarakat sipil jelas bukan keinginan jalan terbaik. Pasalnya pemerintah dan masyarakat sipil tidak memiliki jembatan untuk menemukan titik damai.

Lewat turnamen mantan-mantan pemain, seperti Eyong Enoh mantan pemain Ajax dan Willem II yang kini tinggal di negara asalnya Kamerun dan mengikuti Piala Afrika di sana. Pemain internasional 55 kali itu berharap turnamen akan berkontribusi pada perubahan.

“Sebagai orang Kamerun biasa, saya benar-benar selesai dengan kekerasan. Sebagai warga biasa, saya terutama memikirkan semua korban konflik ini,” kata Enoh.

“Yang saya harap adalah Piala Afrika akan mengingatkan kita tentang apa yang kita miliki bersama sebelum krisis ini dimulai.”

Sepak bola hendaknya bisa menjadi alat perdamaian. Meski tidak mengakhiri konflik dengan sendirinya. Itu hanya bisa terjadi jika para pemimpin mengajukan pertanyaan tentang siapa yang benar di urutan kedua dan fokus pada solusi dan kompromi.

Maskot Singa Mola, seekor singa yang baik hati, sedang melakukan tur di wilayah Anglophone di Kamerun pada pertengahan Desember untuk mempromosikan Piala Afrika yang akan datang. Satu peleton tentara bersenjata lengkap berbaris di sisinya, rompi antipeluru disampirkan di bahunya.

Namun Enoh senang bahwa sepak bola dimainkan di negaranya di masa krisis ini. “Jika kami tidak melakukannya sekarang, kami sebagai dunia sepakbola akan mengkonfirmasi masalah ini.”

Mantan pemain sepak bola Willie Overtoom, pemain internasional tiga kali dari Kamerun, mengikuti konflik dari jarak jauh dari Belanda.

“Ini terutama mempengaruhi ibu saya, yang sering pergi ke arah itu. Dia ingin menjenguk kakaknya yang sedang sakit keras, tapi dia menunggu sampai keadaan lebih aman.”

Seperti Enoh, Overtoom berharap Piala Afrika akan berkontribusi pada perdamaian. Dalam dirinya sendiri, turnamen adalah sesuatu yang sangat indah. Ia berharap tim Kamerun terus menang, sehingga suasana di sekitar turnamen tetap positif.”

Harapan perdamaian jadi barang mahal di Limbe. Bisa terealisasi tergantung itikad pemerintah dan masyarakat sipil.  

 

Referensi: E International Relation, Foreign Policy, CNN, Crisis Group, Accord, Red Fame, Aljazeera,