Beranda blog Halaman 363

Bongkar Pasang Bek Manchester City, Kata Siapa Pep Hanya Fokus Menyerang?

Total Football, menyerang, main indah, dan menang, itulah beberapa kata yang identik dengan seorang Pep Guardiola. Sebagai anak buah Johan Cruyff tak heran jika filosofi sepakbola menyerangnya tak akan lekang oleh waktu meski gonta-ganti klub. Termasuk yang dibawanya di Manchester City.

Namun tunggu dulu, apakah Pep hanya fokus pada hal menyerang saja ketika di City? Kalau dicermati secara seksama dari perjalanannya hingga sekarang, fokus yang tak kalah penting baginya ternyata adalah sektor pertahanan.

Revolusi Pertahanan Manchester City Bersama Pep

“Pertahanan terbaik adalah menyerang” adalah yang dianut oleh Pep Guardiola. Namun, tak serta-merta Pep percaya pada hal itu saja. Mantra dari Sir Alex Ferguson yang pernah mengatakan bahwa “Pertahanan terbaik akan menghasilkan gelar” ternyata diilhami juga oleh seorang Pep.

Datang ke Etihad 2016 silam, Pep diwarisi pertahanan yang buruk sejak ditinggal Manuel Pellegrini. Menggantikan Pellegrini bukan tugas yang mudah bagi Pep. Selain belum kenal banget atmosfer Liga Inggris, ia membutuhkan adaptasi untuk mengubah sistem yang ingin ia terapkan.

Kalau dalam hal menyerang tak usah diragukan lagi kapasitasnya. Sudah terbukti berhasil ketika di Barca maupun Bayern Munchen. Namun beda halnya dengan konsistensi dan pertahanan. Liga Inggris yang dikenal ketat membuat Pep harus fokus pada dua hal itu. Bisa saja Pep berprinsip seperti apa kata Coach Justin. “Jika kebobolan satu gol, akan tetapi bisa memasukan 3 gol, you still win the game”.

Namun Pep tentu tak sepicik itu. Karena terbukti di musim pertamanya Pep berupaya sekuat tenaga merumuskan lini pertahanannya. Meskipun harus diakui hal itu belum membuahkan hasil. City masih kesusahan dalam hal koordinasi pertahanan khususnya ketika diserang balik lawan.

Mahal Tak Masalah

Nah, oleh sebab itu di musim pertamanya, Pep tak tanggung-tanggung mendatangkan bek dengan mahar yang sangat mahal yakni John Stones dari Everton. Seorang bek dengan kemampuannya yang multifungsi di bek kanan maupun tengah.

Padahal ketika itu City masih mempunyai pemain bertahan yang posisinya sama dengan Stones yakni Bacary Sagna, Pablo Zabaleta, Nicolas Otamendi, maupun Vincent Kompany. Pep tampaknya sangat memanfaatkan kelebihan uang dari kekayaan sang pemilik untuk mendapatkan pemain yang ia inginkan. Sehingga membeli pemain mahal untuk satu posisi saja menjadi tak masalah.

Hal itulah yang terbukti terjadi di beberapa musim berikutnya oleh Pep. Setelah gagal di musim pertamanya dengan tanpa gelar, Pep kembali merombak pertahanannya dengan membeli para bek mahal lain yang diinginkannya. Tak main-main, Danilo, Kyle Walker, Aymeric Laporte, dan Benjamin Mendy didatangkan sekaligus dengan total mahar hampir mencapai 200 juta pounds.

Cuci Gudang Lini Pertahanan

Selain hal itu, Pep Guardiola juga berani melakukan cuci gudang di lini pertahanan. Setelah tak puas dengan kinerja beknya di sebelah kanan, tengah, maupun kiri, satu per satu para pemainnya pun terdepak. Mereka adalah Bacary Sagna, Pablo Zabaleta, Gael Clichy, maupun Aleksandar Kolarov.

Alhasil dengan pembelian para bek mahal dan cuci gudang yang dilakukan, Pep Guardiola berhasil meraih gelar juara Liga Inggris untuk pertama kalinya di musim 2017/18 dengan poin sempurna yakni 100. Dari segi kebobolannya pun paling sedikit yakni 27 gol.

Tak hanya sampai musim itu saja mereka cuci gudang di lini pertahanannya. Dalam perjalanannya hingga sekarang, banyak sudah bek yang jadi korban Pep. Seperti contoh Mangala, Otamendi, Danilo, Zinchenko, sampai Joao Cancelo.

Pep Sering Tak Puas dan Bereksperimen

Namun apakah dengan membeli bek mahal dan melakukan cuci gudang itu saja sudah cukup? Faktanya disamping sudah mendatangkan para bek yang diinginkannya dari musim ke musim, Pep juga sering tak puas dari segi konsistensi performa maupun kerentanan cedera.

Dasarnya suka bereksperimen, Pep ternyata tak hanya mahir bereksperimen di lini penyerangannya saja. Di lini pertahanan pun, ia sering mengejutkan dengan eksperimen strateginya. Seperti ketika ia menaruh seorang Fabian Delph yang notabene adalah seorang gelandang menjadi seorang bek kiri ketika Benjamin Mendy dilanda cedera panjang pada musim 2017/18.

Dengan eksperimennya itu, ternyata membuat kekuatan City tak mudah ditebak tiap musimnya. Oleh sebab itu, Pep dalam perjalanannya hingga sekarang ketagihan tak henti melakukannya.

Termasuk apa yang ia buat dengan Zinchenko, Cancelo maupun kini John Stones. Kepopuleran posisi Inverted Full Back seketika menyeruak ketika Cancelo maupun Zinchenko disulap Pep sejak musim 2020/21 menjadi seorang bek kanan yang sering masuk ke area tengah lapangan menemani seorang gelandang.

Evolusi peran tersebut disamping membuat para pemain lebih cerdas dan berkembang, secara hasil dilapangan pun positif. Selain menjuarai Liga Inggris berturut-turut, dari segi kebobolan dan memasukan gol, City adalah jagonya.

Musim 2020/21, City juara dengan memasukan gol terbanyak yakni 83 gol, serta kebobolan paling sedikit yakni 32 gol. Begitupun di musim lalu, mereka menjadi juara dengan memasukan gol paling banyak dengan 99 gol serta kebobolan 26 gol.

Bagaimana di Musim 2022/23?

Lalu apa yang terjadi di musim ini? Pep tak henti-hentinya bereksperimen dengan lini pertahanannya. Setelah terakhir kali mendatangkan bek seperti Ruben Dias dan Nathan Ake pada musim 2020/21, musim ini Pep juga menambah amunisi beknya lagi yakni dengan mendatangkan Manuel Akanji dari Dortmund.

Inilah yang jadi bukti bahwa Pep tak mau menganggap sepele soal lini pertahanannya. Bahkan seorang bek yang tampil apik seperti Cancelo saja berani ia pinjamkan ke klub lain. Kehilangan Cancelo sama sekali tak membuat Pep rugi. Begitupun ketika kehilangan Zinchenko di awal musim.

Karena kini giliran John Stones menjadi bek berikutnya yang sudah disulap oleh Pep. Stones tampil apik ketika dicoba menjadi seorang bek kanan yang sekaligus bisa menjadi gelandang tambahan menemani Rodri. Hasilnya positif, seperti kala membantai Soton, Munchen, maupun Leicester.

Di Liga Inggris musim ini, The Citizens pun masih berpeluang kembali meraih hasil yang positif dari segi kebobolan maupun memasukan gol. Sementara dari 30 laga yang telah dimainkan, City sudah menceploskan 78 gol dan kebobolan hanya 28 gol.

Dari beberapa catatan itu semua, kini yang lebih banyak dipertanyakan dari City dan Pep adalah, kapan gelar juara Liga Champions bisa didapat? Pertanyaan bak hantu itu sering tak mampu terjawab.

Karena faktanya, meski Pep tiap musimnya memperjuangkannya lewat beberapa pembenahan baik lini penyerangan, maupun pertahanannya sekalipun, masih saja sulit untuk didapat. Apakah memang apes dan terkutuk saja, ataukah musim ini adalah pembuktiannya?

Sumber Referensi : theathletic, totalfootballanalysis, transfermarket, fourfourtwo

Arsenal vs Man. City: Siapa yang Bakal Lebih Dulu Mengunci Titel Premier League?

Meratanya persaingan dan banyaknya hasil laga di luar prediksi menjadi dua alasan yang layak dipakai Premier League untuk mengklaim sebagai liga paling kompetitif di dunia. Selain dua alasan tadi, Liga Inggris juga selalu konsisten menyajikan persaingan sengit menuju tangga juara.

Tidak seperti beberapa liga lain di Eropa yang terdapat satu tim yang sangat mendominasi hingga nyaris atau lebih dari satu dekade, di Premier League penentuan juara acap kali harus ditentukan hingga akhir kompetisi. Jelang berakhirnya musim, persaingan titel Premier League juga selalu mengerucut menjadi sebuah perlombaan.

Di musim 2022/2023 ini, perebutan titel Premier League sudah dipastikan menjadi milik Arsenal atau Manchester City. Sang penantang melawan juara bertahan. Persaingan di antara kedua tim juga telah dipastikan bakal sangat sengit setelah hasil yang terjadi di pekan ke-31.

Arsenal Buang Poin, Manchester City Pangkas Jarak

Dalam lanjutan pekan ke-31 Premier League, Arsenal yang bertandang ke markas West Ham United harus puas berbagi angka. Yang menjadi sorotan di laga ini adalah kegagalan Arsenal mempertahankan keunggulan.

Pasukan Mikel Arteta mampu unggul cepat di 10 menit babak pertama berkat gol Gabriel Jesus dan Martin Odegaard. Sayangnya, The Gunners membuang percuma keunggulan 2 gol tersebut dan gagal meraih 3 poin di akhir laga.

West Ham berhasil memperkecil kedudukan lewat eksesuki penalti Said Benrahma di menit ke-33. Arsenal sebetulnya punya peluang untuk memperbesar jarak di menit ke-52. Sayang, Bukaya Saka gagal mengeksekusi hadiah penalti. Kegagalan tersebut kemudian harus dibayar mahal setelah Jarrod Bowen sukses menyamakan kedudukan hanya dua menit berselang.

Hasil tersebut memang tak mengubah posisi Arsenal. Mereka masih memimpin dengan koleksi 74 poin dari 31 laga. Namun, kegagalan The Gunners memetik 3 angka dalam dua laga terakhirnya telah mengubah situasi di puncak klasemen.

Seperti yang kita tahu, sebelum gagal menang di kandang di West Ham, Arsenal lebih dulu gagal menang di kandang Liverpool. Caranya juga sama. Setelah unggul 2 gol, The Gunners gagal mempertahankan skor dan berakhir pulang dengan 1 poin.

Di sisi lain, sang penantang terdekat mereka, Manchester City tengah tampil konsisten. Di pekan yang sama, Manchester City lebih dulu meraih kemenangan 3-1 atas Leicester City. Itu menjadi kemenangan keenam beruntun The Cityzens di Liga Primer. Sebuah konsistensi yang membuat pasukan Pep Guardiola kini tinggal berjarak 4 poin dari pasukan Mikel Arteta.

Manchester City masih memiliki satu laga tunda. Artinya, jika mereka mampu memetik kemenangan lagi, jarak poin mereka dengan Arsenal akan kembali terpangkas dan tentu saja meningkatkan tekanan di kubu Arsenal.

Arsenal vs Manchester City: Penentuan Sebelum Ujian Konsistensi Datang

Yang menarik adalah, pada pekan berikutnya, Manchester City bakal menjamu Arsenal di Etihad Stadium. Laga ini bakal sangat menarik untuk dinanti hasilnya dan bisa menjadi sebuah laga penentuan yang sekali lagi bisa mengubah situasi di papan klasemen.

Pada pertemuan pertama kedua tim di musim ini, Manchester City berhasil mempecundangi Arsenal di Emirates Stadium dengan skor 3-1. Misi balas dendam mungkin bakal diusung oleh The Gunners. Namun, lebih daripada itu, kemenangan wajib diamankan Arsenal jika ingin kembali menjuarai Premier League.

Laga antara Manchester City vs Arsenal sendiri bakal digelar pada 26 April mendatang. Sebelum bertandang ke Etihad, The Gunners bakal lebih dulu menjamu Southampton pada 21 April nanti. Sementara Man City bakal menghadapi Bayern Munchen di Liga Champions dan Sheffield United di FA Cup.

Berdasarkan head to head keduanya, Manchester City dan Pep Guardiola lebih unggul dari Arsenal dan Mikel Arteta. Pep Guardiola sukses memenangi 7 dari 8 pertemuannya dengan Mikel Arteta. Sementara itu, setelah tak lagi menjadi asisten Guardiola, Arteta baru sanggup mengalahkan mantan bosnya sekali.

Jadwal Pertandingan Terakhir Arsenal vs Manchester City

Jika berkaca dari hasil laga terakhir, Man. City tengah berada di atas angin. Form mereka tengah bagus-bagusnya. Sejak menundukkan Arsenal 3-1, The Cityzens tercatat tidak terkalahkan dalam 7 pertandingan terakhirnya di Premier League, di mana 6 laga terakhir berakhir dengan kemenangan beruntun. Di 5 laga terakhirnya di FA Cup dan Liga Champions, pasukan Pep Guardiola juga tak terkalahkan, bahkan tampil perkasa tatkala menggulung RB Leipzig 7-0, Burnley 6-0, dan Bayern Munchen 3-0.

Sementara itu, setelah takluk 3-1 dari Manchester City, Arsenal sebenarnya juga mencatat 9 laga tak terkalahkan di Liga Inggris. Namun, langkah mereka di Liga Europa dihentikan Sporting CP. Selain itu, 2 laga terakhir yang berakhir imbang menunjukkan ada tekanan pada pundak Arsenal.

Dalam format liga, konsistensi adalah kunci. Semisal Arsenal berhasil revans atas Man. City, tetapi masih membuang-buang poin di laga lain, lambat laun posisi mereka juga bakal tersalip.

Begitu juga dengan Manchester City. Mereka memang berpeluang besar mengkudeta puncak klasemen jika sekali lagi sanggup menjinakkan Arsenal. Namun, jika gagal menjaga konsistensi di laga tersisa, mereka harus siap gagal mempertahankan titel Premier League.

Maka dari itu, terlepas dari duel Manchester City vs Arsenal yang bakal berjalan sengit, sisa laga lainnya musim ini bakal jauh lebih menentukan bagi kedua tim. Siapa yang mampu menyapu bersih sisa laga dengan kemenangan, bakal memiliki peluang yang lebih besar. Namun, mereka yang tergelincir bakal kalah dalam perlombaan.

Oleh karena itu, Starting Eleven mencoba merangkum jadwal pertandingan tersisa dari Arsenal dan Manchester City. Di 7 pertandingan tersisa, Arsenal bakal berhadapan dengan Southampton, Manchester City, Chelsea, Newcastle United, Brighton, Nottingham Forest, dan Wolverhampton.

Sementara itu, di 8 laga tersisa, Manchester City akan berhadapan dengan Arsenal, Fulham, West Ham United, Leeds United, Everton, Chelsea, Brentford, dan satu laga tunda melawan Brighton.

Jika mengacu pada perhitungan Opta, kedua tim memiliki jadwal pertandingan dengan tingkat kesulitan yang berimbang. Selain City, sandungan terbesar Arsenal adalah Newcastle United yang di pertemuan pertama sukses menahan imbang The Gunners di Emirates Stadium. Sementara itu, batu sandungan Man. City selain Arsenal adalah Brentford yang di pertemuan pertama berhasil mengalahkan mereka 1-2 di Etihad Stadium.

Kekalahan atas Brentford itu juga jadi satu-satunya kekalahan Manchester City di kandang musim ini. Maka dari itu, langkah Arsenal di Etihad pada 26 April mendatang dipastikan bakal berat

Meski memiliki sisa laga yang cukup berimbang, tetapi di atas kertas peluang Manchester City untuk mempertahankan titel Premier League sedikit lebih besar. Supercomputer milik website analisis FiveThirtyEight juga memprediksi Manchester City akan memenangkan gelar kelima dalam enam tahun terakhir.

The Cityzens diproyeksikan akan finis dengan total poin 88, unggul 1 poin dari Arsenal yang diproyeksikan akan finis dengan raihan 87 poin. Supercomputer tersebut menilai kalau peluang City untuk mempertahankan titel Premier League lebih besar, yakni 67% berbanding 33% milik Arsenal.

Prediksi tersebut senada dengan apa yang diproyeksikan oleh Opta. Berkat hasil di laga pekan ke-31, kini peluang Man. City kembali juara meningkat menjadi 65,6%, sementara peluang juara Arsenal menurun menjadi hanya 34,4%.

Terlepas dari prediksi tersebut, tekanan lebih besar kini memang tengah berada di pundak Arsenal. Hasil imbang setelah membuang 2 keunggulan di 2 laga terakhir adalah buktinya.

Kesempatan Terbaik Arsenal vs Gengsi Manchester City

Arsenal dianggap gugup. Maklum, ini menjadi kesempatan terbaik mereka untuk kembali merengkuh titel Premier League setelah 19 tahun lamanya. Apalagi, di awal musim, mereka tampil begitu perkasa.

Sementara itu, Mikel Arteta sendiri tidak menyebut secara eksplisit kalau anak asuhnya panik dan gugup. Ia menilai bahwa penyebab timnya gagal menang atas West Ham adalah karena ‘kecerobohan’ dan hilangnya ‘naluri pembunuh’.

Itulah yang harus Arsenal perbaiki jika masih ingin berada di jalan yang benar. Seperti yang dikatakan Jimmy Floyd Hasselbaink, bahwa Arsenal harus juara sekarang atau tidak sama sekali. Pendukung The Gunners boleh saja menilai kalau juara musim ini adalah bonus, tapi akan sangat mengecewakan bukan jika mereka membuang begitu saja kesempatan besar yang sudah di depan mata.

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi tahun depan, semua orang akan menjadi lebih kuat. Mereka mungkin tidak akan berada di posisi ini lagi. Ini bukanlah musim yang buruk, tetapi mereka tidak boleh memberikan musim ini begitu saja!” kata Jimmy Floyd Hasselbaink dikutip dari The Independent.

Sementara itu, meski sorotan dan tekanan yang lebih besar mengarah ke Arsenal, tetapi bukan berarti Manchester City bisa tenang-tenang saja. Menurut kami, akan sangat memalukan jika Manchester City gagal juara Premier League musim ini. Selain berstatus juara bertahan, City punya Erling Haaland yang tengah membuat rekor fantastis di Premier League.

Maka dari itu, senada dengan apa yang diucapkan Pep Guardiola. Laga Manchester City vs Arsenal nanti adalah laga final yang akan menentukan.

“Ini adalah final untuk memainkan lebih banyak final karena jika Anda kalah dalam pertandingan ini, maka semuanya akan segera berakhir. Mereka telah melakukan perjalanan yang luar biasa dan saya tidak berpikir mereka akan kehilangan banyak poin, jadi penting untuk berada di sana,” ujar Guardiola dikutip dari DailyMail.

Menarik untuk dinanti bagaimana akhir dari perebutan titel Premier League musim ini. Sekali lagi, laga Manchester City vs Arsenal memang berpotensi menjadi laga penentuan juara. Namun percayalah, perlombaan belum berakhir hingga laga pekan terakhir digelar. Jadi, siapa yang bakal lebih dulu mengunci titel Premier League? Arsenal atau Manchester City?


Referensi: DailyMail, Independent, DailyMail, Football London, BBC, The Analyst.

Manchester City Adalah Klub Terkuat Eropa Musim 2022/23, No Debat!

0

Siapa klub terbaik di Eropa? Real Madrid? Alah, basi! Real Madrid memang sering disebut klub terbaik Eropa karena tidak ada tim lain yang memiliki gelar Liga Champions terbanyak selain Los Galacticos. Tapi khusus untuk musim 2022/23, tidak ada salahnya menyebut Manchester City tim terkuat Eropa.

Musim ini The Citizens benar-benar perkasa. Tidak hanya di kancah domestik, di kompetisi Eropa pun The Citizens sangat begitu kuat. Maka tak berlebihan rasanya jika khusus musim 2022/23, Manchester City adalah tim terkuat di Eropa.

Nah, Starting Eleven dalam hal ini punya alasan mengapa Manchester City layak disebut sebagai tim terkuat Eropa musim 2022/23. Apa saja? Berikut mengapa Manchester City layak disebut tim terkuat Eropa musim ini.

Penghargaan Club of The Year

Mari kita mulai dari hal-hal yang sulit untuk dinafikan. Yap, pada Oktober 2022 lalu Manchester City mendapatkan penghargaan Club of The Year. Ini tentu membuat semua orang terkejut. Mungkinkah dengan kekayaannya, City menyogok agar mendapat penghargaan tersebut?

Biasanya tim yang mendapat penghargaan Club of The Year di ajang Ballon d’Or adalah yang pernah memenangkan trofi Liga Champions Eropa. Walau musim ini mereka punya peluang besar untuk itu, tapi pada waktu diberikannya penghargaan tersebut City belum berstatus juara Liga Champions.

Banyak yang terkejut akan hal itu. Semua mengira bahwa Real Madrid lebih layak mendapatkan penghargaan tersebut. Terlebih anak asuh Carlo Ancelotti baru saja meraih Liga Champions Eropa. Well, ternyata ada alasan mengapa Manchester City yang mendapatkan Ballon d’Or Club of The Year.

Dilansir The Athletic, penghargaan itu didasarkan pada klub dengan nominasi individu terbanyak. City memiliki tujuh pemain yang masuk nominasi. Kevin de Bruyne yang berada di tiga besar penghargaan Ballon d’Or dan Ederson Moraes yang masuk tiga besar penghargaan penjaga gawang menjadi salah duanya.

Manchester City juga menyelesaikan Liga Primer dengan luar biasa. Pemain Manchester City, Bernardo Silva memberikan komentar yang berbau satire soal penghargaan itu. Ia mengatakan Manchester City tak memiliki pemain dan pelatih terbaik, tapi bisa memenangkan empat trofi Liga Primer Inggris dalam lima tahun. 

Keberadaan Pelatih Terbaik di Dunia

Sudah rahasia umum bahwa Pep Guardiola adalah pelatih terbaik di dunia saat ini. Kalaupun bukan satu-satunya, paling tidak Pep adalah salah satu yang terbaik dari yang pernah ada dan yang masih melatih.

Pria yang lahir di Santpedor, Spanyol ini pasti memberikan trofi ke tim mana pun yang dilatihnya. Prestasi terbaik Pep Guardiola tentu saja saat menukangi Barcelona. Pep Guardiola bahkan pernah mengantarkan Barcelona menjadi tim pertama yang meraih sextuple dalam semusim.

Selama menjadi pelatih, sampai hari ini Pep Guardiola sudah mengumpulkan 32 trofi, termasuk di dalamnya dua trofi pelatih klub terbaik di dunia tahun 2008 dan 2010. Pep juga merupakan murid dari pelatih terbaik lainnya, Johan Cruyff.

Kehebatan Pep pun diakui oleh pelatih lainnya. Salah satunya seorang mufti strategi tiga bek, Antonio Conte. Mantan pelatih Tottenham Hotspur itu mengakui bahwa Pep punya kriteria yang tepat untuk disebut sebagai pelatih terbaik di dunia.

“Saya pikir kita membicarakan pelatih terbaik di dunia (Pep Guardiola). Karena dia sudah menunjukkannya di banyak tim, banyak situasi berbeda, bahwa membangun sesuatu yang penting bagus,” kata Antonio Conte dikutip Daily Mail.

Kehadiran Erling Haaland

Faktor berikutnya adalah kehadiran Erling Braut Haaland. Pemain Norwegia itu jadi pembeda di kubu Manchester City. Jika dulu publik Etihad mengelu-elukan nama Sergio Aguero, kini ada Erling Haaland yang bahkan lebih berbahaya dari Aguero.

Haaland adalah mesin gol yang tampaknya tak akan pernah aus. Pemain Norwegia itu kemarin menyumbangkan dua gol kala The Citizens mengalahkan Leicester City 3-1. Sumbangan dua gol itu bikin Haaland menyamai rekor Mohamed Salah yang mencetak 32 gol dalam semusim.

Haaland sangat bisa menambah golnya. Ia juga tidak hanya produktif di kancah domestik tapi juga di level Eropa. Kalau ditotal Haaland sudah mencetak 47 gol dari 40 laga di seluruh kompetisi bersama The Citizens. Sementara Haaland menambah pundi-pundi golnya, tim Eropa lain tak memiliki striker sepertinya.

Kedalaman Skuad

Kedalaman skuad sangat fundamental bagi sebuah klub di tengah padatnya kompetisi. Nah, Manchester City punya itu. Mereka layak disebut tim terkuat di Eropa karena memiliki kedalaman skuad yang luar biasa. Pep memiliki pemain-pemain yang kualitasnya hampir merata.

Itulah mengapa ketika Haaland tak bermain, City masih bisa stabil. Lihatlah bagaimana Manchester City masih sanggup menyikat Liverpool pada awal April lalu. City bermain tanpa Haaland. Guardiola memasang Julian Alvarez sebagai ujung tombak. Kemenangan 4-1 pun diraih. 

Misalnya lagi nih, Pep juga kehilangan Phil Foden yang cedera, tapi ia masih punya Jack Grealish. Dan terbukti sang GOAT bisa menjawab kebutuhan tim. Kedalaman skuad itu membuat Manchester City masih bertahan di Liga Champions dan Piala FA. City juga berpeluang mengulangi pencapaian MU ketika meraih treble pada 1999.

Permainan Konsisten

Permainan Manchester City juga sangat konsisten musim ini. Setidaknya sampai April 2023. Dalam lima laga terakhir Liga Inggris, The Citizens menyapu bersih dengan kemenangan. Hal berbeda dialami oleh Real Madrid yang sering disebut tim terbaik.

Los Galacticos gagal memenangkan lima laga terakhir di La Liga. Mereka memenangkannya tiga kali dan dua kali harus menelan kekalahan. Selain itu, Manchester City juga masih bertahan di tiga kompetisi yang berbeda. Meski demikian permainannya tetap konsisten.

Di liga belum terkalahkan. Dalam empat pertandingan terakhir Piala FA, Manchester City belum kebobolan. Sementara di Liga Champions, mereka mengalahkan Bayern Munchen seperti mengalahkan Bristol City. Jadi, adakah tim yang sekonsisten Sky Blues?

Produktif Cetak Gol, Minim Kebobolan

Manchester City juga terus produktif dalam mencetak gol. Di Liga Inggris anak buah Guardiola telah mengemas 78 gol dari 30 laga. Mereka baru kebobolan 28 gol saja di Liga Inggris musim ini. Lebih sedikit dari Arsenal yang berada di puncak klasemen yang kebobolan 31 gol.

Di Piala FA sejak putaran ketiga hingga perempat final, City mengemas 14 gol dan nirbobol. Sementara itu di Liga Champions, Manchester City sudah mengemas 25 gol dan baru kebobolan tiga gol saja. Nah Real Madrid sendiri di fase grup Liga Champions saja sudah kebobolan enam gol.

Tak Banyak Masalah Internal dan Tak Terkalahkan di UCL

Jika standar kekuatan tim di lihat di kompetisi Eropa, City sangat memenuhi itu. Pasukan Guardiola belum terkalahkan di Liga Champions. Dari enam laga fase grup, City mengemas empat kemenangan dan dua hasil imbang.

Mereka juga mengalahkan RB Leipzig. Teranyar Manchester City menaklukkan Bayern Munchen yang bahkan ditukangi oleh orang yang dulu mengalahkan Pep Guardiola di final Liga Champions 2021. Kalahnya nggak main-main, 3-0.

Selain itu, Manchester City juga jarang diterpa masalah internal. Masalah Pep dengan Joao Cancelo sepertinya sudah selesai. Sang pemain dipinjamkan ke Bayern. Dan City sekarang tak punya masalah internal.

Mungkinkah City Punya Kelemahan?

Tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk Manchester City. Walau disebut tim terkuat Eropa musim ini, The Citizens punya kelemahan yang itu tak bisa dianggap tidak ada. Salah satu yang paling sering dibicarakan adalah Pep Guardiola itu sendiri. Overthinking-nya itu menjadi kelemahan Manchester City.

Dilansir Manchester Evening News, Pep Guardiola juga mengatakan, kelemahan City adalah serangan balik. Tim bisa melakukan penguasaan bola. Tapi belum tentu solid ketika diserang balik. Kelemahan itu pernah dimanfaatkan oleh sang rival, Manchester United. Pada Januari lalu, MU berhasil mengalahkan City 2-1. 

Meski tanpa penguasaan bola, pasukan Ten Hag mengalahkan City lewat skema serangan balik yang memang sulit dibendung oleh pemain Manchester City. Namun, tampaknya hal tersebut mulai diperbaiki oleh Pep Guardiola. Sampai sini, setujukah kamu bahwa Manchester City adalah klub terkuat Eropa musim ini?

https://youtu.be/2Nz1uFT9mbI

Sumber: Goal, TheGuardian, AS, ManCity, MEN, TheAthletic, Mirror, TheTransferRoom

Berita Bola Terbaru 17 April 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

HASIL PERTANDINGAN

Dari ajang Liga Italia, AS Roma mengokohkan diri di posisi ketiga klasemen Liga Italia usai mengalahkan Udinese dengan skor 3-0 pada pekan ke-30 di Stadion Olimpico, Roma, Minggu malam waktu setempat. Pasukan Jose Mourinho merengkuh tiga poin berkat gol yang dicetak oleh Edoardo Bove, Lorenzo Pellegrini serta Tammy Abraham.

Setelah disikat Lazio akhir pekan kemarin, Juventus menelan kekalahan kedua beruntun di Serie A saat tumbang dengan skor tipis 1-0 di markas Sassuolo, Minggu (16/4) malam WIB. Sassuolo memecah kebuntuan pada menit ke-64 berkat Gregoire Defrel. Kini, anak buah Massimiliano Allegri bergeming dari peringkat tujuh, tertinggal sembilan poin dari AC Milan di peringkat empat.

Di Liga Spanyol, tuan rumah Valencia kalah 0-2 dari Sevilla. Dua gol Sevilla pada laga ini diciptakan oleh Loic Bade dan Suso, semuanya di babak kedua.

Sementara itu, Atletico Madrid berhasil mengalahkan Almeria 2-1. Pahlawan Los Rojiblancos adalah Antoine Griezmann yang mengemas dua gol masing-masing di menit ke-5 dan 43. Sedangkan satu-satunya gol tim tamu dicetak Leo Baptistao. Kemenangan ini membuat Los Rojiblancos hanya terpaut dua angka dari Real Madrid di urutan kedua La Liga. Sedangkan pada laga lainnya, pemuncak klasemen La Liga, Barcelona ditahan tuan rumah Getafe 0-0 di Coliseum Alfonso Perez. 

Beralih ke Liga Inggris, Manchester United berhasil mengalahkan Nottingham Forest dengan skor 2-0 dalam laga di City Ground, Minggu (16/4). MU memimpin di babak pertama melalui penyerang sayap bernama Antony. Setan Merah lalu menggandakan skornya di menit 76 lewat Diogo Dalot. Dengan hasil ini, MU masih mempertahankan posisi ketiga di klasemen sementara Liga Inggris dari 30 laga yang sudah dimainkan. 

Di tempat lain, laga West Ham United vs Arsenal berakhir imbang. Arsenal lebih dulu memimpin dua gol di 10 menit babak pertama lewat Gabriel Jesus dan Martin Odegaard. Tapi West Ham berhasil samakan skor melalui Said Benrahma dan Jarrod Bowen. Atas hasil ini, The Gunners kini hanya berjarak empat poin dari Manchester City di klasemen Liga Inggris 2022/23.

SAKA GAGAL PENALTI, ARSENAL TERSENDAT

Kegagalan Arsenal memetik poin penuh atas West Ham diwarnai momen gagalnya penalti Bukayo Saka di menit 53, atau satu menit sebelum gol Jarrod Bowen yang memaksa laga berakhir imbang 2-2. Eksekusi pemain berkebangsaan Inggris itu tak sempurna, sehingga bola melebar dari gawang West Ham. Hasil ini tak mengubah posisi Arsenal di klasemen Liga Inggris. Mereka mengantongi 74 poin dari 31 laga. Arsenal kini hanya empat poin di atas tim peringkat kedua, Manchester City yang memiliki satu partai tunda.

HAALAND SUDAH 32 GOL, SAMAI REKOR SALAH

Erling Haaland jadi bintang kemenangan Manchester City atas Leicester City lewat dua golnya. Ini membuat Haaland menyamai rekor gol Premier League Mohamed Salah. Dua gol itu menempatkan Haaland setara dengan Salah yang sudah memegang rekor gol terbanyak selama semusim Premier League sejak 2017/18, yakni 32 gol. Itu rekor Premier League dengan total 38 pertandingan.

RUDIGER JADI KORBAN RASIS FANS CADIZ

Bek Real Madrid, Antonio Rüdiger dilecehkan secara rasial oleh para penggemar setelah pertandingan El Real di markas Cádiz pada Sabtu malam. Video yang diposting oleh media Spanyol pada hari Minggu menunjukkan para penggemar Cádiz melecehkan Rüdiger setelah dia pergi ke tribun untuk memberikan bajunya kepada seseorang penonton. Tidak hanya itu, Rudiger juga dilempar benda-benda oleh fans Cadiz.

DAVID DE GEA TOLAK PEMOTONGAN GAJI MANCHESTER UNITED

Menurut Skysports, Manchester United telah mengusulkan untuk memotong gaji De Gea menjadi 200 ribu pound per pekan. Jumlah itu akan mengurangi pendapatan tahunannya sebesar 9 juta pound. Namun, De Gea tidak berniat menerima persyaratan itu. Sebab, akan membuatnya di belakang Casemiro dan Raphael Varane dalam daftar gaji klub. De Gea sadar harus menerima gaji yang lebih rendah saat MU mencoba melakukan pemotongan di seluruh pemain. Namun, dia tidak ingin nilainya tergelincir terlalu jauh ke bawah.

SEDANG SULIT MENANG, NAPOLI TAK KHAWATIR KEHILANGAN SCUDETTO

Napoli hanya meraih satu kemenangan dalam tiga laga terakhir di Serie A. Penurunan itu berpotensi membuat pesta scudetto musim ini tertunda. Namun, menurut Luciano Spalletti, Partenopei tetap percaya diri bisa segera mengunci gelar. Napoli tetap percaya diri tak akan terpeleset dan disalip rival pada akhir musim. Hanya pesta juara saja yang sedikit tertunda.

INTER AJUKAN BANDING LARANGAN SATU LAGA LUKAKU

Inter Milan secara resmi telah mengajukan banding untuk membatalkan larangan bertanding bagi Lukaku, yang diberikan setelah sang pemain menerima dua kartu kuning pada laga leg pertama semifinal Coppa Italia melawan Juventus. Lukaku diusir dari lapangan karena selebrasi yang dianggap merespons pelecehan rasial yang didapatnya. Pengusirannya dari lapangan disambut dengan protes dari seluruh dunia sepak bola.

CHELSEA SIAP TUKAR JOAO FELIX DAN LUKAKU KE ATLETICO

Chelsea masih terus berusaha untuk mempermanenkan Joao Felix yang dipinjamnya dari Atletico Madrid. Menurut Fichajes, Los Rojiblancos meminta biaya hingga 100 juta Euro jika Chelsea ingin mempermanenkannya. Sejauh ini Chelsea menolak untuk membayar sebegitu besar. Meski menolak, Chelsea masih terus memutar otak untuk bisa mempermanenkan Felix. Mereka bahkan siap mengorbankan Romelu Lukaku demi bisa mempertahankan pemain Timnas Portugal tersebut. 

MBAPPE UKIR REKOR BARU DI LIGA PRANCIS

Kylian Mbappe mengukir rekor sebagai pencetak gol terbanyak bagi Paris Saint-Germain di Liga Prancis dengan koleksi 139 gol. Ia sukses melewati torehan 138 gol milik Edinson Cavani dari 200 pertandingan. Rekor tersebut dipecahkan Mbappe saat PSG menang 3-1 atas Lens di pekan ke-31 Ligue 1, Minggu (16/4/2023) dini hari WIB. Pada laga itu Mbappe mencetak satu gol. 

PENYEBAB PEMAIN LENS TERIMAKASIH KE MESSI USAI LAGA

Bek Lens, Facundo Medina mendekati Lionel Messi usai timnya takluk 1-3 dari PSG, akhir pekan kemarin. Begitu laga PSG vs Lens usai, kamera menangkap Messi berbincang cukup lama dengan Facundo Medina. Akan tetapi, Medina bukan menyelamati Messi untuk penciptaan rekor sebagai yang tersubur di lima liga besar Eropa. “Saya berterima kasih kepadanya untuk gelar Piala Dunia,” tutur Facundo Medina. Aksi Medina bisa dipahami, mengingat dia berpaspor Argentina, sama seperti Messi.

LIONEL MESSI JADI MODEL IKLAN TERBARU LOUIS VUITTON

Baru-baru ini, rumah mode mewah asal Perancis, Louis Vuitton (LV) mengumumkan Lionel Messi sebagai wajah dari iklan untuk promosi terbarunya. Dalam kampanye bertajuk “Horizons Never End”, punggawa PSG berusia 35 tahun itu tampil elegan saat dipotret oleh fotografer Glen Luchford. Messi juga terlihat berpose dan bersantai di bandara dengan koper LV Horizon miliknya.

TIMNAS INDONESIA U22 TEKUK LEBANON

Timnas Indonesia U-22 berhasil balas dendam pada Lebanon U-22 dengan meraih kemenangan tipis 1-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (16/4) malam WIB. Timnas Indonesia U-22 membuka keunggulan saat laga baru berjalan di menit kelima. Gol dicetak oleh pemain Persib Bandung, Beckham Putra. Kemenangan menjadikan Skuad Garuda sukses membalas kekalahan di laga sebelumnya. Pada laga sebelumnya, Jumat, skuad Indra Sjafri tunduk 1-2 dari Lebanon. 

KATA SIAPA GUNDOGAN KE BARCA?

Kabar tercapainya kesepakatan Barcelona dengan Gundogan sempat membuat heboh fans Untuk merespons isu tersebut, Ilhan, selaku agen dan juga paman Gundogan, angkat bicara. Ia membantah dengan tegas adanya kesepakatan antara Gundogan dengan Barcelona. “Saya terkejut dari mana datangnya cerita tentang kesepakatan itu. Tidak ada kesepakatan dengan klub mana pun”, Kata Ilhan seperti dilansir dari Football-Espana.

KABAR KONDISI DELE ALLI

Gelandang Everton Dele Alli telah memposting ke media sosial pribadinya setelah menjalani operasi di rumah sakit. Dele Alli diketahui kembali ke Inggris untuk melakukan operasi cederanya tersebut. Meskipun beberapa minggu sebelumnya, ia sempat terlihat tengah berpesta dengan teman-temannya. Alli menulis dalam postingannya “Operasi telah selesai, semua berhasil dan baik-baik saja. Terima kasih kepada kalian semua yang telah mengirimi saya pesan dukungan”.

ZAHA TOLAK BARENG CR7

Pemain Crystal Palace Wilfried Zaha telah ditawari kesempatan untuk bermain bersama penyerang Portugal, Cristiano Ronaldo, namun pemain timnas Pantai Gading tersebut dilaporkan telah menolak opsi tersebut. Sang pemain dikabarkan akan meninggalkan Crystal Palace di musim panas nanti, dan Al-Nassr dilaporkan tertarik untuk merekrutnya. Zaha sebelumnya juga telah menerima tawaran dari Al-Ittihad dan Al-Hilal, namun kedua klub tersebut juga gagal dalam pendekatan.

DECLAN RICE KE ARSENAL, EMANG PENTING?

Arsenal diketahui satu-satunya tim yang hingga saat ini masih terdepan untuk merekrut gelandang West Ham, Declan Rice. Harga yang mahal tak begitu masalah dengan Arsenal. Pasalnya setelah merekrut Jorginho yang usianya sudah uzur, Arsenal tetap penting untuk melihat periode jangka panjang gelandang pivotnya untuk menemani Thomas Partey.

MUSTAHIL MU PERMANENKAN SABITZER

Terkesan dengan penampilannya, Setan Merah dilaporkan telah memutuskan untuk mengontrak Marcel Sabitzer secara permanen di musim panas nanti. Tetapi menurut The Sun, kepindahan itu akan mustahil terjadi jika Bayern Munchen tidak menurunkan harga yang diminta. Sebelumnya sang gelandang juga terkesan betah di Inggris dan mengisyaratkan akan pindah permanen ke MU musim depan.

LAWAN LEICESTER, MENGAPA HAALAND DIGANTI DI BABAK PERTAMA?

Pep mengemukakan alasan ketika Erling Haaland diganti di babak pertama oleh Julian Alvarez. Padahal, pemain Norwegia itu bisa saja meraih hattricknya kembali jika masih bermain di babak kedua. Karena sebelumnya, di babak pertama sudah menciptakan dua gol. “Kami harus memikirkan kondisi. Haaland bermain 90 menit melawan Munchen, dan ia harus kembali fit kala melawan Munchen di leg dua Liga Champions. Faktor rentan cedera, dan kelelahan, juga kami perhatikan” Kata Pep.

TAA KE REAL MADRID?

Real Madrid dikabarkan sudah mempunyai banyak langkah untuk merekrut pemain pentingnya di bek kanan musim depan. Reece James dan Jeremie Frimpong adalah pantauan utama Los Blancos selama ini. Namun jikalau kondisi tidak memungkinkan, Trent Alexander Arnold yang inkonsisten bersama Liverpool, diam-diam sudah masuk radar alternatif yang bisa saja segera dibajak Real Madrid musim panas nanti.

WADUH! CIRO IMMOBILE KECELAKAAN MOBIL

Striker Lazio Ciro Immobile, terlibat dalam kecelakaan mobil. Mobil Immobile menabrak trem yang ada di dekat stadion Olimpico Roma. Laporan yang tersebar luas di Italia itu mengkonfirmasi bahwa mobil Immobile hancur. Menurut Corriere dello Sport, ia sekarang dalam kondisi luka di bagian lengannya, dan satu orang dalam kejadian itu telah dilarikan ke rumah sakit. Menurut saksi mata kejadian, ia mengklaim bahwa trem tersebut menerobos lampu merah dan menabrak mobil Immobile.

INTER SERIUS GODA GELANDANG BARCA

Berbicara kepada Caught Offside, Fabrizio Romano telah mengkonfirmasi bahwa Inter Milan tertarik untuk mengontrak gelandang Barcelona, Franck Kessie. Inter Milan berulang kali mengapresiasi performa Kessie. Dia adalah salah satu nama yang ada dalam daftar beli Nerazzurri bahkan sejak bulan Januari lalu. “Mari kita lihat apakah Financial Fair Play Barcelona akan mengubah situasi transfer Kessie di musim panas nanti?”. Kata Fabrizio Romano

OSIMHEN MAIN LAWAN MILAN?

Luciano Spalletti mengonfirmasi Victor Osimhen akan menjadi starter melawan Milan di Liga Champions dan berterima kasih kepada fans Napoli karena mengakhiri protes mereka saat bermain imbang dengan Verona. “Ya, Osimhen akan memulai. Osimhen memiliki fisik dan kecepatan yang mulai pulih setelah cedera. Dia adalah pahlawan dari para penggemar sekarang, jadi selalu ada gelombang antusiasme di sekelilingnya”. Kata Spalletti

Arsenal Mode Panik! Asa Juara Premier League Jadi Milik Man City?

Arsenal patut berada dalam mode panik. Mereka tidak bisa membawa pulang poin maksimal di laga lawan West Ham. Kini Arsenal hanya unggul 4 poin dari Manchester City. Jarak itu masih bisa diperkecil menjadi satu poin karena City masih punya satu pertandingan sisa lebih banyak daripada Arsenal. Apakah asa juara Premier League Arsenal kini sudah berpindah ke tangan Manchester City?

Kemenangan yang Dibuang Percuma

Padahal awalnya semua terasa baik-baik saja untuk Arsenal di laga lawan West Ham. Bermain di London Stadium, anak asuh Mikel Arteta sebenarnya sudah bisa unggul 2-0 di 10 menit pertama. Gol pertama diciptakan oleh Gabriel Jesus di menit ke-7. Kemudian digandakan oleh Odegaard tiga menit setelahnya.

Tapi sebelum babak pertama berakhir, tepatnya di menit ke-33 Lucas Paqueta dilanggar di titik putih. Said Benrahma pun sukses mengkonversi tendangan titik putih menjadi gol the hammers. Skor 2-0 bertahan sampai wasit meniup peluit berakhirnya babak pertama.

Masuk ke babak kedua, sebenarnya the gunners punya peluang mencetak gol dari titik 12 pas. Tapi tidak seperti biasanya, Bukayo Saka yang jadi eksekutor malah gagal melakukan tendangan penalti. Kesalahan itu harus dibayar mahal ketika anak asuh David Moyes bisa menyamakan kedudukan dua menit kemudian lewat penyelesaian cerdas Jarrod Bowen.

West Ham hampir melakukan comeback kalau saja usaha dari Antonio tidak membentur mistar di 10 menit terakhir. Arsenal pun harus rela berbagi poin dengan rival se-London-nya itu. Tapi bagi Arsenal ini lebih dari sekedar hasil imbang. Ini artinya mereka kehilangan dua poin untuk bisa melebarkan jarak dengan Manchester City.

Arsenal Mode Panik?

Setelah pertandingan, Arteta ditanyai soal apakah timnya kini berada dalam tekanan perburuan gelar. Ia menjawab kalau ia tidak melihat itu pada timnya. Itu dibuktikan karena mereka bisa unggul dua gol di menit awal.

“Saya akan mengatakan tim kami berada dalam tekanan kalau kami tidak berbuat apa-apa. Ketika kami unggul 2-0, itu bukan tekanan. Kami hanya tidak melakukan apa yang dibutuhkan dalam permainan itu” Ungkapnya dikutip dari SkySports.

Arsenal memang sempat menikmati 75% penguasaan bola ketika mereka unggul 2-0. Tapi itu semua segera berubah ketika West Ham bisa mencetak gol balasan lewat titik penalti. Kemudian the gunners membuat the hammers tambah percaya diri setelah kegagalan eksekusi penalti dari Bukayo Saka.

Kita tahu ini tidak biasanya terjadi pada Saka. Ia adalah eksekutor penalti yang paling bisa diandalkan Arsenal. Empat tendangan penalti terakhirnya, melawan Manchester City, Liverpool, Manchester United, dan Chelsea semuanya dituntaskan dengan baik.

Arteta tidak bisa menyangkal lagi, temperatur di Inggris semakin naik karena perebutan gelar Premier League yang semakin ketat. Atmosfer itu paling terasa di London. Itu mempengaruhi Saka dan tim Arsenal secara keseluruhan.

Dua pekan terakhir ini sangat tidak menggambarkan Arsenal yang perkasa di musim ini. Arsenal di musim ini identik dengan tim yang bermental juara. Bebas dari cedera, mengatur jalannya pertandingan, bisa bangkit kalau kebobolan, hingga menang secara dramatis.

Arteta juga menyangkal kalau hasil negatif ini dikarenakan faktor kelelahan. Menurut Arteta, timnya tidak kelelahan maupun terlihat kelelahan. Mereka hanya lebih lambat daripada biasanya.

“Dari segi kelelahan? Tidak. Kami lebih lambat dari segala hal yang kami lakukan. Saya tidak berpikir tim ini lelah maupun terlihat lelah. Cara terbaik adalah dengan meyakinkan mereka betapa bagusnya mereka bermain dan dalam melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.” Lanjutnya.

City jadi Favorit Juara?

Konsistensi Arsenal sepanjang musim ini adalah sesuatu yang membuat semua orang percaya Arteta bisa membawa pulang gelar Premier League. Tapi itu tidak terlihat di dua pertandingan liga terakhir mereka.

Ketika melawan Liverpool, Arsenal tidak bisa mengatasi serangan the reds. Kemudian di laga ini, giliran meriam London tidak mampu mengatasi kokohnya barisan pertahanan West Ham. Anak asuh Arteta hanya bisa mencatatkan 0,25 expected goals termasuk penalti di laga itu.

Tapi, salah satu ciri khas Arsenal musim ini juga adalah mereka bisa bangkit ketika semua orang mengira akan hancur. Mungkin sinar dari tim yang berisi pemain-pemain muda ini sudah memudar. Tapi yang dibutuhkan Arteta kini hanyalah momentum yang tepat untuk bisa bangkit kembali.

Itu benar-benar dibutuhkan oleh Arsenal. Sebab dengan kehilangan masing-masing dua poin di dua pertandingan mereka, kini favorit juara berpindah ke sisi Manchester City. Setidaknya itu menurut data analisis dari fivethirtyeight.com. Situs analisis statistik itu menunjukkan bahwa kini Manchester City memiliki peluang terbesar untuk juara.

Pasukan Pep Guardiola kini punya peluang sebesar 66% untuk bisa merebut posisi puncak. Sedangkan Arsenal hanya memegang kemungkinan sebesar 34%. Sedangkan baik Manchester United dan Newcastle dinilai memiliki jarak poin yang terlalu jauh untuk bisa dipertimbangkan jadi juara.

Pertandingan Penentu

Dengan begitu, semua mata akan tertuju pada pertandingan Manchester City melawan Arsenal di Etihad Stadium pada tanggal 27 April nanti. Dari total 11 kali pertemuan terakhir, Manchester biru tidak pernah sekalipun kalah dari Arsenal. Mereka mendominasi di setiap pertemuan dengan total agregat adalah 29-4.

Kunjungan Arsenal ke Anfield untuk melawan Liverpool pekan lalu sudah diprediksi akan jadi batu sandungan untuk Arsenal. Dan itu terbukti dengan anak asuh Jurgen Klopp hampir membuat Arsenal pulang tanpa poin.

Hanya seminggu sebelum pertandingan itu, Manchester City dengan mudahnya menghancurkan Liverpool di kandang. Anak asuh Pep Guardiola sempat tertinggal lewat gol Mohamed Salah di menit ke-17. Tapi mereka langsung bangkit dengan mencetak empat gol sekaligus setelahnya.

Itu bisa jadi tolak ukur bagaimana laga Manchester City kontra Arsenal berlangsung nantinya. citizen saat ini sedang berada di atas awan. Mereka dengan mudah mengalahkan lawan yang membuat Arsenal kesulitan.

Jika Arsenal tidak bisa merubah mentalitas mereka jadi “mentalitas pembunuh” seperti yang dikatakan Arteta setelah lawan West Ham, maka akan sulit untuk menghadapi Manchester City. Apalagi laga ini akan digelar di markas besar citizen, Etihad Stadium.

Tapi kita juga harus menyadari satu hal, bahwa sepak bola adalah olahraga yang tidak bisa diprediksi. Terlalu banyak faktor di dalamnya untuk kita bisa memperkirakan siapa yang menang. Arsenal bisa saja mendapatkan momentum untuk bangkit di beberapa menit akhir laga untuk bisa mengalahkan City nantinya, atau setidaknya menahan skor imbang.

Sialnya bagi Arsenal, masih ada tantangan lain setelah laga lawan City. Yaitu mereka harus menghadapi Newcastle di St. James Park. Ini dipercaya bakal jadi batu sandungan lainnya bagi Arsenal.

Sumber referensi: Athletic, Athletic 2, Sky, 538

Gagal Menang Lagi, Awas! Arsenal Bakal Disalip Manchester City

0

Mikel Arteta tertunduk lesu di akhir laga kontra West Ham United akhir pekan lalu. Bagaimana tidak? Sudah nyaman dengan keunggulan dua gol cepat, Martin Odegaard cs justru kecolongan oleh dua gol penyeimbang dari Said Benrahma dan Jarrod Bowen.

Bak kerupuk yang disiram kuah soto, performa Arsenal dalam beberapa pertandingan terakhir terbilang melempem. Memasuki pekan-pekan krusial, mereka justru kembali kehilangan poin. Di sisi lain sang pesaing utama, yakni Manchester City tengah tersenyum lebar melihat hasil buruk yang menimpa rivalnya itu. Pasalnya, mereka meraih kemenangan saat menjamu Leicester City di pekan yang sama.

Berkat hasil imbang tersebut, kini The Sky Blue hanya berjarak empat poin dari Arsenal. Dan tampaknya Mikel Arteta harus khawatir dengan manajemen permainan timnya di tengah tekanan yang terus meningkat. Jika lengah lagi, City siap merampas gelar yang sudah di idam-idamkan selama ini.

Arsenal Kehilangan Kesempatan

Pertandingan Liga Inggris bakal semakin seru ketika memasuki pekan ke-30. Pertandingan sarat gengsi bakal terjadi dalam beberapa pekan ke depan. Siapa pun yang lengah, posisinya bisa saja tergeser oleh tim yang memanfaatkan momentum. Pada pekan ke-30, kelengahan itu justru muncul dari sang pemuncak klasemen, Arsenal.

Menghadapi tim yang sedang labil, Arsenal justru tersihir magis Anfield. Situasinya Arsenal unggul lebih dulu 2-0 atas Liverpool. Namun, pasukan Jurgen Klopp berhasil mengejar ketertinggalan dan memaksa laga berakhir dengan skor 2-2. Hasil imbang melawan The Reds tentu tak baik bagi Arsenal.

Apalagi di pekan yang sama pesain terdekat mereka, Manchester City meraih poin penuh kala menumpaskan perlawanan Southampton 4-1 di St Mary’s Stadium.Menurut Sky Sport, laga kontra Liverpool sejatinya bisa jadi kunci Arsenal untuk mengamankan gelar Liga Inggris lebih awal. Pasalnya sebelum menghadapi Liverpool, Arsenal telah memperlebar jarak delapan poin dengan Manchester City. 

Dengan saat itu menyisakan sembilan laga, tentunya harapan Arsenal untuk menjuarai liga sangat besar. Bahkan Gary Neville sempat berkelakar kalau Arsenal bisa dipastikan juara Liga Inggris apabila berhasil membenamkan Liverpool di Anfield. Sayangnya Arsenal hanya meraih hasil imbang. Hasil imbang itu justru diulangi Arsenal di pekan ke-31. Mereka gagal memenangkan laga kontra West Ham.

Kelemahan Arsenal

Inkonsisten Arsenal dalam dua pekan terakhir bukan tanpa alasan. Arsenal ternyata tak sesempurna itu. Mereka juga memiliki beberapa kelemahan yang akhir-akhir ini mulai dieksploitasi oleh lawan-lawan mereka. 

Setelah ditelaah lebih dalam, rupanya Arsenal selalu lengah apabila pertandingan sudah memasuki babak kedua. Tim lawan selalu berhasil mengambil alih jalannya laga dan menciptakan banyak peluang. Untung ada Aaron Ramsdale yang tampil apik guna menghindarkan Arsenal dari kekalahan.

Mikel Arteta juga kerap telat melakukan pergantian pemain. Dalam laga kontra Liverpool misalnya, ia terlambat untuk menarik keluar beberapa pemain yang terlihat mulai kesulitan untuk berkonsentrasi. Butuh waktu 80 menit untuk melihat Arteta melakukan pergantian pemain pertama. 

Pemilihan siapa yang masuk pun dirasa keliru. Di laga sepenting itu tak seharusnya Arteta memasukan pemain minim pengalaman seperti Jakub Kiwior. Sudahlah memasukkan pemain tak berpengalaman, Arteta bahkan harus mengubah skema dari 4-3-3 ke 3-4-3 demi mengakomodasi Kiwior sebagai bek tengah. 

Selain itu, Arsenal juga lemah ketika menghadapi situasi bola mati. Kemistri antara penjaga gawang dan para pemain bertahan beberapa kali tak selaras sehingga menciptakan keraguan dalam menghadapi bola udara. Itu terjadi saat imbang 2-2 melawan Sporting Lisbon. keraguan penjaga gawang mengakibatkan Goncalo Inacio dapat dengan mudah menanduk bola dari skema sepak pojok.

Bukti Sering Kesalip

Jika Arsenal tak mampu mengatasi kelemahan dan kembali menemukan ritme yang tepat di pekan-pekan krusial mendatang, bisa-bisa trofi yang sudah di depan mata lenyap begitu saja karena ketikung tim yang berada di urutan kedua. Menariknya, momen tersebut beberapa kali terjadi.

Contohnya di musim 2013/14. Arsenal yang kala itu masih ditukangi oleh Arsene Wenger tampil moncer di paruh musim pertama. Meriam London bahkan berada di puncak klasemen selama 128 hari. Namun, harapan akan gelar juara hancur seketika kala mereka bertandang ke Anfield awal bulan Februari.

Melakoni pertandingan pekan ke-25, Arsenal hancur lebur di hadapan publik Anfield. Tak tanggung-tanggung, skuad asuhan Brendan Rodgers melibas Arsenal dengan skor 5-1. Kekalahan itu adalah awal dari keterpurukan Meriam London. Kekalahan demi kekalahan termasuk dibantai Chelsea 6-0 mengantarkan The Gunners mengakhiri musim tersebut di urutan keempat.

Tak cuma itu, musim 2015/16 kesialan yang sama kembali terulang. Arsenal awalnya sukses memuncaki klasemen di paruh musim berkat kemenangan 2-0 atas Bournemouth. Namun, setelah menelan hasil buruk dari Chelsea, The Gunners kembali hilang arah. Inkonsistensi mereka dimanfaatkan oleh Leicester City yang tampil mengejutkan musim tersebut. The Foxes mengakhiri musim sebagai pemuncak klasemen dengan selisih sepuluh poin dengan Arsenal di peringkat kedua.

Peluang Arsenal

Tentu kesialan itu bisa dihindari. Tapi kita harus melihat dulu siapa saja yang akan dihadapi Arsenal dalam tujuh pertandingan terakhir Premier League. Jika dilihat jadwal beberapa pekan kedepan, Arsenal seharusnya bisa dengan mudah meraih poin penuh. Pasalnya, tujuh calon lawan mereka empat diantaranya merupakan tim papan bawah.

Mereka adalah Southampton, Wolves, Nottingham Forest, dan Chelsea. Yang jadi masalah adalah tiga tim lainnya yakni Newcastle United, Brighton dan pesaing utama mereka, Manchester City. Jika City berupaya merebut posisi Arsenal, Newcastle sedang dalam misi mengamankan posisi empat besar. Sedangkan Brighton tengah mengincar posisi enam besar guna tampil di kompetisi Eropa musim depan.

Meski demikian Arsenal bisa mengandalkan keunggulan mereka dalam hal kedalaman skuad. Mikel Arteta harus pandai-pandai meramu skuad di sisa pertandingan yang ada, terutama saat bertandang ke Etihad Stadium nanti. Apalagi Arsenal sudah tidak bermain di kompetisi lain selain Premier League. Jadi, pemain seharusnya punya waktu istirahat yang cukup untuk tampil fit di setiap laga.

City Punya Peluang Nyalip Arsenal?

Meski Arsenal tetap dijagokan menjadi juara Liga Inggris musim ini, perjalanan mereka tak akan pernah tenang. Pasalnya, lawan-lawan Manchester City berikutnya terbilang lebih gampang daripada Arsenal. Dari delapan lawan City berikutnya bisa dibilang hanya Arsenal yang jadi batu sandungan mereka.

Sisanya hanya diisi oleh tim-tim papan bawah macam Chelsea, Everton, West Ham, maupun Leeds United. Pertandingan Arsenal dan Manchester City pada akhir April mendatang dipastikan akan menjadi laga hidup dan mati antara keduanya. Apabila City mencuri kemenangan, peluang mereka untuk menjatuhkan Arsenal sangat terbuka. Terlebih The Citizens masih menyimpan satu laga tunda.

Masalah berikutnya Arsenal akan menghadapi City di Etihad. Sementara anak asuh Pep Guardiola cuma sekali kalah di kandang musim ini. Well, mau tak mau Arsenal benar-benar harus berkonsentrasi penuh di sisa laga yang ada. Kalau lengah sekali saja, City siap kembali merebut tahta juara Liga Inggris musim ini.

https://youtu.be/0MjRPrOb3Yg

Sumber: Sky Sport, Mirror, ESPN, BBC, Tribuna

Manchester United vs Sevilla: Bek MU Mau Ngelawak Lagi?

0

Rungkad. Benar-benar rungkad. Kemenangan Manchester United atas Sevilla yang sudah di depan mata sirna begitu saja. Lucunya, biang keladinya adalah pemainnya sendiri.

Susah payah Marcel Sabitzer membuat United unggul lebih dulu lewat dua golnya, eh dua bek mereka, Tyrell Malacia dan Harry Maguire meloloskan bola ke gawangnya sendiri. Kegagalan United memetik kemenangan di laga pertama perempat final Liga Eropa bisa jadi akan membuat mereka kesulitan.

Kalau di rumahnya sendiri saja gagal menang, bagaimana jika bermain di markasnya Sevilla? Belum lagi MU juga masih dihantui performa beknya yang  terkadang menimbulkan tawa. Jadi, mungkinkah United mengalahkan Sevilla di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan. Atau justru anak asuh Jose Mendilibar yang mengambil kesempatan emas tersebut?

Bek MU Ngelawak di Leg Pertama

Pada leg pertama Manchester United sejatinya tampil apik di rumahnya sendiri. Pertahanan United belum bermasalah sama sekali di babak pertama. Berkat Lisandro Martinez dan Raphael Varane gawang MU aman di babak pertama. Setan Merah juga bisa menguasai bola.

Anak asuh Erik ten Hag mendominasi penguasaan bola di babak pertama dengan 57%. Mereka juga aktif melakukan tembakan tepat sasaran di paruh pertama sebanyak lima kali. Berbanding terbalik dengan Sevilla yang hanya sekali melakukan shoot on target.

Gelagat tidak baik mulai muncul di babak kedua. Apalagi ketika Varane keluar digantikan Baginda Maguire. Benar saja United kalang kabut. Alih-alih menambah gol, Tyrell Malacia justru membobol gawangnya sendiri pada menit ke-84.

Lalu di masa injury time petaka muncul ketika Sevilla menyerang lini bertahan MU. Tiba-tiba sundulan Youssef En-Nesyri yang aslinya melebar terkena jidat Maguire dan masuk ke gawang De Gea.

Kelemahan United di Laga Tersebut

Dua gol bunuh diri dari dua beknya selain menimbulkan tawa juga memperlihatkan kelemahan United. Mereka kehilangan kendali setelah totalitas di babak pertama. Erik ten Hag pun mengakui hal itu. Ia mengatakan, di babak pertama anak asuhnya bermain dengan penuh keyakinan, terutama untuk mengejar gol.

Walaupun pada laga itu banyak tembakan United yang mentah. Dari tujuh tembakan dengan lima mengarah ke gawang, hanya dua yang berhasil membobol gawang Sevilla. Ini menandakan kehilangan Marcus Rashford di laga itu cukup berpengaruh.

Sementara di babak kedua, apalagi sejak masuknya Maguire permainan United goyah. United kerap diserang. Manchester United yang tak punya ketahanan dalam bertahan akhirnya jebol juga.

Terlepas dari gol bunuh diri, intensitas serangan Sevilla meningkat di babak kedua. Di babak pertama Los Palanganas hanya mengemas satu shoot on target, tapi di babak kedua mereka melepas total dua tembakan tepat sasaran.

Kerugian Manchester United

Selain rugi karena gagal menang di Old Trafford, Manchester United juga rugi karena beberapa pemain pilarnya tak bisa bermain di leg kedua. MU kehilangan Lisandro Martinez yang cedera metatarsal. Begitu pula Varane.

Tanpa dua bek itu, Manchester United terbukti kelabakan. Mau tidak mau di Sanchez Pizjuan nanti, United akan mengandalkan Victor Lindelof dan Harry Maguire. Nama yang kedua kita tahu betapa lawaknya bek yang satu ini.

Harapannya Maguire tak lagi berkomedi di laga kedua. Tentu ini sulit, tapi bukan sebuah hil yang mustahal Maguire akan memperbaiki penampilannya di leg kedua. Apalagi ia punya modal bagus kala melawan Nottingham Forest di Liga Inggris.

Duetnya dengan Lindelof plus keberadaan David De Gea membuat MU nirbobol di laga itu. Maguire setidaknya melakukan delapan sapuan dan tiga kali intersep. Ia juga memenangkan tiga dari lima percobaan duel darat. Partnernya, Lindelof juga bermain apik di laga kontra Forest.

Bek berpaspor Swedia itu memenangi semua duel darat. Tidak hanya itu, ia juga memenangi satu dari dua duel udara. Dua manusia inilah yang bisa diandalkan United di leg kedua nanti. Itu belum termasuk Luke Shaw. Jika Shawberto bisa bermain, MU tak perlu terlalu cemas kehilangan Varane dan Licha.

Namun, MU juga tanpa Bruno Fernandes di leg kedua nanti. Gelandang Portugal itu tak bisa bermain di leg kedua lantaran akumulasi kartu. Tanpa Bruno Fernandes, mungkinkah MU kesulitan?

Casemiro-Eriksen

Bruno Fernandes memang sosok vital di tubuh United. Kreativitasnya sangat dibutuhkan terutama ketika United melakukan transisi ke menyerang. Hanya saja Bruno bukan segalanya. Toh Christian Eriksen sudah kembali.

Pemain Denmark itu merumput lagi di laga kontra Nottingham Forest. Seperti biasa, Eriksen juga tampil yoi di laga itu. Walau baru pulih dari cedera, akurasi umpan sukses Eriksen menyentuh 89% di laga melawan Forest. Ia juga melakukan tiga kali umpan kunci di laga tersebut.

Tandemnya, Casemiro juga terbiasa bermain klinis. Di leg kedua nanti, United bisa jadi akan mengandalkan duet Casemiro-Eriksen sebagai dua pivot. Itu akan didukung dengan Marcel Sabitzer jika tidak bermasalah. Sebab kabarnya, Sabitzer cedera sebelum laga melawan Forest.

Sevilla Sedang dalam Tren Positif

Jika Manchester United masih belum terlalu buruk penampilannya, terutama ketika hanya mereka dan Manchester City lima besar Premier League yang memetik kemenangan di gameweek kemarin, Sevilla juga sama. Sejak ditukangi Jose Luis Mendilibar, Sevilla dalam tren positif.

Bahkan Los Palanganas belum menyentuh satu pun kekalahan. Di Liga Eropa menahan imbang United, sedangkan di kancah domestik Sevilla baru saja melibas Valencia 2-0. Kemenangan tandang di Mestalla itu adalah modal berharga sebelum menghadapi United di leg kedua.

Sebelum dilatih Mendilibar kelemahan Sevilla adalah mentalitas. Namun, setelah ditukangi eks pelatih Real Valladolid itu mentalitas Sevilla benar-benar terdongkrak. Tiga laga di seluruh kompetisi era Mendilibar, Sevilla meraih satu kemenangan dan dua hasil imbang.

Dalam empat laga terakhir Sevilla juga konsisten mencetak dua gol per laga. Berbeda dengan United, Los Palanganas diprediksi tampil dengan kekuatan penuhnya. Sevilla bisa jadi akan menurunkan pemain yang tampil bagus di leg pertama, seperti Luis Ocampos, En-Nesyri, dan Jesus Navas.

Khusus nama yang terakhir adalah ancaman serius, karena di leg pertama saat ia masuk permainan Sevilla jadi lebih hidup. Navas bisa sangat aktif menyuplai bola, terutama crossing. Nah soal mengantisipasi crossing inilah yang kerap bermasalah bagi United.

Sevilla Bukan Lawan Mudah di Kandang

Masalah berikutnya, Sevilla seperti kucing yang berubah menjadi harimau ketika bermain di kandang. Apalagi di kompetisi Liga Eropa. Los Palanganas memenangkan 25 laga dari 28 pertandingan Liga Eropa di kandang mereka sendiri. Itu terhitung sejak Maret 2014.

Satu-satunya kekalahan Sevilla di rumahnya sendiri di Liga Eropa yaitu kala menghadapi Athletic Bilbao pada 2016. Sisanya pada 2019 mereka menahan imbang Slavia Praha dan pada 2020 ditahan imbang tim Rumania, CFR Cluj.

Dengan kata lain Stadion Ramon Sanchez Pizjuan merupakan tempat yang angker bagi lawan-lawan Sevilla di Liga Eropa. Setan Merah sendiri terakhir kali bertemu Sevilla di rumahnya harus menelan kekalahan 2-1. Ini sinyal bahaya bagi United.

Terlepas dari itu, mungkinkah United memberikan kekalahan pertama untuk Sevilla? Ya. Asalkan Setan Merah mendekati laga dengan benar. Pasukan Ten Hag mesti mengambil inisiatif permainan terlebih dahulu sebagaimana di leg pertama.

Kemudian ini yang terpenting: ketenangan lini bertahan. Soal pertama Ten Hag bisa mengatasinya. Namun, untuk soal kedua, pemain yang kerap apes seperti Maguire mungkin tidak dimainkan dulu, atau kalaupun terpaksa turun, sebelum laga Maguire mungkin perlu mandi kembang tujuh rupa dulu biar nggak apes lagi.

https://youtu.be/blmLrSDnWO4

Sumber: ManUTD, TheGuardian, Fotmob, DailyPost, UEFA, TheAnalyst, Football-Espana, SevillaFC, Sofascore, Football5Star

Ramadan 2023: Sepak Bola Prancis Tunjukkan Jadi Diri Anti-Islam?

0

Ramadan 2023 jadi bulan yang istimewa bagi pesepak bola muslim yang merumput di Premier League. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, FA dan badan wasit memberlakukan panduan khusus untuk memberi otoritas kepada ofisial pertandingan agar mengizinkan para pemain muslim yang menjalankan ibadah puasa untuk berbuka puasa selama pertandingan yang digelar di waktu petang.

Meski tak ada panduan khusus, tetapi Serie A dan Bundesliga tak melarang pemainnya untuk berbuka puasa di tengah pertandingan. Mereka yang memiliki rekan setim yang tengah berpuasa malah dengan dengan sengaja pura-pura cedera atau mengulur waktu agar rekan setimnya bisa berbuka puasa di tengah laga. Wasit pun juga membiarkan hal tersebut dan memberi hukuman apapun.

Namun sayangnya, keistimewaan di bulan Ramadan tahun ini tak dapat dirasakan oleh para pesepak bola muslim yang merumput di Liga Prancis.

Federasi Sepak Bola Prancis Larang Pemain Muslim Berbuka di Tengah Pertandingan

Di awal Ramadan kemarin, sebuah email kontroversial dari Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) bocor ke publik. Email yang dikirim ke Komisi Wasit Federal (CFA) itu berisi larangan kepada wasit yang bertugas di Ligue 1 Prancis untuk tidak menghentikan pertandingan sejenak demi memberi kesempatan kepada pemain muslim untuk berbuka puasa.

Netralitas jadi dalih dari FFF membuat larangan tersebut. Dalam akhir suratnya, FFF juga menegaskan kalau aturan tersebut tak hanya berlaku untuk wasit saja, tetapi juga seluruh pihak yang terlibat dalam pertandingan. Bahkan, siapa pun yang melanggar ketentuan tersebut akan dikenai sanksi disiplin dan/atau pidana.

“Sepak bola tidak memperhitungkan pertimbangan politik, agama, ideologi, atau serikat pekerja dari para pelakunya. Prinsip ini mengikat semua orang: pihak berwenang – klub – pemegang lisensi – wasit. Tergantung pada semua pemangku kepentingan untuk menegakkannya,” begitulah yang ditulis FFF dalam email kontroversial mereka.

Seperti yang sudah dapat diduga, larangan tersebut kemudian menimbulkan beragam kontroversi. Gelombang protes pun terjadi dan salah satu bentuk protes paling ikonik dilakukan oleh Ultras PSG.

Dalam laga lanjutan pekan ke-29 kontra Lyon, pendukung PSG membentangkan spanduk besar yang bertuliskan: ‘Kurma, segelas air, mimpi buruk FFF’. Spanduk tersebut adalah bentuk kecaman dari ultras PSG kepada Federasi Sepak Bola Prancis.

Apapun alasan yang menjadi bahan pertimbangan FFF, melarang pesepak bola muslim yang berpuasa Ramadan untuk berbuka di tengah pertandingan justru merupakan bentuk pelanggaran SARA. Selain itu, apa yang dilakukan FFF seperti menunjukkan jati diri mereka yang asli, yakni jati diri anti-Islam.

FFF Meminta Pemain Muslim di Timnas Prancis Untuk Menunda Puasa Ramadan

Pernyataan tadi mungkin terdengar agak keras, tetapi pada kenyataan memang ada indikasi kalau FFF tidak menghormati para pemainnya yang memuluk agama Islam dan menjalankan puasa Ramadan. Pasalnya, sebelum mereka melarang wasit menghentikan laga untuk berbuka puasa, FFF sudah lebih dulu meminta penggawa timnas Prancis yang beragama Islam agar menunda puasa mereka.

Imbauan ini terungkap lewat laporan media olahraga Prancis, L’Equipe. Para pemain muslim di timnas Prancis diminta untuk menunda puasa mereka selama pertandingan timnas Prancis yang berlangsung di bulan Ramadan. Menilik dari jadwal laga Les Bleus, imbauan itu berarti berlaku selama laga kualifikasi Piala Eropa 2024 kontra Belanda dan Republik Irlandia, pertengahan Maret kemarin.

Dalam laporannya, L’Equipe menulis, “Staf Prancis tidak akan memaksa siapa pun untuk tidak mengikuti keyakinan mereka, tetapi staf Les Bleus tetap memberikan rekomendasi dengan harapan para pemain akan memilih untuk menunda puasa selama lima hari selama pertandingan di bulan Ramadan.”

Puasa Ramadan hukumnya wajib dan bagian dari rukun Islam. Oleh karena berat hukumnya bagi mereka yang dengan sengaja meninggalkan puasa Ramadan tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Itulah kenapa banyak umat Islam yang sangat mengecam dan mengkritik “rekomendasi” di timnas Prancis tersebut.

Pemain FC Nantes Dicoret Karena Puasa Ramadan

Dua polemik yang mendiskreditkan pemain muslim yang tengah berpuasa Ramadan itu kemudian diperparah dengan aturan yang dibuat oleh pelatih FC Nantes, Antoine Kombouare. Bukan lagi mengimbau, Kombouare malah melarang pemainnya yang beragama Islam untuk berpuasa Ramadan di hari pertandingan.

Buntut dari aturan tersebut, bek kiri 20 tahun asal Aljazair, Jaouen Hadjam dicoret dari skuad ketika Nantes bertandang ke markas Reims, Minggu 2 April lalu. Hadjam diketahui enggan membatalkan puasanya dan tetap memilih berpuasa di hari pertandingan.

Pencoretan tersebut tak ayal membuat pelatih Antoine Kombouare disorot dan dikritik habis-habisan. Apalagi di laga tersebut Nantes keok 3 gol tanpa balas. Kombouare kemudian membuat pembelaan.

“Tidak ada kontroversi. Mereka yang berpuasa, saya mendukung mereka. Pada hari-hari pertandingan, Anda tidak boleh berpuasa. Itu bukanlah sebuah hukuman. Saya menetapkan aturan. Itu adalah pilihannya dan saya menghormatinya,” kata Antoine Kombouare dikutip dari Goal.

Kambouare juga menjelaskan kalau ia sebetulnya tak ada masalah dengan pemain yang berpuasa. Selain ia ingin aturannya dipatuhi, Kambouare juga tak mau pemainnya mengalami cedera gara-gara berpuasa.

Alasan tersebut tentu kurang dapat diterima. Tidak mudah memang berpuasa di tengah pertandingan, tetapi beberapa pemain justru membuktikan kalau performa mereka tak terganggu meski tengah berpuasa di bulan Ramadan.

Di pekan yang sama saat Hadjam dicoret, Karim Benzema sukses mencetak hattrick saat Real Madrid melibas Valladolid 6-0. Di Liga Inggris, ada Nayef Aguerd, bek timnas Maroko yang menjadi penentu kemenangan West Ham United atas Southampton. Sementara di Bundesliga, ada Moussa Diaby yang menyumbang 2 asis tatkala membantu Bayer Leverkusen menang 3-0 atas Schalke.

Jaouen Hadjam sendiri dikabarkan setuju dengan peraturan yang dibuat oleh pelatihnya. Namun, ia hanya mau membatalkan puasanya ketika Nantes melakukan laga tandang saja dan tetap berpuasa di laga kandang.

Dengan alasan tersebut, Hadjam secara syariat memang diperbolehkan meninggalkan puasa Ramadan karena tengah dalam kondisi bepergian jauh atau safar. Akan tetapi, belakangan muncul kabar kalau Antoine Kombouare baru akan mengembalikan Hadjam ke skuad utama setelah Ramadan selesai. Artinya, bek timnas Aljazair itu tidak akan dimainkan oleh FC Nantes selama bulan Ramadan 2023.

Kasus serupa yang menimpa Jaouen Hadjam sebetulnya bukanlah yang pertama kalinya terjadi di Ligue 1 Prancis. Di Ramadan tahun lalu, manajer Saint-Etienne, Pascal Dupraz dilaporkan meminta pemainnya yang beragama Islam untuk tidak berpuasa usai timnya dihajar 6-2 oleh Lorient.

Tuduhan Rasis dan Islamofobia Christophe Galtier

Setelah berita pencoretan Jaouen Hadjam mereda, polemik baru kembali muncul di Liga Prancis. Kali ini yang menjadi topik adalah pelatih PSG, Christophe Galtier. Belum lama ini, Galtier dituding rasis dan Islamofobia.

Polemik tersebut berawal dari email yang bocor dari mantan direktur sepak bola Nice, Julien Fournier yang ditujukan kepada direktur INEOS, Dave Brailsford. Dalam email tersebut, Galtier mengatakan kepada Fournier bahwa Nice “tidak boleh memiliki begitu banyak orang kulit hitam dan Muslim dalam tim.”

Dalam email tersebut, percapakan lain juga terungkap. Pada 9 Agustus 2021 lalu, Galtier bertemu dengan Fournier dan mengatakan kepadanya, “Anda telah membangun tim yang terdiri dari sampah. Hanya ada orang kulit hitam dan separuh dari tim berada di masjid pada Jumat sore.”

Seperti yang kita tahu, sebelum melatih PSG, Galtier sempat semusim melatih Nice. Di masa itulah ia dituding membuat komentar rasis tentang pemain kulit hitam dan Muslim. Tak hanya itu, sebelum dilaporkan membuat komentar rasis, media lokal Nice-Martin melaporkan bahwa sebelum Galtier meninggalkan Nice, ia telah kehilangan sebagian kepercayaan skuadnya atas penanganannya selama Ramadan.

Dikutip dari GFFN, Galtier telah meminta para pemain Muslimnya untuk tidak berpuasa selama bulan suci Ramadan. Beberapa pemain disebut mematuhi aturan tersebut, tetapi tidak dengan Hicham Boudaoui dan Jean-Clair Todibo. Todibo bahkan disebut marah dan melempar kerucut latihan di tengah-tengah sesi latihan Nice.

Tuduhan rasis dan anti-Islam tersebut berdampak buruk bagi Christophe Galtier. Ia dan keluarganya sampai mendapat ancaman pembunuhan hingga Galtier sendiri disebut harus menyewa jasa pengawal.

Galtier sudah membantah tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai fitnah. Langkah hukum kini telah coba diupayakan untuk membersihkan nama baiknya.

Kasus yang menimpa Christophe Galtier tadi menambah panjang deretan masalah yang terjadi di Liga Prancis selama Ramadan 2023. Yang menjadi keprihatinan, masalah-masalah tersebut terkait dengan aturan selama Ramadan dan perlakuan terhadap pemain muslim yang berpuasa. Yang menjadi pertanyaan, kenapa ini terjadi di liga top Eropa sekelas Prancis?

Jawaban atas pertanyaan tersebut sebetulnya cukup mudah dijawab dan jadi bukti kalau sepak bola tak bisa dilepaskan dari politik, agama, hingga kondisi sosial budaya di sebuah negara. Meskipun Prancis merupakan negara Eropa dengan jumlah penduduk muslim terbesar, tetapi Prancis adalah negara sekuler dengan rekam jejak Islamofobia.

Karikatur Nabi, pembakaran Alquran, hingga hinaan terhadap Islam yang dilontarkan Presiden Emmanuel Macron adalah beberapa contoh kasus islamofobia yang pernah terjadi di Prancis. Permasalahannya, Islamofobia di Prancis seperti sudah melembaga dan meluas. Sikap dan aturan yang dikeluarkan FFF selama Ramadan tahun ini adalah buktinya.

Jadi, larangan berbuka puasa di tengah pertandingan hingga larangan puasa Ramadan bagi pemain muslim yang terjadi di Liga Prancis hanyalah penegas dari jadi diri sebagian besar penduduk Prancis, yakni jati diri anti-Islam. Mungkin ini juga yang membuat sebagian pemain muslim terbaik Prancis hijrah dan lebih nyaman merumput di negara lain.


Referensi: DailyMail, MoroccoWorldNews, Anadolu Agency, GFFN, CNN, Goal, Goal.