Saat ditanya soal masa depan Ilkay Gundogan pada awal bulan April kemarin, Pep Guardiola berkata: “Kami tak bisa membiarkannya pergi. Saat ini, Gundogan terlalu berharga untuk kami”
Guardiola jelas ingin mempertahankan Gundogan. Tapi klub tidak bisa menahannya untuk pergi. Gundogan akhirnya resmi pindah ke Barcelona. Setelah serangkaian rumor sejak awal tahun 2023 ini.
Gelandang timnas Jerman itu resmi meninggalkan Etihad setelah kontraknya bersama Man City habis. Ia telah resmi jadi pemain Barcelona dengan status bebas transfer. Gundogan mengakhiri tujuh tahun bersejarah bersama the cityzen. Ia telah mencatatkan 304 penampilan dan mengangkat 14 gelar bergengsi bersama Manchester biru. Termasuk gelar treble di musim terakhirnya.
Gundogan juga telah menciptakan banyak momen bersejarah selama ia mengenakan seragam biru muda. Momen-momen yang membuatnya pantas menyandang status sebagai legenda Manchester City.
Momen Terindah Gundogan
Salah satu momen terbaik Gundogan bersama City tercipta di musim 2021/22. Para fans City atau Premier League pasti masih ingat, di musim itu City bersaing ketat dengan Liverpool dalam perebutan gelar juara Liga Inggris.
Persaingan City dan Liverpool musim itu begitu ketat sampai-sampai penentuan juara harus menunggu sampai matchday terakhir. Di pertandingan terakhir itu, the cityzen menjamu Aston Villa di Stadion Etihad. Mereka tidak punya pilihan lain selain menang.
Tapi bermain di kandang sendiri malah membuat anak asuh Pep Guardiola lupa cara bermain. Di babak pertama City tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menciptakan satu kali tembakan saja di 45 menit pertama pertandingan.
Itu diperparah dengan Aston Villa yang tampil bagus. Mereka masih dilatih oleh legenda Liverpool, Steven Gerrard saat itu. Villa berhasil memimpin lebih dahulu lewat gol dari Matty Cash di menit ke-37. Publik Etihad tertegun. Anak asuh Pep harus mengakhiri babak pertama dengan ketertinggalan 1-0.
Aston Villa masih mempertahankan kedudukan sampai awal babak kedua. Malahan, mereka menggandakan skor lewat gol dari Philippe Coutinho di menit ke-69. Kini misi City jadi tambah sulit. Mereka hanya punya waktu kurang lebih 30 menit untuk membalikkan keadaan.
Tapi Gundogan yang baru saja dimasukkan ke lapangan menggantikan Bernardo Silva langsung membawa perubahan. Di menit ke-76 ia mencetak gol balasan. Golnya itu memberikan harapan dan semangat untuk rekan-rekan setimnya.
Hanya dua menit berselang, giliran Rodri yang cetak gol penyeimbang di menit ke-78. Gol itu membuat kedudukkan jadi 2-2. Tapi hasil itu belum cukup. Sebab di pertandingan lain di hari yang sama, Liverpool mampu mengalahkan Wolverhampton dengan skor 3-1.
Disaat Manchester City sangat butuh kemenangan itulah Gundogan datang. Ia mencetak gol kemenangan di menit-81. Golnya itu membuat City bisa membalikkan keadaan jadi 3-2. Skor bertahan sampai peluit panjang dibunyikan. Publik Etihad pun tumpah ruah merayakan gelar Premier League musim 2021/22.
Legenda City
Momen Gundogan itu sangat mirip dengan momen Aguero yang tercipta satu dekade sebelumnya. Saat itu Manchester City bersaing dengan ketat dengan Manchester United dalam perebutan gelar Premier League musim 2011/12.
Saat itu Aguero lah yang menciptakan momen bersejarah. Ia mencetak gol di injury time saat match day terakhir lawan QPR. Gol yang memberikan gelar Premier League pertama untuk City. Gol itu juga membuat Aguero menyandang status legenda Manchester biru.
Jadi, momen Gundogan di musim 2021/22 itu cukup untuk membuatnya sah jadi legenda Manchester City. Terlebih lagi, dia kembali menciptakan sejarah di musim setelahnya. Di musim 2022/23 Gundogan ditunjuk sebagai kapten setelah dipilih langsung oleh rekan-rekan setimnya.
Dua golnya di laga lawan Leeds, kemudian juga dua golnya di laga lawan Everton. Momen-momen itu adalah kunci City memastikan gelar Premier League 2022/23. Lalu ia kembali mencetak dua gol untuk memastikan kemenangan di final FA Cup lawan Manchester United.
Pertandingan terakhir Gundogan sebagai pemain Manchester City adalah final Liga Champions melawan Inter Milan. Pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Ataturk Turki itu memang yang jadi pahlawan kemenangan adalah Rodri dengan gol tunggalnya.
Tapi Gundogan juga mencatatkan sejarah sebagai kapten yang mengangkat trofi Champions pertama City. Ia juga jadi kapten pertama yang mampu membawa City mendapatkan gelar treble winner.
Musim 2022/23 jadi musim terindah dan paling bersejarah Gundogan bersama City. Tapi ia memutuskan bahwa itu adalah musim terakhirnya di Etihad. Ia memastikan diri tidak memperpanjang kontrak dengan City dan pindah ke Barcelona.
Alasan Tinggalkan City
Selain karena faktor negosiasi perpanjangan kontrak bersama City yang tak kunjung mendapatkan titik temu, ada faktor lain yang membuat Gundogan ingin hengkang. Dan faktor tersebut bukanlah soal uang ataupun gaji.
Gundogan sebenarnya sudah menerima banyak tawaran dari klub Arab Saudi. Pindah ke Arab Saudi menawarkan segala kenyamanan dan kekayaan untuknya. Tapi itu bukan keinginan Gundogan.
Dilansir dari the athletic, Gundogan memang ingin mencari pengalaman dan tantangan baru. Tujuh musim di City dan mengakhiri musim terakhir dengan gelar treble membuat Gundogan merasa cukup. Gundogan merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk ia pergi.
“Saya datang ke Manchester City dengan satu kaki yang ‘pincang’. Tapi saya pergi dari sini dengan perasaan diatas awan. Setelah treble dan setelah prade yang spektakuler, saya berpikir sendiri adakah hasil yang lebih baik dari ini? Adakah sesuatu yang lebih sempurna untuk dicapai? Jawabannya adalah tidak.” Ucapnya dikutip dari Manchester Evening News.
Gundogan ingin mencari tantangan baru sambil tetap bermain di kompetisi teratas Eropa. Ia merasa Barcelona adalah jawaban yang tepat untuknya. Gundogan yakin dari sisi sepak bola, Barcelona sangat cocok untuknya. Selain itu ia juga mengungkapkan kalau Xavi adalah salah satu manajer yang ia kagumi.
“Jika saya harus pindah klub, maka hanya Barcelona atau tidak sama sekali. Saya akan sangat senang bermain di bawah manajer yang saya kagumi, Xavi. Saya melihat ada banyak kesamaan antara kami sebagai karakter dan dalam cara melihat pertandingan”
Gundogan juga melanjutkan, kalau dirinya optimis masih memiliki beberapa tahun lagi di performa puncak. Meskipun kini usianya sudah 32 tahun. Ia percaya bisa membawa Barcelona ke final Liga Champions.
“Ini akan jadi reuni saya dengan teman lama saya, Lewandowski. Dan saya ingin membantu Barcelona kembali ke tempat yang seharusnya. Mudah mudahan saya dan Manchester City bisa mengadakan reuni di final Liga Champions musim depan”
