Beranda blog Halaman 326

Momen Terbaik Gundogan Yang Buatnya Pantas Jadi Legenda Manchester City

Saat ditanya soal masa depan Ilkay Gundogan pada awal bulan April kemarin, Pep Guardiola berkata: “Kami tak bisa membiarkannya pergi. Saat ini, Gundogan terlalu berharga untuk kami”

Guardiola jelas ingin mempertahankan Gundogan. Tapi klub tidak bisa menahannya untuk pergi. Gundogan akhirnya resmi pindah ke Barcelona. Setelah serangkaian rumor sejak awal tahun 2023 ini.

Gelandang timnas Jerman itu resmi meninggalkan Etihad setelah kontraknya bersama Man City habis. Ia telah resmi jadi pemain Barcelona dengan status bebas transfer. Gundogan mengakhiri tujuh tahun bersejarah bersama the cityzen. Ia telah mencatatkan 304 penampilan dan mengangkat 14 gelar bergengsi bersama Manchester biru. Termasuk gelar treble di musim terakhirnya.

Gundogan juga telah menciptakan banyak momen bersejarah selama ia mengenakan seragam biru muda. Momen-momen yang membuatnya pantas menyandang status sebagai legenda Manchester City.

Momen Terindah Gundogan

Salah satu momen terbaik Gundogan bersama City tercipta di musim 2021/22. Para fans City atau Premier League pasti masih ingat, di musim itu City bersaing ketat dengan Liverpool dalam perebutan gelar juara Liga Inggris.

Persaingan City dan Liverpool musim itu begitu ketat sampai-sampai penentuan juara harus menunggu sampai matchday terakhir. Di pertandingan terakhir itu, the cityzen menjamu Aston Villa di Stadion Etihad. Mereka tidak punya pilihan lain selain menang.

Tapi bermain di kandang sendiri malah membuat anak asuh Pep Guardiola lupa cara bermain. Di babak pertama City tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menciptakan satu kali tembakan saja di 45 menit pertama pertandingan.

Itu diperparah dengan Aston Villa yang tampil bagus. Mereka masih dilatih oleh legenda Liverpool, Steven Gerrard saat itu. Villa berhasil memimpin lebih dahulu lewat gol dari Matty Cash di menit ke-37. Publik Etihad tertegun. Anak asuh Pep harus mengakhiri babak pertama dengan ketertinggalan 1-0.

Aston Villa masih mempertahankan kedudukan sampai awal babak kedua. Malahan, mereka menggandakan skor lewat gol dari Philippe Coutinho di menit ke-69. Kini misi City jadi tambah sulit. Mereka hanya punya waktu kurang lebih 30 menit untuk membalikkan keadaan.

Tapi Gundogan yang baru saja dimasukkan ke lapangan menggantikan Bernardo Silva langsung membawa perubahan. Di menit ke-76 ia mencetak gol balasan. Golnya itu memberikan harapan dan semangat untuk rekan-rekan setimnya.

Hanya dua menit berselang, giliran Rodri yang cetak gol penyeimbang di menit ke-78. Gol itu membuat kedudukkan jadi 2-2. Tapi hasil itu belum cukup. Sebab di pertandingan lain di hari yang sama, Liverpool mampu mengalahkan Wolverhampton dengan skor 3-1.

Disaat Manchester City sangat butuh kemenangan itulah Gundogan datang. Ia mencetak gol kemenangan di menit-81. Golnya itu membuat City bisa membalikkan keadaan jadi 3-2. Skor bertahan sampai peluit panjang dibunyikan. Publik Etihad pun tumpah ruah merayakan gelar Premier League musim 2021/22.

Legenda City

Momen Gundogan itu sangat mirip dengan momen Aguero yang tercipta satu dekade sebelumnya. Saat itu Manchester City bersaing dengan ketat dengan Manchester United dalam perebutan gelar Premier League musim 2011/12.

Saat itu Aguero lah yang menciptakan momen bersejarah. Ia mencetak gol di injury time saat match day terakhir lawan QPR. Gol yang memberikan gelar Premier League pertama untuk City. Gol itu juga membuat Aguero menyandang status legenda Manchester biru.

Jadi, momen Gundogan di musim 2021/22 itu cukup untuk membuatnya sah jadi legenda Manchester City. Terlebih lagi, dia kembali menciptakan sejarah di musim setelahnya. Di musim 2022/23 Gundogan ditunjuk sebagai kapten setelah dipilih langsung oleh rekan-rekan setimnya.

Dua golnya di laga lawan Leeds, kemudian juga dua golnya di laga lawan Everton. Momen-momen itu adalah kunci City memastikan gelar Premier League 2022/23. Lalu ia kembali mencetak dua gol untuk memastikan kemenangan di final FA Cup lawan Manchester United.

Pertandingan terakhir Gundogan sebagai pemain Manchester City adalah final Liga Champions melawan Inter Milan. Pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Ataturk Turki itu memang yang jadi pahlawan kemenangan adalah Rodri dengan gol tunggalnya.

Tapi Gundogan juga mencatatkan sejarah sebagai kapten yang mengangkat trofi Champions pertama City. Ia juga jadi kapten pertama yang mampu membawa City mendapatkan gelar treble winner.

Musim 2022/23 jadi musim terindah dan paling bersejarah Gundogan bersama City. Tapi ia memutuskan bahwa itu adalah musim terakhirnya di Etihad. Ia memastikan diri tidak memperpanjang kontrak dengan City dan pindah ke Barcelona.

Alasan Tinggalkan City

Selain karena faktor negosiasi perpanjangan kontrak bersama City yang tak kunjung mendapatkan titik temu, ada faktor lain yang membuat Gundogan ingin hengkang. Dan faktor tersebut bukanlah soal uang ataupun gaji.

Gundogan sebenarnya sudah menerima banyak tawaran dari klub Arab Saudi. Pindah ke Arab Saudi menawarkan segala kenyamanan dan kekayaan untuknya. Tapi itu bukan keinginan Gundogan.

Dilansir dari the athletic, Gundogan memang ingin mencari pengalaman dan tantangan baru. Tujuh musim di City dan mengakhiri musim terakhir dengan gelar treble membuat Gundogan merasa cukup. Gundogan merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk ia pergi.

“Saya datang ke Manchester City dengan satu kaki yang ‘pincang’. Tapi saya pergi dari sini dengan perasaan diatas awan. Setelah treble dan setelah prade yang spektakuler, saya berpikir sendiri adakah hasil yang lebih baik dari ini? Adakah sesuatu yang lebih sempurna untuk dicapai? Jawabannya adalah tidak.” Ucapnya dikutip dari Manchester Evening News.

Gundogan ingin mencari tantangan baru sambil tetap bermain di kompetisi teratas Eropa. Ia merasa Barcelona adalah jawaban yang tepat untuknya. Gundogan yakin dari sisi sepak bola, Barcelona sangat cocok untuknya. Selain itu ia juga mengungkapkan kalau Xavi adalah salah satu manajer yang ia kagumi.

“Jika saya harus pindah klub, maka hanya Barcelona atau tidak sama sekali. Saya akan sangat senang bermain di bawah manajer yang saya kagumi, Xavi. Saya melihat ada banyak kesamaan antara kami sebagai karakter dan dalam cara melihat pertandingan”

Gundogan juga melanjutkan, kalau dirinya optimis masih memiliki beberapa tahun lagi di performa puncak. Meskipun kini usianya sudah 32 tahun. Ia percaya bisa membawa Barcelona ke final Liga Champions.

“Ini akan jadi reuni saya dengan teman lama saya, Lewandowski. Dan saya ingin membantu Barcelona kembali ke tempat yang seharusnya. Mudah mudahan saya dan Manchester City bisa mengadakan reuni di final Liga Champions musim depan”

Sumber referensi: Athletic, Man City, MEN, Sky

Mantan Pelatih Al-Nassr Latih Napoli, Keputusan Tepat atau Ceroboh?

Napoli berbenah. Klub asal kota Naples itu kini punya nahkoda baru. Luciano Spalletti yang telah mempersembahkan periode gemilang bagi Il Partenopei musim ini, lebih memilih cabut. Kini yang menjadi pertanyaan, kenapa Napoli malah menunjuk sosok pelatih yang kurang populer? Ya, dia adalah pelatih yang musim ini dipecat oleh klub sekelas Al-Nassr, Rudi Garcia.

Proses Penunjukan Rudi Garcia

Tak ada angin tak ada hujan, sang presiden yang juga mantan sutradara film itu malah memilih jalan cerita baru untuk Napoli. Menurutnya, mencapai Scudetto musim ini adalah awal dari kejayaan yang harus dievaluasi. Aurelio de Laurentiis menilai klubnya hanya larut dalam euforia dan cepat merasa puas. Inilah yang ditakutkannya.

Nah kehadiran pelatih baru, menurutnya akan membuat tim ini lebih bekerja keras dengan cara baru, demi mempertahankan apa yang mereka raih musim ini. Lalu kenapa kok yang ditunjuk sosok Rudi Garcia?

De Laurentiis membeberkan alasannya. Alasan pertama lantaran Rudi Garcia adalah pelatih yang masih nganggur dan punya nilai kontrak dan gaji yang tak terlalu tinggi. Tapi yang membuat lucu, sang presiden baru intens menghubungi Garcia hanya 10 hari terakhir sebelum kontrak kerjasama diteken.

Bagaimana bisa hanya dengan waktu sesingkat itu sang presiden mampu yakin bahwa Garcia adalah orang yang tepat bagi timnya? Inilah yang sampai saat ini masih diragukan.

Apa Sih Prestasi Garcia?

Tapi faktanya, yang dibayangkan tentang track record Rudi Garcia tak selamanya meragukan. Nama Rudi Garcia pernah moncer setelah tim besutannya Lille mampu menjadi kampiun di Ligue 1 dan Coupe de France musim 2010/11.

Sejak saat itu, ia dinilai pelatih hebat yang mampu mengangkat pemain seperti Hazard maupun Gervinho jadi bintang yang bernilai tinggi. Namun sayang, selama kariernya hanya dua trofi itu yang pernah diraihnya. Namun, soal prestasi selain trofi, banyak juga yang spesial dari Garcia. Termasuk apa yang ia lakukan bersama Roma, Marseille, maupun Lyon.

Kemampuan Garcia Di Roma Dan Marseille

Pasca dari Lille, Garcia mencoba peruntungan di AS Roma selama dua setengah musim. Dua musim pertama ia mampu mengantarkan Giallorossi finish runner up Serie A secara back to back. Yang lebih spesialnya lagi, ia mampu mencatatkan rekor 10 kemenangan beruntun di AS Roma di musim pertamanya.

Tak hanya itu, dari rasio poin rata-rata per pertandingan Garcia juga termasuk yang tertinggi selama di AS Roma, yakni 1,99 per laga (189 poin). Statistiknya selama di Serie A itulah yang mungkin membuat De Laurentiis kepincut.

Lalu bagaimana kiprah Garcia di kompetisi Eropa? Mengingat Napoli akan berlaga di Liga Champions musim depan. Rudi Garcia ini ternyata pernah juga lho melaju hingga partai final Europa League kala mengasuh Marseille pada musim 2017/18. Ketika itu, gelandang andalannya adalah gelandang yang dipunyai Napoli saat ini, Andre Zambo Anguissa.

Tak hanya di Europa League, di Champions League pun tuah Garcia patut diacungi jempol. Ia mampu melangkah ke babak semifinal bersama Lyon, setelah menyingkirkan Manchester City di musim 2019/20.

Track Record Dipecat

Dengan berbagai catatan prestasi Rudi Garcia tersebut, pertanyaannya kok pelatih itu jarang awet di sebuah tim? Faktanya dalam perjalanan karirnya sebagai pelatih, tak jarang ia mengalami takdir pemecatan. Artinya, ada yang kurang beres dari track record pelatih yang satu ini.

Di Roma, ia dipecat karena hasil buruk dan hubunganya yang mulai tak baik dengan pemilik, James Pallotta. Ia bahkan blak-blakan mengatakan bahwa ia merasa dikhianati karena Pallotta diam-diam mempersiapkan Spaletti sebagai suksesornya.

Di Lyon ia pernah punya track record buruk di ruang ganti. Ia dianggap oleh manajemen Lyon makin mengeruhkan suasana ruang ganti karena cekcok dengan para pemain kunci.

Hal itu juga sama kejadiannya ketika ia di Al-Nassr. Ketika diisukan cekcok dengan Cristiano Ronaldo, ia akhirnya juga dipecat. Dari track record buruk itulah, ia kemudian diragukan untuk bisa awet menukangi Napoli. Karena bagaimanapun presiden Napoli itu wataknya juga sama kerasnya dengan Garcia.

Keberlanjutan Sistem Permainan Napoli Pasca Spalletti

Lalu apa dong yang diharapkan dari Rudi Garcia di Napoli? Sesuai permintaan sang presiden, Napoli akan dibawanya menjadi klub yang berkelanjutan secara sistem permainan. Kita tahu di bawah Spalletti, Napoli jadi tim yang atraktif dan menyerang.

“Saya sudah berpikir pasca Scudetto untuk mencari siapa pelatih yang cocok dengan sistem 4-3-3. Banyak sebenarnya yang memiliki kriteria tersebut, namun yang terpenting penunjukan Garcia ini tak jauh dari sistem yang kami inginkan,” kata De Laurentiis.

Permintaan Rudi Garcia

Pasca ditunjuk De Laurentiis, Rudi Garcia langsung menyatakan bahwa ia tak takut dibayang-bayangi kesuksesan Spalletti. Bahkan ia menganggap penunjukan ini seperti sudah digariskan oleh Tuhan kepada dirinya.

Rudi Garcia kini dihadapkan pada situasi skuad Napoli yang tidak menentu musim depan. Sebab para pilar Napoli musim ini seperti Kim Min Jae maupun Victor Osimhen berpotensi untuk hengkang. Di sisi lain, juru transfer Napoli, Cristiano Guintoli juga berpotensi akan hengkang ke Juventus.

Namun pelatih Prancis itu tak khawatir. Ia sudah punya ancang-ancang dan memiliki permintaan khusus pada Laurentiis. Menurut La Gazzetta dello Sport dan Il Corriere dello Sport, Garcia meminta agar Kvaratskhelia dan Osimhen tak dijual. Sementara kalau Kim Min Jae hengkang, Garcia minta De Laurentiis untuk mendatangkan Giorgio Scalvini dari Atalanta.

Masih Perkasa Dengan Pelatih Buangan?

Well, Rudi Garcia memang belum bekerja. Tapi setidaknya publik bisa menerawang apa yang ia akan ia lakukan di musim debutnya bersama Il Partenopei.

Masih menggunakan formasi 4-3-3, bermain atraktif dan menyerang, pasti akan dilakukannya. Soal komposisi pemain, inilah yang nantinya akan mempengaruhi apakah format yang akan dijalankannya itu berhasil atau tidak.

Yang terpenting dari itu semua sebenarnya adalah keharmonisan komunikasi. Baik antara dirinya dengan pemain maupun dirinya dengan pemilik. Karena bagaimanapun track record Garcia buruk kalau soal itu.

Napoli yang superior musim ini tentu diharapkan akan lebih menggebrak lagi musim depan. Konsistensi keperkasaan mereka akan terus diuji. Ditambah penampilan mereka di Eropa musim depan juga sangat dinanti.

Jadi, sanggupkah pelatih buangan Liga Arab ini membuat Napoli kembali perkasa dengan caranya sendiri? Ataukah jangan-jangan ini adalah awal dari kehancuran Napoli musim depan?

Sumber Referensi : theathletic, transfermarkt, apnews, theathletic

Pontang-Panting Harry Kane Saat Dipinjam-pinjamkan ke Klub Medioker

0

Harry Kane menjelma salah satu striker berbahaya di Liga Inggris. Dalam beberapa tahun terakhir, pria yang lahir di London ini menjadi langganan top skor Liga Primer Inggris. Kalau saja musim yang sudah lewat tidak ada Erling Haaland, Kane akan menjadi top skor dengan torehan 30 gol.

Kane juga boleh dibilang satu-satunya striker Inggris yang berbahaya di era saat ini. Kemampuan Kane dan insting serta nalurinya mencetak golnya tidak hadir dalam sekejap. Butuh waktu lama baginya untuk menjadi seperti sekarang ini.

Bahkan sebelum benar-benar menjadi andalan Tottenham Hotspur, Kane sempat dipinjam-pinjamkan ke klub medioker, seperti Norwich City, Leicester City, bahkan Millwall. Bagaimana kisahnya?

Masuk Akademi Spurs, Bermain di Tim Muda

Harry Kane lahir dan menjalani kehidupan masa kecilnya di Kota London. Ia masuk ke akademi salah satu tim yang disegani, setidaknya pada waktu itu. Yap, benar, Harry Kane masuk akademi Tottenham Hotspur.

Setelah bergabung ke akademi Tottenham, karier Kane melonjak. Saat bergabung dengan tim U-21, Kane sudah mencetak sembilan gol dari 13 laga yang dilakoninya. Ia kemudian naik ke tim utama. Namun, Tottenham Hotspur memiliki program pengembangan yang cukup unik saat itu.

Mantan pelatih teknik Tottenham Hotspur yang saat itu juga terlibat dalam program pengembangan pemain muda, Les Ferdinand, seperti dikutip Independent, menjelaskan bahwa pendekatan yang dipakai Spurs dalam pengembangan usia muda adalah membiarkan pemain U21 dipinjamkan ke klub lain terlebih dahulu, sebelum benar-benar bermain untuk The Lilywhites.

Dijelaskan Les Ferdinand, sistem peminjaman ini akan memberikan tekanan pada sang pemain. Bermain di liga yang kastanya lebih rendah dari Premier League jauh lebih kompetitif ketimbang bermain di Liga Primer U-21. Harry Kane pun dipinjamkan ke klub League One atau kasta ketiga, Leyton Orient.

Bermain di Leyton Orient

Pada waktu itu, memang para manajer di Liga Inggris tidak cukup berani memainkan pemain muda. Hal yang di kemudian hari didobrak oleh Southampton. Tim pertama di Liga Inggris yang berani memainkan pemain muda, dengan aktornya Mauricio Pochettino.

Balik lagi ke Harry Kane. Meski bermain di tim utama, alih-alih tim muda, bermain di League One berarti Kane mengalami turun kasta. Bagaimanapun banyak perbedaan antara Tottenham dan Orient. Di tempatnya yang baru, Kane akan mendapatkan fasilitas yang lebih buruk.

Namun, ia tidak pernah menyesali keputusan itu dan menerjang segala situasi. Kane bergabung ke Orient pada paruh kedua musim 2010/11. Dengan wajah yang segar dan penuh harap, Kane datang ke Orient bermodal keinginan untuk belajar dan menjadi starter di setiap pertandingan.

Orient adalah tempat yang tepat baginya untuk mempelajari itu semua. Dan yang terpenting, Kane bisa pula belajar apa artinya menang. Manajer kasta ketiga, seperti Orient tidak mudah untuk dipecat. Bahkan kalau timnya kalah 10 laga beruntun pun mereka tidak akan dipecat. Itulah yang dirasakan manajer Orient, Russell Slade saat itu.

Betapa bahagianya Russell menerima Kane. Sebab sang pemain sudah tahu betul apa yang mesti dilakukan. Kane belajar dengan cepat. Meski tidak selalu turun sebagai starter. Ia membuat sembilan penampilan starter di League One, dan sembilan sisanya turun sebagai pemain pengganti. Kane mencetak lima gol dari 18 penampilannya itu di League One.

Mantra di Millwall

Kane memang tidak selalu menjadi starter di Orient. Namun, lima gol yang ia cetak memberi pertanda kelahiran striker nomor sembilan baru di Eropa. Sayangnya tidak ada yang memperhatikannya saat itu. Tak terkecuali Tottenham Hotspur. Ya itu wajar, lima biji gol adalah jumlah yang sedikit.

Namun, tim EFL Championship, Millwall melihat Kane dengan cara yang berbeda. Tim dengan ultrasnya yang terkenal menakutkan itu tidak sinis dengan jumlah gol Harry Kane. Mereka tidak mau melepas kesempatan untuk meminjamnya dari Spurs.

Setelah dari Orient, Kane pun dipinjamkan ke Millwall. Kali ini ia naik kasta tanpa bersama Orient yang di ujung musim 2010/11 berada di posisi tujuh kasta ketiga. Di Millwall, Kane kian menunjukkan kematangannya sebagai seorang striker. Ia bukan lagi Kane muda, melainkan seorang profesional.

Sentuhan, gerakan, dan penyelesaian akhir yang luar biasa semuanya terintegrasi dalam diri Kane. Etos kerjanya juga meningkat. Kane selalu menuntut lebih banyak dari yang mampu dilakukannya. Bersamaan dengan itu, Kane juga berubah menjadi pribadi yang dingin.

Kane memang tidak memiliki kecepatan. Namun, saat di Millwall, ia memiliki kecerdasan dan kedewasaan seorang pemain dengan lebih banyak pengalaman. Di Millwall, Kane selalu menjadi andalan. Total ia memainkan 22 laga Championship, 19 laga di antaranya menjadi starter. Ia mengemas tujuh gol dari 22 laga tersebut.

Dipinjamkan Lagi ke Norwich City

Setelah musim yang cukup mengagumkan di Millwall, Kane pulang ke Spurs Mei 2012. Ia berharap kali ini bisa menembus tim utama di bawah manajer anyar, Andre Villas-Boas. Impian itu diwujudkan oleh Villas-Boas. Kane memperkuat tim utama di laga pra-musim 2012/13 kontra Southend United.

Kane malah sanggup mencetak hattrick di laga tersebut. Ia lalu merasakan sensasi bermain di Liga Premier Inggris di pekan-pekan awal musim itu, ketika masuk sebagai pemain pengganti saat menghadapi Newcastle United. Sayangnya, itu tidak bertahan lama.

Tottenham memboyong Clint Dempsey dan Emmanuel Adebayor. Klub pun memutuskan buat meminjamkan lagi Harry Kane, kali ini ke Norwich City. Kane menghabiskan musim 2012/13 sebagai pemain Norwich, yang waktu itu juga berlaga di Liga Primer.

Namun, ia justru mengalami masa sulit di Norwich. Tulang metatarsal kelima di kaki kanannya patah, dan itu menghancurkan karier Kane di sana. Kane hanya tampil lima laga di segala kompetisi bersama Norwich. Menit bermainnya cuma 230 menit dan tak mencetak satu pun gol. 

Sebelum cedera, Kane juga sempat diturunkan ke tim U-21 Norwich dan mencetak dua gol di sana. Padahal menurut bek Norwich sekaligus rekan Kane, Leon Barnett, Kane adalah striker dengan arah tembakan yang sulit ditebak. Saat latihan, Barnett mengatakan, ia bisa menghalau tembakan semua pemain, tapi tidak dengan tendangan Kane.

Masa Sulit di Leicester City

Kane yang sudah menginjak 19 tahun akhirnya pulang ke Tottenham Hotspur. Namun, Kane sepertinya tidak masuk dalam rencana Tim Sherwood. Kane dipinjamkan lagi, kali ini ke Leicester City di pertengahan musim 2012/13. Akan tetapi, kelak peminjaman ini hanya berlangsung kurang lebih empat bulan.

Pada waktu itu, The Foxes bukannya tidak memiliki striker andalan. Ada Chris Wood dan David Nugent. Kane pun harus terima nasibnya seperti Jamie Vardy yang kala itu masih menjadi pelapis. Leicester berjuang di EFL Championship musim itu bersama pelatih Nigel Pearson.

Kane bermain di 15 laga bersama Leicester. Namun, ia lebih sering menjadi pemain pengganti. Ia mendapat cukup kepercayaan dari Pearson, meski hanya bisa mencetak dua gol saja. Kane diturunkan di dua laga play-off Championship. Ya, di akhir musim 2012/13, The Foxes berkesempatan untuk naik ke Premier League.

Namun, langkah mereka terhenti di babak semifinal. Usai menang 1-0 di leg pertama, Leicester justru takluk atas Watford di leg kedua 3-1. Kane tidak berbuat banyak di laga itu. Akan tetapi, Leicester punya keinginan untuk mempermanenkannya.

Mereka melihat Kane adalah striker yang punya progres baik. Namun, The Lilywhites tidak merestuinya. Spurs pun memulangkannya kembali. Dan sejak saat itu, Kane menjadi andalan The Lilywhites. Apalagi ketika Lili Putih ditukangi Mauricio Pochettino yang memberi kepercayaan penuh pada Harry Kane.

Sumber: INewsUk, Independent, BR, TheGuardian, LeicesterMercury, Independent2, Livermint

Jual Sandro Tonali, AC Milan Menuju Banter Era Jilid 2?

0

Pendukung AC Milan pernah merasakan masa-masa suram ketika Silvio berlusconi mulai kesulitan membiayai Rossoneri yang sudah ia besarkan puluhan tahun layaknya anak sendiri. Demi menyeimbangkan neraca keuangan dan membayar utang, Milan mulai melepas para pemain bintangnya.

Hingga akhirnya, Berlusconi tak lagi kuat membiayai dan Milan jatuh ke tangan investor asal Cina, Yonghong Li. Kala itu, pendukung Milan mengira kalau tim kesayangan mereka lepas dari masa suram. Tagar “We Are So Rich” banyak terbentang di San Siro hingga media sosial. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Di era tersebut, Rossoneri dikelola serampangan. Mereka menghambur-hamburkan uang untuk membeli pemain kelas dua dengan harga yang tak wajar. Gaji yang dibayarkan juga tak setimpal dengan performa di atas lapangan.

Dari pinggir lapangan, pelatih yang Milan datangkan juga tak berkelas. Meski sempat memenangi Supercoppa Italia 2016, tetapi sepanjang era tersebut, Milan tak berprestasi dan absen dari Liga Champions, bahkan sempat terkena hukuman FFP. Belum lagi berbagai gimmick di luar lapangan yang membuat Milan terlihat seperti badut.

Era kelam tersebut lazim disebut sebagai “Banter Era”. “Banter Era” bisa diartikan sebagai “era olok-olok”, sebuah periode kelam di mana sebuah klub sepak bola berada di titik yang sangat rendah dibanding sejarahnya. Konsekuensi dari sebuah tim yang terjerumus ke “Banter Era” adalah mendapat cemooh dan penghinaan.

Milan “Banter Era Jilid 1” terjadi pada musim 2012 hingga 2018. Namun, ada versi pula yang menyebut kalau “Banter Era Jilid 1” baru dimulai setelah Massimiliano Allegri dipecat hingga Milan kembali meraih scudetto bersama Stefano Pioli.

Manapun yang benar, di masa tersebut, AC Milan memang sangat nikmat untuk dijadikan bahan lelucon. Kini, setelah lama tak terdengar, istilah tersebut kembali mencuat. Trauma masa lalu kembali mengintai pendukung Milan usai Sandro Tonali dijual ke Newcastle United.

Here We Go! Sandro Tonali Dijual €70 juta ke Newcastle United

Penjualan Sandro Tonali mengingatkan pendukung Rossoneri akan penjualan Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva ke PSG di musim panas 2012. Kala itu, alasan ekonomi jadi penyebab dijualnya dua figur penting di balik scudetto ke-18 AC Milan.

Kini, alasan ekonomi juga dipakai oleh pemilik anyar Rossoneri, Redbird Capital Partners pimpinan Gary Cardinale sebagai dalih untuk menjual Sandro Tonali. Mirip dengan Ibra dan Thiago Silva, Tonali juga merupakan figur penting yang sukses membawa Milan meraih scudetto ke-19.

Menurut laporan Fabrizio Romano, Milan sepakat melepas Tonali ke Newcastle United dengan harga €70 juta plus bonus. Dalam kesepatakannya, Milan memasukkan klausul penjualan sebesar 10%. Sementara itu, Tonali dilaporkan akan menerima kontrak hingga 2029 dengan gaji €7 juta pertahun plus bonus €2 juta.

Tawaran menggiurkan itulah yang disinyalir tak kuasa ditolak AC Milan. Rencananya, uang hasil penjualan Tonali akan dipakai manajeman baru Milan untuk membeli target lain di bursa transfer.

Banyak kabar simpang siur soal kronologi penjualan Sandro Tonali. Ada laporan yang menyebut Tonali sampai nangis ketika tau akan dijual AC Milan. Sementara, agen dari Sandro Tonali, Giuseppe Riso, mengatakan kalau kliennya sangat tenang dan paham situasi. Dengan menerima tawaran The Magpies, ia akan membantu Milan dan Brescia.

Laporan dari jurnalis Daniele Longo dan Anto Vitiello juga mengatakan kalau Sandro Tonali tidak menolak tawaran Newcastle. Vitiello yang konon begitu dekat dengan Milan juga mengatakan kalau Tonali ingin bertahan di Milan ia bisa langsung menolak tawaran Newcastle, tapi nyatanya tidak terjadi.

Bagaimanapun kronologinya, nasi sudah jadi bubur. Pendukung Milan harus menerima kenyataan kalau salah satu pemain yang mereka gadang-gadang akan menjadi kapten masa depan kini akan segera pergi.

Sandro Tonali adalah representasi dari mimpi para Milanisti. Tumbuh besar sebagai fans Milan, Tonali berhasil memenuhi mimpinya. Ia bahkan mengenakan jersey bernomor 8, nomor yang dulu dipakai oleh idolanya, Gattuso. Seorang milanista sejati, Tonali berhasil mengantar Milan meraih scudetto dan menjadi semifinalis Liga Champions.

Kisah itulah yang membuat pendukung rossoneri sedih bukan main. Mereka pun menyalahkan Gary Cardinale yang memecat Paolo Maldini. Pasalnya, penjualan Tonali sendiri merupakan efek domino dari pemecatan Paolo Maldini.

Ketakutan di Balik Penjualan Sandro Tonali

Tanpa Maldini, AC Milan tak lagi punya penjaga filosofi. Para pemain Milan juga sudah tak punya pelindung. Kini, siapa saja bisa dijual.

Oleh karena itu, fans Milan paham betul kalau ini bukanlah akhir dari dunia. Sebab, masih ada Mike Maignan, Theo Hernandez, dan Rafael Leao yang kapan saja bisa meninggalkan mereka dengan cara yang menyakitkan.

Lebih krusial lagi, tanpa Maldini, Milan telah kehilangan seorang negosiator ulung. Selepas kepergian Maldini dan Ricky Massara, operasi transfer Milan dipimpin langsung oleh CEO mereka, Girogio Furlani. Sementara urusan teknis diurus kepala pemandu bakat, Geoffrey Moncada. Pelatih Stefano Pioli juga kabarnya ikut serta dalam pengambilan keputusan transfer.

Namun, sejauh bursa transfer berjalan, trio Furlani, Moncada, dan Pioli terbukti gagal menyamai pencapain Maldini. Tanpa sang legenda, Milan gagal mendapat pemain incarannya, bahkan disalip oleh klub lain.

Terbaru, usaha Milan mendaratkan Marcus Thuram secara gratis berakhir sia-sia. Di detik-detik akhir, Milan yang tak kunjung mengamankan tanda tangan Thuram disalip Inter Milan yang berani memberi gaji lebih tinggi.

Ironis, sebab kabarnya negosiasi dengan dengan pihak Thuram sudah dilakukan Milan selama 3 pekan. Bahkan Pioli dilaporkan sudah beberapa kali menelpon striker timnas Prancis tersebut. Akan tetapi, usaha mereka berakhir sia-sia.

Sebelum Thuram, Milan lebih dulu ditolak Youri Tielemens dan Evan N’Dicka. Daichi Kamada yang kabarnya sudah setuju gabung Milan juga tak kunjung mendapat kepastian.

Perlu diketahui kalau beberapa pemain dalam skuad Stefano Pioli datang karena yakin dengan proyek Maldini. Harga tebus Tonali yang tadinya mencapai €25 juta juga bisa ditekan menjadi hingga €5,9 juta saja. Berkat kemampuan negosiasi Maldini, Tonali juga bersedia menerima pemotongan gaji.

Kini, efek dari pemecatan Paolo Maldini sudah mulai dirasakan Milan. Ironisnya, di tengah kondisi seperti ini, para pendukung Milan tak bisa berharap banyak kepada ultras terbesar mereka, Curva Sud, yang terkesan biasa saja dan belum menunjukkan tanggapan serius.

Rencana Transfer Milan Pasca Penjualan Tonali

Pendukung Milan memang pantas takut. Penjualan Sandro Tonali yang mungkin bakal diikuti dengan penjualan bintang-bintang lainnya memang terasa begitu pahit. Namun, mereka harus mulai membiasakan diri kalau kini AC Milan tak lagi memegang asas kekeluargaan seperti saat diurus Silvio Berlusconi. Kini, Milan adalah klub bisnis. Beli murah, jual mahal.

Rencananya, hasil penjualan Sandro Tonali akan dipakai untuk membeli pemain baru. Inilah yang membedakan dengan “Banter Era Jilid 1”. Manajemen baru Milan yang bekerja dengan metode “moneyball” punya rencana lanjutan.

Setelah menjual Tonali, Milan mencoba membajak Davide Frattesi yang sebenarnya tinggal selangkah lagi bergabung ke Inter. Selain Frattesi, Sergej Milinkovic-Savic, Tijjani Reijnders, Ruben Loftus-Cheek, Florentino Luis, dan Lazar Samardžić juga masuk dalam radar. Milan juga tengah intens mengejar “Messi dari Turki”, Arda Guler.

Uang hasil penjualan Tonali juga akan dipakai untuk membeli penyerang baru. Samuel Chukwueze jadi target utamanya. Selain itu, setelah gagal mendaratkan Marcus Thuram, Milan dirumorkan mengalihkan targetnya kepada Gianluca Scamacca atau Alvaro Morata. Milan juga dikaitkan dengan striker Almeria, El Bilal Touré dan bek Borussia Dortmund, Thomas Meunier.

Milan Menuju “Banter Era Jilid 2”?

Dengan rencana tersebut, rasanya masih terlalu dini untuk menuduh AC Milan tengah menuju “Banter Era Jilid 2”. Bursa transfer masih panjang. Masih banyak pemain yang bisa diincar. Dari para pemain yang akan datang inilah kita bisa menilai lebih objektif.

Namun, dari apa yang sudah terjadi, ini merupakan kekalahan untuk Gary Cardinale dan manajemen baru Milan. Kegagalan Milan mendatangkan Youri Tielemens, Evan N’Dicka, dan Marcus Thuram, hingga masih belum jelasnya transfer Daichi Kamada yang berlarut-larut seolah membuktikan kalau keputusan mereka memecat Maldini adalah sebuah bencana.

Pada akhirnya, kemungkinan terburuknya adalah penjualan Sandro Tonali yang tak dipakai secara maksimal. Milan kemudian hanya akan kembali merekrut pemain kelas dua dengan harga yang tak wajar. Atau yang lebih ironis, penjualan Sandro Tonali hanya akan masuk kantong saja. Jika salah satu dari dua hal ini terjadi, maka mari ucapkan selamat datang untuk Milan Banter Era Jilid 2.


Referensi: Minuti Di Recupero, Sempre Milan, Sempre Milan, Goal.

Berita Bola Terbaru 26 Juni 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

FANS MIAMI DAN MESSI RELA MENEMPUH 1831 KM, TAPI AKHIRNYA KECEWA

Lionel Messi lagi-lagi bikin penggemarnya kecewa. Dikutip Talksport, penggemar Inter Miami berharap Messi melakukan debutnya di MLS melawan Philadelphia Union, Minggu (25/6), dan telah membawa spanduk bertuliskan “Saya melakukan perjalanan 1200 mil untuk melihat GOAT”. Tapi, La Pulga ternyata berada di tempat lain alias nggak bermain di laga itu. Setelah menyaksikan timnya kalah 4-1 dan gagal melihat debut pemain berjuluk La Pulga, penggemar tersebut membuang spanduk yang ia tunjukkan karena frustrasi. 

MESSI ‘MENGGILA’ DI LAGA TESTIMONIAL MAXI RODRIGUEZ

Lionel Messi memilih alfa ke Indonesia, yang membuat penggemar di tanah air kecewa. Fakta yang kemudian membuat fans Messi semakin nangis adalah karena pemilik 7 Ballon d’Or itu tampil apik di laga testimonial Maxi Rodriguez. Laga itu dimainkan pada Sabtu (24/6) waktu setempat. La Pulga menjadi bintang yang diundang untuk hadir ke Estadio Marcelo Bielsa dalam laga Newell’s Old Boys vs Argentina. Messi membuat hat-trick di laga itu, termasuk membuat gol cepat dan tendangan bebas.

JURRIEN TIMBER MENDEKAT KE ARSENAL

Menurut laporan The Football Faithfull, Arsenal capai kesepakatan dengan Jurrien Timber. Timber sepakat untuk meneken kontrak lima tahun di Arsenal, dengan kesepakatan The Gunners bakal menaikkan gajinya dua kali lipat menjadi sekitar 8 juta euro per musim. Meriam London dan Ajax diharapkan mencapai titik temu soal tebusan di angka 45 juta euro, tidak termasuk bonus, dan itu jauh lebih tinggi dari tawaran awal yang diajukan Arsenal minggu lalu.

RESMI, KOULIBALY GABUNG AL HILAL

Defender asal Senegal, Kalidou Koulibaly telah resmi hijrah ke klub Arab Saudi, Al-Hilal. Dia melancong ke Al-Hilal usai tinggalkan Chelsea pada bursa transfer musim panas ini. Transfer itu diumumkan oleh kedua klub pada hari Minggu, 25 Juni 2023. Al-Hilal mengatakan kontrak Koulibaly akan berjalan hingga 2026 tanpa memberikan rincian keuangan. Media Inggris melaporkan bahwa klub Saudi akan membayar sekitar 17 juta pounds atau Rp 324,1 miliar untuk bek tengah tersebut.

MIKEL ARTETA RESPONS ISU DIINCAR PSG

Mikel Arteta angkat bicara soal isu sedang dalam bidikan Paris Saint-Germain. Dia menegaskan masih nyaman dan merasa bahagia menjadi manajer di The Gunners. Bukan tanpa alasan jika juru latih asal Spanyol itu merasa nyaman di Arsenal. Karena manajemen membuatnya merasa sangat dihargai sebagai manajer. Dia juga memiliki sejumlah target yang ingin dicapai bersama tim berjuluk Meriam London.

CHELSEA RAMPUNGKAN TRANSFER NICOLAS JACKSON DARI VILLARREAL

Klub raksasa London, Chelsea merampungkan proses transfer penyerang muda asal Senegal, Nicolas Jackson dari Villarreal dengan nilai mencapai 32 juta pounds atau sekitar Rp 612 miliar. Striker bertalenta itu kini telah menyelesaikan tes medis dan Chelsea akan segera mengumumkan transfer sang pemain. Fabrizio Romano, pakar transfer asal Italia mengatakan, sang pemain telah menandatangani kontrak jangka panjang berdurasi delapan tahun di Stamford Bridge.

ISU RABIOT KE MU KEMBALI AKTIF

Kontraknya akan segera habis, Adrien Rabiot mungkin tinggalkan Juventus secara gratis. Goal melaporkan bahwa pihak Manchester United telah berbicara dengan agennya untuk menjajaki minatnya pindah ke Liga Primer Inggris. Sebagai informasi, Rabiot hampir bergabung dengan Setan Merah tahun lalu tetapi kesepakatan itu batal karena kedua belah pihak tidak dapat menyetujui persyaratan pribadi dan dia akhirnya bertahan di Juventus.

ALLEGRI TOLAK TAWARAN MEWAH AL HILAL

Mengutip dari Football Italia, Minggu (25/6), Al Hilal dan Al Ahli dikabarkan tertarik merekrut Massimiliano Allegri. Tak Tanggung-tanggung kedua klub raksasa Arab Saudi itu memberikan tawaran gaji besar kepada Allegri yakni sebesar 30 juta euro per musim. Bayaran tersebut lebih besar dibandingkan melatih Juve. Namun Allegri yang tengah berlibur bersama keluarganya di Sardinia, Italia, diwartakan tidak tertarik dengan tawaran fantastis itu. Dia lebih memilih menghormati sisa kontraknya bersama Nyonya Tua hingga Juni 2025 mendatang.

MILAN BIDIK LOFTUS CHEEK UNTUK GANTIKAN TONALI?

AC Milan yang dikabarkan menjual Sandro Tonali ke Newcastle United, kini telah membidik penggantinya. Adalah Ruben Loftus Cheek. Kebetulan sang gelandang juga menyisakan kontrak satu tahun lagi di Chelsea. Football Italia menyebut negosiasi sedang berlangsung. Chelsea disebutkan meminta 25 juta euro ke Milan. Harga tersebut tentu tak mahal untuk Milan jika berhasil mendapatkan uang dari Newcastle.

AS ROMA PERPANJANG KONTRAK ANDREA BELOTTI

AS Roma resmi mengaktifkan klausul opsi perpanjangan kontrak dua tahun Andrea Belotti. Belotti direkrut secara gratis dari Torino tahun lalu dan diberi kontrak satu tahun plus opsi perpanjang dua tahun.  Sang pemain pun mengucapkan terima kasih kepada I Giallorossi. “Perpanjangan ini saya jalani sebagai tahapan perjalanan yang dimulai setahun lalu. Saya berterima kasih kepada (direktur) Tiago Pinto karena memberi saya kesempatan bermain untuk Roma.”

THURAM SETUJU GABUNG INTER MILAN

Penyerang asal Prancis Marcus Thuram diperkirakan akan menandatangani kontrak lima tahunnya dengan Inter Milan minggu depan. Thuram, yang berusia 25 tahun itu telah memutuskan untuk keluar dari Borussia Monchengladbach dengan status bebas transfer, yang memungkinkannya hijrah ke Serie A. Paris Saint-Germain juga tertarik padanya, tetapi gagal meyakinkannya tentang proyek tersebut.

NEYMAR FRUSTRASI KARENA SERING CEDERA

Neymar frustrasi dengan kondisinya yang terus-terusan cedera. Neymar mengalami masalah pergelangan kaki saat PSG melawan Lille pada Februari 2023. Ligamen pergelangan kaki Neymar robek. Pemain 31 tahun itu harus menjalani pembedahan untuk mengatasi masalah tersebut. Akibatnya, Neymar harus menyudahi musim lebih cepat. “Sangat mengerikan melewatkan pertandingan, ada dalam posisi cedera. Saya sangat suka untuk bermain, bisa di atas lapangan,” kata Neymar di Canal+.

BINTANG INTER MILAN MENUJU ARAB SAUDI

Marcelo Brozovic selangkah lagi resmi meninggalkan Inter Milan untuk bergabung dengan Cristiano Ronaldo di Al Nassr. Dikutip Football Espana, negosiasi Inter Milan dengan Al Nassr memasuki tahap akhir pada awal pekan ini. Bintang asal Kroasia juga diwartakan sudah menyepakati proposal kontrak dengan klub asal Riyadh itu. Al Nassr menjadi pilihan setelah mengibaskan tawaran 23 juta euro atau setara Rp 378 miliar

BEGINI SOSOK MASKOT PIALA DUNIA U17

Maskot Bacuya awalnya disiapkan untuk Piala Dunia U-20 di Indonesia. Akan tetapi, FIFA mencabut status tuan rumah sehingga kemudian dipindahkan ke Argentina. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, belum bisa memastikan akan memakai Bacuya lagi atau tidak untuk Piala Dunia U-17 2023. Namun, jika diperkenankan, maka maskot Bacuya akan dipakai untuk Piala Dunia U-17 2023. Kendati demikian, Menteri BUMN itu mengatakan jika regulasi dari FIFA tidak diperbolehkan, maskot baru akan dicari PSSI. Tentunya maskot Piala Dunia U-17 2023 itu akan makin mengenalkan Indonesia di mata dunia.

HASIL EURO U21, INGGRIS TUMBANGKAN ISRAEL

Inggris U-21 tampil kesetanan untuk membekuk Israel U-21 dengan skor meyakinkan 2-0, pada matchday 2 Grup C Euro U-21 2023, Minggu (25/6). Dua gol kemenangan Inggris dicetak oleh Anthony Gordon di babak pertama menit 15, lalu dilengkapi Emile Smith Rowe di babak kedua menit 68. Hasil ini jadi kemenangan kedua beruntun untuk Inggris memimpin puncak klasemen sementara Grup C Euro U-21 2023. Sementara Israel terpuruk di dasar klasemen dengan satu poin.

GATTUSO MERAPAT KE KLUB ARAB SAUDI

Selain pemain, ada pula pelatih Eropa yang bakal meramaikan Liga Arab Saudi. Terkini, Gennaro Gattuso kabarnya akan melatih salah satu klub di sana. Gattuso diwakili oleh super-agent Jorge Mendes. Menurut Football Italia, Mendes sudah bicara dengan beberapa klub Arab Saudi mewakili Gattuso. Sejauh ini, memang belum ada yang pasti, termasuk klub mana saja yang bersaing untuk memakai jasa Gattuso. Namun, sumber yang sama mengklaim bahwa kesepakatan bakal tercapai dalam waktu dekat.

MANCHESTER CITY SEPAKAT DENGAN GVARDIOL

Menurut jurnalis Fabrizio Romano, Manchester City telah mencapai kesepakatan personal dengan sang bek tengah Timnas Kroasia, Josko Gvardiol. Guardiola disinyalir sangat terkesan dengan kualitas Gvardiol. Namun demikian, RB Leipzig selaku klub pemilik tidak akan melepasnya dengan mudah. Menurut warta dari Romano, Leipzg berharap untuk mempertahankan Gvardiol pada musim panas ini. Jika ada klub yang menginginkannya, maka mereka harus mengeluarkan setidaknya 100 juta euro atau setara Rp1,6 triliun.

ACHRAF HAKIMI MASUK DAFTAR BELANJA MAN CITY

Manchester City dilaporkan tertarik untuk mendatangkan Achraf Hakimi dari PSG. Menurut laporan Daily Mail, City berminat merekrut Hakimi sebagai pengganti Kyle Walker. Bek sayap The Cityzens itu saat ini berada di ambang pintu keluar Etihad Stadium. Pasalnya Bayern Munchen menggoda Walker untuk pindah ke Jerman di musim panas ini. Laporan yang sama mengklaim bahwa PSG belum menentukan status Hakimi di musim panas ini. Mereka menunggu manajer baru mereka untuk memutuskan apakah sang bek akan dipertahankan atau boleh dilepas ke City.

WILFRIED GNONTO MASUK DAFTAR BELANJA EVERTON

Menurut kabar dari Gianluca Di Marzio, Everton sangat tertarik dengan ide untuk merekrut pemain Italia milik Leeds United, Wilfried Gnonto. The Toffees, yang mengamankan status EPL mereka atas Leeds pada hari terakhir musim 2022/23, diwartakan ingin meningkatkan opsi serangan mereka sebelum musim baru dimulai pada Agustus. Gnonto tampil cukup lumayan musim lalu. Baru berusia 19 tahun pada November, Gnotno mencetak empat gol dan empat assist di semua kompetisi pada 2022/23.

INTER SAINGI MILAN UNTUK DAPATKAN LUKA ROMERO

Seakan tak puas menikung Marcus Thuram, Inter Milan kini berhasrat menikung tetangganya, AC Milan, dalam perburuan Luka Romero. Dilansir dari Football Italia, Minggu (25/6), kiub berjuluk Nerazzurri tersebut belum lama ini bertemu agen wonderkid Lazio tersebut. Diyakini, pertemuan ini akan membahas kepindahan pemain berusia 18 tahun tersebut, yang kontraknya akan habis bersama Lazio pada 30 Juni 2023 ini.

RIVALDO YAKIN TIMNAS BRASIL BERPRESTASI JIKA DILATIH ANCELOTTI

Legenda Brasil, Rivaldo, menilai Ancelotti sebenarnya bukan kandidat yang ideal sebagai pelatih Brasil. Apalagi, statusnya nanti sebagai pelatih asing. Namun, mantan pemain Barcelona dan AC Milan ini sama sekali tak meragukan kualitas Don Carlo. Rivaldo yakin Ancelotti bakal bisa membawa Brasil berprestasi jika menerima pinangan CBF. Rivaldo paham betul kualitas Ancelotti karena pernah bekerja sama di Milan.

CHELSEA REKRUT WONDERKID JAMAIKA

Chelsea telah menyelesaikan penandatanganan striker remaja Jamaika Dujuan Richards, yang akan bergabung dengan klub saat ia berusia 18 tahun pada bulan Oktober. Dujuan Richards, yang saat ini berada di Phoenix All Stars Academy yang berbasis di Kingston, melakukan debut seniornya di Jamaika pada bulan Maret melawan Trinidad & Tobago. Richards. 

SETELAH GAET MESSI DAN BUSQUETS, INTER MIAMI INCAR ALBA

Setelah merekrut Lionel Messi dan Sergio Busquets, Inter Miami kini membidik andalan Barcelona lainnya yakni Jordi Alba. Sekarang sudah ada kontak awal dengan bek kiri Catalan tersebut. Klub MLS itu berniat untuk mengintensifkan pembicaraan dalam beberapa hari mendatang, setelah dua kesepakatan pertama selesai dan ditandatangani. Yang pasti, Alba siap mendengarkan proposal Inter Miami. Sebab, Alba berstatus bebas transfer pada musim panas ini setelah memutus kerja sama dengan Barcelona.

TOTTENHAM TERTARIK PADA JARROD BOWEN

Tottenham Hotspurs sedang mencari gelandang serang baru dan Tribalfootball mengatakan Jarrod Bowen sedang dipertimbangkan. Bowen menulis namanya dalam buku sejarah West Ham bulan ini karena golnya membuat mereka memenangkan final Liga Konferensi Eropa. Tottenham ingin merekrut pemain sayap yang cocok dengan sistem 4-3-3 manajer baru Ange Postecoglou. Dan Bowen disebut cocok dengan itu.

KIAN BUGAR, LISANDRO MARTINEZ SIAP RAMAIKAN PRA MUSIM

Bek timnas Argentina Lisandro Martinez memberi kabar gembira buat klubnya, Manchester United. Setelah istirahat cuku panjang, tepatnya sejak April, karena cedera, Martinez memastikan sudah siap 100 persen untuk kembali berlatih dengan MU. Dia bahkan memastikan sudah siap untuk ikut pramusim dengan MU pada Juli nanti. MU bakal menjalani beberapa laga uji coba sebelum musim bergulir. Pada tahap awal, Mu akan menghadapi Leeds dan Lyon di Norwegia dan Skotlandia.

10 Derby Terbesar dan Paling Panas di Dunia

Derby dan rivalitas di sepak bola memang seringkali menimbulkan tragedi yang memilukan. Tapi ada bagian dari derby dan rivalitas yang gak melulu soal kekerasan. Ada gairah, semangat, dan emosi para pendukung dan pecinta sepak bola di dalamnya.

Lalu apa saja derby terpanas dan terbesar di dunia sepak bola? Berikut adalah 10 diantaranya

North West Derby (Manchester United vs Liverpool)

Banyak derby besar dan bersejarah di Inggris. Tapi jika dilihat dari skala antusiasme penonton, gengsi, dan sejarah, maka rivalitas Manchester United vs Liverpool bisa dibilang yang terbesar. Derby ini sering disebut dengan nama North West Derby.

Rivalitas mereka tercipta pada dasarnya karena orang-orang dari Manchester sangat membenci orang-orang dari Liverpool. Begitu pula sebaliknya. Bahkan tidak hanya dalam segi sepak bola. Ini bisa ditarik kembali ke era revolusi industri. Dimana kedua kota ini bersaing jadi kota industri terbesar di Inggris.

Persaingan itu merambat dan semakin memanas di atas lapangan hijau. Mereka selalu bersaing jadi penguasa di Inggris. Di era 70-an sampai 80-an Liverpool berada di atas MU. Sampai roda takdir berputar.

Berkat kedatangan Sir Alex Ferguson, MU jadi penguasa di Inggris pada dekade 90-an sampai dekade 2000-an. Setelah itu persaingan di Liga Inggris makin sengit. Peta kekuasaan di Inggris kini tidak hanya berpatok pada dua klub ini saja.

Old Firm Derby (Celtic vs Rangers)

Orang-orang di Skotlandia akan bilang kalau North West Derby tidak ada apa-apanya dibandingkan Old Firm Derby. Bahkan derby yang mempertemukan Celtic vs Rangers ini disebut-sebut sebagai derby paling panas seantero Britania Raya.

Dua kekuatan dominan sepak bola Skotlandia ini sudah bertarung sejak lama. Lebih dari satu abad lamanya. Derby ini mengakar dari ruwetnya konflik politik dan agama. Perbedaan itu membuat kedua kelompok jadi saling membenci.

Sejatinya mereka adalah sama-sama warga Glasgow. Tapi pendukung Rangers menasbihkan diri sebagai warga asli Skotlandia. Mereka adalah loyalis yang memeluk agama Protestan.

Sedangkan Celtic adalah orang-orang berdarah campuran Irlandia-Skotlandia. Pendukung Celtic merupakan orang-orang dengan ideologi Republik dan pengikut gereja Katolik. Jadi bisa dibayangkan, setiap kedua tim bertemu itu bukan sekedar pertandingan sepak bola. Tapi pertarungan identitas dua kelompok masyarakat.

El Clásico (Barcelona vs Real Madrid)

Tidak lengkap rasanya kalau membahas Derby terpanas tanpa menyebutkan El Clasico. Barcelona vs Real Madrid. Dua klub terbaik di Eropa ini bersaing di salah satu liga terbaik di Eropa. Itu membuat El Clasico adalah Derby terbesar yang pernah ada.

Kurang lebih sama seperti Old Firm Derby, El Clasico juga memegang kebencian identitas sosio-politik di antara para pendukungnya. Barcelona merupakan klub kebanggan warga Catalonia. Sedangkan Real Madrid adalah representasi dari kekuasaan kerajaan Spanyol. Kedua kelompok ini memang sudah saling membenci sejak lama sampai warga Catalonia mendapatkan kemerdekaannya di tahun 2017.

Terlepas dari itu, puncak rivalitas Real Madrid dan Barcelona adalah di tahun 2010 sampai 2013. Saat itu Jose Mourinho dan Pep Guardiola masih jadi juru taktik masing-masing tim. Juga ada Messi dan Ronaldo, dua pesepakbola terhebat yang saat itu saling sikut untuk jadi yang terbaik.

Der Klassiker (Dortmund vs Bayern Munchen)

Jika di Spanyol ada El Clasico, di Jerman ada Der Klassiker. Sama seperti namanya, Der Klassiker juga mempertemukan dua tim terbesar Bundesliga, Borussia Dortmund dan Bayern Munchen.

Meskipun bernama Der Klassiker tapi duel ini tak terlalu klasik, Der Klassiker juga tidak se-politis El Clasico. Duel ini memang duel yang paling besar dan paling banyak disaksikan di Jerman. Tapi nyatanya tidak se-klasik itu. Dortmund adalah klub terbaru yang bisa menentang dominasi Bayern.

Bermula dari datangnya Jurgen Klopp ke Dortmund. Ia membawa Dortmund melawan dominasi Bayern dengan menjuarai Bundesliga musim 2010/11 dan 2011/12 berturut-turut. Kedua tim juga bertemu di final Liga Champions 2013.

Media di luar Jerman menyoroti duel ini dan membanding-bandingkannya dengan El Clasico. Departemen pemasaran Bundesliga pun tak mau ketinggalan dan mulai melabeli duel ini dengan sebutan Der Klassiker. Padahal tidak ada orang Jerman yang menyebutnya seperti itu.

Meskipun begitu, Der Klassiker tetaplah duel terbesar di Bundesliga. Tapi jika urusan sejarah dan dalam tanda kutip “klasik”, mungkin Revierderby antara Borussia Dortmund dan Schalke lebih klasik.

Derby Della Madonnina (AC Milan vs Inter Milan)

Kalau derby yang ini tak usah dipertanyakan lagi seberapa klasiknya. Derby Della Madonnina, antara rival sekota AC Milan melawan Inter Milan adalah derby terbesar seantero Italia. Duel ini sudah berlangsung lebih dari satu abad lamanya.

Sama seperti di Inggris, Serie A sebenarnya memiliki banyak sekali derby yang panas. Contohnya Derby Della Capitale antara AS Roma vs Lazio. Tapi Derby Della Madonnina lebih dikenal publik secara luas. Mungkin karena AC Milan dan Inter Milan adalah dua tim Italia yang paling sukses di Eropa.

Intercontinental Derby (Fenerbahce vs Galatasaray)

Liga Turki memang tidak se-menarik liga-liga yang sudah disebutkan sebelumnya. Tapi di Liga Turki terdapat derby yang sangat melegenda. Yaitu Intercontinental Derby antara Fenerbahce melawan Galatasaray.

Dua klub ini adalah rival sekota Istanbul. Tapi mengapa dinamakan Intercontinental Derby? Karena memang secara geografis Istanbul berada di dua benua, Eropa dan Asia. Galatasaray di daratan Eropa dan Fenerbahce di daratan Asia.

Selain karena kondisi geografis derby ini tercipta juga karena mereka adalah dua tim terkuat di Turki. Kedua kelompok suporter juga saling membenci satu sama lain sejak dahulu kala. Itu pula mengapa derby ini juga disebut Eternal Derby. Kerusuhan sudah biasa terjadi tiap kali sebelum, saat, dan sesudah derby ini berlangsung.

The Eternal Derby (Red Star vs Partizan Belgrade)

Bicara soal eternal derby, nama ini sebenarnya lebih akrab untuk menyebut pertemuan dua tim dari Serbia, Red Star vs Partizan Belgrade. Derby ini bisa ditarik dari pasca Perang Dunia II. Setelah perang usai, klub-klub sepak bola terbentuk berdasarkan dua ideologi politik.

Red Star Belgrade dibentuk di tahun 1945 oleh kelompok pemuda anti-fasis. Sementara Partizan dibentuk oleh tentara rakyat Yugoslavia di tahun yang sama. Persaingan mereka semakin ketat seiring dengan panasnya situasi politik di negara Yugoslavia.

Sampai Yugoslavia pecah, yang saat ini jadi Serbia, kedua kelompok pendukung ini masih saja saling membenci. Itulah mengapa Derby ini disebut The Eternal Derby, atau derby abadi

Superclasico (Boca Junior vs River Plate)

Beralih ke benua Amerika Selatan, Derby terbesar mereka adalah Superclasico. Derby ini mempertemukan dua tim terkuat di Argentina, Boca Junior melawan River Plate. Setiap kali duel ini berlangsung, Argentina berubah seperti medan perang. Asap, suara ledakan, sampai polisi anti huru hara adalah pemandangan yang biasa.

Jika Old Firm Derby tercipta karena perbedaan identitas agama, El Clasico karena identitas nasional dan politik, Superclasico adalah duel antara dua kelas masyarakat. Boca Junior adalah kelompok pekerja. Sedangkan River Plate klub menengah keatas yang punya banyak uang.

Dua tim ini juga sama-sama mendominasi liga Argentina. Jadi tak heran kalau derby ini sangat panas dan mencekam. Berbanding lurus dengan masyarakatnya yang menjadikan sepak bola sebagai identitas mereka.

Grenal (Grêmio vs Internacional)

Sama seperti di Argentina, Brasil juga punya banyak derby panas. Duel ini mempertemukan dua klub dari kota Porto Alegre, Grêmio melawan Internacional. Meskipun se kota, kedua klub ini mewakili identitas yang berbeda.

Gremio didirikan terlebih dahulu di tahun 1903. Pada awalnya klub ini khusus untuk para keturunan dari Jerman. Sedangan Internacional dibentuk enam tahun kemudian sebagai bentuk dari protes eksklusifitas Gremio. Para pendiri Internacional adalah keturunan Italia.

Mengapa dinamakan Grenal? sederhana saja. Itu gabungan dari singkatan nama kedua klub. Gre dan Nal. Gre untuk Gremio, dan Nal untuk Internacional.

Cairo Derby(Al Ahly vs Zamalek)

Tak hanya Eropa dan Amerika Latin, negara Mesir juga punya derby besar nan panas. Tepatnya di kota Kairo yang mempertemukan Al Ahly dan Zamalek. Tidak hanya derby yang besar. Cairo Derby sering dianggap sebagai derby paling kasar dan berbahaya di seluruh dunia.

Pada hari pertandingan, setidaknya akan ada 100 ribu fans berkumpul di dalam dan di luar stadion. Situasi seperti itu tidak jarang melahirkan sebuah tragedi. Pemerintah Mesir bahkan sempat mengharuskan derby dimainkan di tempat netral dan tanpa penonton.

Itulah 10 derby terbesar dan paling panas di dunia sepak bola. Derby mana yang menurut kalian paling panas?

Sumber referensi: Athletic, B/R, One, Bundesliga, ItalianFootball, Insider, Goal, Sportskeeda

Balada Nasib Pemain Jerman di Arsenal

0

Unggahan instastory punggawa Arsenal, Jorginho cukup menarik perhatian. Gelandang berpaspor Italia itu memposting foto kebersamaan dengan mantan rekannya di Chelsea, Kai Havertz. Dalam foto tersebut, senyum lebar terpampang jelas di muka Havertz. 

Beberapa warganet pun beranggapan kalau sang pemain kini tengah berbahagia karena hengkang dari Chelsea dan akan bermain bersama Jorginho lagi. Tapi tunggu dulu Havertz, jangan terlalu dini untuk merayakan kepindahanmu. Perlu diingat kalau tak semua pemain Jerman sukses bersama Arsenal. Dan berikut adalah balada nasib pemain Jerman di Arsenal.

Serge Gnabry

Pemain yang satu ini pasti sudah akrab di telinga pecinta sepak bola, terutama fans Arsenal. Serge Gnabry jadi salah satu pemain yang bisa bikin fans Meriam London patah hati setelah kepindahannya. Mengapa demikian? Karena Arsenal dinilai tak mau memberikan kesempatan kepada Gnabry untuk menunjukan kemampuan sesungguhnya.

Gnabry sendiri sudah merantau dari Jerman untuk bergabung ke akademi Arsenal sejak tahun 2011. Tak butuh waktu lama, Gnabry sudah merasakan debut profesionalnya bersama skuad utama setahun kemudian. Pemain yang kini berusia 27 tahun itu jadi pemain paling potensial saat itu. Tapi Arsene Wenger tampaknya belum berani mempercayakan lini depan kepadanya.

Gnabry gagal total. Masa-masanya di London jadi memori yang tak perlu disimpan. Tak kunjung menembus skuad utama, Gnabry akhirnya memutuskan untuk pulang kampung ke Jerman dan bermain untuk Werder Bremen tahun 2016. Sialnya bagi Arsenal, Gnabry malah moncer di Bundesliga. Bahkan kini sukses besar bersama Bayern Munchen. Arsenal hanya bisa melongo karena tak kebagian versi terbaik dari seorang Serge Gnabry.

Thomas Eisfeld

Pemain selanjutnya adalah Thomas Eisfeld. Nah, kalau yang satu ini namanya cukup asing. Tapi penggemar sejati Arsenal pasti tahu, karena Arsene Wenger pernah memberikan pujian setinggi langit kepada Eisfeld. Pemain asal Jerman ini bahkan sempat digadang-gadang bakal jadi The Next Robert Pires saat pertama kali menginjakan kaki di Emirates Stadium 2012 lalu.

Namun seperti halnya pemain yang dijuluki “The Next”, Thomas Eisfeld nyatanya tak bisa menyamai kemampuan Robert Pires. Bahkan untuk mendekati kemampuan legenda Arsenal itu pun sepertinya tak pernah. Karir mantan punggawa Borussia Dortmund itu justru tak berjalan mulus di London.

Gimana mau menyamai Pires, Eisfeld cuma mencatatkan dua penampilan bersama skuad utama Arsenal. Ia hanya bertahan selama dua musim di Arsenal sebelum akhirnya diizinkan pergi secara permanen ke Fulham tahun 2014.

Shkodran Mustafi

Berikutnya ada Harry Maguire cabang London Utara, Shkodran Mustafi. Mengapa disebut Harry Maguire cabang London, karena Mustafi bernasib kurang lebih sama dengan bek Manchester United tersebut. Pada masanya, Mustafi kerap dijadikan kambing hitam atas performa buruk lini bertahan Arsenal.

Meski sempat jadi andalan dengan mencatatkan 151 penampilan bersama The Gunners, bek asal Jerman itu sering mengalami momen-momen konyol. Entah itu kepleset, dilewati secara mudah atau salah mengantisipasi bola. Meski begitu, Mustafi berpengaruh dalam dua trofi Piala FA yang diraih Arsenal. Ia juga tergabung dalam skuad Jerman yang menjuarai Piala Dunia 2014.

Bernd Leno

Tak sampai di situ, Arsenal juga pernah diperkuat beberapa penjaga gawang asal Jerman, salah satunya Bernd Leno. Pemain yang didatangkan dari Bayer Leverkusen tahun 2018 itu sempat jadi andalan di bawah mistar gawang Meriam London selama beberapa tahun. Berbagai penyelamatan heroik pun mewarnai penampilan Leno bersama Arsenal.

Namun, semuanya berubah saat The Gunners mendatangkan kiper berkebangsaan Inggris, Aaron Ramsdale pada tahun 2021. Leno yang sempat mengalami cedera lutut parah pada tahun 2020, harus rela tempatnya digantikan oleh Ramsdale. Akhirnya Leno pun terpinggirkan. Namun, karena enggan terus berada di balik bayang-bayang Ramsdale, Leno memutuskan hengkang ke Fulham pada tahun 2022.

Bersama Fulham, Leno kembali menemukan kepercayaan dirinya. Beberapa kali Leno jadi penyelamat tim dari kekalahan. Pria berusia 31 tahun itu bahkan jadi penjaga gawang dengan jumlah penyelamatan terbanyak kedua di Premier League dengan torehan 144 penyelamatan musim 2022/23.

Jens Lehmann

Penjaga gawang dari Jerman lainnya adalah Jens Lehmann. Kiper yang satu ini namanya meroket saat bermain untuk Arsenal era awal 2000-an. Dilansir Planet Football, Lehmann tercatat sebagai satu-satunya pemain Jerman yang berhasil menjuarai Premier League secara invincible bersama Arsenal musim 2003/04.

Posisinya tak tergantikan hingga tahun 2008 sebelum akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Stuttgart. Selama karirnya bersama Arsenal ia mencatatkan 200 penampilan dengan mencatatkan 80 clean sheet

Mantan penjaga gawang AC Milan itu juga sempat membantu Meriam London menjuarai Piala FA musim 2004/05 dan Community Shield tahun 2004. Setelah dua tahun berkarir di Jerman, ia sempat vakum selama hampir delapan bulan sebelum melakukan comeback sensasional bersama Arsenal tahun 2011 dan pensiun di klub London tersebut.

Mesut Ozil

Nama Mesut Ozil tentu jadi salah satu pemain Jerman yang paling diingat oleh fans Arsenal. Bagaimana tidak? Ozil termasuk transfer paling sukses yang pernah dilakukan oleh The Gunners. Ketika didatangkan oleh Arsene Wenger pada tahun 2013 silam, Ozil seketika menjelma gelandang yang mengubah kualitas permainan Arsenal.

Berkat kelincahan, kualitas umpan, dan kecerdasan dalam pembacaan permainannya, Ozil telah membawa permainan Arsenal menuju ke level yang jauh lebih baik. Itu terbukti ketika di musim debutnya, Arsenal mengakhiri musim dengan mengangkat gelar juara Piala FA musim 2013/14.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu Ozil justru jadi pribadi yang toxic di skuad Arsenal. Ia dicap sebagai pemain yang malas dan tidak menampilkan performa yang sesuai dengan gajinya yang sangat besar. Setelah beberapa permasalahan yang tak menemui titik temu, Ozil akhirnya hengkang dan bergabung dengan Fenerbahce tahun 2021 dengan catatan 79 assist dari 254 pertandingan.

Lukas Podolski

Sebelum Mesut Ozil, Lukas Podolski jadi pemain Jerman sebelumnya yang pernah berseragam Arsenal. Podolski datang ke Emirates Stadium pada tahun 2012 dari FC Koln. Sebetulnya Podolski cukup apik ketika bermain di skuad asuhan Arsene Wenger. Sebagai penyerang, ia mencatatkan 31 gol dari 82 penampilan di semua kompetisi.

Sayangnya, pemain yang kini berusia 38 tahun itu tak bertahan lama di Arsenal. Performanya menurun di musim kedua sehingga Meriam London meminjamkannya ke Inter Milan pada musim 2014/15. Sudah dipinjamkan, Podolski tak kunjung membaik bersama Inter.

Setelah dirasa masa peminjamannya gagal, Arsenal pun membiarkan sang pemain bergabung Galatasaray di akhir musim 2014/15. Meski terbilang singkat, Podolski berperan ketika Arsenal menjuarai Piala FA musim 2013/14 dan Community Shield setahun kemudian.

Per Mertesacker

Pemain terakhir ada Per Mertesacker. Pemain Jerman yang satu ini mudah diingat karena postur tubuhnya yang sangat tinggi. Bergabung pada tahun 2011, Mertesacker barangkali bisa disebut legenda oleh fans Arsenal. Karena sebagian besar karir pemain berpostur hampir 2 meter ini dihabiskan bersama klub asal London Utara tersebut.

Selama delapan tahun lamanya, Mertesacker jadi andalan di lini bertahan Arsenal. Postur tubuhnya yang tinggi sering membuat lawan mengurungkan niat untuk mengirimkan serangan melalui udara. 

Selama karirnya bersama Meriam London, ia mencatatkan 221 penampilan dan meraih lima trofi domestik sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu pada tahun 2018. Jadi, bagaimana Havertz? Mau sukses kayak Ozil atau lawak kaya Mustafi?

Sumber: Planet Football, Daily Mail, Arsenal, Libero

Bakal Tambah Sengit? Format Baru Piala Dunia Antarklub 2025

FIFA berulah lagi. Organisasi sepakbola dunia itu kini meluncurkan format baru Piala Dunia Antarklub yang akan dimula pada 2025 nanti. Sudah umum, ketika FIFA di bawah Gianni Infantino selalu seenaknya saja mengubah aturan.

Daripada kesel membahas ulah para petinggi FIFA, alangkah baiknya menatap bagaimana sih serunya Piala Dunia Antarklub yang baru nanti? Pasalnya kalau kata FIFA, akan tambah sengit lagi persaingannya.

Awal Sejarah Piala Dunia Antarklub FIFA

Piala Dunia Antarklub ini sudah menjadi agenda tiap tahunnya bagi FIFA. Bermula pada tahun 2000 di Brazil, turnamen ini ditujukan untuk mengadu para juara Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara, Asia, maupun Afrika.

All Conmebol Final” terjadi ketika itu. Corinthians keluar sebagai juara setelah mengalahkan Vasco Da Gama. Namun sayang, pasca hajatan pertamanya itu, FIFA resmi menonaktifkan turnamen ini sejak dari 2001 hingga 2005 karena alasan finansial dan kesiapan klub.

Nah, barulah sejak 2006 FIFA akhirnya kembali menyelenggarakan turnamen ini dengan nama berbeda yakni FIFA Club World Cup. Sejak saat itu bahkan sampai sekarang, FIFA Club World Cup ini lebih sering diselenggarakan di benua Asia dan Afrika.

Baru Di Amerika Serikat

Namun di perubahan format baru yang akan dimulai pada 2025 mendatang, FIFA resmi menunjuk Amerika Serikat untuk pertama kalinya sebagai tuan rumah. Dengan demikian, Amerika Serikat akan tiga kali beruntun jadi tuan rumah event besar sepakbola. Karena sebelumnya akan ada Copa Amerika 2024, dan setelahnya akan ada Piala Dunia 2026.

Alasan FIFA menunjuk Amerika Serikat adalah faktor kesinambungan dan sinergitas infrastruktur. Karena kita tahu bahwa infrastruktur untuk menyambut Piala Dunia 2026 juga sudah bertahap disiapkan di Amerika Serikat.

Latar Belakang Dibentuknya Format Baru

Setelah hal baru soal tuan rumah, yang tak kalah pentingnya adalah soal formatnya. Ya, Piala Dunia Antarklub 2025 nanti akan berisikan 32 tim. Nah dari 32 tim itu nantinya akan dibagi dalam delapan grup. Masing-masing grup akan diisi empat tim. Di mana sang juara dan runner up grup berhak lolos ke fase 16 Besar.

Waktu penyelenggaraannya nanti akan ada di musim panas yakni di bulan Juni dan Juli 2025. Berbeda dengan sebelumnya yang sering dihelat di akhir tahun. Nantinya setelah dimulai di 2025, turnamen dengan format ini akan berlangsung empat tahun sekali.

Lalu pertanyaannya, apakah pembentukan format yang mirip Piala Dunia ini datang secara tiba-tiba? Faktanya sejak Desember 2022 lalu ide ini sudah didengungkan ke publik oleh Infantino.

Infantino menganggap keseruan akan lebih banyak tercipta dengan diisi beberapa tim hebat dan beragam dari seluruh dunia. Dengan waktu yang lebih lama, menurutnya, juga akan mampu menyedot atensi publik, sponsor, dan hak siar.

Kelebihan Format Baru

Melihat tujuan dan misi mulia dari FIFA tersebut, pasti tidak akan luput dari plus minusnya. Dari segi plusnya, format baru ini tentu lebih menjanjikan kesetaraan dan persaingan yang ketat.

Bayangkan, selama ini Piala Dunia Antarklub hanya jadi alat pemanasan sekaligus penambah gelar klub-klub kuat saja. Misal Real Madrid, tim yang selalu mendominasi Piala Dunia Antarklub ini.

Mereka langsung berlaga di semifinal dengan menghadapi wakil mudah dari Asia atau Afrika. Di Final mereka menghadapi wakil Amerika Latin yang juga terkadang tak terlalu kuat secara materi. Setelah itu mereka jadi juara. Jadi, sesimple itu siklusnya.

Nah, di format baru ini tak akan semudah itu. Artinya, proses meraihnya pun butuh beberapa tahap yang harus dilalui. Ditambah dengan durasinya yang lama, bukan tidak mungkin akan ada banyak kejutan dalam perjalanannya. Selain itu, akan lebih banyak lagi laga-laga yang mempertemukan klub hebat di seluruh dunia. Jadi, potensi adanya perang bintang di turnamen ini besar adanya.

Kekurangan Format Baru

Sedangkan kalau dilihat dari kekurangan mengarah pada segi padatnya jadwal pemain. Asosiasi Pesepakbola Profesional Dunia atau FIFPro dan beberapa petinggi Liga-Liga Eropa pun komplain dengan adanya format baru ini.

FIFPro geram melihat dampak dari penambahan kompetisi yang panjang ini. Sebab format baru itu akan memberikan tekanan berlebih ke pemain. FIFPro juga menyayangkan mengapa FIFA mengubah format ini secara sepihak, tanpa sepengetahuan para pemain.

Kecama FIFPro itu sejalan dengan para petinggi Liga Inggris. Kepala Eksekutif Liga Inggris, Richard Masters mengatakan bahwa perubahan format itu akan memperburuk jadwal mereka.

Melalui Daily Mail Richard mengatakan, bagaimana bisa selama ini pihak Liga Inggris yang sudah susah payah mengatur jadwal Liga agar seminim mungkin tidak terlalu kelelahan bagi sang pemain, malah kini ditambahi oleh kompetisi baru yang lebih padat?

Tak hanya petinggi Liga Inggris, para fans Liga Inggris pun dikatakan muak dengan adanya format baru Piala Dunia Antarklub ini. Seperti halnya ketika mereka muak dengan ide Liga Super Eropa yang sudah pernah ditolak.

Siapa Saja yang Akan Berlaga

Selain kelebihan dan kekurangan kompetisi, penting untuk dilihat siapa sih nantinya yang berlaga? Akan ada 12 wakil dari UEFA, 6 wakil dari Conmebol, 4 wakil dari AFC, CAF, dan Concacaf, ditambah dengan satu wakil dari Oseania dan tuan rumah. Lalu bagaimana menentukan para klub yang akan tampil?

Untuk UEFA tiketnya terdiri dari 4 juara terakhir Liga Champions dari 2021 hingga 2024. Sedangkan 8 tim lainnya akan ditentukan FIFA berdasarkan nilai koefisien klub selama empat tahun ke belakang.

Dari Conmebol, 4 wakilnya ditentukan dari Juara Copa Libertadores dari 2021 hingga 2024. Sedangkan 2 wakil tersisa ditentukan FIFA dari nilai koefisien klub selama empat tahun ke belakang.

Sementara dari AFC dan CAF, akan ada 3 tim yang diambil dari Juara Liga Champions Asia dan Afrika sejak 2021-2023. Sedangkan satu wakilnya sesuai koefisien klub empat tahun kebelakang. Lalu empat wakil Concacaf akan diambil dari empat juara Liga Champions Concacaf sejak 2021 hingga 2024.

Sedangkan untuk zona Oseania atau OFC, FIFA sendiri yang akan menentukan berdasarkan koefisien selama empat tahun ke belakang. FIFA juga berhak menunjuk tuan rumah.

Calon Juara Menyebar?

Dengan adanya banyak variasi klub yang akan bertanding, membuat turnamen ini memiliki keseruan tersendiri. Paling tidak hal itu sudah bisa dibayangkan dari sekarang dengan melihat siapa saja yang sudah pasti mentas di Piala Dunia Antarklub 2025 nanti.

Di Eropa yang sudah dipastikan lolos ada Chelsea, Real Madrid, dan Manchester City.
Dan bukan tidak mungkin tim-tim besar Eropa lainnya akan menyusul. Kemudian di Asia sudah ada Al-Ahli yang kini bertabur bintang Eropa dan Urawa Reds.

Dari Afrika kini sudah ada Al-Ahly dan Wydad Casablanca. Dari Concacaf juga sudah ada Seattle Sounders, Leon, dan Monterrey. Dan yang terakhir dari Conmebol sudah ada Flamengo dan Palmeiras. Kini tinggal menunggu saja klub besar mana lagi yang akan mengisi slot yang masih tersisa ini.

https://youtu.be/WOKzhCjCqfQ

Sumber Referensi : theathletic, espn, 90min, dailymail, theathletic, fifa