Beranda blog Halaman 275

Mengingat Saat West Ham Lolos ke Eropa Lewat Jalur Aneh

0

Tanggal 8 Juni 2023, tembakan dari Jarrod Bowen di menit ke-90 membuat West Ham mengalahkan Fiorentina di final Conference League. Para fans West Ham yang menonton di Eden Arena Praha pun bersorak kegirangan.

Terakhir kali West Ham menjuarai trofi bergengsi Eropa adalah tahun 1965, saat mereka menjuarai Cup Winners Cup. Itu juga jadi trofi bergengsi terakhir mereka. Jadi trofi Conference League itu adalah trofi bergengsi pertama West Ham setelah 58 tahun.

Tapi bukan hanya itu saja yang membuat trofi Conference League jadi istimewa untuk West Ham. Tapi trofi ini menyelamatkan citra mereka. Di musim 2022/23 West Ham hanya mampu finis di peringkat ke-14, dengan mengoleksi 6 poin lebih banyak dari zona degradasi.

Menjuarai Conference League selain menyelamatkan muka mereka, tapi juga memastikan tiket di Eropa musim selanjutnya. West Ham pun bisa ikut Europa League dengan sah di musim 2023/24 meski mereka finis peringkat ke-14.

Jika diingat kembali, ini pernah terjadi sebelumnya. Bukan bagian West Ham juara Eropa, Tapi bagian dimana West Ham dapat tiket ke Eropa meski mereka finis di peringkat 12. Padahal the hammers juga tidak dapat piala apapun musim itu. Lalu, bagaimana ini bisa terjadi?

Mimpi Terakhir ke Eropa di Boleyn Ground

Selama bertahun-tahun, ambisi West Ham adalah bersaing di level tertinggi Eropa. Mereka sebenarnya sudah punya sejarah yang manis di Eropa. Di tahun 1965, West Ham jadi juara European Cup Winners Cup. Kemudian di tahun 1976, West Ham jadi finalis di kompetisi yang sama.

Tapi sejarah manis itu perlahan memudar. West Ham tidak lagi bisa berbicara banyak di pentas Eropa. Dari dekade 90-an sampai 2010-an, West Ham jarang masuk kualifikasi. Sekalinya masuk kualifikasi pun, the Hammers selalu gagal ke putaran final. West Ham pun tidak lagi dikenal sebagai tim yang cukup baik untuk masuk ke Eropa.

Loncat ke awal musim 2014/15, ada rencana kalau West Ham akan pindah stadion. Stadion mereka sebelumnya adalah Upton Park yang sudah jadi rumah the hammers sejak tahun 1904. Di stadion yang juga sering disebut Boleyn Ground itu telah menyimpan kenangan manis West Ham. Termasuk kenangan manis mereka di Eropa.

Tapi Boleyn Ground punya kapasitas yang kecil. Hanya mampu menampung sekitar 35.000 penonton. Sedangkan seiring berjalannya waktu klub mengalami perkembangan dan butuh stadion yang lebih besar.

The Hammers pun memutuskan untuk pindah ke London Stadium yang punya kapasitas jauh lebih besar. Dan mimpi untuk ke Eropa pun kembali muncul. Mereka ingin memainkan pertandingan kompetisi Eropa untuk yang terakhir kalinya di Boleyn Ground.

Musim Buruk 2014/15

Pemilik West Ham, David Gold dan David Sullivan pun menancapkan visi mereka. Yaitu bisa finis di 6 besar sebelum musim 2015/16. Agar di musim itu mereka bisa memainkan pertandingan Eropa untuk terakhir kali di Boleyn Ground.

Sayangnya musim 2014/15 adalah musim yang tidak baik untuk the hammers. Mereka sebenarnya mencatatkan performa yang meyakinkan di awal musim. Sampai di malam Natal 2014, West Ham duduk di peringkat-4.

Tapi performa mereka menukik tajam di paruh kedua musim. Ini berbanding lurus dengan performa beberapa pemain yang juga ikut merosot. Diafra Sakho, Enner Valencia, Alex Song, dan Stewart Downing semuanya gagal melanjutkan penampil apik mereka di awal musim.

Tapi status kambing hitam ditujukan kepada sang pelatih Sam Allardyce. Ia dituding mengubah filosofi West Ham dari direct plays jadi permainan yang mengalir ala ala klub modern. Sayangnya perubahan itu malah jadi senjata makan tuannya.

Sam Allardyce pun sudah diprediksi jadi pelatih pertama yang akan dipecat musim itu. Sebab sampai di pekan ke-35, the hammers masih duduk di peringkat ke-9. Berjarak 11 poin dari posisi ke-6 yang merupakan target mereka.

Harapan untuk bermain di kompetisi Eropa untuk terakhir kalinya di Upton Park pun tampak pupus. Sebab hanya tiga pertandingan tersisa. Jadi walaupun mereka bisa menang di 3 pertandingan terakhir itu, poin yang didapat masih belum cukup. Namun, secercah harapan untuk mewujudkan mimpi itu pun muncul. Yaitu dengan jalur Fair Play.

Lolos Pakai Aturan Fair Play

Ini bukan Financial Fair Play, melainkan UEFA Respect Fair Play Ranking. Peraturan ini sudah ada sejak musim 1993/94. Jadi UEFA membuat semacam klasemen berdasarkan poin fair play tim-tim di sebuah liga pada suatu musim.

“Penilaian fair play dibuat oleh delegasi resmi UEFA pada kriteria permainan positif, rasa hormat lawan, rasa hormat wasit, perilaku kerumunan dan ofisial tim” Begitu bunyi pernyataan UEFA. Dan siapa yang memuncaki klasemen di akhir musim, akan diberikan hadiah slot tambahan masuk ke Europa League.

Di musim 2014/15, Liverpool adalah pemuncak klasemen itu. Tapi karena Liverpool sudah punya tiket Europa League setelah finis di peringkat 6 Premier League, slot tambahan pun diberikan ke West Ham yang duduk di peringkat dua.

Tapi untuk memastikan hasil ini, artinya West Ham harus bermain hati-hati di sisa 3 pertandingan musim 2014/15 itu. Agar tidak dapat kartu kuning atau hal-hal yang mengurangi poin mereka.

Benar saja, di tiga pertandingan terakhir West Ham memilih untuk bermain waspada. Hasilnya mereka kalah di tiga laga terakhir itu. Tapi, setidaknya mereka hanya dapat dua kartu kuning. Jadi, West Ham pun bertahan di posisi kedua Fair Play Ranking dan berhak dapat slot tambahan ke Europa League.

Europa League Terakhir Boleyn Ground

Meskipun begitu Sam Allardyce tetap dipecat. West Ham kemudian mengangkat Slaven Bilic sebagai penggantinya. Slaven Bilic memang pilihan yang lebih baik. Itu akan ia buktikan di akhir musim 2015/16 nanti. Tapi sebelum itu, pekerjaan Bilic adalah mimpi buruk untuk semua manajer.

Ia datang untuk menjalani masa paling sibuk klub. Setelah 9 tahun absen, West Ham akhirnya bisa masuk Europa League. Tapi karena masuk lewat jalur hadiah, West Ham harus memulai perjalanan mereka dari playoff putaran pertama.

Parahnya babak playoff ini dimainkan saat jeda musim panas. Jadi ditengah-tengah laga uji coba dan waktu libur, Bilic harus memanggil para pemain lebih cepat. Di putaran playoff pertama, West Ham masih bisa mengalahkan wakil Andorra, Lusitanos dengan agregat 4-0.

Tapi sudah mulai kesusahan di babak playoff putaran kedua. West Ham lolos setelah mengalahkan wakil Malta, Birkirkara lewat babak adu penalti. Mimpi West Ham berakhir di playoff putaran ketiga saat kalah melawan Astra Giurgiu dari Rumania. Penantian lama mereka di Europa League malah selesai sangat singkat.

Tak Ada Lagi Hadiah Fair Play

Banyak yang menganggap kalau West Ham tidak pantas kalah lawan tim rendahan Eropa itu. Tapi kenyataannya West Ham harus menjalani playoff dengan jadwal yang luar biasa padat. Sebab laga playoff itu dilaksanakan di sela-sela jadwal pramusim. Belum lagi saat itu Bilic adalah pelatih baru di klub.

Tapi ada juga yang mengatakan sebenarnya West Ham memang belum pantas untuk masuk ke Europa League. Sebab memang cara West Ham ke Europa League saat itu memang dipertanyakan.

Tidak ada yang tahu soal detil peraturan fair play sebenarnya bagaimana. Sebab selain pelanggaran, kartu merah, dan kartu kuning, ada hal-hal lain yang dihitung. Sehingga terlalu rumit untuk memahami respect fair play ranking. Dan dampak buruknya West Ham jadi terlalu memikirkan bagaimana cara agar tidak dapat kartu kuning daripada untuk menang.

Bahkan ada kritik yang cukup pedas. Mengatakan kalau musim itu catatan kedisiplinan West Ham bagus karena para pemainnya bermain sangat buruk. Sampai melakukan tackle saja tidak becus.

Peraturan fair play itu kemudian dihapus di musim 2015/16. Tidak ada lagi tiket ke Eropa lewat jalur anak baik-baik. Sebagai gantinya, UEFA memberikan hadiah uang ke klub yang memuncaki klasemen fair play.

West Ham sendiri sebenarnya mengalami peningkatan pesat di Liga musim 2015/16. Slaven Bilic membawa Dimitri Payet yang langsung jadi playmaker paling mematikan di Premier League. Bilic juga membawa West Ham finis di peringkat 7. Jadi mereka tidak lagi mengandalkan hadiah fair play. Terlepas dari itu, impian West Ham setidaknya terwujud. Yaitu memainkan pertandingan Eropa di Boleyn Ground sebelum pindah ke London Stadium.

Sumber referensi: Guardian, Guardian 2, Guardian 3, Vavel, Goal, UEFA, UEFA 2, Reuters, Sky, Daily

Garang di Awal Musim, Kesempatan Inter Rebut Lagi Scudetto?

Fans Inter Milan di seluruh dunia pasti kini sedang berbahagia. Pasalnya, di awal musim ini performa Nerazzurri sedang gacor-gacornya, khususnya di Serie A. Tapi yang perlu diketahui, bahwa penampilan impresif Inter ini diraih tidak tiba-tiba. Ada sebuah Grand Design yang disiapkan secara matang oleh klub. Lalu apakah dengan cara tersebut, musim ini adalah kesempatan besar bagi mereka kembali meraih scudetto?

Sapu Bersih Kemenangan

Bagaimana tidak garang, Nerazzurri sejak kalah di Istanbul 1-0 atas Manchester City sampai giornata ke-5 Serie A belum terkalahkan. Bahkan sejak kompetisi Serie A dimulai hingga giornata ke-5, mereka belum pernah mencicipi yang namanya hasil seri. Semua laga mereka sapu bersih dengan kemenangan.

Tidak hanya menyapu bersih laga dengan kemenangan. Inter membabat lima laga itu dengan cara yang amat meyakinkan. Total 14 gol sudah dikemas dari lima laga itu dan hanya kebobolan satu gol saja. Inter bahkan sempat dinobatkan sebagai tim terproduktif di Serie A, sekaligus tim yang paling kokoh karena paling sedikit kebobolan.

Oh mungkin lawan Inter masih kategori tim papan bawah, jadi ya wajar saja mereka bisa sapu bersih kemenangan? Oh tidak, Nerazzurri sudah menghadapi rival abadi sekota, AC Milan. Dan hasilnya tak kaleng-kaleng, Inter menang telak 5-1. Inter juga sudah menghadapi finalis UEFA Conference League musim lalu Fiorentina. Hasilnya Inter juga menang telak 4-0.

Kebijakan Transfer Manajemen Inter yang Cerdas

Lalu pertanyaannya kok bisa Inter segacor itu? Padahal kan, pemain pilarnya sebagian besar cabut musim ini. Tak dimungkiri, Inter memang sudah kehilangan tak sedikit pemain pilarnya, seperti Andre Onana, Milan Skriniar, Robin Gosens, Brozovic, Edin Dzeko, sampai Romelu Lukaku.

Namun, justru revitalisasi skuad itulah yang dilakukan Inter. Meski pemain-pemain pilar tadi cabut, mereka merumuskan bagaimana caranya supaya untung sekaligus mendapatkan pengganti yang sama baiknya. Adalah Giuseppe “Beppe” Marotta yang bekerja di balik operasi transfer Inter sejauh ini. Musim ini Beppe Marotta kembali melakukan terobosan-terobosan yang cerdas di La Beneamata.

Misalnya dengan menjual Onana ke MU. Inter untung besar karena United membeli Onana seharga hampir 55 juta euro. Padahal sang kiper dibeli gratis dari Ajax Amsterdam. Menariknya, setelah kehilangan Onana, Inter justru mendapatkan Yann Sommer dengan harga yang lebih murah. Sommer dibeli dari Bayern Munchen dengan harga hanya 6,75 juta euro saja.

Kehilangan Brozovic yang dibayar Al-Nassr 18 juta euro, malah ditambal oleh Davide Fratessi yang hanya dipinjam dari Sassuolo. Ditambah Davy Klaassen yang dibeli gratis dari Ajax.

Ada juga di bek sayap, mereka menjual Gosens ke Union Berlin dengan harga 13 juta euro, namun mereka malah meminjam Carlos Augusto dari Monza, ditambah membeli Cuadrado dari Juve secara gratis.

Marcus Thuram juga didapatkan gratis dari Gladbach untuk menggantikan Lukaku yang hijrah ke AS Roma. Hilangnya Dzeko juga diganti dengan pemain gratisan maupun pinjaman seperti Alexis Sanchez maupun Marko Arnautovic.

Keuangan Inter

Selain garang di lapangan, Inter juga garang di sektor keuangan. Awalnya seperti dilansir Gazzetta dello Sport, Inter sepanjang musim lalu diprediksi akan menutup laporan keuangan mereka dengan kerugian mencapai 85 juta euro. Maklum, neraca keuangan mereka di bawah pemilik Tiongkok itu masih banyak merugi.

Tapi ternyata, sebuah perbaikan yang sangat signifikan dialami Nerazzuri di akhir musim lalu. Faktor kunci perbaikan keuangan mereka karena keberhasilan tim melaju ke final Liga Champions. Itu memberi porsi cukup besar dalam pendapatan klub di musim lalu.

Inter juga menghasilkan 80 juta euro dalam penjualan tiket musim lalu. Ditambah adanya penurunan beban gaji pemain sebanyak 12%, akibat pemain yang bergaji mahal hengkang musim ini. Inter bahkan juga bisa menghasilkan uang tambahan sebesar 22 juta euro dari kesepakatan dengan pihak sponsor Digital Bits musim lalu.

Kejelian Pelatih

Bagus secara kebijakan manajemen dan keuangan saja tak cukup. Penampilan garang Inter seperti sekarang ini juga tak luput dari kecerdasan seorang pelatih yang meraciknya. Manajemen Inter dalam melakukan kebijakan transfer tentu tak sembarangan. Marotta terus berkomunikasi dengan Simone Inzaghi apa yang dibutuhkan skuad.

Sosok Inzaghi ini lekat dengan taktik tiga bek dengan formasi 3-5-2 dan segala variannya. Sudah sejak melatih Lazio, Inzaghi menerapkan skema tersebut. Format itulah yang jadi dasar filosofi permainan Inter. Menariknya, filosofi itu sudah diterapkan sejak sebelum Inzaghi, yaitu saat berhasil dilakukan oleh Antonio Conte.

Artinya, filosofi permainan Inter dengan tiga bek hingga kini tak berubah alias terus berkesinambungan. Hal itu juga menjadi faktor kenapa Inter masih konsisten berada di level atas hingga musim ini.

Tambal Sulam Yang Tepat

Musim ini Inzaghi kembali sukses menambal pemain sesuai kebutuhan tanpa mengubah format tiga bek. Pembelian Pavard juga sesuai karena ia bisa berfungsi di salah satu tiga bek tengah. Oh iya, ada juga pilar baru yang masih muda, yakni Yann Bisseck.

Selain itu, kiper yang menggantikan Onana, Yann Sommer tampil sangat solid di bawah mistar. Menurut Fbref, penjaga gawang yang dibeli murah dari The Bavarians itu sudah melakukan delapan kali penyelamatan dari sembilan tembakan yang dihadapi dalam lima laga di Serie A.

Di lini tengah, kehilangan Brozovic tak jadi soal. Inzaghi kini punya Frattesi yang sudah ciptakan satu gol. Ia bisa melengkapi peran Barella, Calhanoglu, maupun Mkhitaryan. Kehilangan Lukaku juga tak jadi soal, karena duet Marcus Thuram dan Lautaro Martinez sampai giornata ke-5 Serie A sudah mengemas total tujuh gol.

Kesempatan Terbaik Simone Inzaghi

Dengan konsistennya Inter di awal musim ini, langsung teringat ketika Inter konsisten di musim 2020/21 ketika dilatih Conte. Di musim itu Inter hanya kalah tiga kali di Serie A dan berhasil meraih Scudetto.

Hal itu belum pernah diulangi lagi oleh Inter pasca dipegang Simone Inzaghi. Inzaghi di musim pertamanya memegang Inter kalah saing dengan AC Milan dalam perebutan Scudetto. Di musim keduanya, Inzaghi juga kalah saing dengan Napoli.

Musim ini adalah musim ketiga Inzaghi. Apakah ini kesempatannya meraih Scudetto? Bisa jadi ini memang kesempatan emas. Mumpung tim seperti Napoli, AS Roma, maupun Lazio sedang terpuruk. Paling hanya Juventus dan AC Milan yang menjadi kompetitor Inter meraih Scudetto musim ini. Itu kalau Juventus tak kena kasus lagi. Sedangkan AC Milan sendiri sudah terbukti hancur dilibas Inter.

Ya, ini tergantung mental Simone Inzaghi. Karena ia belum pernah merasakan nikmatnya meraih Scudetto sebagai pelatih. Mentok hanya sebagai runner-up. Koleksi trofinya hanya Coppa Italia maupun Piala Super Italia. Jadi, sudah waktunya Simone Inzaghi. Buktikan pada dunia bahwa kini saat terbaik Inter rebut kembali Scudetto!

Sumber Referensi : goal.com, footballtransfer, trasnfermarkt, fbref

Setajam Barcelona Sekuat Real Madrid, Perkenalkan, Girona FC!

Ada yang mengejutkan di awal musim ini di La Liga. Sebuah klub dari daerah Catalunya, menggebrak seperti tetangganya, Barcelona. Tim itu adalah Girona. Sebuah klub medioker yang jarang diperhitungkan berada di papan atas La Liga. Namun musim ini mereka punya cerita lain. Masih penasaran apa saja yang menarik di klub ini?

Tim Baru Promosi

Girona adalah tim yang sebenarnya cukup baru di La Liga. Mereka baru saja promosi di kasta tertinggi Liga Spanyol itu pada musim 2021/22. Walaupun finis di peringkat keenam klasemen divisi Segunda, Girona meraih tiket promosi lewat babak playoff pada musim itu. Anak asuh Michel ketika itu mengalahkan Tenerife dengan agregat 3-1

Sebelumnya, klub berjuluk Gironistes ini juga pernah promosi di tahun 2017. Tapi mereka terdegradasi lagi di musim 2018/19. Namun, hanya dua musim bertahan, kemudian Girona terdegradasi lagi. Sementara musim lalu mereka bisa bertahan bahkan tampil cukup memuaskan dengan finis di peringkat 10 La Liga.

Stadion Kecil Di Catalunya

Selain tim yang termasuk pendatang baru, Girona ini mempunyai sisi lain yang menarik untuk dibahas. Ya, stadion mini mereka bernama Estadi Montilivi. Letaknya di sebelah tenggara Kota Girona. Sebuah kawasan yang ramah bagi wisatawan ketika sedang di daerah Catalunya. Aksesnya juga mudah untuk dikunjungi wisatawan.

Menariknya lagi, stadion yang baru dibangun pada tahun 1970 ini awalnya hanya berkapasitas 9 ribuan tempat duduk saja. Beda jauh dari stadion milik tim asal Catalunya lainnya. Kita tahu tim Catalunya lain seperti Espanyol punya Stadion Stage Front berkapasitas sekitar 40 ribuan tempat duduk.

Apalagi Barcelona dengan Camp Nou yang berkapasitas hampir 100 ribu tempat duduk.
Dengan stadion Barca yang dipakai sementara sekarang yakni Estadio Lluis Companys, mereka juga masih kalah. Markas sementara Barca itu berkapasitas 55 ribuan tempat duduk.

Nah tapi, sejak mereka promosi pada tahun 2017 stadion ini dipugar untuk menambah kapasitas menjadi sekitar 14 ribuan tempat duduk. Itu hanya empat ribu lebih banyak dari markasnya Luton Town yang berkapasitas kurang lebih 10 ribu kursi. Walaupun kecil dan kalah segalanya termasuk fasilitas, namun atmosfer yang didapat di stadion yang serba merah ini dapat diadu.

Selalu penuh sesak dengan fans dengan atribut merah dan putih, Estadi Montilivi juga pernah jadi saksi laga Timnas Catalunya melakoni laga persahabatan. Misal ketika pada bulan Maret dan Mei 2022 lalu, ketika Timnas Catalunya melawan Timnas Jamaika dan Venezuela.

City Football Group dan Pere Guardiola

Hal lain yang sudah menjadi rahasia umum, tim ini adalah bagian dari City Football Group milik Sheikh Mansour. Ia sudah sejak Agustus 2017 jadi saudara Manchester City karena dibeli sahamnya sebesar 44,3% oleh City Football Group.

Selain itu, Girona dipegang langsung oleh saudara laki-laki Pep Guardiola yakni Pere Guardiola sebagai ketua. Pertumbuhan Girona sejak promosi ke La Liga, tak luput dari peran mantan mahasiswa elektro tersebut. Pernah bekerja lama di apparel Nike, Pere berperan banyak dalam penandatanganan atlet sepakbola terkenal seperti Iniesta, Busquets, Ramos, Puyol, maupun Suarez.

Dari penandatangan kontrak sebuah apparel, ia merembet belajar menjadi negosiator untuk transfer pemain. Contohnya ketika ia berhasil meyakinkan kliennya, Luis Suarez untuk gabung ke Barcelona.

Dilansir Relevo, kerja Pere di Girona sangat total menurut direktur teknik Manchester City, Txiki Begiristain. Meski tinggal di London, ia sangat cermat mengelola Girona. Kebijakannya dalam hal transfer dan pengelolaan pemain terbukti baik.

Banyak Pemain Muda Berkembang

Selain itu suksesnya performa Girona juga karena keberadaan pemain muda mereka yang banyak berkembang di skuad inti. Ketika mereka promosi ke La Liga, skuad Girona banyak dipenuhi pemain muda pinjaman dari Manchester City. Seperti Nahuel Bustos, Pablo Moreno, maupun Dario Sarmiento.

Tak terkecuali di musim lalu ketika mereka bisa finish di posisi 10 La Liga. Ada pilar muda pinjaman lain seperti Taty Castellanos, Yan Couto, Yangel Herrera, Reinier, maupun Paulo Gazzaniga.

Musim ini pun masih sama. Girona masih mengandalkan skuad inti mereka dari daun muda. Bahkan Girona mempermanenkan sebagian pemain muda pinjaman mereka musim lalu seperti Herrera, Gazzaniga, maupun Couto.

Ditambah pemain muda pinjaman yang baru seperti Pablo Torre dari Barca maupun Savio dari Troyes. Bahkan hingga pekan ke-6 La Liga, pemain muda seperti Yangel Herrera sudah mengemas 3 gol. Sementara itu Savio dengan 2 gol, dan Yan Couto 1 gol.

Pemain Buangan yang Gacor

Kombinasi para pemain muda tersebut juga dilengkapi dengan para pemain buangan. Bek tengah mereka kini diisi oleh mantan pemain MU yang sudah uzur, Daley Blind. Pemain yang tak dipakai Munchen tersebut baru mendarat di Girona musim ini dan berhasil mengawal lini pertahanan Girona dengan solid.

Tak hanya Blind, pemain buangan Barcelona, Eric Garcia juga datang menjadi partner Daley Blind di sektor bek tengah. Maklum daripada tak dipakai Xavi di Barca, ia lebih memilih pindah ke Girona.

Ditambah lagi kiper mereka yang juga mantan kiper cadangan Tottenham Hotspur era Mourinho, Paulo Gazzaniga. Kiper Argentina itu sudah sejak musim lalu bergabung ke Girona sebagai pemain pinjaman dari Fulham. Berkat kepiawaiannya mengawal mistar gawang Girona musim lalu, ia pun dipermanenkan musim ini.

Pelatihnya Tak Begitu Populer

Tentu tak lengkap jika hanya ada pemain yang gacor tanpa pelatih yang gacor puka. Girona tak bisa mengejutkan seperti ini tanpa peran racikan pelatih. Namun, Girona “hanya” dilatih oleh Miguel Angel Sanchez Munoz alias Michel. Ia adalah pelatih medioker. Sebelumnya, Michel hanya melatih tim seperti Rayo Vallecano maupun Huesca.

Tapi jangan salah, bagi publik Girona jasa Michel ini tak terhingga. Michel lah yang membawa mereka promosi dari Segunda. Taktiknya yang tak berubah yakni 4-1-4-1 sejak musim lalu, mampu diramu dengan baik dengan penambahan pemain baru musim ini.

Sering Menyulitkan Tim Besar

Sejak musim lalu, Girona juga kerap menyulitkan tim-tim besar, seperti Barcelona dan Real Madrid. Musim lalu saja Los Galacticos tidak pernah menang melawan Girona dalam dua pertandingan La Liga.

El Real ditahan imbang 1-1 di Bernabeu. Sedangkan di Estadi Montilivi, El Real kandas 4-2. Lalu Barcelona pernah ditahan imbang sekali di Camp Nou, sedangkan di markasnya Girona, Blaugrana hanya bisa menang tipis 1-0.

Sampai jornada keenam, Girona memang belum bertemu kedua raksasa itu. Namun, selain tidak terkalahkan dalam enam laga awal di La Liga, mereka juga sudah mengalahkan Sevilla di Ramon Sanchez Pizjuan.

Seproduktif Barca, Sekuat Real Madrid

Kini Girona belum terkalahkan hingga jornada ke-6 La Liga. Mereka bahkan kini disebut layaknya Barca dan Madrid yang produktif dan solid. Girona seproduktif Barcelona karena torehan golnya hingga jornada ke-6 sama dengan Barcelona yakni 16 gol.

Dari segi kebobolan pun mereka hampir menyamai Barca dan Madrid. Girona hanya kebobolan 7 kali, selisih satu gol dari Barca dan Madrid yang baru kebobolan 6 kali. Tren apik Girona ini bukan tidak mungkin akan berlanjut. Termasuk pembuktian ketika nanti melawan Real Madrid di Estadi Montilivi di jornada ke-8 La Liga.

Sumber Referensi : relevo, trasfermarkt, stadiumguide, cityfootballgroup, skysports

Pantaskah Xabi Alonso Menjadi Pelatih Real Madrid?

0

Rumor soal siapa pelatih Real Madrid berikutnya mengemuka lagi belum lama ini. Xabi Alonso, pelatih yang masih menukangi Bayer Leverkusen keluar sebagai kandidat kuat untuk menggantikan Carlo Ancelotti di masa yang akan datang. Sebelumnya, Carletto sudah tidak berniat memperpanjang kontraknya.

Saat musim ini tuntas, Carletto akan cabut dari Bernabeu dan merapat ke Timnas Brasil. Menurut laporan Radio Marca seperti dikutip beberapa media, termasuk Sky Sports, Real Madrid dikabarkan “memilih” Xabi Alonso sebagai suksesor Ancelotti. Kabar itu disambut hangat, terutama oleh penggemar Real Madrid.

Jika Xabi Alonso benar-benar menjadi pelatih Real Madrid, ia akan berduel lagi dengan Xavi Hernandez yang sudah lebih dulu menukangi Barcelona. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Xabi Alonso pantas menjadi pelatih Real Madrid?

Xabi Alonso Sudah Diprediksi Jadi Pelatih Hebat

Sebelum Alonso menukangi Die Werkself, pada 2019 Jose Mourinho yang pandai meneropong masa depan pernah mengatakan bahwa mantan anak asuhnya itu suatu hari akan menjadi pelatih hebat. 

“Dia (Xabi Alonso) bermain di Spanyol, Inggris, dan Jerman. Ayahnya seorang manajer, dia tumbuh seperti saya. Dia (Xabi Alonso) menjadi pemain, tentu saja lebih baik dari saya. Posisinya di lapangan dan pengetahuannya tentang permainan sangat baik,” kata Mourinho.

Puji Tuhan Mourinho diberi umur panjang dan bisa melihat kesuksesan Xabi Alonso sebagai pelatih. Bahkan Mourinho sempat menjajal kemampuan Alonso ketika timnya, AS Roma berjumpa Bayer Leverkusen di semifinal Liga Eropa musim lalu. Kala itu Mourinho menang tipis dengan agregat 1-0.

Di akhir laga Mourinho memuji Alonso. Ia masih meyakini bahwa mantan anak asuhnya itu akan menjadi pelatih yang hebat. Kata Mourinho, masih ada banyak waktu buat Alonso untuk berkembang lebih baik lagi sebagai seorang pelatih.

Prestasi Bagus Bersama Leverkusen

Pujian yang dilontarkan Mourinho itu tidak muncul dari ruang hampa. Setelah ditunjuk pada Oktober 2022 lalu, Xabi Alonso langsung membayar kepercayaan manajemen Leverkusen. Ia mengangkat Die Werkself yang sebelum kedatangannya duduk di papan bawah menjadi finis di peringkat enam.

Selain itu, Alonso juga mengantarkan Die Werkself ke semifinal Liga Eropa. Xabi Alonso juga mencatatkan rekor tersendiri sebagai pelatih Bayer Leverkusen. Hanya dalam waktu enam bulan menduduki kursi pelatih Leverkusen, Alonso membimbing tim itu untuk meraih tujuh kemenangan beruntun.

Rekor itu membuatnya menyamai Klaus Toppmoller pada tahun 2002. Meski hanya sebentar, berkat rekor itu, nama Xabi Alonso masuk dalam buku sejarah Die Werkself.

Pernah Dilatih Pelatih Hebat

Satu hal yang membikin Xabi Alonso canggih saat menukangi Leverkusen adalah karena ia mantan anak asuh pelatih hebat. Hal itu juga dikatakan langsung oleh Jose Mourinho. Pengalamannya menjadi pemain di klub yang berbeda membuat Alonso bisa belajar dengan pelatih yang berbeda-beda.

Selain pada Jose Mourinho saat di Real Madrid, Alonso juga belajar kepada Carlo Ancelotti di klub yang sama. Sampai naskah video ini dibuat bahkan Carletto juga merestui Alonso untuk menggantikannya mengelola Real Madrid. Di samping dua nama itu, Alonso juga pernah menjadi anak didik Rafael Benitez kala berseragam Liverpool.

Benitez adalah pelatih yang mendulang sukses bersama Liverpool. Xabi Alonso juga pernah dilatih oleh sang maestro taktik masa kini, Josep Guardiola. Alonso malah terus terang mengakui kalau ia mengidolakan pelatih Manchester City itu. Guardiola bahkan menjadi alasannya untuk pindah dari Real Madrid ke Bayern Munchen pada tahun 2014.

“Saya sangat penasaran untuk mengetahui rahasia Guardiola,” kata Xabi Alonso dikutip The Athletic.

Alonso mengagumi Guardiola, terutama etos kerjanya. Menurut Alonso, sepak bola adalah sesuatu yang panjang, lama, dan melelahkan. Tapi Guardiola, kata Alonso, tidak pernah lelah dan selalu waspada dan siap.

Prestasi Sebagai Pemain

Memang, sebagai pelatih prestasi Xabi Alonso belum banyak. Akan tetapi, saat menjadi pemain, lemari piala Alonso penuh sesak. Alonso pernah mengangkat trofi Liga Champions bersama Real Madrid dan Liverpool. Selain itu, Alonso juga mendapatkan trofi Liga Spanyol bersama El Real.

Tiga trofi Bundesliga dan satu Piala DFB saat berseragam Bayern Munchen juga sudah ia bawa. Alonso juga meraih dua kali Piala Super Eropa, dua Community Shield, satu Piala Super Jerman, dan satu Piala Super Spanyol. Di level tim nasional, selain mengantarkan Spanyol juara di Piala Dunia 2010, Alonso juga terlibat dalam perolehan back to back EURO Timnas Spanyol tahun 2008 dan 2012.

Perolehan prestasi saat menjadi pemain itulah yang jadi pertimbangan Bayer Leverkusen. Real Madrid juga kabarnya mempertimbangan hal tersebut sebelum memilih Xabi Alonso sebagai suksesor Ancelotti.

Perjalanan Melatih

Kalau Alonso menerima untuk menjadi pelatih Real Madrid, ini akan menjadi lompatan karier yang luar biasa. Mengingat Alonso telah merakit pelan-pelan pengalamannya sebagai pelatih. Setelah gantung sepatu, Alonso kembali ke sepak bola pada tahun 2018 usai menyelesaikan kursus kepelatihan UEFA Elite.

Pada waktu itu Alonso kembali ke Real Madrid untuk melatih tim U-14. Hanya kurang lebih semusim di sana, Alonso mengambil peran untuk melatih tim B Real Sociedad yang tiada lain juga mantan klubnya dulu. Sejak melatih Real Sociedad B tahun 2019, Alonso sudah memberi pengaruh yang luar biasa.

Ia membawa tim itu promosi ke divisi dua Liga Spanyol. Setelah 98 pertandingan menemani Real Sociedad B, kemampuan Alonso tercium oleh Bayer Leverkusen. Leverkusen yang tidak puas dengan performa Gerardo Seoane akhirnya merekrut Xabi Alonso jadi suksesor.

Pengalamannya melatih tim muda Real Sociedad akan menjadi modal bagus apabila suatu saat melatih Real Madrid. Apalagi Real Madrid di masa depan diprediksi akan dipenuhi oleh pemain muda, seperti Endrick Felipe sampai Arda Guler.

Pengetahuan Soal Sepak bola

Selain itu, Xabi Alonso juga memiliki pengetahuan sepak bola yang mumpuni. Ayahnya, Periko Alonso adalah mantan pemain dan pelatih. Saudaranya, Mikel Alonso juga pernah menjadi pemain. Itu belum termasuk pengalamannya sebagai anak asuh pelatih-pelatih kenamaan.

Singkatnya, Alonso telah menyerap wawasan dan pengetahuan tentang sepak bola. DNA sepak bola sudah mengalir dalam darah dan nadi Alonso. Tidak hanya pengetahuan tentang sepak bola, Alonso juga mahir dalam berbahasa. Selain menguasai bahasa Spanyol, ia juga bisa berbahasa Jerman.

Kemampuannya berbahasa ini bisa memudahkan dalam berkomunikasi. Inilah yang membuat daya tawar Alonso naik. Tak ayal kalau Real Madrid kesengsem dengan pria kelahiran Tolosa ini.

Taktik

Bagaimana dengan taktik? Apakah gaya permainan Alonso cocok dengan Real Madrid? Secara permainan, Alonso mengedepankan penguasaan bola. Gaya permainannya sangat Spanyol sekali. Itu terlihat saat melatih Bayer Leverkusen. Penguasaan bola yang progresif menjadi ide permainan Alonso. Hal itu ia gabungkan dengan teknik menekan yang mirip dengan gaya sepak bola Jerman.

Lini tengah menjadi jantung permainan. Dengan dua sayap akan menusuk untuk menciptakan peluang. Alonso lebih suka bermain dengan 3-4-3. Meskipun kadang berubah di tengah permainan. Tapi dasar permainannya adalah 3-4-3. Besar kemungkinan taktik itu pula yang akan dibawanya ke Real Madrid kelak.

Sayangnya, permainan Alonso masih punya kelemahan. Misalnya soal duel dan ruang terbuka. Selain itu, taktik penguasaan bola dengan serangan balik ini juga belum tentu cocok dengan Real Madrid. Apalagi di tangan Ancelotti, Los Galacticos kerap bermain pragmatis seperti ketika meraih gelar Liga Champions 2022 lalu.

Well, kalau menurut Football Lovers, Xabi Alonso apakah pantas untuk menjadi pelatih Real Madrid? Bisakah ia sukses di klub dengan torehan 14 trofi Liga Champions itu?

Sumber: Bundesliga, TheRealChamps, SkySports, PlanetFootball

AEK Athens: Klub Sayap Kiri Yunani, Penjinak Brighton di Liga Europa

0

AEK Athens punya segudang fakta menarik. Sayangnya, fakta-fakta tersebut seolah terbungkam meski mereka mampu menjinakkan Brighton & Hove Albion di matchday pertama Liga Europa musim ini.

Harus diakui kalau banyak media dan pencinta sepak bola lebih menyoroti kekalahan Brighton ketimbang menyanjung penampilan AEK. Padahal, apa yang dicapai AEK Athens tahun ini adalah hasil dari sebuah perjalanan panjang.

Dan sebelum menginjakkan kakinya di fase grup Liga Europa musim ini, AEK harus kehilangan nyawa salah satu suporternya. Fakta itulah yang akan mengantarkan kita untuk dapat lebih mengenal siapa sebenarnya AEK Athens.

Rusuh di Athena, 1 Suporter AEK Tewas

Tak seperti Brighton yang lolos ke Liga Europa dengan sebagai tim peringkat 6 Liga Inggris, AEK Athens adalah jawara Liga Super Yunani. Sebagai juara, AEK mendapat jatah tiket kualifikasi babak ketiga Liga Champions. Di babak itulah, AEK mendapat kabar duka.

Hasil drawing mempertemukan AEK Athens dengan juara Liga Kroasia, Dinamo Zagreb. Leg pertama seharusnya digelar di kandang AEK pada 8 Agustus 2023. Namun, UEFA memutuskan untuk menunda pertandingan tersebut. Akibatnya, laga pada tanggal 15 Agustus di kandang Dinamo dihitung sebagai leg pertama, sementara laga tunda pada tanggal 19 Agustus dihitung sebagai leg kedua.

Penundaan tersebut terjadi akibat dari bentrokan antarsuporter yang pecah sebelum kickoff di stadion Agi Spohia, 8 Agustus 2023. Dalam bentrokan tersebut, seorang suporter berusia 29 tahun atas nama Michalis Katsouris tewas akibat luka tusuk.

Bentrokan tersebut juga mengakibatkan 8 suporter lainnya terluka. Dari laporan AP News, kepolisian Yunani telah menangkap 88 orang, sebagian besar merupakan suporter Dinamo Zagreb. Sementara itu, sebanyak 7 polisi Yunani mendapat skors sebagai buntut pecahnya bentrokan.

Tewasnya salah satu penggemar mereka membuat para pemain AEK Athens melayat ke lokasi kematian. Tragedi tersebut juga menjadi perhatian perdana menteri Kroasia dan Yunani.

Pihak berwenang Yunani dan UEFA sejatinya telah memutuskan untuk tidak menjual tiket bagi fans tim tamu. Namun, menurut laporan media Kroasia, di tengah larangan suporter away, sekitar 200 penggemar Dinamo Zagreb nekat melakukan perjalanan ke kota Athena dan kemungkinan besar datang sebagai turis biasa.

Bukan tanpa sebab suporter tim tamu dilarang datang ke Athena. Selain rekam jejak kerusuhan suporter yang akhir-akhir ini banyak terjadi di Yunani, AEK Athens dan Dinamo Zagreb memiliki dua kelompok suporter berbeda ideologi.

Original 21 di pihak AEK dan Bad Blue Boys di pihak Dinamo. Dua kelompok ini lahir juga karena sejarah ideologi kedua tim. AEK dengan ideologi sayap kiri, sedangkan Dinamo dengan ideologi sayap kanan. Sialnya, suporter yang tewas ditikam konon merupakan anggota dari Original 21.

AEK Athens, Klub Sayap Kiri yang Didirikan Para Pengungsi

Meski tak pernah mendeklarasikan diri sebagai klub sepak bola yang berideologi sayap kiri di Yunani, tetapi AEK Athens memang kental akan aroma anti-fasis. Fakta sejarahlah yang membentuk persepsi tersebut hingga melahirkan kelompok ultras Original 21.

Sejarah berdirinya AEK Athens tak bisa dilepaskan dari Perang Yunani-Turki yang berlangsung antara Mei 1919 hingga Oktober 1922. Setelah perang berakhir dan Kekaisaran Ottoman runtuh, pemerintah Yunani dan Turki sepakat untuk melakukan pertukaran imigran besar-besaran, di mana sebanyak 1,5 juta orang Yunani Anatolia diusir dari Turki dan 400 ribu orang beragama Islam harus meninggalkan Yunani.

Dari peristiwa tersebut, para pengungsi Yunani Anatolia banyak yang pergi ke kota Athena dan membentuk lingkungan baru di pinggiran kota, salah satunya di Nia Filadelfeia. Singkat cerita, pada 13 April 1924, sekelompok pengungsi tersebut berkumpul di sebuah toko olahraga bernama “Lux” di pusat kota Athena dan kemudian mendirikan AEK.

AEK sendiri merupakan singkatan dari “Athlitikí Énosis Konstantinoupόleos” yang artinya “Persatuan Atletik Konstantinopel”. Logo klub ini bergambar elang berkepala dua yang merupakan simbol dari dinasti Paleologue, kaisar Bizantium terakhir. Logo tersebut juga membuat AEK mendapat julukan “Dikéfalos Aetós” yang artinya “Elang berkepala dua”.

Niat para pendiri AEK adalah untuk menyediakan sarana olahraga dan pengalihan budaya bagi ribuan pengungsi yang telah menetap di pinggiran kota Athena. Klub ini juga berdiri untuk mewakili nilai-nilai para pengungsi dari Konstantinopel serta menghormati budaya dan seni mereka.

Tak bisa dipungkiri kalau AEK Athens terus mempertahankan identitas imigran mereka hingga hari ini. Maka dari itulah, dengan sendirinya tumbuh ideologi sayap kiri dan anti-fasis yang kuat dari para penggemarnya.

Kelompok ultras Original 21 sendiri merupakan organisasi suporter terbesar AEK Athens. Mereka memiliki hubungan persahabatan dengan para pendukung sayap kiri dari Olympique Marseille dan Livorno. Persahabatan ketiga kelompok tersebut dikenal dengan sebutan “Triangle of Brotherhood”. Alasan ideologis juga menjadikan fans sayap kiri AEK punya hubungan yang kuat dengan fans St. Pauli dan Fenerbahce.

Sejarah AEK Athens: Pernah Terdegradasi dan Punya 33 Trofi Domestik

Klub berjersey kuning-hitam itu bukanlah klub kacangan di Yunani. Tidak seperti Brighton yang baru saja mereka jinakkan di Liga Europa, AEK Athens adalah klub legendaris dan salah satu kesebelasan tersukses di Negeri Para Dewa. AEK adalah klub ketiga tersukses di Yunani, hanya kalah dari Olympiacos dan Panathinaikos. Hingga hari ini, AEK sudah mengoleksi 33 trofi domestik.

Meski begitu, AEK pernah mengalami masa-masa tersulit dalam sejarah klub. Ini terjadi di tahun 2013. Saat itu, mereka mengalami penurunan prestasi yang tajam dan mengalami krisis finansial terbesar. AEK bangkrut dan untuk pertama kalinya sejak klub berdiri, AEK terdegradasi dari Liga Super Yunani.

Pada musim 2013/2014, AEK Athens dilaporkan memiliki hutang pajak hingga 170 juta euro. Mereka juga harus rela memulai kiprahnya dari Football League 2, divisi 3 Liga Yunani.

Di masa-masa terkelam tersebut, Dimitris Melissanidis kembali. Ia adalah mantan presiden klub di era 90an. Kala itu, Melissanidis bersama dengan kelompok penggemar dan beberapa pemain legendaris AEK mendirikan organisasi non-profit, “Enosi Filon AEK” untuk mengambil alih kepemilikan klub sepak bola AEK. Singkat cerita, Melissanidris kemudian menjadi pemilik AEK Athens.

Dimitris Melissanidis sebenarnya adalah sosok yang kontroversial. Dia adalah seorang taipan bisnis perkapalan dan minyak, serta salah satu pengusaha terkaya di Yunani. Melissanidis pernah dituduh menyalahgunakan uang hasil dari bisnis pelayarannya yang bangkrut untuk hidup mewah dan untuk mendanai AEK Athens.

Meski begitu, harus diakui kalau Melissanidis adalah sosok yang berhasil menyelamatkan klub berjuluk “Dikéfalos Aetós” itu. Selain melunasi hutang klub, ia juga membangun kembali stadion yang dihancurkan pada tahun 2003 setelah mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi Athena 1999.

Perlu diketahui kalau selama hampir 2 dekade, AEK Athens mengungsi ke stadion Olimpiade Athena sebagai kandang mereka. Hingga akhirnya, pembangunan Agia Sophia Stadium yang mulai dibangun pada 28 Juli 2017 dan menelan biaya hingga hampir 100 juta euro rampung pada tahun 2022.

Dibangun dibekas Stadion Nikos Goumas yang diruntuhkan, Agia Sophia Stadium memiliki kapasitas 32.500 tempat duduk. Stadion megah ini menjadi yang terbesar ketiga di Yunani dan meraih penghargaan “Stadium of The Year” dari situs StadiumDB.com. Tahun depan, markas AEK Athens itu bakal jadi venue final Liga Konferensi Eropa 2024.

Dimitris Melissanidis Pulang, AEK Athens Kembali Berjaya

Rampungnya pembangunan Agia Sophia Stadium seperti memberi berkah bagi AEK Athens. Kebetulan, dibukanya Agia Sophia Stadium bertepatan dengan suksesnya proyek ambisius AEK Athens yang membangun ulang kekuatannya.

Sejak dimiliki Dimitris Melissanidis, AEK Athens secara perlahan tapi pasti berhasil membangun ulang kejayaannya. Mereka sudah kembali ke Liga Super Yunani di musim 2015, juara Piala Yunani 2016, juara Liga Super 2017, dan untuk pertama kalinya sejak 1978, AEK sukses mengawinkan gelar liga dan piala Yunani di musim 2022/2023.

Keberhasilan tersebut tak lepas dari aktivitas transfer ambisius AEK Athens yang mendatangkan dua mantan bintang Piala Dunia 2018, yakni Domagoj Vida dan Djibril Sidibe. AEK juga mendatangkan pemain internasional Swiss, Steven Zuber dan mantan pemain timnas Serbia, Mijat Gacinovic. Para pemain ini melengkapi skuad AEK yang sudah berisi pemain timnas Iran, Ehsan Hajsafi dan Milad Mohammadi, pemain timnas Polandia, Damian Szymański, hingga kakak kandung Sofyan Amrabat, Nordin Amrabat.

Di musim tersebut, AEK juga merekrut pelatih Matias Almeyda. Mantan pemain timnas Argentina era 90an itu terbilang cukup sukses ketika menangani River Plate, Banfield, dan Guadalajara. Di bawah arahannya, AEK bermain high-pressing, enerjik, dan efektif dalam menyerang. Kombinasi inilah yang membuat AEK Athens berhasil meraih trofi Liga Super Yunani dan Piala Yunani 2023, serta berhasil menjinakkan Brighton di Liga Europa.

AEK Athens Jinakkan Brighton 3-2

Seperti yang disinggung di awal, AEK Athens bisa dibilang sebagai tim buangan dari Liga Champions. Setelah mengalahkan Dinamo Zagreb dengan skor agregat 4-3, langkah AEK dihentikan Royal Antwerp di babak play-off. Kekalahan itulah yang membuat “Dikéfalos Aetós” terlempar ke Liga Europa.

Di kompetisi kasta kedua Eropa itu, AEK Athens punya rekam jejak yang cukup bagus. Mereka pernah 3 kali lolos ke babak 32 besar, 4 kali masuk babak 16 besar, dan jadi satu-satunya klub Yunani yang pernah berlaga di partai semifinal di musim 1977. Meski prestasi tersebut sudah cukup lama, tetapi DNA Eropa sepertinya belum luntur dari AEK Athens.

Seperti pernyataan Roberto De Zerbi pasca takluk dari pasukan Matias Almeyda. Hasil laga tersebut terlihat tidak adil bagi Brighton yang tampil begitu dominan. Namun, pengalaman AEK Athens tak bisa bohong.

AEK tampil lebih efektif ketimbang Brighton. Gol-gol Djibril Sidibe, Mijat Gacinovic, dan Ezequiel Ponce hanya berhasil dibalas dua gol penalti Joao Pedro. AEK pun berhasil menjinakkan perlawanan Brighton dengan skor 3-2.

Setelah kemenangan tersebut, Matias Almeyda berkata, “Ada dua jurnalis di sini kemarin, ketika saya menyebutkan kami di sini untuk menang, salah satu dari mereka tertawa. Dia tidak ada di sini hari ini.”

Itulah beberapa fakta menarik dari AEK Athens. Dari kekalahan Brighton atas AEK, kita bisa belajar untuk tidak menganggap remeh lawan manapun, meski mereka kalah pamor dan pernah terpuruk di masa lalu.


Referensi: AP, AEK, Football Makes History, Brighton, Inside World Football, Reuters, The Guardian.

Layakkah Menyebut Nicolas Jackson The Next Drogba?

Kalau sudah bicara Chelsea, sepertinya kurang motivasi jika membahasnya. Tapi sudahlah memang tim ini sedang tidak waras. Tapi mungkin saja tim yang hedon beli pemain ini akan cepat bangkit dari keterpurukan.

Amunisi mereka tak kalah mengerikan sebenarnya. Apalagi mereka punya striker baru yang digadang-gadang sebagai penerus Didier Drogba, yakni Nicolas Jackson.

Gacor Bersama Villarreal

Kemampuan striker muda dari Senegal ini sangat mengejutkan di klub sebelumnya, Villarreal. Tapi sebelumnya jujur saja, meski gacor di Villarreal namanya tak begitu populer. Publik paling teringat dengan pemain Villarreal seperti Samuel Chukwueze, yang pamornya sempat naik setelah membobol gawang Real Madrid musim lalu.

Tapi catatan Jackson di The Yellow Submarine tak kalah mentereng lho. Total 12 gol dan 4 assist dalam 26 laga yang dimainkannya. Bahkan 10 gol yang diciptakan Jackson lahir dari 11 penampilan terakhirnya bersama Villarreal yakni sejak bulan April hingga Mei 2022. Bahkan di periode itu, catatan Jackson tersebut menjadikannya salah satu striker di lima liga terbaik Eropa yang menciptakan banyak gol non penalti.

Dengan catatan itu, bagaimana Chelsea tidak kepincut coba. Ditambah itu baru debut Jackson di musim penuhnya bersama Villarreal. Tanpa basa-basi, Chelsea yang masih kesulitan cari sumber gol dari strikernya sejak musim lalu, langsung bergegas untuk merekrutnya.

Mengidolai Drogba

Akhirnya Chelsea benar-benar merekutnya dengan mahar yang tergolong mahal, yakni sekitar 35 juta euro. Bahkan menurut The Analyst, sebagian besar fans Chelsea awalnya pun tak tahu siapa Jackson. Nasib transfernya dulu hampir sama dengan Drogba ketika awal bergabung di Chelsea.

Drogba dulu juga tak banyak dikenal walaupun gacor di Marseille. Drogba malah dulu dianggap banyak fans belum pantas masuk skuad the dream team Chelsea waktu itu karena hanya terbukti di Liga Prancis.

Ngomong-ngomong soal Drogba, ternyata Jackson sangat mengidolakannya. Lihat saja Nomor yang dipakai Jackson di Villarreal, yakni 15. Ia mengaku meniru nomor yang dipakai Drogba dulu. Kata Jackson, Drogba sangat menginspirasi dirinya sebagai seorang striker.

Maka dari itu ketika ia direkrut Chelsea, senangnya bukan main. Menurut Talksport, ia mengaku bermimpi bisa punya klub sama seperti idolanya. Ia hanya berharap bisa meneruskan apa yang ditorehkan oleh Drogba di Chelsea.

Performa Pramusim Jackson Bersama Chelsea

Penampilannya yang gacor di laga pramusim, semakin menambah optimisme publik Stamford Bridge. Publik semakin percaya dengan talenta Jackson. Apalagi kalau melihat cara membawa bolanya yang kencang dan gesit meski tubuhnya kekar dan tinggi.

Di laga pra musim, ia menciptakan masing-masing satu gol ke gawang Newcastle dan Brighton di turnamen Premier League Summer Series yang berlangsung di Amerika. Belum lagi beberapa peluang dan assist-nya yang membuat Chelsea menjuarai turnamen tersebut.

Ia bersama partnernya, Christopher Nkunku saling melengkapi di lini depan. Tapi sayang kemudian Jackson ditinggal cedera lama partnernya tersebut. Nkunku cedera dan mungkin akan absen hingga Januari 2024. Jackson mau tidak mau harus berjuang sendirian di lini depan. Hanya Sterling, Madueke, maupun Mudryk, yang bisa menemaninya di lini serang Chelsea.

Banjir Kartu Kuning

Benar saja, memasuki pekan pertama Liga Inggris, Jackson terlihat terisolasi dan kesepian tanpa Nkunku. Chelsea sempat bisa mengimbangi Liverpool di pekan pertama. Di laga berikutnya yang notabene lebih mudah secara lawan, diharapkan Jackson dan kawan-kawan bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Tapi kemudian pertanyaannya, di mana Jackson? Mana gol dari Jackson? Ia malah banjir kartu kuning ketimbang banjir gol. Koleksi kartu kuningnya lebih banyak daripada golnya yakni 5 kartu kuning. Jackson kerap gagal mengonversi setiap peluang yang didapatkan menjadi gol. Dengan kata lain, sejauh ini ia masih mandul.

Hanya satu gol yang diciptakannya sampai pekan ke-6 Liga Inggris. Itu pun tercipta kala Chelsea menghadapi tim macam Luton Town. Selebihnya ia hanya terdiam. Alhasil Jackson malah jadi beban tim karena harus absen di pekan ke-7 ketika melawan Fulham akibat akumulasi kartu.

Pochettino pun angkat bicara kenapa Jackson belum bisa terbukti mencetak banyak gol.
Menurut eks manajer Tottenham Hotspur itu, Nicolas Jackson masih butuh adaptasi yang lebih banyak. Sebab ia adalah pemain muda yang baru merasakan ketatnya Liga Inggris seperti teman-temannya. Menurutnya, ia kelewat agresif dan tak bisa meredam emosinya kala merebut bola dari lawan. Maka dari itu, Jackson banyak menerima kartu kuning.

Dilihat Dari Segi Statistik

Meski mandul, ternyata di luar dugaan Jackson ini secara statistik ada keunggulannya. Ia mungkin sekarang ini adalah orang yang paling apes di Liga Inggris. Bagaimana tidak? Expected Goal-nya termasuk dalam kategori yang tinggi di Liga Inggris hingga pekan ke-6, yakni 4,18. Walaupun golnya hanya satu.

Secara catatan bahkan beda jauh dibandingkan pemain seperti Jarrod Bowen di klub seperti West Ham yang hanya punya expected Goal 2,8, tapi sudah bisa cetak 4 gol hingga pekan ke-6 Liga Inggris.

Memang secara kualitas peluang yang diciptakannya juga tak terlalu membahayakan. Banyak hal-hal ceroboh yang dibuat Jackson jika sudah berhadapan dengan kiper lawan di dalam kotak penalti. Misal seperti tendangan kocaknya yang melebar jauh ketika lawan Bournemouth.

Persamaan Dengan Drogba

Expected Goal yang tinggi dari Jackson menjadi pembelaan juga bagi Pochettino. Dikatakan Pochettino bahwa kalau menilai Jackson jangan dari sekarang. Pelatih berpaspor Argentina tersebut berjanji jika ingin membicarakan Jackson yang berbeda jangan sekarang, tapi bisa dilihat di beberapa pekan mendatang.

Hal itulah yang mengingatkan bahwa bukan tidak mungkin ia masih berpotensi menjadi striker yang benar-benar gacor seperti Drogba. Karena menurut ilmu cocokologi, terdapat kemiripan antara Drogba dan Jackson.

Lihat saja Drogba ketika datang di musim pertamanya pada musim 2004/05 hanya menciptakan 1 gol hingga pekan ke-6 Liga Inggris. Sama seperti Jackson, cuma beda koleksi kartu kuningnya saja. Jackson lebih brutal dengan 5 kartu kuning, sedangkan Drogba hanya 1 kartu kuning.

Drogba juga masih beradaptasi di awal musim pertamanya. Ia telat panas karena beban diandalkan sebagai satu-satunya striker utama Chelsea. Pasalnya, striker seperti top skor mereka Hasselbaink, Mutu, maupun Crespo cabut. Praktis hanya Drogba, Gudjohnsen, dan Kezman yang ada. Itupun Gudjohnsen dan Kezman tak terlalu bisa diandalkan dalam mencetak gol.

Nah, nasibnya sekarang juga hampir mirip dengan Jackson. Ketika Havertz maupun Aubameyang pergi, praktis hanya ia yang diandalkan sebagai satu-satunya striker di Chelsea. Striker lain seperti Nkunku maupun Broja masih mengalami cedera.

Ya, semuanya itu memang butuh proses. Chelsea kebetulan seluruh skuadnya sedang bapuk. Mau tidak mau Jackson juga terpengaruh. Jadi lihat saja ke depannya, apakah Jackson masih akan sama seperti sekarang yang hanya suka koleksi kartu kuning, atau jangan-jangan bisa bangkit seperti Drogba?

https://youtu.be/NzUIb1wYoLw

Sumber Referensi : 90min, theanalyst, transfermarkt

Berita Bola Terbaru 26 September 2023 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

TENANG, DECLAN RICE HANYA CEDERA RINGAN

Declan Rice ditarik keluar karena cedera punggung saat membela Arsenal di laga kontra Tottenham Hotspur pada Minggu kemarin. The Athletic melaporkan Rice masih merasa tidak nyaman dengan punggungnya, namun cedera itu tidak seserius yang diperkirakan. Ia akan terus dipantau dalam beberapa hari ke depan. Rice mungkin diistirahatkan saat The Gunners bertemu Brentford di Piala Liga Inggris pada Kamis dini hari WIB, namun menurut laporan The Guardian ia berpeluang tampil di laga tandang melawan Bournemouth pada Sabtu mendatang.

TANPA RONALDO, AL-NASSR LOLOS KE 16 BESAR PIALA RAJA

Al-Nassr lolos ke babak 16 besar Kings Cup usai membantai klub kasta kedua, Ohod, 5-1 pada babak 32 besar di Stadion Pangeran Abdullah Al faisal, Selasa (26/9) dini hari WIB. Dalam pertandingan kali ini pelatih Luis Castro memilih mengistirahatkan kapten mereka, Cristiano Ronaldo. Selain itu, Castro juga mengistirahatkan gelandang andalannya, Marcelo Brozovic. Meski demikian, Al-Nassr tetap membawa sejumlah pemain top Eropa miliknya, seperti Aymeric Laporte, Alex Telles, Otavio, Seko Fofana, dan Sadio Mane.

TEN HAG HUKUM SANCHO LEBIH BERAT DI MU

Winger Inggris Jadon Sancho dihukum lebih berat oleh pelatih Erik ten Hag. Dilaporkan Goal, Sancho kabarnya benar-benar diasingkan dari skuad utama MU. Pemain 23 tahun itu kini tak boleh menggunakan semua fasilitas tim utama di Carrington. Mulai dari menggunakan tempat latihan hingga ruang makan pemain senior. Artinya, Sancho kini hanya boleh makan dengan pemain akademi di MU, dari sebelumnya hanya dilarang berlatih terpisah. 

VIDAL KESAL DENGAN PERLAKUAN TEN HAG KE RONALDO

Arturo Vidal tiba-tiba mengecam Erik ten Hag karena ‘pencapaiannya buruk’ di Manchester United. Ia juga mengecam sang pelatih karena menyingkirkan Cristiano Ronaldo. Mantan pemain Juventus, Bayern Munchen, Barcelona, hingga Inter Milan itu bahkan sampai menyerang penampilan fisik pelatih asal Belanda tersebut. “Dia [Ronaldo] itu kan pencetak gol terbanyak mereka dan dia menyingkirkan dia. Pria-pria botak ini sungguh rumit!” ucap Vidal.

BARU GABUNG, NEYMAR SUDAH BERENCANA TINGGALKAN AL HILAL

Neymar baru menghadapi tantangan baru dalam karirnya yang luar biasa ketika menuju ke Arab Saudi pada Agustus. Ada pembicaraan bahwa ia akan menyetujui kontrak berdurasi empat tahun di sana, namun hal itu kemungkinan tidak akan sampai tuntas. Laporan mengenai kontrak berdurasi dua tahun disebut-sebut adalah yang ditandatangani sang bintang, karena Neymar tidak berniat bertahan lama di Al-Hilal. Menurut jurnalis Brasil Ademir Quintino, bintang Timnas Brasil ini akan kembali ke kampung halamannya di Santos pada tahun 2025.

NEYMAR MINTA PELATIH AL HILAL DIPECAT

Neymar Jr kabarnya mendesak Pelatih Al Hilal Jorge Jesus dipecat. Dia terlibat cekcok dengan bosnya itu. Dikutip dari Sport Bible, Senin (25/9), Neymar berselisih dengan Jesus usai Al Hilal bermain imbang 1-1 melawan Navbahor di Liga Champions Asia 2023 pekan lalu. Neymar tak terima dan kesal dengan sang pelatih. Al Hilal pun memberikan tindakan. Jesus diperingatkan tentang risiko pemecatan setelah diadakan pembicaraan dengan manajemen klub. 

VICTOR OSIMHEN NGAMUK KE PELATIHNYA SENDIRI

Victor Osimhen menunjukkan ekspresi marah saat ditarik keluar di laga Napoli kontra Bologna yang berkesudahan 0-0. Osimhen merasa keputusan Garcia tersebut justru berbuah blunder karena yakin bisa memberikan kontribusi di lapangan jika diduetkan dengan Simeone di lini depan. Allenatore Il Partenopei, Rudi Garcia tak ambil pusing. Ia mengaku keputusannya menarik keluar topskor klub musim lalu itu murni untuk kepentingan taktik di lapangan.

PELATIH AC MILAN SIAP ANDALKAN LUCA JOVIC STARTER LAWAN CAGLIARI

Luka Jovic yang baru saja direkrut oleh AC Milan dari Fiorentina pada jendela transfer musim panas akan segera mendapatkan kesempatan pertamanya untuk menjadi starter bagi Rossoneri. Kabar itu datang ketika pelatih Stefano Pioli berencana untuk merotasi skuadnya dalam perjalanan menghadapi Cagliari pada Rabu malam. Jovic akan dimainkan sebagai starter karena Olivier Giroud akan diistirahatkan pada pertandingan melawan Cagliari.

PELATIH BRIGHTON ENGGAN BERI TEKANAN BERLEBIH PADA ANSU FATI

Semenjak merantau ke Inggris, Ansu Fati memang belum bisa memberikan kontribusi berarti bagi Brighton and Hove Albion. Penyerang berumur 20 tahun itu baru tampil dalam tiga pertandingan dan belum menciptakan gol atau assist. Pelatih Brighton, Roberto De Zerbi, menyadari beratnya beban ekspektasi yang dipanggul Ansu Fati. Oleh karena itu, De Zerbi enggan memberikan tekanan berlebih kepada Fati. “Dia harus benar-benar menikmati momen di atas lapangan agar bisa memberikan performa terbaik. Kami mencintai Ansu dan ingin membantunya memenuhi potensi di sini,” ucapnya.

PRESIDEN KLUB TIGRES FC DITEMBAK

Presiden klub divisi dua Kolombia, Tigres FC, Edgar Paez, meninggal dunia usai sebuah peluru masuk ke dalam tubuhnya, usai timnya kalah di laga pada hari Sabtu pekan kemarin. Melansir ESPN, Paez akhir pekan itu sedang pulang ke rumah dengan mobil bersama putrinya selepas menonton Tigres yang kalah 2-3 menjamu Atletico FC. Pria 63 tahun itu diketahui direnggut nyawanya oleh dua orang yang mengendarai sepeda motor di dekat stadion. Putrinya lolos tanpa cedera dan pihak berwenang saat ini sedang melakukan penyelidikan atas pembunuhan tersebut.

STAF POCHETTINO BRUNO SALTOR DIPECAT

Bruno Saltor dikabarkan ‘dipecat’ klub Liga Inggris, Chelsea, padahal belum empat bulan menjabat sebagai asisten pelatih. Tangan kanan Mauricio Pochettino itu meninggalkan Chelsea di tengah betapa rapuhnya The Blues yang tak menunjukkan ada perkembangan signifikan sejak musim 2022/23. Hingga saat ini tak diketahui apa alasan Bruno Saltor cabut dari staf kepelatihan The Blues sehingga Pochettino saat ini hanya memiliki dua staf lainnya, yaitu Ben Roberts dan Kyle Macauley.

LAGA AJAX VS FEYENOORD BAKAL DILANJUTKAN TANPA PENONTON

Pertandingan yang sempat dihentikan antara Ajax vs Feyenoord, akhir pekan kemarin, akan dilanjutkan secara tertutup pada hari Rabu (27/9). FA Belanda (KNVB) telah mengkonfirmasi hal tersebut. Feyenoord memimpin 3-0 pada menit ke-56 di Johan Cruyff Arena ketika laga dihentikan karena pendukung tuan rumah melemparkan suar dan kembang api ke dalam lapangan. Dengan keputusan untuk melanjutkan laga melawan Feyenoord, laga Ajax vs FC Volendam di hari yang sama terpaksa ditunda. 

MODRIC AKAN KE INTER MIAMI

Kontrak Luca Modric di Real Madrid tersisa satu tahun lagi. Dengan kontrak di Real Madrid tersisa kurang dari satu tahun, Luka Modric sekarang dikaitkan dengan kepindahan yang akan membuatnya bermain bersama mantan rivalnya di Barcelona Lionel Messi. Dikutip dari Goal, salah satu pemilik klub, David Beckham, memandang gelandang Kroasia itu sebagai calon bintang tambahan, mengingat waktu bermainnya yang terbatas untuk Los Blancos musim ini. 

INDONESIA TANTANG UZBEKISTAN DI 16 BESAR ASIAN GAMES

Timnas U24 Indonesia akan menghadapi Uzbekistan pada babak 16 besar Asian Games. Pertandingannya akan dilaksanakan Kamis, 28 September 2023, pukul 15.00 WIB. Negara Asia Tengah itu menjadi lawan Indonesia setelah memastikan diri menjadi juara grup C. Status itu mereka dapatkan setelah membungkam Hong Kong dengan skor 2-1 dalam partai pamungkas di Shangcheng Sports Centre Stadium, Hangzhou, Cina, Senin sore, 25 September 2023.

PERSIS LEPAS SANANTA KE ASIAN GAMES

Persis Solo sebelumnya sempat tak melepas Ramadhan Sananta ke Asian games. Kini, mereka akhirnya luluh setelah berkoordinasi dengan PSSI. Persis Solo memberi lampu hijau setelah pertimbangan klub yang melihat skuad Indra Sjafri membutuhkan tenaga Sananta berdasarkan performa Garuda di babak penyisihan Asian Games. Sananta sendiri dikabarkan sudah terbang ke China pada Senin malam (25/9). 

MORATA GEMILANG, SIMEONE JUSTRU PUJI GRIEZMANN

Alvaro Morata menjadi aktor utama di balik kemenangan Atletico Madrid dalam derby melawan El Real. Dua gol diciptakan olehnya ke gawang rival sekota mereka itu. Meski Morata tampil luar biasa, pujian justru diberikan sang pelatih, Diego Simeone, kepada Griezmann. “Dia tidak memiliki kesulitan dalam bertahan dan bermain sesuai dengan permainan yang harus dimainkan, itulah mengapa dia adalah salah satu pemain terpenting kami. Dia adalah titik referensi bagi pemain muda kami,” katanya.

BIKIN BLUNDER, JORGINHO TETAP DICINTAI ARTETA

Gelandang Arsenal, Jorginho melakukan eror, sehingga gawang The Gunners dibobol Tottenham Hotspur melalui kaki Son Heung Min. Manajer Arsenal, Mikel Arteta ditanya awak media terkait aksi eror Jorginho itu. Arteta dengan tegas membelanya. Menurut Arteta, apapun yang terjadi, dirinya mencintai Jorginho dan Arsenal juga mencintai gelandang asal Italia tersebut. Lebih lanjut, kata Arteta, Eror adalah bagian dari sepakbola.

SACCHI SEBUT ADANYA LEAO BISA JADI KELEMAHAN UNTUK MILAN

Rafael Leao menjadi penentu kemenangan AC Milan atas Verona, akhir pekan kemarin. Namun, meski menjadi kapten dan mencetak gol penentu kemenangan, Rafael Leao justru kena nyinyir eks pelatih AC Milan, Arrigo Sacchi. Pelatih legendaris Rossoneri tersebut blak-blakan menyebut ketergantungan pada Leao sebagai titik lemah Rossoneri pada musim ini. Dengan adanya Leao, kata Sacchi, AC Milan menjadi lemah karena akhirnya tidak bisa bermain secara kolektif.

TUCHEL INGIN  BAYERN REKRUT RUDIGER

Klub Liga Spanyol, Real Madrid, ketar-ketir karena Thomas Tuchel pengen reuni dengan Antonio Rudiger di Bayern Munchen pada bursa transfer berikutnya. Keadaan itu tidak terlepas dari kepercayaan Thomas Tuchel kepada permainan yang ditunjukkan oleh Rudiger di lini belakang. Terbukti, bek Jerman ini menjadi salah satu sosok yang membantu Tuchel meraih gelar juara Liga Champions 2020/21 di Chelsea. Demi merealisasikan nya, Tuchel menyarankan Bayern menukarnya dengan Matthijs de Ligt.

MEGAN RAPINOE PENSIUN

Selama lebih dari satu dekade, Megan Rapinoe telah menjadi pusat perhatian. Pesepakbola Amerika Serikat ini telah memainkan pertandingan internasional terakhirnya pada hari Minggu setelah karirnya yang telah mengubah permainan di dalam dan di luar lapangan. Rapinoe meninggalkan sepak bola sebagai salah satu pemain paling berprestasi, dengan dua kemenangan Piala Dunia, satu Medali Emas Olimpiade, satu Bola Emas Piala Dunia, satu Sepatu Emas Piala Dunia, satu Ballon d’Or, dan satu penghargaan Pemain Wanita Terbaik FIFA

BUKAYO SAKA TIRU SELEBRASI MADDISON

Bukayo Saka mencuri perhatian saat Arsenal bermain imbang 2-2 melawan Tottenham Hotspurs. Ia menjadi inisiator atas terciptanya gol bunuh diri Christian Romero. Bukayo Saka lalu merayakan gol tersebut dengan meniru selebrasi James Madison, yang notabene pemain klub rival. Sebelum meniru selebrasi Madison, awal bulan ini, Saka juga meniru selebrasi Marcus Rashford usai mencetak gol ke gawang Manchester United.

VILLARREAL INGIN DATANGKAN DONNY VAN DE BEEK

Donny van de Beek berpeluang meninggalkan Manchester United pada bursa transfer mendatang setelah Villarreal menyatakan minat. Kabar ini tentunya menjadi angin segar bagi Setan Merah dan Erik ten Hag, yang memang ingin melepas sang pemain. Dilansir dari Tribalfootball, Villarreal melihat Donny van de Beek sebagai salah satu pemain yang bisa memperkuat lini tengah mereka dalam mengarungi kompetisi. Van de Beek dinilai bisa berkontribusi untuk tim lewat pengalaman dan kemampuan mengatur permainan.

ARSENAL DAN SPURS PANTAU SITUASI DEMBELE DI PSG

Walau belum genap semusim bergabung, Ousmane Dembele sudah mulai dikaitkan dengan pintu keluar PSG. Hal ini disebabkan oleh Dembele yang sampai saat ini masih belum menunjukkan performa aduhai sekaligus belum mencetak satu gol pun. Memanfaatkan situasi, dua klub papan atas Eropa, Arsenal dan Tottenham Hotspur dikabarkan tertarik untuk berebut tanda tangan Dembele. Keduanya bahkan berencana untuk meminjam sang pemain di Januari 2024.

KETUM PSSI BERHARAP INDONESIA LOLOS FASE GRUP PILDUN U17

Ketua Umum PSSI Erick Thohir berharap Timnas Indonesia U-17 bisa lolos dari fase penyisihan grup pada Piala Dunia U-17 2023 yang digelar November mendatang. Hal itu disampaikan Erick Thohir dalam keterangannya di Surabaya, Senin, 25 September 2023. Erick menilai bahwa semua tim di grup A sama kuatnya. Meski dianggap masyarakat tidak sekuat negara yang memiliki bintang sepak bola dunia, menurut Erick, negara-negara tersebut, Maroko, Panama, dan Ekuador, bukan lawan yang gampang.

STADION INI TERPILIH JADI VENUE LAGA INDONESIA VS BRUNEI

Laga leg pertama putaran satu Kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Timnas Indonesia vs Brunei Darussalam akan diadakan di Stadion Jakabaring, Palembang pada 12 Oktober mendatang. Kepastian lokasi pertandingan tersebut dipublikasi FIFA dalam laman resminya pada Minggu (24/9). Duel ini bakal berlangsung mulai pukul 19.00 WIB. Sekjen PSSI Yunus Nusi juga membenarkan bahwa pertandingan leg pertama Indonesia vs Brunei akan digelar di Stadion Jakabaring. Namun Yunus enggan membeberkan alasan mengapa memilih Palembang dan bukan Jakarta.

Ubah Formasi Sempurna Real Madrid Berujung Bencana! Ancelotti Akui Berdosa Dan Minta Maaf

Kekalahan pertama Real Madrid pun datang juga. Ini terjadi di laga ketujuh mereka. Yaitu melawan Atletico Madrid. Yang juga jadi pertandingan penting Real Madrid. Kekalahan 3-1 lawan tetangganya itu mencerminkan superioritas Atletico. Juga mendatangkan banyak kritik untuk el real.

Carlo Ancelotti dipilih sebagai pelaku utama. Ia dianggap sebagai kambing hitam kekalahan Madrid ini. Ia mengejutkan semua orang dengan memainkan Modric dan Kroos sebagai starter. Ini kali pertama duo gelandang tersebut bermain bersama-sama di lini tengah musim ini. Kemudian juga eksperimen memasang Bellingham sebagai second striker di samping Rodrygo yang gagal total.

Eksperimen tersebut tidak berhasil. Ancelotti dengan wajah serius pun mengakui kesalahannya. Di jumpa pers setelah laga, ia berkata kalau kekalahan ini jadi tanggung jawab penuhnya.

“Saya pikir saya bisa melakukan hal lebih baik. Jelas, ketika tim tidak melakukan yang seharusnya dilakukan, itu jadi kesalahan saya. Kurangnya perhatian di awal laga adalah kesalahan saya. Hal terakhir yang bisa saya lakukan adalah mengambil tanggung jawab penuh.” Ucapnya dikutip dari the athletic.

Kekalahan Madrid ini memang membuat frustasi para fans. Tapi apa saja dosa Ancelotti di laga itu? sampai-sampai Atletico bisa membantai Real Madrid dengan skor 3-1. Mari simak ulasannya berikut ini.

Perubahan Sistem Yang Jadi Bencana

Dalam beberapa tahun terakhir, Real Madrid asuhan Ancelotti sudah kebal terhadap tantangan. Mereka tidak takut dengan pertandingan-pertandingan besar terutama karena Real Madrid punya Carlo Ancelotti. Manajer legendaris itu punya sistem dan filosofi yang jelas di Madrid.

Tapi di pertandingan lawan Atletico Madrid, jelas Ancelotti kalah taktik. Ancelotti memainkan Bellingham sebagai second striker, bukannya Joselu yang malah dibangku cadangkan. Sedangkan di sisi gelandang, Ancelotti malah memainkan Modric dan Kroos yang sudah tua. Bukannya memasang Aurelien Tchouameni.

Perubahan ini pun membuat para pendukung kebingungan. Madrid tak terkalahkan di enam pertandingan terakhir. Mengapa baru mengubah sistem saat semuanya berjalan sempurna? Mengapa memainkan Bellingham diluar posisi? Dan malah memainkan Modric yang sudah tak bertenaga?

Madrid memang kekurangan striker. Itu bisa dimengerti. Tapi ketika Ancelotti malah memainkan Bellingham bukannya Joselu, Itu yang tidak dapat dimengerti. Setelah pertandingan Ancelotti mengatakan kalau memasang Bellingham di depan itu bukan tanpa alasan.

“Saya ingin punya lebih banyak kontrol pada bola. Itulah mengapa saya memasang gelandang ekstra.” Ungkapnya dikutip dari AS

Tapi ini menghasilkan Ancelotti memasang lima gelandang tanpa ada striker sungguhan. Mengingat Rodrygo sejatinya seorang sayap. Ini membuat serangan Madrid tak terorganisir. El real menciptakan 20 tendangan percobaan. Tapi hanya 5 diantaranya yang tepat sasaran. satu-satunya gol pun tercipta lewat tendangan Kroos dari jarak 19 meter.

Regenerasi Gelandang Tapi Masih Percaya Modric

Ancelotti berkata kalau alasannya tidak menurunkan Tchouameni sebagai starter adalah masalah stamina. Ia ingin mengistirahatkan pemain Prancis itu setelah jadwal padat di timnas.

“Tchouameni diistirahatkan karena dia telah memainkan banyak sekali pertandingan. Ia juga banyak bertanding bersama tim nasionalnya” Ungkapnya

Tapi bagi sebagian madridista, itu jawaban yang tak masuk akal. Apalagi setelah Ancelotti malah lebih percaya dengan Modric yang berumur 38 tahun. Padahal, Ancelotti selalu menegaskan kalau ia ingin melakukan transisi dan regenerasi di lini tengah.

Selama setahun terakhir, Ancelotti telah berjanji Modric akan secara bertahap dikeluarkan dari skuad utama. Dia mengaku pada bulan Februari lalu, Modric dan juga Kross harus menerima kenyataan kalau mereka tidak akan jadi starter reguler musim ini. Dan melihat penampilan Modric di pertandingan lawan Atletico itu, Ancelotti harusnya lebih berpegang teguh dengan janjinya.

Modric juga jadi starter di laga lawan Union Berlin. Dan lima hari setelahnya, ia kembali main di laga lawan Atletico ini. Jadi tak heran kalau Modric terlihat sangat kelelahan di laga tersebut. Ia kewalahan dengan kecepatan dan kekuatan fisik yang ditampilkan para anak asuh Diego Simeone.

Modric hanya bermain 45 menit, menyentuh bola sebanyak 38 kali dan sama sekali tidak menciptakan peluang. Itu bukan performa yang diharapkan dari mantan pemenang Ballon d’Or. Itu adalah performa dari pemain berusia 38 tahun yang kelelahan dan siap pensiun.

Saat half time Modric digantikan oleh Joselu. Tapi itu semua sudah terlambat. Atletico Madrid telah unggul 2-1. Mereka sudah bermain nyaman. Bahkan menambah gol jadi 3-1 di menit 46. Pergantian Joselu pun tidak berdampak apapun untuk Madrid.

Selalu Kebobolan di Awal

Dosa terbesar Ancelotti di laga itu memang pemilihan pemain yang tidak tepat. Tapi ada dosa lainnya. Yaitu barisan pertahanan yang terlihat jelas sangat rapuh. Mereka kebobolan tiga gol dari sundulan umpan silang. Itu sesuatu yang memalukan untuk tim sekelas Real Madrid.

Madrid juga telah kebobolan di 12 menit pertama untuk keempat kalinya musim ini. Yaitu saat melawan Almeria, Getafe, dan Real Sociedad, sebelum Atlético Madrid. Ada kebetulan yang menyakitkan. Yaitu gol-gol ini dicetak oleh lulusan akademi Madrid. Sergio Arribas dari Almería, Borja Mayoral dari Getafe, dan Alvaro Morata untuk Atletico.

David Alaba pun jadi kambing hitam di pertandingan lawan Atletico kemarin. Kecerobohannya jadi penyebab terciptanya kedua gol Morata. Ia juga gagal berkomunikasi dengan rekan bek tengahnya, Rudiger sehingga Griezmann menemukan terlalu banyak ruang.

Kalah Unggul Lawan Simeone

Dosa besar lainnya adalah saat Ancelotti kalah telah lawan Diego Simeone. Di pertandingan itu, pelatih asal Argentina tersebut berdiri di sisi lapangan. Dengan tangan yang melambai ke para pemain dan meneriakkan instruksi selama 90 menit penuh. Sementara Ancelotti hanya duduk diam di bangku pelatih. Terutama saat babak pertama, ketika timya sudah tertinggal dua gol.

Yang terpenting, Simeone masih percaya diri menggunakan sistem lamanya. Yaitu permainan bertahan dengan mengutamakan kekuatan fisik. Banyak kritik mengatakan sistem Simeone sudah ketinggalan zaman. Tapi ia tetap konsisten dengan identitasnya.

Banyak bagian spesial dari ciri khas Simeone ada di pertandingan ini. Atletico bisa berlari dengan sangat ganas. Mereka bertahan dengan sangat ketat dan melakukan serangan balik dengan sangat efektif.

Ini bukan tim terbaik yang pernah dimiliki Atletico. Juga bukan penampilan terbaik Simeone. Tapi mereka masih bisa tampil kuat lawan Madrid. Menandakan seberapa lemahnya pasukan Ancelotti di laga itu.

Dengan kekalahan ini, Madrid harus rela berpindah tempat. El Real yang perkasa tadinya duduk di puncak klasemen. Tapi sekarang mereka terjun di posisi ketiga. merelakan Barcelona yang jadi penguasa sementara.

Ini adalah kemunduran pertama los blancos musim ini, setelah memenangkan seluruh pertandingan sebelumnya. Yang jelas, kita tahu Ancelotti selalu bisa belajar dari kesalahan. Pertandingan selanjutnya adalah lawan Las Palmas. Di laga ini, Madrid harus kembali ke setelan pabrik mereka.

Sumber referensi: Athletic, AS, Goal, MM, 90min