Hervé Renard, Kepingan Magis Zambia di Piala Afrika 2012

spot_img

Keajaiban tidak turun dari langit, ia tercipta karena usaha dan konsistensi. Begitu pula Herve Renard.

Pria Prancis dengan posisi natural bek tengah berkarier di kompetisi lokal bersama  AS Cannes, Stade de Vallauris, dan SC Draguignan dari 1983 hingga 1998.

Usai gantung sepatu, ia menyeberang profesi sebagai petugas kebersihan di dekat markas SC Draguignan. Pekerjaan baru ia garap pagi, dan malam harinya ikut berlatih dengan Draguignan. Ritme itu ia ulangi selama 8 tahun.  

Kerja keras Renard berbuah hasil, ia mendirikan perusahaan penyedia jasa kebersihan. Kerjanya pun beralih dari membersihkan ruangan, kini melakukan kontrak dengan konsumen.

Perjalanan Renard dari penari lapangan hijau ke petugas kebersihan dianggap sebagai kebanggaan tersendiri. Meski kecintaannya terhadap dunia si kulit bundar tak pernah luntur sehabis pensiun, sekalipun harus bekerja sebagai cleaning service.

Maka dari itu, Renard berusaha menyelesaikan lisensi kepelatihannya di Perancis. Setelah selesai ia menerima lamaran menjadi manajer SC Draguignan.

Transfermarkt mencatat, pria kelahiran Kota Aix-les-Bains memulai kariernya pada 1 Juli 1999-30 Juni 2001 lalu pindah ke Liga China dan menjadi asisten John Taylor di klub SH Hengyuan.

Usai berkelana di Benua Kuning hingga pertengahan 2003, Renard bekerja jadi asisten pelatih Claude Le Roy untuk Cambridge United. Pertemuan Renard dengan Roy pada 2003 jadi jalan pembuka merantau ke Benua Afrika.

Timnas Ghana menjadi pelabuhan pertama di Benua Afrika dengan posisi asisten pelatih Roy pada 2007. Hanya butuh satu tahun, Renard pindah ke Zambia untuk menukangi Timnas Zambia selama dua tahun, dari Mei 2008 hingga 2010. Perkenalan pertama dengan negara penghasil tembaga belum terlihat tanda-tanda kebangkitan.

Pada tahun 2010 Zambia berhasil melewati babak penyisihan grup di tempat pertama di depan Kamerun, Gabon dan Tunisia, namun kalah penalti  dari Nigeria di perempat final setelah bermain imbang 0-0. 

Kisah Kedua Renard di Zambia

Renard sempat berkelana melatih Timnas Angola dan klub USM Alger, untuk kemudian kembali ke Chipolopolos dengan durasi kontrak Oktober 2011 hingga Oktober 2013.

Jilid kedua bersama Timnas Zambia adalah mengikut gelaran AFCON 2012. Skuad pimpinan pria Prancis terdiri dari lima pemain yang bermain di dalam negeri, delapan dari klub papan atas Liga Afrika Selatan serta lima dari pemenang Liga Champions CAF 2009 bersama klub TP Mazembe dari Republik Demokratik Kongo. Satu-satunya pemain yang berbasis di Eropa dalam skuadnya adalah striker 21 tahun, Emmanuel Mayuka.

Pendekatan non taktis Renard kala menukangi tim nasional di Benua Hitam  meniru mentornya, Roy. Memahami budaya setempat untuk mengintegrasikan dirinya ke dalam budaya masing-masing negara. Ia pun memilih tinggal di negara  yang mempekerjakannya sebagai pelatih.

Kemampuan membaur secara budaya menjadi nilai plus bagi seorang pelatih. Sisi spirit lokal dapat dijadikan pacuan prestasi Zambia di Piala Antar Negara Afrika. Renard memegang semangat “Zambia sepak bola raksasa yang tertidur”. Cerita itu ia dapat dari salah satu legenda Zambia Kalusha Bwalya.

Renard melakukan segalanya untuk beradaptasi dengan budaya Zambia. Wajar bila dia menuntut disiplin tinggi kepada pemain di pertandingan maupun saat latihan. Tak segan, ia akan memanggil individu ke pinggir lapangan hanya untuk mengingatkan disiplin pada posisinya.  

Pendekatan taktis Renard tidak selalu memenangkan pengagumnya, terutama di lini depan domestik. Keselamatan pertama adalah kredo yang mendasarinya, dengan pengkondisian fisik sebagai prioritas tinggi. Dia menjaga timnya dalam kondisi sangat baik, berlari hampir setiap hari dan melakukan push-up bersama pria setengah usianya tanpa mempermalukan dirinya sendiri.

Renard lebih suka pendekatan sepak bola yang sangat hati-hati. Tetapi di sisi lain dia telah menunjukkan bahwa dia tidak berpegang teguh pada taktiknya.

Ajaib, magisnya membuat seluruh mata pecinta kulit bundar tertuju padanya. Kala Zambia hanya menempati favorit ke-10, justru bisa keluar menjadi juara. Di partai final bahkan Peluru Tembaga menumbangkan favorit juara, Pantai Gading melalui adu penalti.

“Itu adalah puncak dari petualangan tiga minggu yang memabukkan dan tidak masuk akal secara analisis. Tetapi sepenuhnya masuk akal dari sudut pandang alur cerita,” ungkapnya kepada wartawan.

Renard memenangi hati warga Zambia. Kemenangan itu ia persembahkan untuk rombongan Timnas Zambia yang tewas saat perjalanan menuju Abidjan pada 1993.  

Saat itu, Tim Nasional Zambia sedang dalam perjalan menuju Abidjan, Pantai Gading untuk melakoni laga kualifikasi Piala Dunia 1994. Namun, di perjalanan, pesawat militer yang membawa awak tim Zambia terjatuh di sebuah pantai di kota Libreville. Seketika 18 pemain yang merupakan generasi emas tim nasional Zambia saat itu tewas. Hanya ada satu pemain yang selamat dari kejadian itu, ia adalah Kalusha Bwalya.

Terlihat dalam video perayaan kemenangan AFCON 2012. Kala sepakan penalty Gervinho melambung sementara Stophira Sunzu masuk, drama di Stadion Angondje malam itu menemukan puncaknya. Para pemain, pelatih, dan kru Tim Nasional Zambia berlarian ke tengah lapangan.

Mereka membentuk lingkaran dan bibir mereka terus melantunkan puji syukur. Pemandangan sangat indah terlihat kala sang pelatih, Herve Renard, membopong Joseph Musonda yang sedang cedera ke tengah lapangan untuk turut larut dalam perayaan.

Kemenangan satu dekade silam amat istimewa bagi Kalusha Bwalya, salah seorang pemain timnas 1993 yang selamat. Sebab ia terbang dari Amsterdam usai membela PSV Eindhoven.

Naik Turun Renard

Renard tampak manusia yang haus pengalaman. Kemenangan bersama Zambia tidak membuat ia bertahan untuk melatih di sana. Ia terbang ke negara Afrika lainnya, Pantai Gading untuk memenangkan piala bersama tim emasnya.

Rekor Renard bersama Zambia pada tahun 2012 dan Pantai Gading pada tahun 2015 menjadi pelatih pertama yang memenangkan dua Piala Afrika dengan negara yang berbeda.

Masih dalam tradisi membuat rekor, Renard pindah ke Afrika Utara, Maroko pada 2016. Pada November 2017, ia membuat Maroko lolos ke Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia. Capaian ini yang pertama sejak 1998.

Deretan rekornya di Benua Hitam tutup buku pada Juli 2019 saat tim Maroko tersingkir dari Piala Afrika 2019.  Langkah taktis ia jalankan dengan mengundurkan diri untuk mengambil pekerjaan menangani Timnas Arab Saudi.

Rentetan capaian Renard menjadi satu sisi unik sebagai pelatih. Bagaimana kemampuannya menangani dari pemain bertransisi ke pelatih. Sebelum mencapai kesuksesan sebagai manajer sepak bola nasional, ia harus menimba ilmu sampai Negeri Tirai Bambu.

Pergi ke Benua Kuning, pria asal Perancis memiliki keinginan menyabet gelar Piala Asia dan lolos Piala Dunia 2022 di Qatar.

Petualangan-petualangannya bersama tim asuhannya barangkali caranya untuk menempatkan hidup seperti diungkapkan.

“Menjadi pelatih adalah sekolah terbaik yang saya miliki untuk menempatkan hidup hari ini ke dalam perspektif kerja keras.  Anda harus melalui beberapa kegagalan dan masa-masa sulit tetapi itu membuat mu lebih kuat”.

 

Referensi: Dailymail, Transfermarkt, The Analysis, These Football Times, News24, Goal, The Africa Report, Pandit Football, Middle Park

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru