Kenapa Klub “Siluman” Mendapat Stigma Buruk di Indonesia?

spot_img

Membeli perusahaan sepak bola sama saja dengan membeli lisensi. Pasalnya, setiap klub yang ingin berlaga di tingkat nasional harus memiliki lisensi yang terverifikasi.

Bagaimanapun lisensi awal sebuah klub bukan datang dari FIFA atau asosiasi konfederasi seperti UEFA, CAF, AFC dan yang lainnya, tapi datang dari federasi di mana klub itu berasal. Baru apabila klub tersebut berkompetisi di taraf internasional, proses verifikasi dilimpahkan ke asosiasi konfederasi.

Di klub-klub Eropa sudah berlimpah contohnya. Sebut saja negara negara seperti Inggris (Manchester City), Jerman (RB Leipzig), Jepang (Yokohama F Marinos) dan Thailand (Muangthong United), yang nyatanya cukup sukses dengan mengandalkan praktik semacam ini.

Sementara, jual-beli lisensi bahkan merger yang dilakukan oleh kebanyakan klub Indonesia sendiri rasanya bukan suatu hal baru di dunia sepak bola dalam negeri. Sebutlah seperti Bhayangkara FC, AHHA PS PATI, RANS Cilegon FC, Bali United, dan masih banyak lagi.

Meski dirasa tabu, praktik semacam ini dirasa sah-sah saja dilakukan, asal tidak menyalahi aturan. Namun, bagi pengamat dan, kalau ada, penikmat sepak bola dalam negeri praktik semacam itu kerap distigma buruk.

Apalagi karena klub-klub nggak jelas sering mendadak muncul di Liga 1 Indonesia. Padahal sebelumnya tak terdengar kiprahnya di kompetisi di bawah Liga 1. Warga +62 acap kali menyebutnya sebagai klub “siluman”.

Apa Itu Klub “Siluman”?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sekarang klub sepak bola Indonesia mudah diperjualbelikan layaknya jajanan di pasar tradisional. Hal itulah yang membuat hadirnya klub “siluman” sulit untuk dicegah.

Padahal FIFA sudah memiliki aturan tentang jual beli lisensi klub yang dituangkan dalam statuta dan regulasi yang mengatur Law of The Game dalam sepak bola. Menilik statuta dan regulasi FIFA artikel 4.4 halaman 20 soal lisensi klub, di situ jelas disebutkan bahwa “A licence may not be transferred” atau jika diterjemahkan menjadi “Lisensi klub tidak bisa dipindahtangankan”

Namun, lisensi yang FIFA bicarakan bisa saja berganti kepemilikan dengan syarat tak menyalahi aturan yang sudah ada. Lisensi klub bisa saja dijual jika klub mengalami kebangkrutan atau dalam keadaan dibubarkan. Namun, klub tak boleh menjual lisensi bila tengah berlaga di sebuah kompetisi resmi.

Di Indonesia sendiri, pengakuisisian sebuah klub oleh Investor seperti layaknya pendirian klub baru. Cara ini pun seperti dimanfaatkan untuk mendapatkan lisensi bermain secara instan di kasta tertinggi liga Indonesia. Dan lahirlah apa yang sering disebut klub “siluman”.

Terlebih, mereka yang telah mengakuisisi kepemilikan klub seenak jidat mengubah identitas secara keseluruhan dari klub lama, seperti nama, warna, homebase, logo, hingga jika diperlukan, sejarahnya juga wajib diubah.

Kita bisa ambil contoh seperti Sriwijaya FC, Bali United, Bhayangkara FC dan Tira Kabo yang kini berganti lagi menjadi Persikabo. Mereka mendapat predikat klub “siluman” oleh para pecinta sepak bola tanah air.

Berbeda Dalam Memilih Jalan

Praktek jual beli klub sejatinya tak hanya di Indonesia, namun jika kita telisik lebih dalam, ada poin tertentu yang membedakan klub-klub “siluman” di luar negeri dengan yang ada di Indonesia. Yup, prosesnya.

Sebagai perbandingan saja, di sepak bola Jerman ada nama RB Leipzig. Leipzig sempat menggemparkan sepak bola Eropa kala berhasil menembus semifinal Liga Champions pada tahun 2020. Pencapaian ini cukup sensasional terlebih Die Roten Bullen baru dua kali tampil di kompetisi level tertinggi Benua Biru.

Namun tak bisa dipungkiri, bahwa klub asal kota Leipzig ini sangatlah dibenci oleh publik Jerman. RB Leipzig dirasa telah mencoreng tradisi sepak bola Jerman, dengan tuduhan hanya ingin menempuh jalur instan menuju kesuksesan.

Di sinilah poin penting yang membedakan klub “siluman” Jerman dengan yang ada di Indonesia. Kendati dituding mau instannya saja, cara yang dilakukan oleh RB Leipzig dirasa lebih relevan dan masih bisa diterima akal sehat daripada apa yang dilakukan klub-klub Indonesia.

Mereka mengakuisisi klub kasta terbawah dan untuk bermain di Bundesliga pun mereka lakukan dengan bertahap. Tentu sangat jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh beberapa klub seperti Bali United, Persikabo dan Bhayangkara FC.

Misalkan saja Bhayangkara FC. Bagi yang tak mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia, pasti akan kebingungan. Ini klub entah dari mana, kok tiba-tiba muncul di Liga 1 yang notabene adalah kompetisi kasta tertinggi di Indonesia.

Jika melihat histori dari Bhayangkara FC, mereka memang tak memulai kompetisi dari divisi paling bawah, tapi langsung ada aja gitu di Liga 1. Ajaibnya, langsung juara pula. Pantas apabila masyarakat menaruh stigma negatif pada klub baru yang hanya mau instan dan tak berproses dari divisi bawah.

Sisi Positif dari Klub “Siluman” Indonesia

Nah, biar imbang, atau minimal tidak diamuk penggemar Bhayangkara FC, sebetulnya label “siluman” tak selamanya berkonotasi buruk pada klub. Ada sisi positif yang bisa diambil dari klub-klub yang telah diakuisisi kepemilikannya oleh para investor berduit itu.

Klub yang telah diakuisisi para investor pastilah mempunyai manajemen yang baik. Karena mereka berlatar belakang seorang pebisnis, jadi jika mereka sampai masuk ke industri sepak bola, mereka pasti mempunyai perencanaan yang baik dalam memaksimalkan potensi klub.

Investor pasti mengatur ulang sistem kerja klub, satu hal yang tak luput dari perhatian adalah keuangan. Karena didukung dengan manajemen yang baik, klub “siluman” pasti memiliki finansial yang kuat. Contohnya saja Bali United.

Mereka adalah salah satu klub “siluman” yang manajemen dan bisnisnya perlu ditiru oleh klub-klub Liga Indonesia lain, khususnya klub-klub perserikatan yang sudah lebih berpengalaman di dunia sepak bola. Klub yang dimiliki oleh Pieter Tanuri tersebut seolah mengajarkan kepada klub lain bagaimana cara yang benar dalam menghadapi Football Industries di era sepak bola modern.

Dilihat dari jerseynya saja sudah berderet nama sponsor, yang menandakan bahwa secara finansial Bali United sudah mendapat banyak pemasukan hanya dari sponsor. Bali United juga sangat memperhatikan aspek pengembangan pemain muda yang mana itu juga jadi perhatian bagi AFC untuk memberikan lisensi level A pada sebuah klub.

Begitulah pembahasan dari klub “siluman”. Klub-klub yang telah berganti kepemilikan ini memang berkembang lebih cepat dari kontestan lain di Liga 1. Tanpa mengesampingkan peran klub-klub yang lebih tua, klub-klub lain sedikit banyak harus mengadaptasi sistem pengelolaan yang dimiliki oleh klub “siluman” Indonesia. Tapi ingat, cuma pengelolaannya saja, bukan mengakali aturannya.

 

Sumber: Bundesliga, Panditfootball, BolaSport

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru