Hati-hati! Banyak Jebolan Eredivisie Bapuk di Liga Inggris

spot_img

Klub Liga Inggris sudah lama menjalin hubungan baik dengan klub-klub Eredivisie soal  urusan transfer pemain guna memperkuat tim. Ya, meskipun sejarah mengatakan bahwa pembelian dari Eredivisie seringkali terbukti memiliki resiko yang cukup tinggi.

Untuk musim ini, Manchester United terbilang jadi tim Inggris yang gencar mendatangkan pemain dari Eredivisie. Hingga ditutupnya jendela transfer, United tercatat sudah mendatangkan tiga pemain jebolan Eredivisie yang diantaranya Tyrell Malacia, Lisandro Martinez, dan yang terbaru Antony.

Sementara pemain-pemain macam Ruud van Nistelrooy dan Luis Suarez menjadi contoh pemain yang mampu menunjukan peningkatan performa signifikan, ada beberapa pemain Eredivisie lain justru kesulitan dan memperpanjang daftar pemain yang gagal setelah memutuskan untuk bermain di sepakbola Inggris. Siapa saja mereka?

Memphis Depay 

Sebagai klub papan atas Eropa, Manchester United juga tak luput dari anggapan bahwa mereka punya kutukan. Yang paling dikenal tentunya adalah kutukan bagi para pemain yang memakai nomor punggung 7. Percaya tidak percaya, Memphis Depay barangkali jadi pemain kesekian yang merasakannya.

Pemain asal Belanda itu jadi inspirator PSV dalam meraih gelar Eredivisie musim 2014/15. Ia bahkan mengakhiri musim sebagai pencetak gol terbanyak dengan torehan 22 gol. Berbekal performa apik, United memutuskan untuk menebus Depay di angka 34 juta euro (Rp504 miliar) awal musim 2015/16.

Klub berharap Depay mampu mengulangi prestasinya bersama PSV. Namun, Depay gagal memenuhi ekspektasi klub dan juga fans. Ia bukanlah Depay yang sama seperti yang ada di PSV, ia bahkan hanya mencetak dua gol di musim pertamanya.

Penunjukan Jose Mourinho sebagai pelatih MU terbukti jadi awal kehancuran Depay di Manchester. Ia tak menjadi pilihan utama Mou dan akhirnya dilepas ke Lyon pada pertengahan musim 2016/17. Menariknya, ketika bersama Lyon, Depay justru kembali menemukan sentuhan terbaiknya. Ia bahkan hampir mencetak lebih dari 20 gol per musim di semua kompetisi.

Steven Bergwijn 

Bergwijn didatangkan Spurs dari PSV Eindhoven dengan kesepakatan 30 juta euro atau setara Rp445 miliar pada Januari 2020. Tapi transfer ini tak berjalan baik bagi kedua belah pihak. Bergwijn hanya bagus di awal, setelah itu ia tak mampu mempertahankan performanya.

Musim 2021/2022, ia memainkan 25 pertandingan di liga. Tapi hampir semuanya ia mainkan dari bangku cadangan. Bergwijn sangat buruk dalam urusan mencetak gol. Dari 25 pertandingan, ia hanya mencetak 3 gol saja. Jadi tak heran apabila ia kalah saing dengan penyerang Spurs lainnya, macam Son Heung-min atau Dejan Kulusevski yang kala itu baru dipinjam dari Juventus.

Musim panas ini, Bergwijn dikembalikan ke Belanda bersama Ajax. Entah apa yang membuat Ajax mau membayar 1 juta euro lebih mahal dari apa yang dibayarkan Spurs pada PSV. Namun perjudian itu terbukti berhasil bagi Ajax, sejauh ini Bergwijn telah mencetak 4 gol dari 4 pertandingan Eredivisie.

Vincent Janssen 

Nama satu ini pasti tidak asing di telinga pendukung Tottenham. Jauh sebelum Steven Bergwijn, Vincent Janssen jadi pembelian Mauricio Pochettino pada bursa transfer musim panas 2016. Ia ditebus dari AZ Alkmaar dengan biaya 17 juta pound (Rp308 miliar).

Vincent Janssen didatangkan dengan ekspektasi tinggi. Ia merupakan top skor Eredivisie 2015/2016 dengan catatan 27 gol. Gelar pemain muda terbaik Liga Belanda juga sempat didapatkannya pada saat itu.

Sayangnya, performa tersebut tidak ia bawa ke Inggris. Selama membela The Lilywhites, Pemain asal Belanda ini hanya mendulang 2 gol dan 2 assist di Premier League. Ia bahkan sempat dipinjamkan ke Fenerbahce pada 2017/2018 dan akhirnya didepak keluar setahun kemudian.

Steven Berghuis

Pada tahun 2015, Steven Berghuis didatangkan Watford dari klub Eredivisie, AZ Alkmaar. Kesepakatan itu menghabiskan dana sekitar 6,5 juta euro atau setara Rp96 miliar. Berghuis yang masih berusia 23 tahun dianggap sebagai salah satu bakat Belanda yang cukup menjanjikan kala itu. Namun, selama bermain di Watford ia tak mampu memukau publik Inggris.

Berghuis tak banyak mendapat kesempatan di musim pertamanya bersama Watford. Ia hanya mengemas 9 penampilan tanpa gol, sebelum akhirnya dipinjamkan ke Feyenoord. Menariknya, Feyenoord malah kesemsem dengan performa Berghuis, ia mencetak 7 gol dan 6 assist selama masa peminjaman.

Akhirnya Feyenoord menebus sang pemain dengan harga yang sama dengan apa yang dikeluarkan Hornets untuk Berghuis. Bersama Feyenoord, Berghuis justru kian matang dan menjadi andalan Feyenoord di setiap pertandingan. 

Afonso Alves

Afonso Alves pernah menjadi salah satu striker mematikan di Eredivisie. Tepatnya pada musim 2006/2007, ketika pemain asal Brasil itu menjadi top skor dengan jumlah gol yang luar biasa. Bukan sepuluh dua puluh, melainkan 34 gol.

Setahun kemudian, Middlesbrough menebus Alves dari Heerenveen dengan mahar 12 juta pound atau setara Rp292 miliar. Ia bergabung dengan keadaan baru mencetak 11 gol dari 8 pertandingan. Tak heran The Boro berani memecahkan rekor transfer klub untuk pemain Brazil itu.

Selama di Premier League, Alves awalnya terlihat meyakinkan dengan mencetak dua gol ke gawang Manchester United dan hattrick saat melawan City. Namun, ia gagal mempertahankan performanya dan hanya mencetak 10 gol selama 2 musim. Berkat menurunnya performa Alves, ia gagal membantu Boro menghindari degradasi musim 2008/2009.

Mateja Kezman 

Kedatangan Jose Mourinho sebagai manajer Chelsea pada tahun 2004, membuat Roman Abramovich harus mengeluarkan uang jutaan euro untuk belanja pemain demi menantang klub-klub papan atas Liga Inggris. 

Di antara pembelian Mourinho itu, ada nama Mateja Kezman yang didatangkan dari PSV Eindhoven. Ia tiba di London berbekal CV mentereng. Sebagai seorang penyerang, ia berhasil mencetak 105 gol hanya dalam 122 penampilan liga untuk PSV Eindhoven. Ia juga pernah tiga kali menjadi top skor Liga Belanda dan pemain terbaik tahun 2003.

Pada 2004/2005, Kezman dibeli Chelsea untuk memulai era Chelsea yang baru bersama Jose Mourinho. Tapi, alih-alih menjadi lumbung gol Chelsea, penyerang asal Serbia ini cuma bisa mencetak empat gol. Ia pun hanya bertahan semusim sebelum dilego ke Atletico Madrid. 

Hakim Ziyech 

Ziyech digaet Chelsea dari Ajax dengan biaya transfer 40 juta euro (Rp594 miliar). Namun, datang dengan membawa cedera ternyata berpengaruh besar terhadap perjalanan karir pemain berusia 29 tahun tersebut. Terlebih ia harus bersaing dengan pemain-pemain depan lain macam Kai Havertz, Timo Werner, hingga Mason Mount kala itu.

Pergantian kursi kepelatihan juga jadi salah satu faktor gagalnya Ziyech di Chelsea. Setelah Thomas Tuchel datang, Ziyech tak selalu menjadi pilihan utama. Beda saat masih dipegang Lampard, ia memegang peran penting sebagai kreator serangan The Blues.

Sebetulnya performanya tidak buruk-buruk amat, ini hanya soal strategi yang diusung Tuchel. Di bawah Tuchel, skema Chelsea berubah menjadi 3-4-2-1, di mana Ziyech ditempatkan sebagai salah satu pemain di belakang penyerang. 

Di skema tersebut, Ziyech tak mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya, karena posisi itu memang bukan posisi asli Ziyech. Jadi, Tuchel lebih senang memasang Havertz atau Mount yang memiliki kecepatan dan naluri mencetak gol tinggi di posisi tersebut.

https://youtu.be/Hnn5Xje62x8

Sumber Referensi: Footballfaithful, GMS, Squawka, Sqaf, Transfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru