Liga Indonesia memberi kejutan setelah berbulan-bulan terbengkalai. Kompetisi sepak bola di tanah air pun bergulir, dan bukan hanya itu kejutannya. Selain perubahan sponsor dari Shopee ke BRI, Liga 1 Indonesia juga kedatangan tim-tim debutan: Persik Kediri, Persita Tangerang, dan Persiraja Banda Aceh. Persita dan Persik, mungkin sudah akrab di benak fans sepak bola tanah air, tapi bagaimana dengan Persiraja?
Boleh jadi masih sedikit yang tahu klub asal ujung barat Indonesia itu. Namun tahu atau tidak, bukanlah sebuah persoalan yang mesti dibawa ke persidangan. Yang pasti, kehadiran Persiraja Banda Aceh di BRI Liga 1 Indonesia sangat membuat kita yakin kalau Liga 1 mencerminkan betapa luasnya Indonesia.
Lengkap sudah peserta Liga 1. Masuknya klub berjuluk Laskar Rencong itu membuat Liga 1 Indonesia musim ini paripurna. Klubnya lengkap dari Sabang sampai Merauke. Akan tetapi, sejauh apa sebenarnya Persiraja bisa melangkah di Liga BRI? Mungkinkah Laskar Rencong bakal sesuai julukannya?
Today’s map comes from Indonesia, who’s largest distance between two teams is a massive 4267.5 miles…
Here are the teams in Liga 1 & 2, the top two flights in Indonesian football 🇮🇩 pic.twitter.com/7n0Jq4JZL2
— Danny Corcoran (@calcio_danny) August 25, 2021
Daftar Isi
Sejarah Persiraja Banda Aceh
Persiraja Banda Aceh sendiri pertama kali diperkenalkan sebagai klub sepak bola pada 28 Juli 1957. Kala itu Persiraja lahir di Kutaraja yang kelak namanya berubah menjadi Kota Banda Aceh. Banda Aceh sendiri merupakan ibukota Provinsi Aceh.
Dari tanah rencong, butuh waktu sekitar 23 tahun untuk Persiraja membuktikan kalau kelahirannya tak sia-sia. Tahun 1980, Persiraja membanggakan masyarakat Aceh dengan menyabet juara perserikatan. Saat itu Laskar Rencong mempermalukan Persipura Jayapura 3-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dua gol Persiraja berasal dari kaki Bustamam, dan satu gol sisanya dicetak Rustam Syafari.
Lepas 1980-an, catatan mengenai Persiraja seolah benar-benar lepas. Baru pada musim 2008/2009 Persiraja kembali terdengar kabarnya. Musim itu Persiraja masuk Divisi Utama Liga Indonesia. Walaupun prestasinya tak cukup mentereng, paling tidak Persiraja sudah kelihatan bagus dengan permainan keras dan taktis. Terlebih kandang Persiraja, Stadion Harapan Bangsa dulunya terkenal angker.
Keangkeran itu lantaran ultras Persiraja, SKULL (Suporter Kutaraja untuk Lantak Laju) selalu militan mendukung klub kebanggaannya itu. Jadi, wajar saja kendati namanya Harapan Bangsa, stadion ini acap kali justru menghancurkan harapan tim-tim yang menghadapi Laskar Rencong. Namun kita juga tak perlu berandai-andai kalau Ulsan Hyundai bakal kalah dengan Persiraja jika bermain di Stadion Harapan Bangsa.
(1) @Persiraja memiliki Suporter yang senantiasa mendukung tim asal Banda Aceh yang bernama Supporter Kutaraja Untuk Lantak Laju (SKULL), pic.twitter.com/OxObvEoNiu
— BRI Liga 1 (@Liga1Match) November 9, 2016
Musim 2010/11 adalah titik balik kembalinya Persiraja, sekaligus persepakbolaan Aceh usai konflik Aceh dan bencana tsunami beberapa tahun sebelumnya. Kala itu Persiraja yang bermain di Divisi Utama Liga Indonesia sukses menjadi runner-up. Persiraja hanya kalah 1-0 dari klub asal Yogyakarta, Persiba Bantul.
Berkat statusnya sebagai runner-up itu, Persiraja berhak naik ke kasta tertinggi di Indonesia. Pada musim 2011/12, Persiraja tampil di ajang Indonesia Super League (ISL) untuk pertama kalinya. Namun di pertengahan musim, muncul kisruh di tubuh PSSI. Kemunculan dualisme di tubuh PSSI sampai-sampai mengubah nama kompetisi dari ISL menjadi IPL (Indonesia Premier League).
Sayangnya setelah musim itu, kabar Persiraja seolah tenggelam. Menurut beberapa informasi, Persiraja terdegradasi ke Liga 2.
Kembalinya Persiraja
Setelah penantian selama kurang lebih 10 tahun, Persiraja akhirnya tampil lagi di kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Indonesia. Perjuangan mereka menembus Liga 1 juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Persiraja tampil trengginas di Liga 2 tahun 2019. Laskar Rencong nyaris tak pernah kalah dalam setiap pertandingan.
Praktis hanya Persik Kediri yang sukses menghentikan langkah Persiraja untuk menjuarai Liga 2 tahun 2019. Persik menang 5-4 atas Persiraja lewat adu penalti di laga semifinal. Di perebutan tempat ketiga, Persiraja berhasil memukul Sriwijaya 1-0 dan berhak promosi ke Liga 1.
Good Morning 🌥🌥
Awali hari yang baru dengan doa, semoga setiap pagi akan selalu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Lantak Laju! 🧡👊🏽#PERSIRAJA 👑 pic.twitter.com/urBI0wrcLE
— Persiraja Official (@persirajaupdate) August 25, 2021
Sejatinya Liga 1 mulai pada 2020, tapi pandemi membekukan kompetisi sepak bola di tanah air. Persiraja pun belum bisa bermain. Pelatih Persiraja, Hendri Susilo terpaksa tak melatih sejenak, dan mungkin memilih melatih klub di gim Football Manager, sampai Piala Menpora 2021 pun bergulir.
Sebagai klub promosi Liga 1, Persiraja ambil bagian di Piala Menpora 2021. Persiraja tergabung di Grup D bersama jawara Liga 1 Bali United; Persib Bandung; dan Persita Tangerang. Sayangnya belum juga masuk ke fase gugur, pasukan Hendri Susilo harus gugur terlebih dahulu. Padahal sebelumnya menghajar Persita 3-1 di laga pembuka Grup D.
Hasrat Persiraja di Liga 1
Walaupun berstatus tim promosi alias debutan di Liga 1, Persiraja tentu punya ambisi yang besar. Presiden Persiraja cum politisi, Nazaruddin Dek Gam yakin timnya bisa finis di posisi 5 besar Liga BRI. Untuk itu, Dek Gam siap mendatangkan pemain-pemain top ke Persiraja.
Namun, Sekretaris Umum Persiraja Banda Aceh, Rahmat Djaelani tak seoptimis atasannya. Rahmat cukup menargetkan 10 besar bagi Persiraja. Target 10 besar mungkin lebih realistis, mengingat Persiraja nyaris selalu keok jika berhadapan dengan klub-klub besar di Liga BRI.
Hasrat Persiraja itu bersamaan dengan hasrat orang-orang yang ingin Persiraja nasibnya seperti klub-klub promosi Liga 1 lainnya. Misalnya, PSMS Medan yang promosi di musim 2018, lalu terdegradasi pada musim berikutnya. Lalu ada Semen Padang yang pede lolos pada musim 2019 tapi terperosok di musim 2020 ini.
Pesimisme yang memayungi langkah Persiraja ke Liga BRI tak lantas membuat Hendri Susilo diam saja. Meski ditinggal beberapa pemain penting, Persiraja langsung mendapatkan gantinya. Pemain seperti Muhammad Roby, Redi Rusmawan, Vanja Markovic, sampai Shori Murata masuk memperkuat Persiraja.
Prediksi
Perpaduan pemain asing dan pemain lokal semestinya akan membantu Hendri Susilo dalam menyusun taktik. Setidaknya ada banyak opsi yang bisa dilakukan. Hendri mungkin akan memasang taktik 4-4-2 atau 4-3-3 dengan Paulo Henrique, Supriyadi, dan Isa di depan. Sedangkan Markovic ditaruh di posisi gelandang bertahan bersama Muklis Nakata, Ramadhan, atau Shori Murata.
Inilah daftar pemain Persiraja dan nomor punggung laskar rencong untuk berlaga di BRI Liga 1 2021/2022. Lantak Laju‼️#PERSIRAJA 👑#LASKARRENCONG ⚔️ pic.twitter.com/FRWhYo3n9Z
— Persiraja Official (@persirajaupdate) August 27, 2021
Sementara di posisi bertahan masih ada banyak pilihan. Hendri mungkin akan memasukkan Muhammad Rifaldi, Roby, Leo Lelis, dan Hamdan Zamzani. Kalau kiper, Fakhrurrazi Quba tentu bisa menjadi pilihan.
Namun, Hendri mungkin akan kerepotan, pemain asing yang ada boleh jadi susah beradaptasi. Apalagi dari keempat pemain asing Persiraja, hanya Shori Murata yang pernah bermain di Asia Tenggara, tepatnya Yangon United. Perlu bagi Hendri untuk meningkatan komunikasi antar pemain.
Kedatangan Persiraja ke sirkel Liga 1 Indonesia disambut dengan cara kurang menggembirakan. Persiraja tunduk di hadapan Bhayangkara FC dengan skor 1-2. Lewat pertandingan ketat itu kita tahu akan dua hal. Pertama, Persiraja mampu meladeni dengan sekuat tenaga klub yang dihiasi pemain bintang tersebut. Kedua, Bhayangkara FC ingin menunjukkan kalau Persiraja tempatnya bukan di Liga 1.
Sumber referensi: idntimes.com, bola.com, bolaskor.com, persiraja.id, bolasport.com


