Hal-hal yang Bikin Piala Afrika Tak Semenarik Euro dan Copa America

spot_img

Piala Afrika akhirnya sungguh-sungguh terlaksana. Meskipun di tengah permasalahan yang menyelimuti. Namun, perhelatan akbar konfederasi sepak bola di Afrika ini sebenarnya tidak begitu ramai dibicarakan. Walaupun sebetulnya banyak bintang kenamaan yang turut merumput di Piala Afrika.

Tetap saja, Piala Afrika seolah tidak cukup menarik perhatian banyak penggemar sepak bola, kecuali masyarakat di Afrika itu sendiri. Hal itu tak jauh berbeda dari Piala AFC, yang hanya ramai di kalangan sendiri, bahkan cenderung sepi. Nggak ada ramai-ramai pemberitaan, tiba-tiba sudah diumumkan siapa juara Piala Asia.

Akan tetapi, tentu membandingkan Afrika dengan Asia itu ibarat membandingkan Nicholas Saputra dengan Sony Wakwaw. Afrika dan Asia jelas berbeda. Benua Afrika jauh lebih banyak melahirkan pemain yang merumput di kompetisi top. Ya, meskipun nggak banyak-banyak banget.

Sayangnya, hal itu masih belum cukup membuat Piala Afrika jadi menarik. Popularitas kompetisi antarnegara di Afrika ini masih jauh dari Copa America, apalagi Piala Eropa atau Euro. Lihat saja, tidak banyak industri penyiaran yang menyiarkan AFCON tahun ini.

Tak hanya itu, ketika dicek di Google Trends pun, hal-hal yang berkaitan dengan AFCON tidak nyelip di antara puluhan trending. Bahkan pada 9-10 Januari 2022, tak ada pencarian soal AFCON di mesin pencari, dan justru kalah dengan rumor Mesut Ozil yang bakal pindah ke RANS Cilegon FC.

Di media sosial apalagi. Hanya akun pandit-pandit bola saja yang update mengenai Piala Afrika. Itu pun tidak begitu masif jika dibandingkan Euro dan Copa America. Jadi, apa yang membuat Piala Afrika tidak semenarik Euro dan Copa America?

Afrika Bukan Basis Penggemar Sepak bola

Percaya atau tidak, tidak ada satu pun negara di Benua Afrika yang menjadi basis penggemar sepak bola. Dari 20 negara yang ditulis sebuah situ olahraga kenamaan, Bleacherreport, tidak ada satu pun perwakilan negara di Afrika yang menjadi negara dengan penggemar sepak bola terbanyak. Yang ada justru bukan dari Benua Afrika, tapi Benua Asia.

Jepang dan China justru menjadi dua negara yang masuk list itu sebagai negara dengan penggemar sepak bola terbanyak. Sementara, Benua Eropa menguasai dengan menaruh negara seperti Polandia, Portugal, Prancis, Jerman, Belanda, sampai Skotlandia. Benua Amerika, entah CONMEBOL maupun Concacaf justru masuk.

Argentina, Brazil, dan Uruguay masuk list tersebut. Bukan hanya itu, United States atau Amerika Serikat juga menjadi salah satu basis penggemar sepak bola. Hal itu tampak nyata, ketika masyarakat di Afrika sendiri bahkan kesulitan untuk menonton Piala Afrika di televisi.

Sampai tahun 2012, tidak semua warga di Afrika bisa menonton Piala Afrika di televisi. Hal itu bukan karena banyak negara di Afrika tertinggal dan tidak punya televisi, tapi karena harga hak siar yang terlalu mahal.

Pada Piala Afrika 2012, misalnya, seluruh penduduk Zimbabwe yang mengandalkan televisi nasional tidak bisa menonton gelaran tersebut. Harga hak siar yang kala itu mencapai 600 ribu dollar atau Rp 8,6 miliar tak bisa dibeli oleh industri televisi di sana.

Hal itu membuat beberapa industri penyiaran di Afrika meradang. Beberapa yang tidak mendapat hak siar, akhirnya melakukan peretasan hanya untuk menyiarkan Piala Afrika di negaranya masing-masing.

Itulah mungkin yang membuat Piala Afrika jadi tak menarik. Pemberitaan soal AFCON jadi kurang masif, karena negara-negara di Afrika tidak menjadi basis penggemar olahraga sepak bola.

Minim Pemain Bintang

Memang tak sedikit pemain bintang di Benua Afrika. Tapi jumlah itu masih minim, dan bahkan tidak semua negara punya pemain bintang. Kita bisa menyebut Mohamed Salah di Timnas Mesir, tapi siapa yang mengenal William Thole di skuad Malawi?

Atau, kita akan mudah saja menyebut Riyad Mahrez di Aljazair, Sadio Mane dan Edouard Mendy di Senegal, Achraf Hakimi di Timnas Maroko, sampai Thomas Partey di Timnas Ghana. Tapi kita pasti akan kesusahan menyebut Rafidine Abdullah di skuad Komoro atau Thabani Kamusoko di pasukan Zimbabwe.

Hal itu berbeda dengan Euro yang tentu saja bertabur bintang. Tanpa melihat daftar skuad masing-masing negara pun, bukan perkara sulit untuk menyebutkan pemain bintang di setiap negara di Eropa. Dari negara besar sampai negara sempalan di Eropa, semua ada pemain bintangnya.

Begitu pula dengan Copa America. Hampir setiap negara punya pemain bintang. Brazil dan Argentina misalnya, adalah dua negara yang pemain bintangnya tak terhitung. Colombia ada James Rodriguez, Luiz Diaz, dan masih banyak lagi. Uruguay juga masih punya Muslera, Godin, Suarez, sampai Edinson Cavani.

Timnas seperti Peru dan Chile juga penuh dengan pemain bintang. Peru punya Gianluca Lapadula sampai Paolo Guerrero. Di Chile banyak lagi, kita bisa menyebut seperti Alexis Sanchez, Claudio Bravo, sampai Arturo Vidal. Ini kalau disebutkan semua bisa panjang banget.

Yang jelas, pemain bintang di sebuah ajang akbar sepak bola itu bisa menarik perhatian banyak orang. Sedangkan di Benua Afrika pemain bintang ada, sih, tapi tidak banyak dan itu tidak cukup untuk menarik perhatian penggemar sepak bola di dunia.

Persepsi Media

Selain dua hal sebelumnya, persepsi media tentang Afrika juga mempengaruhi menarik tidaknya Piala Afrika. Piala Afrika atau AFCON sering dipandang sebelah mata oleh media daripada Euro dan Copa America. Hal itu karena sepak bola di Afrika sering dianggap tidak memenuhi standar, atau dengan kata lain tertinggal.

Bintang Liverpool yang juga memperkuat Timnas Senegal, Sadio Mane tidak sepakat pada persepsi media yang semacam itu. Mane cukup geram karena Benua Afrika, oleh media dianggap ketinggalan dalam urusan sepak bola.

Padahal sosok seperti dirinyalah sudah cukup untuk membuktikan, kalau Benua Afrika nggak ketinggalan-ketinggalan amat soal sepak bola. Sebagai pesepakbola dari Afrika, Mane tentu saja mendesak agar media menghentikan persepsi semacam itu. Bahwa media tidak boleh memandang sebelah mata pada AFCON.

Dilansir sportskeeda, Mane mendesak agar media menganggap AFCON sama seperti Euro dan Copa America.

“Saya pikir tidak normal jika AFCON tidak dianggap sama seperti Copa America atau Euro. Ini adalah tangisan hati yang harus kita semua lakukan. Ini sangat memalukan. Dengan segala hormat, itu harus dihentikan,” kata Mane.

Dari pantauan Starting Eleven, sebetulnya AFCON, khususnya tahun ini, persaingannya cukup sengit. Di pertandingan pertama saja, Kamerun, Guinea, Tanjung Verde, Maroko, Senegal, sampai Gabon hanya mampu menang tipis dari lawannya masing-masing.

Soal persaingan di Piala Afrika ini memang cukup menarik. Tetapi karena hal-hal tadi membuat AFCON jadi seperti kurang menarik dan cenderung sepi.

Sumber referensi: sportskeeda.com, bleacherreport.com, detik.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru