Giovanni Sartori: Otak di Balik Kelolosan Bologna ke UCL

spot_img

Sebuah pesta perayaan meriah digelar di pusat kota Bologna. Sorak sorai pendukung, smoke bomb, dan kembang api terus mengiringi parade bus atap terbuka yang membawa staf pelatih, ofisial, dan para pemain Bologna FC. Ketika bus yang berangkat dari Stadio Renato Dall’Ara itu mendarat di Piazza Maggiore, skuad Bologna langsung disambut puluhan ribu pendukung setianya yang larut dalam suka cita.

Pesta perayaan yang terbilang amat meriah tersebut bukan untuk merayakan gelar juara, melainkan hanya untuk merayakan keberhasilan Bologna lolos ke Liga Champions musim depan. Klub berjuluk “I Rossoblu” itu memastikan jatah 1 tiket ke UCL musim depan usai menang 2-0 atas tuan rumah Napoli di giornata 36.

Alhasil, untuk kali pertama dalam 60 tahun, Bologna lolos lagi Liga Champions. Terakhir kali “I Rossoblu” mentas di kompetisi terakbar benua Eropa tersebut terjadi di musim 1964/1965 saat masih bernama European Cup.

Semesta kemudian terpusat pada Thiago Motta. Hanya dengan materi pemain semacam Joshua Zirkzee, Lewis Ferguson, Riccardo Orsolini, Giovanni Fabbian, Riccardo Calafiori, Łukasz Skorupski, Stefan Posch, Alexis Saelemaekers, hingga Sam Beukema, Motta yang masa bodoh dengan pakem-pakem formasi ini berhasil menyulap Bologna dari tim medioker menjadi tim kuda hitam.

Apa yang diraih Bologna musim ini bukanlah sebuah keberuntungan. Bukan pula semata-mata karena polesan taktik Thiago Motta. Namun, keberhasilan Bologna musim ini juga buah dari kejeniusan sosok di balik layar mereka.

Sosok ini jarang disebut dalam setiap kemenangan yang diraih Bologna musim ini. Di luar Italia, sosok ini juga tak banyak diapresiasi ketika Bologna memastikan diri tampil di UCL musim depan. Padahal, sosok ini adalah otak di balik semuanya.

Tanpa dia, Thiago Motta tak akan duduk di kursi pelatih “I Rossoblu”. Tanpa dia, skuad Bologna musim ini juga tak akan pernah ada. Dialah yang membangun pondasi tim hingga akhirnya kini berbuah manis. Sosok yang dimaksud tersebut adalah Giovanni Sartori.

Mengantar Chievo dari Serie C hingga UEFA Cup

Nama Giovanni Sartori pasti asing di telinga football lovers. Maklum saja, dia bukanlah figur yang kerap disorot media.

Mengawali karier sepak bola di akademi AC Milan, Sartori hanya menjadi penghangat bangku cadangan Milan selama musim 1974 hingga 1979 dan lebih banyak menghabiskan kontraknya sebagai pemain pinjaman di klub-klub Serie C.

Setelah hengkang dari San Siro, Sartori yang berposisi sebagai striker kemudian membela tim-tim seperti Sampdoria, Cavese, Arezzo, Ternana, dan menjadi legend di Chievo Verona hingga pensiun pada 1989.

Setelah pensiun, Sartori langsung terjun ke dunia kepelatihan dengan menjadi asisten pelatih Chievo hingga akhir musim 1991. Pada tahun 1992, presiden Chievo Verona, Luca Campedelli mempromosikan Giovanni Sartori menjadi direktur olahraga. Tak seperti kariernya sebagai pemain dan asisten pelatih yang biasa-biasa saja, Sartori menjalani kariernya di balik layar dengan sangat impresif.

Ternyata, Sartori punya indera penciuman tajam dalam mencium bakat pemain. Dan, meski dengan dana terbatas yang dimiliki Chievo, Sartori sukses menghadirkan banyak transfer jitu.

Bernardo Corradi, Bostjan Cesar, Massimo Marazzina, Erjon Bogdani, Valter Birsa, Perparim Hatemaj, hingga Sergio Pellissier adalah beberapa nama yang pernah Sartori rekrut di Chievo. Sartori pula yang dulu mengorbitkan Nicola Legrottaglie, Amauri Carvalho, Andrea Barzagli, dan Francesco Acerbi di Chievo.

Sedikit yang tahu, Sartori dulu juga nyaris mendaratkan Didier Drogba ke Chievo. Sayang, dana klub yang minim jadi hambatannya.

Dampak yang diberikan Giovanni Sartori kepada Chievo tidaklah instan. Namun, pelan tapi pasti, tangan dingin Sartori berhasil membawa Chievo Verona ke puncak kejayaannya. Sartori jadi bagian integral dari kesuksesan Chievo promosi ke Serie B di musim 1994 hingga akhirnya menembus Serie A untuk kali pertama dalam sejarah pada musim 2001.

Fans lawas Serie A pasti kenal dengan sepak terjang “I Mussi Volanti” alias “Si Keledai Terbang” di era 2000an. Bersama dengan pelatih Luigi Delneri, Giovanni Sartori jadi aktor intelektual di balik terjadinya “Chievo Miracle”. Finish di posisi kelima di musim debutnya di Serie A, “Keledai Terbang” berhasil menembus kompetisi UEFA Cup.

Chievo kembali lolos ke UEFA Cup di musim 2006 saat mereka mengakhiri Serie A di peringkat 7. Namun, karena skandal “calciopoli” yang melibatkan banyak klub besar, “I Mussi Volanti” mendapat berkah untuk mewakili Serie A di kualifikasi Liga Champions.

Promosi ke Serie A, serta lolos ke UEFA Cup dan Liga Champions jadi pencapaian terbaik Sartori bersama Chievo. Pada akhir musim 2014, setelah kurang lebih 22 tahun mengabdi, Giovanni Sartori resign dari jabatannya di Chievo Verona.

Membangun Pondasi Atalanta Hari Ini

Tak lama setelah itu, pada awal Agustus 2014, Sartori direkrut Atalanta menjadi direktur teknik. Serupa dengan Chievo, Atalanta juga merasakan dampak magis dari tangan dingin Sartori. Berbagai transfer jitu sukses ia hadirkan.

Misalnya saja Josip Ilicic. Saat itu, Ilicic dianggap sebagai penyerang nanggung yang dinilai sudah tidak bisa berkembang. Lalu ada pemain muda semacam Matteo Pessina dan Mario Pasalic yang terbuang dari klub besar.

Selain mereka, para pemain semacam Franck Kessie, Rafael Toloi, Marten de Roon, Gianluca Mancini, Hans Hateboer, Timothy Castagne, Jose Luis Palomino, Robin Gosens, Dejan Kulusevski, hingga Teun Koopmeiners adalah beberapa rekrutan tidak terkenal yang didatangkan Sartori ke Gewiss Stadium.

Dampak yang dihadirkan Sartori sekali lagi tidaklah instan. Saat ia datang ke Bergamo, La Dea hanyalah tim medioker yang inkonsisten dan berulang kali terancam degradasi. Sartori harus lebih dulu mengambil keputusan pahit untuk memecat Stefano Colantuono dan Edoardo Reja sebelum akhirnya dengan berani menunjuk Gian Piero Gasperini di musim panas 2016.

Gasperini kemudian mengintegrasikan rekrutan jitu Sartori dengan stok pemain berbakat yang dimiliki akademi La Dea. Hasilnya, sungguh luar biasa. Atalanta yang tadinya hanyalah klub papan tengah bertranformasi menjadi klub papan atas yang cukup konsisten.

Atalanta kemudian mencetak sejarah dengan lolos ke UCL di musim 2019/2020. Tak hanya sekali, La Dea mampu melakukannya sebanyak 3 kali beruntun.

Prestasi tersebut jadi kenangan indah Giovanni Sartori bersama Atalanta. Atalanta yang kita lihat hari ini tak bisa dilepaskan dari jasa Sartori. Di akhir musim 2022, hubungan Sartori dengan Gasperini diberitakan memburuk. Mantan direktur olahraga Chievo tersebut akhirnya hengkang. Dan, pelabuhan berikutnya adalah Bologna.

Sosok Intelektual di Balik Sukses Bologna

Seperti yang sudah kami singgung di awal. Giovanni Sartori adalah figur yang membangun pondasi tim Bologna saat ini. Dan, seperti yang sudah-sudah, Sartori kembali mendatangkan banyak rekrutan yang bisa dibilang “out of the box”.

Siapa yang kepikiran untuk mendatangkan pemain Skotlandia, Lewis Ferguson dari Aberdeen, Dan Ndoye dari Basel, atau Sam Beukema dari AZ Alkmaar? Selain merekrut pemain di luar radar, Sartori juga berhasil menyelamatkan karier pemain muda semacam Joshua Zirkzee dan Riccardo Calafiori.

Zirkzee datang di musim panas 2022 dengan mahar €8,5 juta. Saat itu, ia bisa dibilang terbuang dari Bayern Munchen. Kini, dengan performa impresif yang ia tampilkan, Zirkzee yang diminati banyak klub besar telah dihargai sebesar €40 juta.

Sementara itu, Calafiori yang dicampakkan Roma didatangkan di musim panas tahun lalu dengan harga €4 juta dari FC Basel. Kini, bek muda Italia tersebut telah ditaksir memiliki harga jual hingga €25 juta.

Insting Sartori memang tajam. Manajer kelahiran 31 Maret 1957 tersebut adalah antitesis dari metode moneyball, tipikal manajer kuno yang anti-algoritma dan lebih suka menilai pemain secara langsung. Bahkan, ia diketahui tak punya WhatsApp.

Sartori bukannya tak percaya. Ia tetap memakai analisis data. Namun, mata yang selalu mengambil keputusan akhir.

“Saya tidak suka menonton para pemain melalui video karena Anda tidak dapat melihat banyak hal. Sebagai contoh, jika Anda menyaksikan seorang pemain bertahan secara langsung, Anda dapat melihat semua yang dilakukannya, bahkan ketika tidak menguasai bola. Anda tidak dapat melihat hal ini di TV – sebelum Covid, saya tidak pernah menonton satu pun video.”

Seperti yang kita tahu, Bologna hampir di setiap musimnya selalu menjual pemainnya. Banyak dari rekrutan Sartori yang telah menghasilkan pundi-pundi uang. Namun, berkat mata dan insting tajamnya, para pemain yang terjual bisa langsung tergantikan dengan rekrutan anyar yang tak kalah bagusnya.

Musim depan, PR lama tersebut juga sudah menantinya. Selain beberapa pemain seperti Zirkzee atau Calafiori, Bologna juga dipastikan ditinggal Thiago Motta. Meski terlihat berat, itu bukanlah hal baru bagi Sartori.

Sartori sudah pernah memetik sukses ketika menunjuk Delneri, Gasperini, hingga Thiago Motta. Bisa jadi, di musim depan, kita akan kembali menyaksikan pelatih underrrated yang lahir dari keputusan magis Giovanni Sartori.

Dari perjalanan kariernya sejauh ini. Giovanni Sartori layak disebut sebagai salah satu direktur olahraga terhebat dalam sejarah sepak bola Italia, atau bahkan mungkin dunia. Sebab, di manapun Sartori berpijak, ia selalu sukses menghadirkan keajaiban dan mengubah sejarah klub yang ia tangani.
***
Referensi: La Milano, Football Italia, il fatto quotidiano, Football Italia, Fanpage.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru