Sempat hilang dari riuhnya ingar-bingar sepak bola Eropa, klub ini mulai ramai diperbincangkan lagi akhir-akhir ini. Malaga yang sedang berjuang untuk kembali ke kasta tertinggi Spanyol diisukan akan dijual oleh pemiliknya saat ini. Sejauh ini sudah ada dua pengusaha tajir dengan duit tak berseri yang menyatakan hajatnya untuk jadi pembeli potensial.
Hal ini tentu membuat publik sepak bola bertanya-tanya, kok bisa paras Malaga masih saja begitu menggoda dan punya daya tarik memikat bagi para orang kaya untuk meminangnya? Padahal seperti yang kita tahu, Los Boquerones hampir saja jatuh dalam putusan pailit dan sudah lumayan lama absen dari pagelaran La Liga.
Lalu, siapa saja dua calon pembeli terdepan yang siap rogoh kocek demi mengakuisisi Malaga jadi harta milik mereka? dan Daya tarik macam apa yang membuat Malaga masih saja laku dijual? Mari kita ulas.
Daftar Isi
Si Ikan Teri yang Jatuh Bangun
Pernah ada masa-masa indah penuh bahagia bagi Malaga ketika masih menjadi klub yang dipandang sebagai pengacau kemapanan penghuni papan atas La Liga. Kita mundur ke medio November 2010 saat manajemen Malaga mendatangkan sosok Manuel Pellegrini sebagai entrenador. Pria asal Chile berjuluk “The Engineer” itu dipilih sebagai juru selamat usai menjalani musim yang amburadul dengan pelatih sebelumnya.
Hasilnya, Pellegrini membawa Si Ikan Teri menjadi klub yang pantang dipandang remeh. Dengan sokongan finansial yang melimpah untuk belanja pemain, Pellegrini datangkan banyak talenta hebat hingga nama tenar, macam Jeremy Toulalan, Isco Alarcon, Nacho Monreal, Santi Cazorla, hingga Ruud Van Nistelrooy. Malaga pun menjelma jadi kesebelasan yang underrated hingga torehkan tinta emas lolos ke perempat final Liga Champions 2012/2013.
🇪🇸🔵 𝐎𝐅𝐅𝐈𝐂𝐈𝐀𝐋 | Málaga have been relegated to the 3rd tier of Spanish football… a decade on from them reaching the UCL quarter-finals.
Football works in mysterious ways. pic.twitter.com/EeRbE63tvp
— EuroFoot (@eurofootcom) May 23, 2023
Malangnya, seusai kegemilangan tersebut, Malaga dihantam musibah besar secara beruntun. Pertama, mereka terlilit utang yang begitu banyak akibat kebijakan sang owner, Sheikh Abdullah bin Nasser Al-Thani dari Qatar yang serampangan. Kedua, Malaga dianggap telah melanggar aturan Financial Fair Play dan menjadi klub pertama di Eropa yang dilarang tampil di kompetisi yang berada di bawah naungan UEFA selama 1 musim. Ketiga, klub yang berasal dari Andalusia Timur ini terperosok ke divisi tiga Spanyol pada musim 2022/23.
Kini Malaga sedang berjuang untuk mengembalikan kehormatannya sebagai klub ternama. Keberhasilan promosi ke Segunda Division musim lalu setidaknya menunjukkan usaha Malaga untuk tetap eksis seusai terpaan badai kencang yang begitu memporakporandakan mereka.
Dijual Karena Tuntutan Pengadilan
Dijualnya Malaga tahun ini disebabkan oleh tuntutan dari meja hijau kepada Al-Thani atas apa yang sudah ia perbuat dahulu. Pengusaha dari keluarga Kerajaan Qatar itu didakwa telah menggelapkan dana milik klub untuk dirinya dan keluarganya sebesar 7 juta euro dan belum dikembalikan hingga hari ini. Atas tindakannya ini, pengadilan regional pun menjatuhkan vonis agar Al-Thani dicopot dari jabatannya sebagai presiden klub pada 2020.
Usai lengser dari kursi presiden, Al-Thani rupanya tetap punya kendali atas Malaga karena masih berhak atas saham mayoritas. Oleh karena itu, mulai tahun ini pengadilan kembali menuntut Al-Thani untuk segera menjual kepemilikannya atas Malaga. Sebetulnya, pengadilan sempat mencoba jalan keluar agar Blue Bay yang akan membeli saham dari Qatar. Sayangnya, hal itu urung terjadi akibat negosiasi yang rumit, sehingga tidak ditemukan kata sepakat.
Mungkin karena desakan dari hakim pengadilan inilah yang membuat Al-Thani akhirnya sudi untuk menjual saham miliknya di Malaga. Seolah menelan ludah sendiri saat dirinya pernah bersikukuh untuk tidak menjual Malaga ke siapapun, sekalipun si penawar datang padanya dengan tumpukan koper berisikan duit yang menyilaukan mata.
Pemilik Liverpool Masuk Dalam Daftar Pembeli
Sekarang kita membahas siapa saja orang kaya dengan duit seabrek yang mengantri untuk mendapatkan Malaga tahun ini. Menurut laporan dari Sportcal, saat ini saham kepemilikan Malaga dimiliki oleh dua pihak, saham mayoritas sebanyak 51 persen masih atas nama Sheikh Abdullah bin Nasser Al Thani. Sementara 49 persen sisanya dipunyai oleh perusahaan real estate, Blue Bay Hotel and Resorts.
Menjelang akhir Maret lalu, nama Fenway Sports Group muncul ke permukaan sebagai kandidat pemilik baru Malaga. FSG merupakan sebuah grup yang bergerak di bidang multi-olahraga, dan sekarang memiliki saham mayoritas di raksasa sepak bola Liga Inggris, Liverpool, klub baseball Boston Red Sox, dan klub hoki es Pittsburgh Penguins. John Henry dan Tom Werner adalah duo pebisnis Amerika yang ada di balik manajemen FSG.
Liverpool’s owners FSG are exploring a deal to purchase Spanish second-tier side Malaga 🇪🇸
✍️ @David_Ornstein pic.twitter.com/KP70Nnuu6E
— Football on TNT Sports (@footballontnt) March 29, 2025
Menurut berita yang tengah berkembang, FSG siap melebarkan sayap ekspansi bisnis waralaba olahraganya dengan membeli saham milik Al-Thani. Itu artinya FSG akan mengambil alih 51 persen saham Malaga bila nantinya deal tercapai. Beberapa rencana strategis sudah disiapkan oleh FSG untuk masa depan Malaga di bawah kerajaan bisnis mereka.
John Henry dirumorkan akan mengembangkan model akuisisi multi-klub. Nantinya, Malaga akan menjadi partner dari Liverpool yang artinya kedua klub akan mendapatkan pundi keuntungan dari hubungan kepemilikan bersama, serta memungkinkan keduanya berbagi pemain, staf, dan mungkin kesepakatan komersial yang saling terkoordinasi.
Demi memuluskan idenya tersebut, Henry sudah mengirimkan sebuah tim delegasi khusus menuju Spanyol guna mengunjungi sejumlah fasilitas olahraga milik Malaga. Tujuannya, agar FSG dapat memetakan sejauh mana pembelian saham ini dapat bernilai untung dan menimbang potensi diberlakukannya multi-klub antara Liverpool dengan Malaga.
Henry sendiri dengan yakin mengatakan bahwa ia dan FSG memiliki kapasitas untuk dapat memulihkan Malaga kembali jadi tim yang baik dan sehat secara manajemennya. Mereka akan mengupayakan banyak cara dan menempuh segala jalan untuk membantu klub ini punya sistem finansial yang teratur.
Al-Khelaifi dan QSI Ramaikan Persaingan
Langkah FSG untuk mendapatkan Malaga diprediksi tidak mudah dan akan menemui batu sandungan setelah Nasser Al-Khelaifi bersama bendera Qatar Sports Investment ikut meramaikan persaingan menjadi pemilik baru Malaga. QSI bahkan dikabarkan sudah memulai proses negosiasi dengan Al-Thani dan Blue Bay untuk merebut 100 persen saham klub dalam akuisisi tunai senilai 100 juta euro atau setara dengan 1,8 triliun rupiah.
Jika tawaran super menggiurkan itu disepakati, maka Malaga diprediksi akan menjadi klub kaya baru mengikuti jejak Paris Saint-Germain dan SC Braga yang juga dinaungi oleh QSI. Banyak pengamat sepak bola yang mengatakan bahwa peluang QSI untuk mendapatkan Malaga lebih besar, dibandingkan konsorsium dari Negeri Paman Sam.
💣💥 ¡AL-KHELAIFI PODRÍA COMPRAR EL MÁLAGA!
💰 Pagaría unos 100M€ por el club andaluz
ℹ️ SkySports pic.twitter.com/kMRatjUlEk
— Post United (@postunited) March 26, 2025
Pasalnya, Nasser Al-Khelaifi memiliki kedekatan sebangsa dengan pemilik mayoritas Malaga, Abdullah Al-Thani. Abdullah merupakan lingkaran dalam anggota keluarga Kerajaan Qatar dan saudara jauh dari Emir Qatar, Tamim Al-Thani. Sedangkan QSI pimpinan Al-Khelaifi berdiri di bawah pengawasan langsung dari otoritas pemerintah Qatar. Fakta inilah yang membuat QSI semakin di depan dalam urusan penawaran Malaga.
Bergabungnya Al-Khelaifi sebagai musuh John Henry mengindikasikan bahwa QSI sudah tidak tertarik lagi untuk membeli Valencia. Seperti yang pernah Starting Eleven bahas, Al-Khelaifi sempat tertarik untuk menjadi bos baru dari Los Che. Namun, agaknya tidak jadi terlaksana karena harga yang dipasang Peter Lim terlampau di luar nurul.
Malaga Masih Menawan Karena Ini
Mungkin karena inilah alasan Malaga masih saja laku diperebutkan oleh John Henry dan Nasser Al-Khelaifi. Pertama, Malaga terletak di titik pusat pariwisata utama di kawasan Costa del Sol, Andalusia Spanyol. Daerah tersebut cukup eksotis dengan pemandangan alamnya dan dikelilingi oleh deretan resor dan hotel mewah berbintang. Tentu saja ini cocok bagi pemilik baru Malaga untuk mengembangkan bisnis di daerah yang memang menjanjikan secara prospek ekonomi.
Kedua, markas Malaga yakni Estadio La Rosaleda akan digunakan sebagai salah satu dari venue untuk laga Piala Dunia 2030 mendatang. Dengan kapasitas saat ini yang mencapai 30.000 kursi, dibutuhkan beberapa renovasi dan peremajaan fasilitas agar stadion ini jadi venue yang menawan dan modern. Pemilik baru bisa menyulap La Rosaleda jadi stadion yang ikonik dan representatif untuk event akbar sepak bola dunia tersebut.


