Senin, 7 April 2025, jadi penanda lahirnya sejarah baru bagi persepakbolaan Indonesia. Coach Nova Arianto berhasil membuat cakar sang Garuda Muda mencengkram satu tiket ke Piala Dunia U-17 Qatar, tahun 2025. Kepastian ini diperoleh usai Indonesia U-17 membuat Yaman bertekuk lutut dengan skor telak, 4-1.
Jika kalian masih ingat, sebelumnya Indonesia sudah pernah mentas di ajang tersebut. Tepatnya pada tahun 2023. Namun, saat itu Indonesia berstatus tuan rumah. Jadi tak ada yang spesial. Bahkan tak ada yang bisa dikenang selain selebrasi joget milik Arkhan Kaka. Oleh karena itu, kelolosan Indonesia di edisi kali ini terasa lebih spesial sepuluh kali lipat. Sebab, satu tiket didapat melalui babak kualifikasi.
Menariknya, beberapa pihak percaya bahwa sejarah yang tercipta kali ini tak lepas dari pengaruh sang mantan, Shin Tae-yong. Pelatih asal Korea Selatan itu bisa dibilang jadi pondasi sebelum terbangunnya tim Indonesia U-17 yang berprestasi ini. Lantas, benarkah demikian? Selengkapnya mari kita bahas.
Daftar Isi
Misi Sapu Bersih
Tak ada asap, jika tak ada api. Setiap momen bersejarah, pasti ada pertarungan epik yang patut dibedah. Selain satu tiket ke Piala Dunia yang sudah ditangan, performa Timnas Indonesia di Piala Asia U-17 memang sangat menawan. Coach Nova Arianto meramu sekumpulan anak muda menjadi sebuah tim yang sulit dikalahkan.
Di pertandingan pertama, Indonesia menghadapi Korea Selatan U-17. Laga yang dimainkan di Prince Abdullah Al Faisal Stadium merupakan pertemuan keempat bagi kedua negara di kompetisi yang sama. Sejarah sudah tercipta di mana Indonesia berhasil mengalahkan Korsel. Itu jadi yang pertama kali dilakukan Indonesia di Piala Asia U-17 sejak 1988. Satu gol dari Evandra Florasta di penghujung laga membungkam publik Korsel.
Performa apik Garuda Muda berlanjut di laga kedua saat menghadapi Yaman. Dalam pertandingan ini Indonesia cenderung bermain dengan strategi menyerang, berbeda saat menghadapi Korea yang mengandalkan serangan balik. Coach Nova pun membuktikan. Keluar dari kebiasaan bukan suatu hal yang perlu dikhawatirkan. Indonesia meraih easy win atas Yaman.
Kemenangan ini membuat Indonesia memperoleh enam poin dari dua pertandingan. Dengan nilai yang sudah dikumpulkan, skuad asuhan Nova Arianto memimpin klasemen sementara Grup C, unggul tiga poin dari Korea Selatan di urutan kedua. Di urutan ketiga ada Yaman dan keempat Afganistan.
Zahaby Gholy dan kolega pun berambisi untuk kembali meraih kemenangan dan menyapu bersih babak penyisihan grup. Afganistan yang sama sekali belum meraih poin dinilai bukan lawan yang merepotkan. Namun, meremehkan bukan pilihan. Indonesia harus tetap bermain semaksimal mungkin demi mendulang poin sempurna.
Regulasi FIFA
Dari sini, muncul satu pertanyaan. Di saat masih mempunyai tabungan satu pertandingan di penyisihan grup, kenapa Indonesia sudah langsung lolos Piala Dunia U-17? Biasanya kan harus mencapai semifinal atau final lebih dulu untuk menyegel satu tiket penerbangan ke Piala Dunia? Ternyata, setelah ditelusuri lebih dalam, ini semua berkat regulasi FIFA yang baru.
Untuk mengingatkan saja, FIFA menggunakan Piala Asia edisi kali ini sebagai babak kualifikasi untuk Piala Dunia U-17 2025 yang akan diselenggarakan di Qatar. Sebanyak 16 negara yang tampil di Piala Asia U-17 dibagi dalam empat grup. Indonesia berada di Grup C bersama Korea Selatan, Yaman, dan Afghanistan.
Nah, FIFA telah menetapkan jumlah peserta Piala Dunia U-17 2025 sebanyak 48 negara. Turnamen ini akan menjadi edisi pertama dengan siklus tahunan, bukan dua tahunan lagi. Piala Dunia U-17 tahun 2025 juga jadi yang pertama kali dimainkan dengan format 48 tim. Dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya yang cuma 24 tim.
Dari penambahan jumlah peserta, AFC mendapat delapan slot, sembilan termasuk Qatar yang sudah lolos otomatis karena berstatus tuan rumah. Itu jadi yang terbanyak ketiga di bawah UEFA yang diberi kuota 11 negara dan CAF yang mendapat slot sepuluh negara.
Artinya, dengan jumlah peserta Piala Asia U-17 yang hanya 16 tim, maka separuh tim yang lolos ke perempat final berhak mengamankan satu tiket ke Piala Dunia U-17. Kemenangan atas Yaman dinilai sudah cukup untuk membawa Indonesia lolos ke perempat final. Sebab, torehan 6 poin milik Indonesia sudah tak terkejar oleh kontestan lain.
Pola ini yang membuat Indonesia bisa lolos ke Piala Dunia U-17 yang juga diselenggarakan tahun ini. Meski Garuda Muda masih menyisakan satu laga melawan Afghanistan.
Coach Nova, Murid STY
Di balik lolosnya Timnas U-17 melalui jalur kualifikasi, sosok Nova Arianto pun turut disorot. Usai laga melawan Yaman, sebagaimana video di Instagram @timnasindonesia, pria kelahiran Semarang itu bahkan dikerumuni para pemain dan staf Garuda Muda. Mereka bersorak riang sambil melemparkan tubuh Nova ke udara sebagai bentuk apresiasi.
Nova sendiri bukan wajah baru di Timnas Indonesia. Selain pernah aktif sebagai bek Timnas Indonesia, Nova juga sudah lama menjabat sebagai pelatih dan asisten pelatih di tim nasional. Coach Nova bahkan sudah menjadi asisten pelatihnya Shin Tae-yong di Timnas Indonesia senior selama kurang lebih empat tahun.
Dalam kurun waktu itu, Nova membantu Coach Shin untuk membangun pondasi tim nasional senior. Nova bahkan jadi saksi dimana Coach Shin pusingnya minta ampun karena menemui pemain Indonesia yang ternyata untuk passing saja masih sering salah. Asam garam sudah Coach Nova rasakan saat membangun Timnas Indonesia bersama STY.
Dengan banyaknya waktu yang dihabiskan bersama Shin Tae-yong, Nova Arianto mendapat banyak nasehat, ilmu, dan kiat-kiat untuk meningkatkan performa tim dan individu di tim nasional. Dengan demikian, Coach Nova pun sering disebut sebagai murid dari pelatih asal Korea Selatan itu. Mendapat julukan tersebut, Nova pun tidak mengelak.
Dikutip dari Bolasport, Nova Arianto mengakui bahwa ia banyak belajar dari Shin Tae-yong. Ilmu yang didapatkannya itu langsung diterapkan untuk timnas Indonesia U-17. Hingga akhirnya secara mengejutkan skuad asuhannya mampu mengalahkan tim unggulan di Piala Asia U-17, Korea Selatan.
“Setelah mempelajari permainan Korea Selatan, saya mencoba menerapkan taktik yang sama yang pernah Shin Tae-yong lakukan,” tutur Coach Nova. Di pertandingan melawan Taeguk Warriors, Nova mengadopsi taktik 3-4-3 yang biasa digunakan oleh STY. Ia juga sangat mengapresiasi para pemain yang bisa menerjemahkan instruksinya dengan sangat baik di lapangan.
Gaya Melatih Nova
Keberadaan Shin Tae-yong di masa lalu juga sangat mempengaruhi perkembangan kualitas melatih dari Nova Arianto. Nilai-nilai yang selalu diterapkan oleh Shin Tae-yong semasa melatih Skuad Garuda juga diadopsi dengan cermat oleh Nova. Salah satunya adalah persona melatih yang tegas namun tetap membangun kemistri yang baik dengan pemain.
Media sosial bahkan sempat digegerkan dengan munculnya video yang memperlihatkan Nova Arianto ngomel-ngomel karena pemainnya tak mau lari. Terus berlari saat pertandingan membantu tim untuk memenangkan bola atau sebatas mempersempit ruang gerak lawan. Itu yang coba ditekankan oleh Coach Nova.
Nova bahkan tak segan untuk memberikan teguran keras secara individu jika pemainnya tak menjalankan instruksi dengan baik dalam sesi latihan maupun pertandingan. Nova bahkan berkomitmen penuh dengan tetap memberikan instruksi meski timnya sudah unggul jauh saat menghadapi Yaman kemarin.
Di sisi lain, skema sepakbola adaptif yang digunakan oleh Nova di Piala Asia U-17 juga tak lepas dari pengaruh STY. Skema dan strategi yang dipakai akan menyesuaikan siapa lawan mereka. Jika tim yang dihadapi jauh lebih kuat, maka Nova tak malu untuk bermain lebih bertahan demi mendapat hasil maksimal.
Nova juga tak lupa untuk tetap membangun hubungan baik dengan individu pemain, seperti Gholy atau Evandra. Kemistri yang terbangun di luar lapangan terbukti sangat berguna untuk menunjang permainan tim di lapangan. STY boleh tak lagi melatih Indonesia, tapi jiwa dan semangatnya akan terus hidup di diri Nova Arianto.


