Jika harus menyebutkan satu hal yang lebih indah dari senyumanmu, maka itu adalah tendangan bebas Declan Rice. Gol mantan pemain Chelsea itu memang layak disebut spektakuler. Atau mungkin fenomenal? Entah, Mimin sampai kesulitan untuk mencari kata yang pas untuk menggambarkan gol tersebut.
Gol itu seakan membuat kita lupa, bahwa yang dihadapi Arsenal adalah Real Madrid, rajanya Eropa. Di tengah kekaguman pun Mimin jadi heran. Gimana caranya, tim yang biasanya mentas di Europa League dan tak memiliki DNA Eropa, justru meluluhlantakkan skuad mewah Real Madrid? Di Liga Champions lagi, habitat asli El Real. Ini udah kayak liat ikan lele yang melumpuhkan singa.
Daftar Isi
Bukan Hanya Menang, Tapi Mendominasi
Kalau menangnya cuma 1-0 dan golnya lahir dari sepakan penalti, mungkin itu bisa dibilang wajar. Barangkali Arsenal memang sedang mujur karena bermain di hadapan puluhan ribu fans yang memadati Emirates Stadium. Tapi, yang bikin tercengang, kali ini Arsenal menang telak. Tiga gol tanpa balas. Meriam London memaksa klub kaliber Real Madrid bermain layaknya Southampton.
Bukan cuma skor akhirnya saja yang mencolok. Tapi, statistiknya pun tak kalah menyilaukan. Mengutip dari Fotmob, Arsenal hampir unggul di seluruh aspek. Paling, cuma catatan kartu merahnya saja yang kalah. Arsenal nol, sedangkan Madrid mengumpulkan satu akibat Eduardo Camavinga yang gagal mengontrol emosi di menit-menit akhir.
Sisanya? Arsenal menang telak. Dari penguasaan bola, hingga jumlah pelanggaran. Arsenal unggul dengan mencatatkan 53% penguasaan bola. Dari akurasi umpan, Arsenal membukukan 90% tingkat kesuksesan. Unggul 4% dari Real Madrid. Padahal, Meriam London melepaskan seratus umpan lebih banyak dari Los Merengues.
Hmmm, apakah mungkin ini jadi strategi Madrid? Mereka bermain lebih menunggu untuk melayangkan serangan balik? Nggak juga tuh. Karena Madrid nyatanya gagal menciptakan big chance di laga tersebut. Itu artinya, setiap tembakan yang dilepaskan anak asuh Carlo Ancelotti kebanyakan bersifat spekulasi dan tidak mengancam gawang David Raya.
Jude Bellingham yang biasanya jadi pembeda pun dipukul mundur karena Madrid terus digempur tujuh hari tujuh malam oleh Arsenal. Dari 45 sentuhan yang dicatatkan Bellingham, hanya satu yang dilakukan di kotak penalti Arsenal. Sisanya, lebih sering dihabiskan di area permainan sendiri.
Padahal, Lagi Krisis
Perbedaan yang terlalu jomplang ini tentu membuat beberapa pengamat sepakbola bertanya-tanya sekaligus kagum. Bagaimana tidak? Karena kondisi Arsenal saat menjamu Real Madrid begitu mengkhawatirkan. Mikel Arteta tak punya banyak opsi di lini belakang dan depan.
Pemain-pemain andalan macam Gabriel Magalhaes dan Riccardo Calafiori, harus menonton dari pinggir lapangan lantaran belum pulih dari cedera. Arteta sampai-sampai harus memasang Jakub Kiwior sebagai tandem William Saliba. Di lini depan malah lebih parah. Semalam, The Gunners tampil tanpa penyerang.
Dalam formasi 4-3-3 yang dipilih Mikel Arteta, tak ada nama Kai Havertz atau Gabriel Jesus di sana. Pelatih asal Spanyol itu justru menunjuk Mikel yang lain, yakni Mikel Merino untuk mengisi posisi striker tengah. Bukayo Saka yang dipaksakan bermain setelah pulih dari cedera pun akhirnya cedera lagi dan ditarik keluar pada menit 74.
Kalau mau fair, sebenarnya Real Madrid pun tidak dalam kondisi terbaiknya saat bertandang ke London. Tapi, mau bagaimanapun, skuad Madrid tetap terlihat hedon. Di situ masih ada Vinicius, Kylian Mbappe, Jude Bellingham, Antonio Rudiger, dan tentunya Luka Modric. Tapi ya memang dasarnya mereka gagal mengembangkan permainan saja. Harusnya sih bisa ya cetak satu atau dua gol. Biar nggak telak-telak banget lah.
Bola Mati Jadi Solusi
Lantas, bagaimana Arsenal mengatasi keterbatasan itu? Bola mati, jadi solusi. Selain Mikel Arteta, Nicolas Jover juga patut diapresiasi. Meski skema tendangan pojok semalam tidak terlalu efektif, skema tendangan bebas jadi terlihat mematikan. Menunjuk Declan Rice ketimbang Martin Odegaard sebagai eksekutor adalah keputusan yang tepat.
Laga yang berakhir dengan skor 0-0 di babak pertama pun mulai seru saat Declan Rice memecah kebuntuan di menit 58. Melalui tendangan bebas yang aduhai, Rice menghukum Thibaut Courtois. Tendangan bebas tersebut awalnya terlihat tidak berbahaya. Karena jaraknya yang cukup jauh. Yakni 22,8 meter.
Seharusnya, Courtois punya waktu yang cukup untuk menebak arah bola. Namun, eks pemain West Ham United itu tak kalah cerdas. Rice mengambil sudut tendangan yang tak terprediksi oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Alih-alih melewati atas pagar betis, Rice memilih untuk melakukan tendangan pisang melewati sisi kiri Federico Valverde.
Dengan power tendangan dan perputaran bola yang pas, bola pun mendarat di sudut gawang yang tak terjangkau oleh Courtois. Disaat kekaguman para penonton belum reda, Rice kembali menggebrak 12 menit kemudian. Kali ini, dari sisi berlawanan, ia mengarahkan tendangan keras ke pojok kanan atas.
Arah tendangan Rice tidak terbaca oleh Courtois. Itu terlihat dari antisipasinya yang terlambat. Ia jadi pemain pertama dalam sejarah yang mencetak dua gol melalui tendangan bebas di UCL. Unggul dua gol, Meriam London tampil semakin menggila dan mencetak gol ketiga untuk mengunci kemenangan. Kali ini, sang striker gadungan, Mikel Merino jadi sosok dibalik itu.
Pergerakan Tanpa Bola
Apa cuma bola mati doang? Tidak juga. Gol Mikel Merino bisa jadi bukti bahwa Arsenal nggak cuma ngandelin tendangan bebas. Tanpa striker murni justru bikin permainan Arsenal makin cair. Mikel Arteta mendorong para pemain sayap dan tengah untuk memenuhi kotak penalti jika sedang menguasai bola.
Selain Mikel Merino, Declan Rice, Gabriel Martinelli, dan Martin Odegaard kerap terlihat maju ke depan untuk memberikan opsi umpan. Pergerakannya pun tidak asal. Pemain-pemain tersebut seringkali muncul di titik buta para pemain bertahan Real Madrid. Udah tahu gini, pemain Madrid justru sering meleng.
Seperti peluang Arsenal di penghujung babak pertama. Para pemain bertahan Madrid terlalu fokus pada bola. Dalam kasus ini, Gabriel Martinelli mampu mengeksploitasi kesalahan itu. Rudiger tidak berada di posisi yang tepat untuk mengawal Rice. Situasi ini memaksa Valverde meninggalkan posnya untuk berduel dengan Rice. Ruang yang terbuka pun dimanfaatkan Martinelli untuk menyambut bola muntah.
Apresiasi Courtois
Untungnya, Courtois mampu mematahkan peluang itu dengan double save-nya. Ya, dari performa Real Madrid yang di bawah standar, penampilan sang penjaga gawang jadi yang paling disorot. Meski tidak mendapat rating tertinggi di pertandingan semalam, Courtois layak mendapat apresiasi lebih.
Eks Chelsea itu memang kebobolan tiga, tapi ia telah mencatatkan lima penyelamatan krusial. Di luar itu, dirinya juga beberapa kali menggagalkan umpan-umpan silang yang dilepaskan pemain Arsenal. Jika kipernya bukan Courtois, Mimin yakin Madrid akan mendapat kekalahan yang lebih memalukan dari ini.
Situasi Sulit
Lini depan Madrid yang kurang greget juga jadi poin yang harus dibahas. Pasukan Carlo Ancelotti hanya mampu melepaskan tiga tembakan on target. Kalah jauh dengan Arsenal yang mampu melepaskan 11 tembakan tepat sasaran. Dengan hasil ini, Real Madrid juga mencatatkan rekor buruk.
Ini jadi kali pertama Madrid gagal menyarangkan bola ke gawang lawan dalam dua laga beruntun di Liga Champions. Terakhir kali Madrid melakukannya adalah pada tahun 2009. Kala itu, Madrid gagal mencetak gol ke gawang Liverpool dalam dua leg babak 16 besar UCL musim 2008/09.
Hasil buruk di London adalah kekalahan terbesar Madrid di leg pertama fase gugur Liga Champions. Menyamai kekalahan 1-4 dari Borussia Dortmund di musim 2012/13. Madrid gagal bangkit dari ketertinggalan itu.
Lalu, apakah di tahun ini Madrid akan bernasib sama? Dalam sejarahnya, tim Inggris tak pernah kalah jika sudah unggul tiga gol di leg pertama. Madrid kini menghadapi kemustahilan di Santiago Bernabeu.
Sumber: The Athletic, Al Jazeera, Fox Sport, BBC


