Orang cenderung akan berpikir karier pesepakbola akan habis begitu ia memutuskan gantung sepatu. Namun pada kenyataanya, nasib mereka setelah itu boleh jadi justru masih berkutat di dunia sepak bola. Walaupun memutuskan pensiun, nyatanya seorang pesepakbola bisa saja kembali ke lapangan hijau. Tentu bukan sebagai pemain, apalagi anak gawang.
Akan tetapi, seorang mantan pesepak bola yang pensiun akan dikaitkan dengan jabatan pelatih. Entah dari mana pemikiran itu muncul. Orang akan menebak nasib berikutnya seorang mantan pesepakbola adalah menjadi pelatih. Ketika ia sudah tidak bisa mencetak gol lewat kaki, ia akan mencetak gol lewat taktik.
Begitulah. Sehingga muncul anggapan jika seorang striker pasti bisa menjadi seorang pelatih yang tokcer. Sebab ia sudah terbiasa mencetak gol. Striker mematikan bakal menjadi pelatih yang mematikan pula.
Namun, sayangnya kita kehabisan contoh. Satu nama yang bisa membenarkan hal itu hanya lah sosok Jurgen Klopp, pelatih Liverpool. Klopp adalah mantan penyerang dan ia kini menjadi pelatih. Kendati Klopp juga nggak bagus-bagus amat ketika bermain, namun dirinya telah membuktikan bahwa seorang striker andal dalam melatih.
Barcelona Sempat Incar Jurgen Klopp untuk Menjadi Pelatih #skorbola888 #livescore pic.twitter.com/NKD6r0vdBF
— skorbola888 (@skorbola888) October 5, 2021
Salah satu prestasi terbaik Klopp adalah ketika mengajak seluruh fans Liverpool buka bersama gelar Liga Inggris 2019/20 setelah puasa selama 30 tahun. Bukan hanya itu, di musim sebelumnya, Klopp membawa Liverpool menjuarai Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Selain Klopp ada nama Sir Alex Ferguson, seorang pelatih yang dikagumi seluruh fans Manchester United. Fergie adalah mantan striker klub Liga Skotlandia, Dunfermline Athletic.
Sebetulnya nasib lebih panjang dimiliki seorang gelandang. Apalagi pemain gelandang jauh lebih berpeluang menjadi seorang pelatih hebat. Kalau soal ini, kita nggak kehabisan contoh. Misalnya saja Steven Gerrard yang baru saja mengantarkan Rangers juara Liga Skotlandia; Xavi Hernandez yang bawa Al Sadd juara Liga Qatar dan sukses menyabet Piala Qatar Cup, Supercup, Emir Cup, Serta Stars Cup; Antonio Conte; Diego Simeone; Carlo Ancelotti; Pep Guardiola; Didier Deschamps; Fabio Capello; Hans-Dieter Flick; Gennaro Gattuso sampai seorang Zinedine Zidane.
Terakhir kali Atletico juara Liga adalah saat sang pelatih (Diego Simeone) masih menjadi pemain Atletico (1995/96). pic.twitter.com/ITGyOHy2zg
— IG: 99FAKTABOLA (@99FaktaBola) May 18, 2014
Pelatih-pelatih tersebut adalah mantan pemain hebat di eranya. Dan mereka beroperasi di posisi gelandang, tidak peduli gelandang serang atau bertahan. Nah, kenapa sih pemain gelandang hebat punya potensi menjadi seorang pelatih yang hebat pula? Apa sebetulnya daya magis yang dimiliki seorang gelandang dan tak dipunyai pemain di posisi lain?
Pusat Kendali Permainan
Gelandang adalah posisi yang vital dalam sebuah permainan sepak bola. Tanpa gelandang sebuah tim boleh jadi seperti kehilangan satu kepingan puzzle yang paling berharga. Satu tim bisa jadi tidak utuh tanpa kehadiran seoang gelandang, seperti ada lubang di sana.
Gelandang mempunyai peran yang lebih kompleks ketimbang kiper, bek, sayap, dan striker. Seorang gelandang mesti mampu mengontrol permainan. Ia harus bisa melakukan transisi dari menyerang ke bertahan atau sebaliknya. Gelandang juga dituntut untuk lebih reaktif dan di satu kesempatan wajib memenangkan duel perebutan bola.
Mari kita melihat sosok seperti Sergio Busquets. Ia pemain gelandang yang ketika EURO kemarin, menjadi pemain kunci di skuad Luis Enrique. Lupakan sejenak FC Barcelona yang kini permainannya tak jauh lebih baik dari PSM Makassar. Kita tahu bahwa Busquets adalah pemain penting di Blaugrana.
Vicente Del Bosque bahkan pernah mengatakan “Anda menonton pertandingan, Anda tidak melihat Busquets. Anda menonton Busquets, Anda melihat keseluruhan pertandingan”. Pernyataan itu menunjukkan betapa krusialnya seorang pemain gelandang.
Kendati belum terlihat gelagat untuk pensiun, kita boleh jadi akan langsung berpikiran bahwa Sergio Busquets bisa menjadi pelatih hebat. Kemampuannya sebagai gelandang yang bisa mengatur jalannya permainan menjadi modal penting. Selain Busquets, sosok Zinedine Zidane dan Jose Mourinho adalah representasi yang pas untuk hal ini dan sekarang sudah menjadi pelatih.
Zinedine Zidane in action for Bordeaux against an AC Milan. pic.twitter.com/c8np5NsyiN
— 90s Football (@90sfootball) October 4, 2021
Ketenangan
Jika kita menyaksikan raut muka Diego Simeone atau Antonio Conte, kita akan melihat wajah yang penuh optimisme. Wajah yang berbeda sekali dengan Minions di perempat final Sudirman Cup beberapa waktu lalu. Conte dan Simeone adalah tipikal pemain berwajah tenang.
Diam-diam menghanyutkan. Itulah adagium yang cocok disematkan ke dua pelatih hebat tersebut. Ketenangan itu bukan sekadar ketenangan. Namun, ketenangan yang mampu menipu lawan-lawannya. Di balik ketenangannya itu, Conte dan Simeone adalah penganalisis jalannya pertandingan. Ia mampu membaca situasi dengan sempurna. Karena itu adalah karomah seorang gelandang.
Peraih 🏆 sebagai pemain dan pelatih bersama Bianconeri. Selamat ulang tahun, Antonio Conte! ⚪️⚫️🎂#ForzaJuve pic.twitter.com/0CQ64jB14k
— JuventusFC (@juventusfcid) July 31, 2018
Ketenangan itulah yang membikin gelandang seperti Simeone dan Conte mampu beradaptasi. Mereka tidak akan ikut-ikutan tegang ketika tensi permainan meningkat. Di saat itulah seorang gelandang mampu berpikir jernih.
Itu modal yang mesti dibawa untuk menjadi pelatih. Terbukti, di antara Simeone dan Conte, hanya Ole yang acap kali tak jernih dalam memutuskan. Ya karena Ole bukan mantan pemain yang beroperasi di posisi gelandang, wajar kalau miskin taktik.
Manajerial yang Baik
Pemain gelandang punya kemampuan manajerial yang bagus sekaligus cerdas. Tentu ini tidak diartikan secara harfiah seperti menyuruh-nyuruh rekannya, laiknya pelatih. Namun, gaya manajerial seorang gelandang terlihat dari cara dia mengumpan.
Sosok gelandang dituntut memahami setiap rekan-rekannya sekaligus menguasai tempo permainan. Ia akan penuh pertimbangan ketika mengumpan. Misalnya menyesuaikan kecepatan rekannya, memastikan si penerima menerimanya dengan kaki terkuat, sampai menjaga parameter dari pemain lain.
Mikel Arteta
Juara #Facup sebagai Pemain dan Pelatih. 👏 pic.twitter.com/dVMIJp9R0V— Siaran Bola Live (@SiaranBolaLive) August 1, 2020
Nah, kita bisa melihat Mikel Arteta memiliki kemampuan semacam itu. Perkara Arteta tak bagus-bagus amat melatih Arsenal, itu soal lain. Setidaknya, dilihat dari keahlian memanajeri rekan-rekannya itulah, Arteta memang pantas jadi pelatih klub calon juara Championship.
Sumber referensi: itsroundanditswhite.co.uk, sportsadda.com


