Gara-Gara Guus Hiddink? Korea Selatan Tak Percaya Pelatih Lokal

spot_img

Terlepas dari kontroversinya, Korea Selatan yang mencapai semifinal di Piala Dunia 2002 tetap menjadi kisah menakjubkan. Tidak hanya untuk pertama kalinya Korea Selatan melangkah ke semifinal. Tapi pasukan Taeguk Warriors menjadi satu-satunya tim asia yang melangkah ke empat besar Piala Dunia.

Di semifinal Korea Selatan bahkan sanggup merepotkan Jerman. Meski Der Panzer yang lebih matang akhirnya menang lewat gol Michael Ballack. Kendati terjadi lebih dari dua dasawarsa lalu, prestasi tersebut masih saja diingat oleh rakyat Korea Selatan.

Bahkan Guus Hiddink, pelatih yang mengantarkan prestasi itu dikultuskan oleh masyarakat Korea Selatan. Lebih jauh lagi Hiddink menjelma semacam sindrom yang pada akhirnya membuat rakyat Korea Selatan tak sudi membiarkan tim nasionalnya dilatih oleh pelatih lokal.

Korea Selatan Jarang Dilatih Pelatih Lokal

Timnas Korea Selatan memang jarang dilatih oleh pelatih lokal. Dari tahun 2014 bahkan cuma Shin Tae-yong pelatih lokal yang menangani Taeguk Warriors. Sisanya, Korea Selatan dilatih para pelatih asing. Mulai dari Uli Stielike, Paulo Bento, hingga yang terbaru Jurgen Klinsmann.

Hal itu berbeda dengan misalnya, Timnas Jepang. Dalam kurun waktu yang sama, Samurai Biru ditukangi oleh dua pelatih lokal. Mereka adalah Akira Nishino dan Hajime Moriyasu. Khusus nama terakhir bahkan menjadi pelatih Jepang paling lama bertahan sepanjang sejarah.

Sejak 2014, Timnas Jepang hanya dilatih oleh dua pelatih asing. Mereka adalah Javier Aguirre yang melatih dari 2014-2015 dan Vahid Halilhodzic yang melatih antara tahun 2015-2018.

Tidak dilatih oleh pelatih lokal ironis bagi Korea Selatan. Apalagi selain Jepang, Korea Selatan adalah corong sepak bola Asia. Masa sih dengan kekuatan sepak bola yang luar biasa, menghasilkan banyak talenta hebat seperti Kim Min-Jae dan Son Heung-min, tapi tak ada satu pun pelatih lokal yang becus melatih timnasnya?

Korea Selatan Lebih Sukses Dilatih Pelatih Asing

Sepanjang sejarah, Korea Selatan selalu sukses ditukangi pelatih asing. Dalam daftar pelatih Taeguk Warriors, pelatih asing selalu memiliki poin per laga lebih baik ketimbang pelatih lokal. Sebutlah misalnya Paulo Bento yang punya 2,07 poin per game, lebih baik dari Shin Tae-yong yang memiliki 1,29 poin per laga.

Kesuksesan Guus Hiddink hanya contoh lama. Namun, dalam dua edisi Piala Dunia terakhir, di situlah kita bisa melihat betapa bagusnya Korea Selatan ketika dilatih orang asing. Edisi 2022 di Qatar kemarin, Korea Selatan yang dilatih Paulo Bento sukses melangkah ke 16 besar.

Pelatih asal Portugal itu mengubah permainan Korea Selatan yang membosankan di 2014 dan 2018, menjadi lebih bagus. Di Piala Dunia 2022, Korea Selatan lebih banyak melakukan penguasaan bola, lebih banyak umpan dan umpan silang, serta memiliki lebih banyak tembakan tepat sasaran.

Tak ayal kalau Taeguk Warriors sanggup lolos ke 16 besar. Di Piala Dunia 2022, Korea Selatan bahkan hanya menelan satu kekalahan di fase grup kala melawan Ghana. Kendati begitu Korea Selatan sanggup mengalahkan Portugal di laga terakhir Grup H. Ini pencapaian yang tentu lebih baik dari dua edisi sebelumnya.

Tahun 2014, ketika dilatih Hong Myung-bo, Korea Selatan tak lolos dan cuma jadi juru kunci Grup H. Lalu, di Piala Dunia 2018 saat ditukangi Shin Tae-yong. Korea Selatan memang mengalahkan Jerman, tapi kekalahan dari Swedia dan Meksiko memperlihatkan betapa buruknya Korea Selatan ditukangi pelatih lokal.

Warga Korea Selatan Ogah Timnasnya Dilatih Pelatih Lokal

Akibatnya, para penggemar sepak bola Korea Selatan tak sudi lagi menaruh kepercayaan pada pelatih lokal untuk melatih Taeguk Warriors. Mengutip Korean Times, badan riset di Korea Selatan, Gallup Korea Research Institute pada 2018 melakukan survei terhadap 1.002 warga dewasa.

Hasilnya, 40% responden mengatakan mereka ingin Timnas Korea Selatan dilatih oleh pelatih asing. Sementara 36% ingin pekerjaan sebagai pelatih kepala Timnas Korea Selatan diserahkan pada orang lokal. Sedangkan 24% sisanya tidak menjawab atau menolak untuk menjawab.

Kebetulan survei tersebut dilakukan usai tersingkirnya Korea Selatan asuhan Shin Tae-yong di Piala Dunia 2018. Kendati sudah lebih dari lima tahun lalu, namun masih ada survei lain yang selaras dengan survei tersebut.

Dilansir Yonhap News Agency, Hankook Research menyurvei 1000 warga Korea Selatan berusia 18 tahun ke atas dari tanggal 23-26 Desember 2023 lalu. Dari survei itu, 56% responden mengatakan tidak penting apa paspor pelatih Timnas Korea Selatan.

Sebanyak 19% responden bilang lebih suka Timnas Korea Selatan dilatih orang asing. Sejumlah 10% responden menginginkan Korea Selatan dilatih orang lokal. Sedangkan 15% sisanya mengatakan tidak tahu apa-apa.

Pelatih Korea Selatan Bernasib Buruk di Negaranya Sendiri

Melihat data tadi, tidak aneh kalau pelatih lokal sering mendapat tekanan tinggi saat menukangi tim nasional. Ambil contoh apa yang pernah dialami Shin Tae-yong. Saat menukangi Korea Selatan di Piala Dunia 2018, dilansir The Korea Herald, Shin mendapat serangan dari haters.

Jelang laga pembuka kontra Swedia, haters bilang Shin Tae-yong hanya bisa melakukan trik bodoh. Dan itu beneran terjadi di laga kontra Swedia. Shin Tae-yong menaruh Kim Shin-wook sebagai penyerang tengah daripada Son Heung-min. Hasilnya, tak ada satu pun gol tercipta.

Pilihan taktik Shin Tae-yong juga dikritik keras kala menghadapi Meksiko di laga kedua. Namun, ya, untungnya Shin berhasil menutupi dua kesalahan dengan kemenangan tak terduga menghadapi Timnas Jerman yang ceroboh di laga terakhir. Meski itu tak berpengaruh. STY tetap dipecat Korea Selatan.

Sindrom Guus Hiddink

Entah berkaitan langsung atau tidak, namun sindrom Guus Hiddink sepertinya telah mengakar kuat. Keberhasilan pelatih asal Belanda membawa Korea Selatan ke semifinal Piala Dunia 2002 telah menjadi bahan ulasan di mana-mana. Segala sesuatu tentang Hiddink menjadi bahan pembicaraan di negaranya Han So-hee itu.

Ia pun merengkuh popularitas. Guus Hiddink telah mengubah pemikiran Korea Selatan terhadap sepak bola. Sehingga mereka sangat terbuka oleh pemikiran asing. Sindrom Hiddink ini kemudian benar-benar merebak dan ditiru oleh para pelatih tim-tim di Korea Selatan.

Selain menghipnotis dengan gaya kepemimpinannya, Hiddink juga sukses menaikkan standar pelatih tim nasional. Dan standar itu, sampai hari ini masih sulit dicapai oleh pelatih lokal Korea Selatan. Barangkali karena inilah masyarakat Korea Selatan tak mau tim nasionalnya dilatih orang Korea Selatan itu sendiri.

Banyak Pelatih Korea Selatan Akhirnya Melatih Timnas Lain

Kesempatan pelatih Korea Selatan untuk melatih timnasnya pun mulai menyusut. Bahkan keinginan untuk menjadi pelatih bagi pemain yang baru pensiun juga mulai berkurang akibat minimnya lapangan pekerjaan.

Dilansir BBC Korea, tahun 2018 ada sekitar 10 ribu orang berusia 20-40 tahunan memilih pensiun setelah bermain selama lebih dari tiga tahun di Korea Selatan. Karena minimnya panggilan melatih Timnas Korea Selatan, para pelatih asal Negeri Ginseng pun memutuskan melatih timnas negara lain.

Misalnya Park Hang-seo yang sukses menukangi Timnas Vietnam. Setelah mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden Federasi Sepak bola Korea Selatan, Kim Pan-gon justru melatih Timnas Malaysia. Shin Tae-yong? Ya, doi lebih lama melatih Timnas Indonesia ketimbang melatih negaranya sendiri.

Hal itu ironisnya tidak terjadi pada sepak bola saja. Banyak pelatih Korea Selatan dari cabang lain justru melatih tim nasional lain, seperti Lee Ki-sik yang melatih tim panahan Amerika maupun Park Joo-bong yang sudah 20 tahun melatih tim bulu tangkis Jepang.

Sumber: KoreaTimes, BBC, YNA, KoreaHerald, TheAthletic, Forbes

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru