“Bola berhenti, perasaan di dalam diri saya tidak,” tulis Franck Ribery dalam salam perpisahannya pada sepakbola. Pria 39 tahun itu belum lama ini memutuskan gantung sepatu. Salernitana adalah klub terakhir yang ia bela.
Sayangnya, kisah Ribery di Salernitana sangatlah singkat. Bahkan terkesan kurang menyenangkan. Tidak ada kisah manis yang terukir di klub Kota Salerno. Selain barangkali hanya ketika momen kedatangannya ke Salerno dan dikenalkan sebagai pemain Salernitana.
Publik Salerno menyambut Franck Ribery. Mereka awalnya yakin bahwa Ribery akan membawa pengaruh luar biasa di tim. Namun, nyatanya tak butuh waktu lama untuk harapan itu pupus di tengah jalan.
Daftar Isi
Dibekap Cedera
Mantra Franck Ribery di Salernitana tidak bertahan lama. Alih-alih menjadi senjata di lini sayap, Ribery membuktikan bahwa usia tidak bisa bohong. Musim ini ia tidak tampil sama sekali untuk Salernitana. Terakhir Ribery bermain di laga pembuka kontra AS Roma. Itu pun sebagai pemain pengganti.
Pada pertandingan yang berlangsung di Bulan Agustus itu, Salernitana menelan kekalahan atas AS Roma. Selepasnya Ribery mengalami cedera lutut. Hal itu membuatnya harus menepi untuk waktu yang tidak sebentar.
Franck Ribery mengundurkan diri sebagai pemain sepakbola. Itu ia umumkan pada Jumat lalu melalui unggahan media sosialnya, setelah 19 tahun berkarier sebagai pemain. Ribery sudah mengoleksi 715 penampilan di level klub. Meski begitu, kisah emasnya tidak akan surut dan dilupakan orang begitu saja.
🇬🇧⤵️:
🚨URGENT🚨:
❌Franck Ribery will announce his retirement from football at the age of 39.♦️Ribery suffered a knee injury in the match of his team Salernitana vs AS Roma that will lead to the end of his career.
[ @lequipe ] pic.twitter.com/nAC2esPenU
— sportn_ews (@EwsSportn) October 7, 2022
The Scarface
Sebagian orang akan menyesal dan tidak percaya diri bila ada luka di wajahnya. Tapi Ribery justru menunjukkan hal yang berbeda. Semua orang tahu ia dijuluki “The Scarface” atau “Wajah bekas luka”. Luka itu ia dapatkan di masa kecilnya.
Tatkala usianya baru dua tahun, Franck Ribery dan keluarganya terlibat kecelakaan mobil. Mobil yang mereka tumpangi menabrak truk yang melaju kencang. Kecelakaan itu menyebabkan luka parah di wajah Ribery.
“People wouldn’t look at me for my football, but for my scar instead.” 🙏
At two years old, Franck Ribéry was involved in a horrific car crash, he made it out alive but was left with this scar. He made this scar a real strength to become the great footballer that he is today. pic.twitter.com/h1SdsSklSm— Oh My Goal (@OhMyGoalUS) October 16, 2020
Karena luka itu bahkan Ribery harus menjalani operasi. Seratus jahitan dibuat di wajahnya sebelah kanan yang terluka itu. Jahitan itu meninggalkan bekas luka panjang yang berada di sisi wajah sebelah kanannya. Bekas luka itu membuat rekan setimnya menjulukinya “The Scarface”, dan Ribery malah bangga karena itu.
Karier Franck Ribery
Pria kelahiran Boulogne-sur-Mer, Prancis pada 7 April 1983 itu memulai kariernya di klub amatir. Ribery bergabung ke divisi pemuda klub FC Conti de Boulogne-Sur-Mer. Pada 1996, ia lantas merapat ke salah satu raksasa Liga Prancis, Lille.
Meski kini menjadi salah satu raksasa, tapi ketika itu Lille berada di divisi dua. Selain itu, Ribery juga pernah didatangkan Gheorghe Hagi ke Galatasaray. Sampai akhirnya Franck Ribery merapat ke Marseille pada tahun 2005.
Tepat pada 15 Juni 2005, ia menandatangani kontrak berdurasi lima tahun untuk Marseille. Ribery menjalani debutnya ketika kekalahan atas Bordeaux 2-0. Namun, pada 18 September tahun itu, Ribery berhasil mencetak gol pertamanya untuk klub dalam kemenangan 2-1 atas Troyes.
Tentu kisah-kisah tadi tidak selegit ketika Ribery bergabung ke Bayern Munchen. Karena di FC Hollywood lah ia mulai menggila. Ribery mulai menjadi sorotan di sana.
Karier di Bayern Munchen
Pada tahun 2007, Franck Ribery datang ke Bayern Munchen. Untuk mendatangkannya dari Marseille, Die Roten harus mengeluarkan biaya paling tidak 25 juta euro (Rp382 miliar). Karena ketika itu, status superstar sudah tersemat pada Franck Ribery.
Sebelumnya, di Marseille, Ribery telah mengemas total 89 penampilan dengan catatan 18 gol dan 20 asis. Maka tidak aneh rasanya kalau pada waktu itu, Ribery memecahkan rekor transfer klub. Bahkan ia diberi nomor punggung 7 peninggalan Mehmet Scholl di Bayern Munchen.
On this day June 7, 2007
Bayern Munich sign Franck Ribéry and Luca Toni pic.twitter.com/R50ipJtZtS
— FC Bayern English & National Manchaft (@FCBayernGER) June 7, 2022
Setelah itu, yang ada di kehidupan The Scarface hanyalah kisah manis demi kisah manis. Ia merajut kariernya yang luar biasa bersama Bayern Munchen. Pada tahun itu, iPhone generasi pertama baru lahir, kekuatan internet dan persebaran video di media sosial tidak secepat sekarang. Tapi nama Franck Ribery sudah melambung tinggi.
Ketika itu kita sudah disuguhkan aksi dribel Franck Ribery yang memperdaya bek lawan. Determinasi dan sikapnya di atas lapangan membuat Ribery mudah mengambil hati seluruh penikmat sepakbola. Dan untuk melakukan itu, Ribery tidak membutuhkan waktu lama.
Gol Pertama dalam Kemenangan Hebat 4-0
The Scarface memperkuat FC Hollywood pada musim panas 2007. Tepat pada musim itu pula ia memperlihatkan kualitasnya. Setelah memborong tiga gol pada ajang DFL-LigaPokal yang sekarang sudah tidak ada, Ribery melanjutkan keran golnya di Bundesliga.
Pemain Prancis itu memberi kesan indah bagi para pendukung Bayern Munchen ketika menghadapi Werder Bremen di lanjutan Bundesliga musim 2007/08. Die Roten mendapat hadiah penalti. Ribery dengan gagah mengambil penalti tersebut.
Pemain yang ketika itu berusia 24 tahun dengan lihainya melakukan Panenka. Gol itu mengawali Bundesliga pertamanya di Bayern Munchen. Dengan cepat ia pun meroket. Pada musim 2007/08, Ribery sudah mengemas 11 gol dan 8 asis dari 28 pertandingan Bundesliga.
Ribery pun langsung menjadi spesial di hati para pendukung Bayern Munchen. Sihirnya pada musim pertama itu, membuat fans tak ragu menjulukinya “Kaiser Franck”. Sebuah julukan yang sebelum Ribery hanya milik Franz Beckenbauer.
Duetnya Bersama Robben
Awal musim Ribery di Bayern Munchen kian paripurna setelah mengamankan kemenangan atas VfB Stuttgart 4-1. Kemenangan itu memastikan Die Roten meraih gelar Bundesliga ke-20. Unggul 12 poin dari Werder Bremen di tempat kedua.
Tahun 2009, Bayern Munchen mendatangkan amunisi baru lagi. Orang itu adalah pemain buangan dari Real Madrid, Arjen Robben. Masuknya Robben membuat pria Prancis itu harus berbagi dan bermitra dengannya. Tak butuh waktu lama, Ribery dan Robben menjadi duet pemain sayap paling berbahaya di Bayern Munchen.
Adalah Louis Van Gaal yang menyatukan dua pemain sayap ini. Pertandingan melawan Wolfsburg pada 29 Agustus 2009 menjadi awal lahirnya duet Ribery dan Robben yang oleh banyak orang menyebutnya “Robbery”.
Pada pertandingan itu, Van Gaal mempercayai Robben terlebih dahulu. Sementara Ribery baru masuk pada menit ke-63. Van Gaal memasukkannya karena The Bavarian kurang menggigit di lini depan. Kolaborasi keduanya pun lekas tercipta.
Lima menit setelah masuk, Ribery memberikan umpan pada Robben. Duo ini kemudian melakukan serangan balik 12 menit berselang. Ribery dan Robben saling bekerja sama, sebelum pria Belanda itu mencetak gol kedua dan ketiga kalinya untuk tim. Sejak itu, duet Robbery pun tercipta dalam satu dekade berikutnya.
Kesan Ribery
Ketika ditanya soal duet Robbery, Robben hanya mengatakan duet tersebut mengalir begitu saja. “Ini kemistri dan sinergi,” kata Robben. Robben mengatakan, Ribery dan dirinya memiliki kesamaan. Mereka sama-sama mencintai sepakbola dan ingin berlari mendekat ke gawang.
CEO Bayern Munchen yang sekaligus pernah bermain dengan Ribery, Oliver Kahn memuji sang pemain. Menurutnya, Ribery adalah pemain hebat yang pernah ada. Ia merasa beruntung bisa bermain dengan The Scarface. Begitulah seorang legenda. Meski ia telah pensiun, tapi kisah emasnya masih diingat.
Oliver Kahn: “With Franck Ribéry, one of the greats in the history of football – and FC Bayern – is ending his career. I was lucky enough to still be on the pitch with him and I could see very clearly how he delighted our fans with his attacking moves on the pitch” pic.twitter.com/yJ12X0ivqm
— Bayern & Germany (@iMiaSanMia) October 21, 2022
Bersama Die Roten, The Scarface sudah merengkuh banyak trofi. Terdiri dari 9 Bundesliga, 6 DFB Pokal, 4 Piala Super Jerman, 1 Liga Champions, dan 1 kali Piala Dunia Antarklub, dan masih banyak lagi.
Ribery juga meraih Pemain Terbaik Eropa pada tahun 2013 dan kalau saja tidak ada Ronaldo, ia sudah menggamit Ballon d’Or. Meski tidak lagi bermain, Ribery masih berkecimpung di dunia sepakbola dengan masuk ke staf kepelatihan Salernitana. Terima kasih, legend!
Sumber: SportsBigNews, SportsMax, Bundesliga, TheAthletic, LifeBogger, Transfermarkt, DailySabah


