Melanjutkan deretan final paling dramatis di kompetisi Liga Champions Eropa, berikut kami sajikan ulasannya.
Daftar Isi
Chelsea vs Bayern Munich, 2012
Chelsea, sampai saat ini masih menjadi satu-satunya tim asal London yang berhasil menjuarai kompetisi Liga Champions Eropa. Kenangan indah klub yang bermarkas di Stamford Bridge terjadi pada tahun 2021 silam.
Dalam perjalanannya Chelsea sempat mengganti posisi Andre Villas Boas dengan pelatih asal Italia, Roberto Di Matteo. Perlu diketahui bahwa sebelumnya, Di Matteo merupakan asisten dari Villas Boas. Penunjukkan Di Matteo terjadi setelah Chelsea kalah 3-1 dari Napoli di leg pertama babak 16 besar.
Di leg kedua, setelah ditangani Di Matteo, Chelsea berhasil lolos ke perempat final secara dramatis lewat gol Ivanovic pada babak perpanjangan waktu. Laga itu seolah memberi motivasi tersendiri bagi Chelsea. Pasalnya, di babak selanjutnya mereka berhasil menumpas segala hadangan hingga sampai ke partai final melawan FC Bayern.
Berhadapan dengan FC Bayern bukan perkara mudah bagi Chelsea. Selain diisi oleh skuad mumpuni, Bayern juga tampil di kandang sendiri, yang kebetulan laga final dihelat di Allianz Arena.
Sepanjang laga, kedua tim ngotot ingin mencetak gol. Setelah semua serangan mampu dimentahkan oleh masing-masing tim, tepat pada menit ke 83, Thomas Muller mampu membawa FC Hollywood unggul. Namun keunggulan tersebut tidak bertahan lama setelah Didier Drogba mampu menyamakan kedudukan lewat sebuah tandukan mematikan.
Setelah dilakukan babak tambahan, skor 1-1 masih bertahan. Maka dari itu, laga dilanjutkan ke babak adu penalti.
Di babak menegangkan ini, Chelsea dibuat ketar ketir setelah penendang pertama mereka, Juan Mata, gagal melaksanakan tugasnya dengan baik. Beruntung, mereka masih dilindungi Dewi Fortuna setelah dua penendang terakhir Bayern, Ivica Olic dan Schweinsteiger gagal melaksanakan tugasnya. Skor pun berakhir 3-2 untuk kemenangan Chelsea.
Porto vs Monaco, 03/04
FC Porto mengukir dongeng indah ketika berhasil merajai Eropa. Mereka yang saat itu dibesut Jose Mourinho berhasil melenggang mulus ke partai final dengan mengalahkan salah satu tim kuat, Manchester United.
Di partai final, Porto berhadapan dengan tim yang sama-sama menciptakan kejutan, AS Monaco. Tentu tidak ada yang mengira bila kedua tim tersebut berhasil sampai ke partai final. Tapi inilah sepakbola. Dalam hal ini, Monaco tak bisa dipandang sebelah mata, setelah mereka berhasil menyingkirkan nama-nama Lokomotiv Moskwa, Real Madrid, dan Chelsea, yang di tahun tersebut memiliki musim luar biasa.
Namun Porto dengan kejeniusan Jose Mourinho juga sama sekali tak boleh diremehkan.
Benar saja, pada pertandingan final, kedua tim tampil ngotot. Mereka ingin menciptakan gol sedini mungkin untuk bisa meraih gelar juara. Akan tetapi, Monaco yang tampil luar biasa tak cukup mampu menghadang tim racikan Jose Mourinho yang memang dikenal spektakuler.
Pada menit ke 39, Porto berhasil membuka keunggulan lewat aksi Carlos Alberto. Gol yang dicetak penyerang asal Brasil itu bertahan sampai babak pertama usai.
Di babak kedua, Monaco yang masih belum menyerah coba menyamakan kedudukan lewat aksi Prso. Namun keberuntungan masih belum mau menyelimutinya. Alih-alih menyamakan kedudukan, gawang Monaco justru kembali kebobolan, yang kali ini melalui aksi Deco pada menit ke 71.
Empat menit berselang, Porto memastikan gelar juara Liga Champions mereka usai Alenichev mencatatkan namanya di papan skor.
Jose Mourinho berhasil mengukir sejarah sebelum dirinya terbang ke London untuk membesut Chelsea.
Manchester United vs Bayern Munich, 1999
Sir Alex Ferguson berhasil menyumbangkan trofi Liga Champions pertamanya untuk Manchester United secara dramatis. Tepat di tahun 1999, Barcelona menjadi saksi dari betapa luar biasanya sebuah pertandingan sepakbola.
Manchester United berhadapan dengan FC Bayern di final Liga Champions Eropa. Sebelum bertemu di partai final, kedua tim sudah berada dalam satu grup, dimana Bayern keluar sebagai pemuncak klasemen. Oleh sebab itu tidak ada yang menyangka bila Setan Merah akan keluar sebagai juara.
Terlebih lagi, di final, MU bermain tanpa dua gelandang andalan, Roy Keane dan Paul Scholes. Beruntung, taktik Fergie dalam menempatkan Beckham di lapangan tengah sukses menjadi solusi. Beckham tampil begitu brilian dengan kerap menguasai bola. Dirinya juga turut membantu serangan, mengingat MU tertinggal satu nol sejak menit ke 6.
Di babak kedua, MU terus menggempur lini pertahanan Bayern demi mengejar ketertinggalan. Hingga pada akhirnya strategi Sir Alex dalam memasukkan Solskjaer di sepuluh menit terakhir berbuah keajaiban.
Pemain yang kini tangani MU itu berhasil membuat pemain Bayern kerepotan. Setelah MU mendapat kesempatan tendangan sudut, segala gempuran berbuah manis. Teddy Sheringham yang juga datang sebagai pemain pengganti berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke 90+1. Tak lama setelah itu, MU kembali mendapat kesempatan tendangan sudut, yang lagi-lagi berbuah gol.
Kali ini, Ole Gunnar Solskjaer muncul sebagai pahlawan setelah mampu menyambut bola liar dengan sepakan keras untuk menjebol gawang Bayern. Dengan gol tersebut, MU berhasil membalikkan keadaan sekaligus merengkuh gelar juara.
Sebuah pertandingan final dramatis tercipta. Lebih dari itu, sejarah tak akan melupakan era dimana Setan Merah muncul sebagai pemegang tri gelar dalam satu musim kompetisi.
Bayern Munich vs Borussia Dortmund, 2013
Setelah sebelumnya menjadi korban dari dua final dramatis Liga Champions Eropa, kini FC Bayern sukses keluar sebagai juara. Lawan yang dihadapi adalah tim yang tampil senegara. Meski begitu, Bayern tak lantas meremehkan kekuatannya.
Ketika itu, Borussia Dortmund masih dilatih oleh Jurgen Klopp, dimana dia memiliki nama-nama hebat termasuk Robert Lewandowski. Dortmund tampil sangat mengesankan di musim itu. Mereka sempat menyingkirkan Real Madrid di fase semifinal.
Disisi lain, Die Borussen harus berhadapan dengan FC Bayern yang dalam perjalanannya sukses menghajar FC Barcelona dengan agregat telak 7-0.
Kedua tim tampil menyerang sejak awal laga. Namun sampai babak pertama usai, tidak ada gol yang tercipta. Duo Jerman yang bertarung di Wembley masih sama kuat. Sebelum akhirnya pada menit ke 60, Mario Mandzukic berhasil membuka keunggulan Bayern. Tak berselang lama, laga berjalan begitu ketat, usai Gundogan berhasil menyamakan skor melalui titik putih.
Kemenangan dramatis pada akhirnya menjadi milik Bayern. Ketika laga tinggal menyisakan satu menit di waktu normal, Arjen Robben datang sebagai pahlawan raksasa Bavaria. Dengan gol tersebut, Bayern menutup pertandingan dengan sebuah gelar juara Eropa, plus menambah koleksi mereka menjadi lima gelar.
Liverpool vs AC Milan, 2004/05
Final Liga Champions Eropa tahun 2005 menjadi yang paling menyedihkan bagi AC Milan, dan paling membahagiakan bagi Liverpool.
Sudah ada banyak cerita tentang final ini, dimana banyak yang pada akhirnya mengatakan bila ini adalah final paling dramatis sepanjang sejarah Liga Champions Eropa.
Dalam perjalanannya menuju laga puncak, baik Milan dan Liverpool sama-sama melewati hadangan yang tak sembarangan. Milan harus menaklukkan Manchester United, Inter Milan, hingga PSV Eindhoven sebelum lolos ke final. Sementara Liverpool harus melewati hadangan Bayer Leverkusen, Juventus, dan Chelsea.
Final yang mempertemukan antara AC Milan dan Liverpool digelar di Istanbul. Oleh sebab itu, final ini sering disebut sebagai The Miracle of Istanbul.
Sejak awal laga, Milan dengan percaya diri mampu unggul 3 gol atas Liverpool. Mereka berhasil memberi pukulan telak bagi tim asal Inggris. Tiga gol Milan di babak pertama tercipta lewat aksi Paolo Maldini dan dua gol Hernan Crespo.
Namun skor tersebut belum membuat skuad Rafael Benitez ingin mengibarkan bendera putih. Meski banyak pemain Liverpool yang sudah pasrah dengan kekalahan, ada beberapa dari mereka, termasuk Steven Gerrard yang terus mengobarkan semangat juang The Reds. Terlebih lagi, para penggemar masih lantang bernyanyi di tribun stadion. Beberapa hal tersebut pada akhirnya sukses membuat Liverpool tampil percaya diri.
Liverpool secara mengejutkan mampu menyamakan kedudukan 3-3 lewat aksi Gerrard, Smicer, dan Alonso.
Setelah pertandingan berlanjut ke babak tambahan, skor masih tetap sama. Lalu babak pinalti pun dilakukan guna menentukan pemenang.
Dalam drama ini, Liverpool dijunjung tinggi oleh Dewi Fortuna. Seluruh penendang mereka kecuali Riise berhasil menuntaskan tugas dengan baik. Sementara kubu I Rossoneri harus menerima kenyataan bahwa Serginho, Pirlo, dan Andriy Shevchenko, gagal menunaikan tugasnya.
Saat itu juga, seluruh pemain, staf, dan suporter bersorak kegirangan. Mereka tak percaya apa yang baru saja terjadi. Liverpool berhasil menyamakan kedudukan setelah tertinggal 3 gol, sebelum akhirnya menuntaskan laga dengan sebuah trofi juara lewat drama adu tendangan penalti.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=7QgfW77qVaM[/embedyt]
Sumber referensi: 90minutes-football


