Fabian Hürzeler: Pelatih Termuda Bundesliga Musim Depan

spot_img

Tumpah ruah fans di Millerntor jadi saksi menyambut St Pauli promosi ke Bundesliga musim depan. Namun di tengah euforia fans yang membanjiri Millerntor, terlihat satu sosok yang diangkat dan dipuja-puja bak raja.

Ya, dia adalah Fabian Hurzeler, pelatih St Pauli. Tak menyangka, di usia 31 tahun ia sudah dielu-elukan banyak orang. Lantas siapa sih sebenarnya pelatih muda berbakat yang satu ini?

Sebelum membahasnya, subscribe dan nyalakan loncengnya ya, agar selalu mendapatkan konten menarik dari Starting Eleven Story.

Siapa Hurzeler?

Di Houston, Texas 31 tahun yang lalu, lahir seorang putra dari ayah yang berasal dari Swiss dan ibu dari Jerman, yang diberi nama Fabian Hurzeler. Fabian kecil tumbuh di lingkungan dan budaya Amerika Serikat, karena kedua orang tuanya memang bekerja di sana cukup lama.

Hurzeler punya hobi bermain sepakbola dari kecil. Namun bakat mengolah si kulit bundar tersebut baru diasah saat ia hijrah ke Jerman di usia belasan tahun. Namun, pengalaman masa kecilnya hidup di Amerika, tak bisa ia lupakan begitu saja.

Hurzeler merasa karakter pribadinya banyak terbentuk di Amerika. Termasuk soal cara berpikir terbuka dan jiwa bekerja keras untuk mencapai impian. Ya, karakter itulah yang masih ia bawa hingga ke Jerman.

Untuk meraih impian sebagai pesepakbola, di usia 16 tahun ia sudah memberanikan diri memilih sepakbola sebagai jalan hidupnya. Padahal ayahnya yang juga seorang dokter gigi, ingin Hurzeler meneruskan pekerjaannya.

Karir Hurzeler

Tapi Hurzeler yakin, pilihan jalan hidupnya tersebut tak akan salah. Dari tahun 2009 hingga 2013, Hurzeler mulai meniti karir sepakbolanya di akademi Bayern Munchen.
Saat berseragam FC Hollywood, Hurzeler bertemu dengan Emre Can.

Oh iya, Hurzeler ini sebagai pemain posisinya dulu adalah gelandang bertahan. Sama dengan Emre Can. Mereka berdua sama-sama bermimpi menjadi calon gelandang Jerman masa depan.

Namun nasib berbeda dialami keduanya. Karier Hurzeler di Munchen terhambat karena beberapa cedera yang dialami. Ia akhirnya harus kalah saing dengan Emre Can dan dibuang ke Hoffenheim, TSV 1860 Munchen, hingga klub amatir FC Pipinsried.

Saat di FC Pipinsried, ia berhasrat ingin mengembangkan talentanya menjadi pelatih. Maka dari itu, saat berseragam FC Pipinsried, Hurzeler yang baru berusia 23 tahun tak hanya jadi pemain saja, melainkan merangkap sebagai pelatih.

Pencapaian Hurzeler sebagai pemain dan pelatih di klub amatir tersebut terbilang oke. Ia mampu mengantarkan FC Pipinsried promosi ke Liga Regional Jerman pada tahun 2017. Melihat pencapaian Hurzeler di FC Pipinsried, ia akhirnya ditawari posisi sebagai asisten pelatih di Timnas Jerman U-20 dan U-18 dari tahun 2018 hingga 2020.

Di level timnas, ia banyak menimba ilmu dari pelatih utama seperti Meikel Schönweitz maupun Christian Wörns. Bahkan menurut Christian Wörns, Hurzeler ini bisa jadi pelatih hebat di masa depan.

Diajak Schulz

Karier melatih Hurzeler lalu berlanjut ke level klub. Di tahun 2020, ia diajak Timo Schultz untuk bekerja sama melatih klub St Pauli di Bundesliga 2. Ia ingin sosok asisten cerdas yang bisa ditugasi khusus untuk menganalisa tim sekaligus lawan. Schultz menganggap Hurzeler memenuhi kriteria tersebut.

Hurzeler yang ditawari Schultz pada saat itu, juga mengaku langsung mau menerimanya.
Hurzeler merasa tertantang saat ditugasi khusus oleh Schultz. Ya, kerjasama dua pelatih muda tersebut pun akhirnya terjalin di Millerntor. Schultz dan Hurzeler tak jarang bertukar ilmu dan saling belajar. Apalagi Hurzeler saat itu juga masih menyelesaikan studinya untuk memperoleh lisensi kepelatihan dari DFB.

Dipercaya Jadi Pelatih

Dua tahun lamanya dari tahun 2020 hingga 2022, Hurzeler menemani Schultz. Lalu di Desember 2022, bak ketiban durian runtuh. Hurzeler dipercaya sebagai pelatih, menggantikan Schultz yang dipecat karena hasil minor. St Pauli saat itu berada di jurang degradasi.


Direktur Olahraga St Pauli, Andreas Bornemann percaya pada Hurzeler karena selama menjadi asisten pelatih dinilai mampu mengatasi tantangan. Hurzeler juga dianggap selalu menawarkan solusi yang konkret bagi klub.

Namun bagi Hurzeler, tantangan menjadi pelatih kepala tidaklah mudah. Apalagi nih, sebagian besar pemain di St Pauli ada yang lebih tua darinya. Awalnya bahkan Hurzeler mengaku tidak siap menerima kenyataan ini.

Hurzeler adalah pelatih yang sadar diri kurang berpengalaman. Hurzeler juga awalnya kaget dengan kebiasaan menjadi pelatih kepala. Namun ia sadar harus terus beradaptasi dengan kondisi baru ini. Tanggung jawab yang diembannya sebagai pelatih amatlah besar.

Pendekatan Hurzeler

Ya, mau tidak mau Hurzeler harus terbiasa dengan rutinitas sebagai pelatih kepala. Dalam menangani St Pauli, Hurzeler juga punya cara dan gayanya sendiri. Sejak awal jadi pelatih, dia tahu betapa pentingnya memenangkan hati para pemain. Rasa hormat dari pemain harus didapatkannya terlebih dahulu.

Hurzeler coba bersikap terbuka pada para pemainnya. Dalam menginstruksikan pemain, Hurzeler tak mau hanya cuma ngatur dan tak memberikan solusi. Hurzeler lebih suka memberikan ide-ide segarnya kepada para pemain untuk dilakukan.

Masa-masa Hurzeler sebagai pemain di Munchen dulu, ternyata juga membentuk cara dia mendekati pemain. Saat ia bermain di Die Roten, ia merasakan tekanan yang tiada henti untuk bisa menang dan tampil baik tiap pekannya. Hal itulah yang coba ia terapkan pada para pemain St Pauli.

Pengorbanan

Banyak hal baru di lingkungan St Pauli sejak Hurzeler jadi pelatih. Dengan usianya yang masih sangat muda, Hurzeler juga termasuk pelatih yang sering bercengkrama dengan para pemain di luar lapangan. Ya, sudah seperti bestie gitu.

Selama jadi pelatih, terkadang Hurzeler juga suka lupa waktu. Ia sering bekerja sampai larut malam dan jarang pulang ke rumah. Ia sadar banyak PR yang harus ia kerjakan di St Pauli.

Bahkan nih, Hurzeler juga mengaku sulit tidur kalau St Pauli mengalami kekalahan. Ia langsung menghabiskan waktunya semalaman hanya untuk mengulik apa yang salah dari timnya.

Lalu sebagai pria lajang berusia 30 tahunan, ia merasa hidupnya berbeda dengan pemuda-pemuda pada umumnya di Jerman. Ia tak bisa hangout sambil party sampai larut malam. Ia merasa masa mudanya banyak dihabiskan untuk bekerja.

Cara Hurzeler

Namun dari kerja keras, adaptasi, serta pengorbanan yang dilalui Hurzeler tersebut perlahan mulai menuai hasil. Musim lalu Hurzeler berhasil membuat St Pauli lolos dari jeratan degradasi. Ia bahkan berhasil mengantarkan St Pauli akhirnya nangkring di posisi 5 klasemen Bundesliga 2.

Musim ini, St Pauli diunggulkan untuk promosi ke Bundesliga. Untuk mewujudkannya, Hurzeler lebih bekerja keras lagi. Seperti halnya soal pematangan taktik. Selain penerapan penguasaan bola, gaya main St Pauli musim ini dengan melakukan build-up, dinilai makin mirip dengan apa yang dilakukan De Zerbi di Brighton.

Selain itu, variasi gol dari skema bola mati juga acap kali dimanfaatkan St Pauli musim ini. Asistennya, Peter Nemeth diminta secara khusus oleh Hurzeler mematangkan skema tersebut.

Meski taktiknya yang makin bervariasi, Hurzeler juga mengaku tak malu untuk melibatkan mantan pelatih sebelumnya Timo Schultz guna memberi masukan. Bahkan beberapa masukan dari Schultz diterapkannya di lapangan.

Seperti cara bertahan. Hurzeler masih bertahan dengan pola tiga bek. Bedanya dengan Schultz, posisi Eric Smith sebagai bek tengah sering diinovasikan sebagai gelandang bertahan tambahan oleh Hurzeler.

Penambahan bek baru seperti bek Karol Mets, juga membuat St Pauli jauh lebih sulit dibobol musim ini. St Pauli musim ini hanya kebobolan 35 gol, jumlah kebobolan paling sedikit di Bundesliga 2.

Gol yang dicetak St Pauli musim ini juga merata. Hurzeler tak mau hanya striker saja yang bisa cetak gol. Buktinya, top skor mereka musim ini adalah pemain tengah mereka Marcel Hartel dengan 21 gol.

Ciptakan Sejarah, Siap Guncang Bundesliga

Dengan kekonsistenan dan sentuhan tangan dinginnya, musim ini Hurzeler telah membanggakan publik Millerntor. St Pauli akhirnya bisa promosi ke Bundesliga lagi setelah 13 tahun menanti.

Menarik untuk dinanti, musim depan Bundesliga akan kehadiran pelatih termuda yang banyak disebut media Jerman sebagai “The New Nagelsmann From America”. Hurzeler bertekad akan memberikan yang terbaik bagi St Pauli musim depan. Ia ingin St Pauli tak hanya sekadar numpang lewat di Bundesliga.

Kini pasca pesta promosi St Pauli, Hurzeler mengaku ingin berlibur dulu ke tanah kelahirannya Amerika Serikat sambil nonton laga Copa America. Ia ingin menenangkan hati dan pikirannya sambil menyiapkan musim depan yang bakal sangat padat baginya. Ya..istirahatlah dulu sebentar Hurzeler, musim depan ayo taklukan Bundesliga!

Sumber Referensi : nytimes, mopo.sport, the18soccer, goal.com, bundesliga, transfermarket

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru