EPL 2004/05: Momen Ketika Chelsea Raih Trofi Pertama Setelah 50 Tahun

3 min read

Nama Chelsea sudah menjadi salah satu yang terbesar di persepakbolaan Inggris. Meski mereka baru memenangkan banyak gelar setelah diakuisisi oleh konglomerat asal Rusia, tetap saja, klub yang bermarkas di Stamford Bridge punya banyak sejarah dalam dunia sepak bola, khususnya Inggris.

Berawal dari kekecewaan Gus Mears, seorang pebisnis asal Inggris, Chelsea FC akhirnya terbentuk. Mears, yang baru saja membeli Stadion Stamford Bridge, berniat melakukan kerja sama dengan klub lokal asal London, Fulham FC. Namun, penawaran Mears ini ditolak oleh pihak manajemen Fulham. Merasa kecewa, Mears akhirnya memutuskan untuk membentuk klub sendiri. Pada 10 Maret 1905, sebuah klub baru asal London akhirnya terbentuk di Rising Sun Pub, yang terletak tepat di depan Stamford Bridge.

Nama Chelsea sendiri akhirnya dipilih berdasarkan nama wilayah tempat Stamford Bridge itu berada. Hingga kini, Stamford Bridge pun tetap menjadi stadion kebanggan the Blues. Pada tahun yang sama, Chelsea bergabung bersama divisi dua Liga Inggris. Dua tahun kemudian, mereka sukses promosi ke level teratas Liga Inggris.

Cerita kesuksesan the Blues sendiri tak langsung tertuang begitu saja. Butuh perjalanan panjang untuk bisa menjadi raja. Baru pada tahun 1955, mereka berhasil menjadi juara di kompetisi Inggris untuk kali pertama. Tidak hanya itu, mereka juga berhasil melengkapi trofi piala dengan sejumlah gelar juara, seperti Piala FA, Piala Liga, maupun Piala Winners.

Namun begitu, mereka tak benar-benar menjadi ancaman di kompetisi Inggris maupun Eropa, sebelum akhirnya Roman Abramovich datang dengan gelontoran dana besar. Boleh dibilang, pria Rusia menjadi simbol dari era kejayaan Chelsea sampai saat ini. Dia yang memang punya banyak sekali dana untuk dikeluarkan berhasil menjadikan Chelsea sebagai salah satu klub terbaik dunia.

Yang bisa dibilang sebagai langkah awal yang dilakukan Abramovich kala itu adalah mendatangkan pelatih sekaliber Jose Mourinho. Ketertarikan Abramovich kepada Mourinho jelas karena sang pelatih baru saja membawa FC Porto memenangkan kompetisi Liga Champions Eropa. Selain itu, Abramovich juga terkesan dengan taktik jenius yang diterapkan Mou.

Di musim 2004/05, Mourinho langsung bergerak cepat dengan mendatangkan sejumlah pemain, seperti Ricardo Carvalho dan Paulo Ferreira yang ia datangkan dari Porto, plus sejumlah andalan lainnya macam Tiago, Petr Cech, dan tentunya sang bomber Didier Drogba.

Sebelumnya, Chelsea juga sudah punya pemain top lain pada diri William Gallas, Damien Duff, Joe Cole, Frank Lampard, Claude Makelele, dan tentu saja sang kapten tim John Terry.

Musim tersebut menjadi yang bersejarah bagi Chelsea. Finish di posisi dua klasemen akhir Liga Inggris Premier League musim 2003/04 benar-benar membuat hasrat dan rasa penasaran Chelsea semakin bertumbuh untuk menggapai gelar juara pada musim berikutnya.

Mourinho yang menggantikan nama Claudio Ranieri pun langsung tancap gas. Ujian pertama Mourinho berat, karena mesti melawan anak asuh Sir Alex Ferguson, Manchester United. Namun itu tak menjadi masalah bagi sosok Mourinho yang dikenal arogan.

Bermain pada 15 Agustus 2004, Chelsea mendapat dukungan penuh dari 40 ribuan pendukungnya yang datang ke Stamford Bridge, London. Mourinho memilih memasang skema 4-4-2 dengan menduetkan Didier Drogba dan Eidur Gudjohnsen di lini depan.

Sedang MU masih berada dalam kondisi yang tak memungkinkan setelah beberapa pemain andalannya dibekap cedera. Fergie harus memutar otak dengan menerapkan taktik baru. Ketika itu, dia sampai memasang kapten Roy Keane yang notabene gelandang bertahan menjadi bek tengah. Sang pelatih jenius itu juga memberanikan diri menurunkan pemain anyarnya yang digaet dari Leeds United, Alan Smith sebagai satu-satunya goal getter di lini depan.

Di pertandingan tersebut, Chelsea berhasil meraih kemenangan berkat satu gol yang dicetak oleh Eidur Gudjohnsen. Hasil itu praktis menjadi catatan bagus bagi Mourinho sekaligus Chelsea itu sendiri. Terlebih, kemenangan itu mematahkan rekor Setan Merah yang tak pernah kalah selama delapan musim terakhir secara beruntun pada pekan awal kompetisi.

Setelah awal yang baik itu, Chelsea melewati musim 2004/05 nyaris tanpa kendala yang berarti. The Blues di bawah kendali Jose Mourinho nyaris menyamai catatan tidak terkalahkan Arsenal saat menjadi juara pada musim 2003/04. Mereka hanya menelan satu kekalahan ketika berjumpa Manchester City. Ketika itu, mereka kalah dengan skor 1-0 lewat gol tunggal Nicolas Anelka dari titik putih.

Yang menyenangkan, Manchester United berhasil dihajar sebanyak dua kali, dimana pada laga kedua, Old Trafford menjadi saksi bahwa Chelsea sukses mengalahkan tuan rumah dengan skor 1-3. Tiga gol Chelsea ketika itu dicetak Tiago, Gudjohnsen, dan Joe Cole. Sementara gol Setan Merah dicetak Ruud van Nistelrooy.

Di musim tersebut, Arsenal yang menjadi juara bertahan jadi satu-satunya tim yang tidak bisa dikalahkan Chelsea. Dalam dua laga yang dijalani, pertandingan berakhir 0-0 dan 2-2.

Meraih 29 kemenangan, delapan hasil imbang, dan sekali kalah, Chelsea mendapatkan 95 poin. Dengan raihan tersebut, Chelsea lantas menjadi juara Premier League. The Blues akhirnya menjadi juara setelah 50 tahun lamanya.

Satu catatan luar biasa lainnya adalah, Chelsea menjadi tim dengan pertahanan terkuat kala itu. Mereka tercatat sebagai tim dengan tingkat kebobolan paling minim dibanding klub lainnya pada musim tersebut. Dibawah kendali Mourinho, Chelsea hanya kebobolan 15 gol dari 38 laga yang dimainkan. Sejauh ini, catatan tersebut menjadi rekor kebobolan paling sedikit di Premier League dalam satu musim.

Sebagai perbandingan, Manchester United yang jadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit kedua, harus melihat gawangnya 26 kali kebobolan. Artinya, pertahanan The Blues benar-benar sangat tangguh ketika melihat gap antar kedua tim.

Datang sebagai sang jawara Eropa, reputasi Mourinho sebagai manajer Chelsea ketika itu langsung melesat tajam. Dia berhasil memadukan banyak bakat. Dalam skuad yang diasuhnya, Paulo Ferreira menjadi andalan di posisi bek kanan dengan 29 laga di Premier League. Ricardo Carvalho memainkan 25 laga dan Tiago Mendes tampil pada 34 laga.

Frank Lampard juga menjadi sosok tak tergantikan di lini tengah. Sang gelandang tampil pada 38 laga di Premier League dan semuanya sebagai pemain inti. Jangan lupakan pula peran vital Claude Makelele yang menjadi filter bagi serangan lawan sebelum berjumpa John Terry di posisi bek tengah. Kedua pemain memainkan 36 laga.

Di palang pintu terakhir, kedatangan Petr Cech sebagai kiper juga jadi yang paling superior. Di musim debutnya bersama Chelsea, selain persembahkan gelar juara, dia juga menjadi kiper dengan jumlah clean sheet terbanyak, yaitu 24 kali. Sampai saat ini, belum ada lagi kiper yang mampu kalahkan catatan tersebut.

Gelar juara yang pada akhirnya diraih setelah 50 tahun itu menjadi penanda dari awal kejayaan Chelsea di kancah dunia. Mereka berhasil memenangkan piala-piala selanjutnya, dimana salah satunya adalah gelar Liga Champions Eropa pada tahun 2012.

Jadi Pemain Termahal el Real, Mengapa Performa Luka Jovic Tak…

Luka Jovic baru saja resmi kembali ke Eintracht Frankfurt dari Real Madrid melalui status pinjaman. Kabar itu dilaporkan langsung oleh akun Twitter resmi klub...
Garin Nanda Pamungkas
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *