Karir Indah Shunsuke Nakamura Dalam Satu Lengkungan Mematikan

3 min read

Negeri Matahari Terbit tak pernah lelah pancarkan sinarnya ke dalam lapangan sepak bola. Satu cahaya yang paling menyilaukan mata adalah nama Shunsuke Nakamura. Kita semua sudah sering disuguhkan aksi para aktor lapangan hijau asal Jepang, meski kebanyakan berasal dari serial kartun sepak bola.

Namun kita tidak akan membahas lebih jauh tentang bagaimana perjuangan Jepang dalam taklukan dunia dalam serial tersebut, melainkan sebuah kisah nyata dari seorang Shunsuke Nakamura, yang sering disebut sebagai Captain Tsubasa.

Nakamura, seperti kebanyakan pesepakbola Jepang lainnya, selalu mendapat sorotan dalam dunia si kulit bundar. Bila ada pemain Jepang yang mampu menembus panggung dunia, selalu saja ada pihak yang menghubungkan dengan mimpi mereka yang memang benar-benar ingin taklukkan jagad sepak bola.

Nakamura memulai karir di Jepang bersama dengan Yokohama F. Marinos. Pada tahun 1997, dia sudah melakoni debut dengan klub tersebut di pertandingan melawan Verdy Kawasaki. Nakamura tidak membutuhkan waktu lama untuk kesankan penggemar. Di musim pertamanya, dia berhasil catatkan sebanyak 31 penampilan dan mencetak 5 gol.

Musim berganti, begitu pun dengan karir Nakamura. Performanya tak sama dan terus meningkat. Dia banyak berkembang, khususnya pada kontribusi permainan bagi tim. Visi dan kecerdasan yang dimiliki membuat Nakamura mendapat label sebagai pemain muda paling potensial yang dimiliki Jepang.

Tahun 2000 mungkin bisa disebut sebagai musim terbaiknya. Dia dianugerahi J.League Most Valuable Player untuk kontribusinya. Tahun berikutnya, Nakamura mencatatkan 31 penampilan dan mencetak 5 gol di semua kompetisi, termasuk 6 penampilan dan 2 gol di Piala J.League 2001, yang dimenangkan Marinos.

Berkat kegemilangannya di Negeri Sakura, bakat Nakamura langsung tuai perhatian dunia. Paling mencengangkan, klub sekelas Real Madrid pernah dikabarkan tertarik untuk mendapatkan tanda tangannya. Namun yang paling ramai membicarakan talenta asal Jepang itu adalah klub-klub asal Italia, termasuk Reggina, Chievo, Perugia, Napoli, Lecce, dan Atalanta.

Mereka mengagumi cara bagaimana Nakamura mengolah bola. Pemain asal Jepang itu bahkan dinilai punya teknik serta kreativitas tinggi.

Hingga pada akhirnya, salah satu klub Italia, Reggina, berhasil mendapat jasa Nakamura. Meski tidak diketahui apa yang dilakukan klub tersebut sehingga bisa dapatkan jasa sang pemain, ada fakta yang menyebut kalau Reggina sampai mengirim pemandu bakat ke Jepang hanya untuk mengamati Nakamura.

Gli Amaranto, dianggap sebagai sosok berjasa dalam perekrutan Nakamura yang dilakukan Reggina. Dia rela dikirim ke Jepang hanya untuk menonton Nakamura bermain. Kala itu, ia begitu terkesan dengan segala hal yang ada dalam diri Nakamura. Satu yang paling menarik perhatian baginya adalah, Nakamura berhasil membawa Jepang menjadi juara di ajang Piala Kirin pada 2002, sekaligus menyumbang dua gol.

Tanpa berlama-lama, Nakamura yang resmi digaet Reggina pada tahun 2002 langsung diberi mandat untuk memakai nomor 10. Saat itu, klub rela mengambil nomor tersebut dari Francesco Cozza untuk diberikan kepada Nakamura.

Kedatangan Nakamura ke Negeri Pizza, khususnya Reggina langsung timbulkan gegap gempita. Hanya lima bulan setelah Nakamura resmi berstatus sebagai pemain Reggina, penjualan kaos klub atas namanya terjual sampai 25 ribu setel.

Apa yang telah diberikan klub pun tak hanya dibayar dengan kepopuleran belaka, melainkan juga gelontoran gol di tiga pertandingan awal berturut-turut.

Di musim perdananya, kontribusi 32 penampilannya berhasil menghindarkan Reggina dari jurang degradasi. Lebih dari itu, Nakamura juga sukses menjadi pelayan sempurna bagi duo Emiliano Bonazzoli dan David Di Michele.

Di musim tersebut, Nakamura juga berhasil mencetak tujuh gol dimana mayoritas berasal dari sepakan bola mati. Gol semacam itu memang sudah menjadi ciri khas pemain asal Jepang tersebut. Nyaris seluruh karirnya nanti selalu diisi dengan koleksi lengkungan-lengkungan indah nan luar biasa.

Namun sayang, perjalanannya bersama Reggina tak benar-benar temui asa. Nakamura harus berkutat pada masalah cedera dan membuat karirnya disana terancam. Benar saja, ia cuma main sebanyak 16 kali dan membuat performa Reggina terpuruk meski tak sampai terperosok ke jurang degradasi.

Setelah Reggina putuskan mengganti pelatih untuk datangkan Walter Mazzarri, Nakamura memang masih masuk ke tempat utama. Akan tetapi, pola 3-5-2 yang diterapkan sang pelatih membuatnya tidak bebas berkreasi. Ia dituntut untuk lebih sering membantu lini belakang dan berbuntut pada jumlah golnya yang menurun drastis.

Merasa tak puas dengan pola yang diterapkan pelatih, Nakamura merasa jika sekarang lah waktu yang tepat untuk angkat kaki. Ada banyak sekali klub yang mengintai jasanya. Termasuk beberapa dari Spanyol dan Jerman. Namun, tim asal Skotlandia, Glasgow Celtic, menjadi yang paling beruntung karena berhasil dapatkan tanda tangannya.

Di klub inilah, Nakamura menjadi legenda yang sesungguhnya.

Semua pasti ingat ketika Nakamura menjebol gawang Edwin van Der Sar tanpa ampun. Satu lengkungan indahnya berhasil membuktikan kepada dunia, bahwa Asia juga punya penendang kelas wahid dalam diri Shunsuke Nakamura.

Bersama Celtic, banyak sekali sepakan bebasnya yang menembus jala lawan. Rambut panjang serta lengkungan tajam tak pernah terlepas dari tawa penggemar. Nakamura menjadi sosok paling mematikan ketika sudah diberi kesempatan untuk melakukan sepakan.

Lebih dari itu, dirinya juga langsung mendapat kepercayaan dari manajer Gordon Strachan untuk menjadi pengatur permainan di lini tengah The Bhoys. Hasilnya, titel Liga Primer Skotlandia dan Piala Liga menjadi sumbangsihnya kala itu.

Di musim berikutnya, kepercayaan terhadap dirinya sama sekali tidak berkurang. Bermain dalam 50 pertandingan, sebanyak 11 gol berhasil dia sumbangkan. Tak hanya itu, sejumlah prestasi individu juga berhasil ia sumbangkan. Nakamura, yang gol nya sering tercipta melalui sepakan bola mati membuatnya jadi pemain yang banyak diamati.

Dari sudut manapun, peluang nya dalam mencetak gol sudah dipastikan besar. Dia tak ubahnya menjadi momok bagi tim lawan, jika pelanggaran dilakukan di depan kotak 12 pas. Satu sontekan yang berbuah lengkungan pun menjadi sebuah definisi dari betapa indahnya karir seorang Shunsuke Nakamura.

Dari total 128 pertandingan yang dimainkan, Nakamura berhasil ciptakan 29 gol. Mayoritas golnya? Semua pasti sudah bisa menebak dari mana asalnya.

Musim 2008/09 kemudian menjadi yang kelabu bagi Celtic. Pasalnya, mereka tak mampu menjadi juara hingga membuat sejumlah pilar, termasuk Nakamura putuskan hengkang. Semua penggemar menyesalkan kepergian sang legenda. Pasalnya, empat musim lamanya para penggemar selalu disuguhkan oleh tendangan-tendangan berkelas kreasi Nakamura.

Melanjutkan karirnya, Nakamura putuskan terbang ke Spanyol. Dia datang ke Espanyol untuk menandatangani kontrak selama dua tahun. Nahas, salah satu kompetisi terbaik di Eropa itu tak terlalu ramah kepada Nakamura. Para staf Espanyol menyebut kalau adaptasi Nakamura tergolong sangat lambat. Hal itu pula yang membuatnya lebih sering duduk di bangku cadangan.

Meski sudah tergolong tua, pesona Nakamura justru membuat klub pertamanya, Yokohama memulangkannya ke Jepang. Di sana kesaktiannya muncul kembali dan berhasil membuat caps 189 laga dengan jumlah 35 gol. Lagi-lagi karena freekicknya ia bisa menciptakan banyak gol.

Kini, di usianya yang menginjak 42 tahun, Nakamura masih tercatat sebagai pemain Yokohama FC, setelah sebelumnya sempat membela Jubilo Iwata selama kurang lebih dua tahun.

Meski namanya sudah jarang terdengar, satu lengkungan indahnya akan selalu mengingatkan kita akan sosok bertalenta dalam momen krusial tendangan bebas.

Jadi Pemain Termahal el Real, Mengapa Performa Luka Jovic Tak…

Luka Jovic baru saja resmi kembali ke Eintracht Frankfurt dari Real Madrid melalui status pinjaman. Kabar itu dilaporkan langsung oleh akun Twitter resmi klub...
Garin Nanda Pamungkas
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *