Dipuja Sebagai Pemain, Sosok Ini Malah Dihina Saat Jadi Pelatih

Belum lama ini, Ronald Koeman resmi diberhentikan sebagai pelatih FC Barcelona. Pelatih asal Belanda ini hanya bertahan selama 14 bulan sebelum akhirnya surat PHK resmi diberikan. Koeman memang dianggap gagal membawa Barca menuju jalan yang lebih baik usai dirinya gantikan peran Quique Setién.

Tidak ada prestasi membanggakan selain Copa del Rey musim 2020/21. Selebihnya, Koeman telah banyak merusak tatanan yang sudah lama dibangun Barca. Dia beberapa kali terlibat cekcok dengan pemain asuhan hingga mengusir penyerang andalan yang sejatinya masih bisa diberi kesempatan.

Di kompetisi La Liga musim ini saja, Koeman gagal membawa Barca duduk di posisi lima besar. Malah dia sempat membuat Barca hancur lebur ketika tampil dalam dua pertandingan awal kompetisi Liga Champions Eropa.

Apa yang telah menimpa Koeman sejatinya telah menunjukkan bahwa pemain hebat yang menjadi legenda klub sekalipun tak menjamin untuk bisa tularkan banyak gelar ketika mereka duduk di kursi kepelatihan. Seperti diketahui, Koeman merupakan legenda el Barca yang bahkan sempat membawa klub memenangkan trofi Liga Champions Eropa pertamanya.

Lebih dari itu, dengan kehebatan yang dimilikinya, Koeman juga berhasil torehkan sebanyak empat gelar La Liga secara beruntun.

Selain Koeman, masih ada beberapa sosok lagi, yang meski menjadi legenda di klub tertentu untuk kemudian diangkat jadi pelatih, malah berakhir dengan sebuah surat pemecatan karena dianggap gagal.

Andrea Pirlo

Andrea Pirlo pernah menjadi sosok yang begitu berjasa bagi Juve. Setelah didatangkan secara gratis dari AC Milan, Pirlo langsung tampil sebagai poros permainan Si Nyonya Tua. Dia mengantar Juve kembali ke era kejayaan dengan mempersembahkan sejumlah trofi Serie A secara beruntun.

Mengetahui sang pemain yang pensiun untuk kemudian beralih profesi jadi pelatih, Juve kemudian mengambil keputusan untuk menjadikan Pirlo sebagai juru taktik. Tanpa ada pengalaman apapun di tim senior, Pirlo resmi tangani Paulo Dybala dan kolega. Sayangnya, selama kurang lebih setahun tangani Juve, Pirlo gagal memberikan kestabilan. Pasalnya Juventus meraih beberapa hasil minor yang membuat mereka gagal mempertahankan gelar Juara Serie A dan melaju jauh di Liga Champions.

Setelah dianggap gagal memberikan kontribusi besar bagi klub, Pirlo akhirnya dipecat. Dari total 52 pertandingan, Pirlo menghadirkan 34 kemenangan, 10 imbang dan 8 kalah. Selain itu, dia juga sempat persembahkan trofi Piala Super Italia dan Coppa Italia.

Akan tetapi satu yang menjadi catatan, Pirlo jadi pelatih pertama yang gagal membawa Juventus meraih gelar juara Serie A, setelah pada tahun-tahun sebelumnya, hal itu sudah jadi tradisi bagi Si Nyonya Tua.

Frank Lampard

Kita semua mengenal sosok Frank Lampard sebagai legenda the Blues Chelsea. Kebanyakan penggemar Chelsea saat ini, tumbuh dengan menyaksikan aksi Lampard dalam membawa klub menjuarai banyak gelar bergengsi.

Tepat setelah putuskan pensiun dari dunia sepakbola, Lampard beralih profesi menjadi seorang pelatih. Petualangan pertamanya dimulai dari tim muda Chelsea, sebelum akhirnya dia melanjutkan karir bersama Derby County. Pada 2019, karena dianggap punya potensi untuk melatih Chelsea, Lampard kemudian dipanggil untuk mengisi kursi kepelatihan tim yang telah membesarkan namanya.

Dirinya didapuk menjadi pelatih untuk gantikan peran Maurizio Sarri. Sayang, semua yang telah disiapkan tidak berjalan sesuai rencana. Selama satu setengah musim menukangi Chelsea, Lampard belum memberikan gelar buat The Blues. Statistiknya juga kurang bagus, yakni hanya 44 kemenangan dari 84 laga di semua kompetisi.

Di musim 2020/21, semua kian berjalan buruk usai performa yang ditunjukkan Lampard tidak sebanding dengan dana 200 juta pounds yang telah dikeluarkan klub untuk membeli banyak bintang. Selama melatih Chelsea, Lampard cuma mampu memberi 29 poin dari hasil delapan kali menang, lima kali imbang, dan enam kali kalah.

Melihat ada yang tidak beres, manajemen kemudian mengeluarkan keputusan dengan memberi surat pemecatan kepada Lampard.

Clarence Seedorf & Filippo Inzaghi

Clarence Seedorf masih menjadi satu-satunya pemain yang berhasil memenangkan trofi Liga Champions Eropa bersama tiga tim berbeda. Satu bersama Ajax Amsterdam, satu bersama Real Madrid, dan dua bersama AC Milan.

Ketika tampil membela AC Milan, nama Clarence Seedorf memang jadi idola. Dia menjadi salah satu pemain Belanda paling bersinar ketika tampil dengan balutan seragam merah-hitam. Dalam banyak pertandingan, Seedorf juga sering mencetak gol spektakuler melalui sepakan-sepakan mematikan.

Ketika masih terikat kontrak sebagai pemain Botafogo pada tahun 2014, Seedorf tiba-tiba memutuskan untuk berhenti sebagai pemain dan memilih untuk mengambil pekerjaan sebagai pelatih. Di awal tahun 2014, Seedorf langsung tangani AC Milan yang memang tengah dihadapkan dengan performa buruk.

Sayang, kecintaan Seedorf pada Milan tidak berbuah manis. Dia hanya bertahan selama empat bulan saja sebelum akhirnya Inzaghi datang sebagai pengganti.

Sama seperti Clarence Seedorf, nama Filippo Inzaghi juga sangat dihormati ketika masih tampil bersama AC Milan. Dengan pergerakan tiba-tiba dan cenderung tak terduga, inzaghi sering diandalkan di lini serang AC Milan. Semua tentu masih ingat ketika pemain berjuluk Super Pippo menjebol gawang Liverpool di final Liga Champions Eropa 2007, untuk membalaskan dendam Milan yang kalah secara dramatis dua tahun sebelumnya.

Setelah putuskan pensiun sebagai pemain, dengan Milan jadi klub terakhir yang dibela, Inzaghi lalu berkarir menjadi pelatih. Dia memulai perjalanan dengan melatih tim primavera sebelum akhirnya terjun ke tim senior Milan pada tahun 2014. Sayangnya, perjalanan Inzaghi sebagai pelatih Milan tak bertahan lama.

Klub hanya dibawanya finish di urutan ke sepuluh dan terlempar dari kompetisi Eropa, hingga membuatnya harus angkat kaki pada Juni 2015.

Thierry Henry

Sebagai pemain yang dibesarkan di Prancis, Thierry Henry memiliki segala atribut untuk jadi seorang bintang. Kiprah ketika dia masih jadi pemain muda pun langsung mengundang perhatian AS Monaco. Selama kurang lebih dua tahun tampil di tim muda, Thierry Henry langsung dipercaya untuk promosi ke tim utama pada tahun 1994.

Lima tahun tampil sebagai penyerang di tim utama Monaco, Thierry Henry menunjukkan performa mengagumkan. Dia sukses mencetak banyak gol dalam setiap musim hingga membuat namanya dipercaya untuk masuk ke timnas Prancis yang berlaga di turnamen Piala Dunia 1998.

Pada musim 1996/97, Thierry Henry bahkan sempat persembahkan trofi Liga untuk Monaco.

Setelah bergabung dengan banyak klub besar usai tinggalkan Monaco, Thierry Henry lalu putuskan terjun ke dunia kepelatihan. Dia sempat menjadi asisten pelatih Belgia di tahun 2016 sampai 2018 sebelum akhirnya ditunjuk sebagai pelatih tim yang telah membesarkan namanya, AS Monaco pada 13 Oktober 2018.

Nahas, Henry gagal mengangkat nama Monaco yang sebelumnya memecat Leonardo Jardim. Henry yang sejatinya dikontrak selama 2,5 tahun gagal membawa tim merangsek naik ke papan atas klasemen dan malah berkubang di jurang degradasi.

Hasilnya, Monaco tanpa pikir panjang langsung mengeluarkan surat pemecatan kepada Henry, yang hanya tiga bulan bertugas sebagai pelatih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru