Lazimnya, laga derby tercipta dengan sendirinya. Entah karena persaingan prestasi, gesekan antarsuporter, atau kebencian tertentu antara dua klub rival. Namun, apa jadinya kalau derby timbul karena diciptakan?
Inilah derby della lanterna. Sebuah laga derby yang mempertemukan dua klub dari kota pelabuhan tersibuk nan ikonik di pantai utara Italia. Di balik gemerlapnya kota Genoa yang terletak di pinggir laut Mediteranian, tersaji duel panas antara Genoa CFC versus UC Sampdoria.
Nama derby della lanterna itu sendiri diambil dari ikon kota Genoa, yakni Torre della Lanterna, sebuah mercusuar kuno yang terletak di pelabuhan kota. Mercusuar yang ada sejak abad 12 itu juga jadi pintu masuk sejarah sepak bola Italia.
The Lanterna dates back to 1543, replacing the original that was destroyed in a fire in 1514. It stands a total of 177 meters and the light is visible for 36 nautical miles. This square tower is perched above a working port which dates back to the Roman era.#AprilTowers #Genoa pic.twitter.com/83viBbk2Do
— augusthats (@AugustHats) April 4, 2021
Pelabuhan itu pula yang jadi cikal bakal terbentuknya klub Genoa. Banyak ekspatriat dan imigran Inggris yang datang lewat pelabuhan kota. Mereka tak cuma bekerja, tapi juga menyebarkan sepak bola dan membentuk kesebelasan Genoa Cricket & Athletic Club pada 7 September 1893.
Pada awalnya, Genoa hanyalah klub untuk orang Inggris di Italia. Namun, pada 10 April 1897, Genoa membentuk klub sepak bola dan perlahan orang Italia dilibatkan. Sampai pada akhirnya mereka jadi juara gelaran pertama Italian Football Championship, cikal bakal Serie A pada 1898.
Singkat cerita, Genoa berganti nama menjadi Genoa Cricket and Football Club (Genoa CFC) pada 1899. Setelah itu, mereka langsung jadi penguasa Liga Italia pada medio 1900an. Klub yang berjuluk Il Grifone itu mendominasi Liga Italia selama 3 dekade awal di bawah asuhan 2 pelatih asal Inggris, James Richardson Spensley dan William Garbutt.
#OnThisDay in 1964 📆
William Garbutt, the father of Italian football, died 🙏🙌 pic.twitter.com/mJXHTkJiQW— ForzaItalianFootball (@SerieAFFC) February 24, 2019
Di awal abad 20 itu, Genoa mampu memenangi 9 gelar scudetto dan 1 gelar Coppa Italia. Sebuah rekor pada zamannya yang menjadikan Genoa klub sepak bola Italia terkuat pada masa itu. Di kota asalnya sendiri, Genoa takada lawan. Dua klub lain dari kota pelabuhan, yakni Society Andrea Doria dan Sampierdarense tak mampu mengimbanginya.
Dominasi itulah yang memicu rivalitas antarklub di kota Genoa. Pendukung Andrea Doria dan Sampierdarense jelas iri dengan pencapaian Genoa. Bumbu kebencian mulai tumbuh saat itu. Namun, rupanya tak cuma pendukung dua klub tersebut saja yang tak suka melihat dominasi Genoa di Liga Italia.
Di masa itu, Italia dipimpin oleh seorang diktator dari Partai Fasis, Benito Mussolini. Mussolini yang mulai jadi perdana menteri pada 1922 tak menyukai dominasi Genoa di Liga Italia. Alasan utamanya, Genoa dianggap antek asing dan tidak nasionalis.
On this date March 23 in 1919, Benito Mussolini formed the fascist movement in Milan, Italy. Photo source: German Federal Archives. #OTD pic.twitter.com/QtEOz0e4zk
— Dr. Jeffrey Guterman (@JeffreyGuterman) March 24, 2021
Kebencian Mussolini bukan tanpa sebab. Pasalnya, bila kita menilik sejarahnya saja, Genoa dibentuk oleh orang-orang Inggris dan kebetulan pula, Genoa mampu meraih 9 trofi scudetto berkat andil beberapa pemain Inggris dan pelatih asal Inggris dalam skuadnya.
#GenoaHeritage 📜
13 Aprile 1902, il #Genoa conquista in finale contro il Milan il suo quarto scudetto! 🇮🇹⚽ pic.twitter.com/BszGdJSY8v— Museo del Genoa (@museodelgenoa) April 13, 2021
Akhirnya, pada 1927, Mussolini memerintahkan Andrea Doria dan Sampierdarense untuk melakukan merger. Maka terciptalah La Dominante Genova yang dibentuk dengan tujuan untuk meruntuhkan dominasi Genoa di sepak bola Italia.
Sejak saat itulah derby della lanterna tercipta dan mulai dipertandingkan. Sayangnya, laga tersebut hanya bertahan 3 tahun saja setelah La Dominante bubar. Tak hanya gagal menyaingi Genoa, La Dominante justru mengakhiri liga di posisi buncit.
Andrea Doria dan Sampierdarense memutuskan berpisah kembali. Namun, bumbu-bumbu rivalitas di kota pelabuhan Italia masih tetap terjaga. Hingga akhirnya setelah perang dunia kedua berakhir dan Benito Mussolini dieksekusi, Andrea Doria dan Sampierdarense memutuskan kembali bersatu.
Kali ini takada ikut campur fasisme dalam pembentukannya. Kedua klub saling menyatukan visi tanpa paksaan dan menggabungkan kekuatannya untuk membentuk kesebelasan Unione Calcio Sampdoria pada 12 Agustus 1946.
🎥 Andrea Doria, Sampierdarenese, Dominante and Liguria: the 4 clubs behind Samp’s birth ➡ https://t.co/VtupJqJpqh pic.twitter.com/eC4P6NUXAK
— Sampdoria English 😷 (@sampdoria_en) June 3, 2016
Pada saat itulah dimulai babak baru dari derby della lanterna. Sampdoria dan Genoa bertemu pertama kali di Serie A musim 1946/1947. Dalam dua laga di musim tersebut, Sampdoria selalu menang, masing-masing dengan skor 3-0 dan 3-2.
Kalah dari sang rival bukan satu-satunya hal yang membuat pendukung Genoa benci kepada Sampdoria. Pasca Sampdoria terbentuk, mereka mengajukan proposal kepada dewan kota untuk memakai Stadion Luigi Ferraris yang selama ini hanya dipakai oleh Genoa. Kesepakatan dicapai dan sejak saat itu, laga derby della lanterna digelar di tempat yang sama hingga detik ini.
Bagaimana peta derby della lanterna sekarang?
Hingga musim 2020/2021, Genoa dan Sampdoria sudah bertemu dalam derby della lanterna sebanyak 103 kali di berbagai ajang domestik, seperti Serie A, Serie B, dan Coppa Italia. Sampdoria unggul dengan 40 kemenangan, sementara Genoa cuma menang 26 kali, sisanya laga berakhir imbang.
Ya, pertemuan dua klub asal kota pelabuhan di laut mediterania yang tadinya selalu dikuasai Genoa, telah berpindah kekuasaan ke tangan Sampdoria. Titik baliknya terjadi di tahun 80 dan 90an. Pada tahun 1979, Sampdoria dibeli oleh Paolo Mantovani, seorang taipan minyak ternama kala itu.
Suntikan dana dari Mantovani berbuah manis. Investasinya kepada pemain dan pelatih apik berbuah berbagai trofi juara. Dihuni pemain hebat semacam Gianluca Viali, Roberto Mancini, dan Attilio Lombardo, klub berjuluk I Blucerchiati itu meraih 4 gelar coppa Italia, 1 supercoppa, dan masing-masing 1 scudetto dan trofi Piala Winners di tahun 1990.
Sampdoria with the Cup Winners’ Cup, 1990. pic.twitter.com/lqKUMCGs5C
— 90s Football (@90sfootball) April 3, 2018
Sejak saat itu, dimulailah babak baru rivalitas Genoa dan Sampdoria. Adu prestasi jadi bumbu di tiap laga. Pendukung Genoa patut berbangga dengan 9 scudetto-nya, tapi pendukung Sampdoria selalu membanggakan trofi Piala Winners mereka yang tak mampu disamai Genoa.
Derby della lanterna mungkin memang tak setenar derby lain semacam derby d’italia, derby della madonnina, maupun derby roma. Namun, ini adalah derby tertua di Italia dan salah satu yang paling panas. Laga kedua tim selalu dijaga ketat kepolisian dan mobil ambulans tersebar di sekitar Stadion Luigi Ferraris.
😍 DERBY DELLA LANTERNA 😍
The magnificent Derby della Lanterna from Genoa gets underway at 7.45pm.
One of the best, and most underrated, derbies in Europe.
Enjoy 🔥 pic.twitter.com/GCtWRBR0jH
— WeLoveBetting (@WeLoveBettingUK) November 1, 2020
Meski saling membenci satu sama lain, pada kenyataannya kedua pendukung klub saling menghormati. Bukan karena fakta keduanya yang belum mampu berprestasi lagi seperti di masa lalu. Namun, rivalitas di derby della lanterna hanya terjadi di ranah sepak bolanya saja.
Ada satu perisitiwa yang mampu menyatukan kedua suporter Genoa dan Sampdoria. Momen itu terjadi di tahun 2018 silam tepatnya setelah terjadi tragedi Ponte Morandi. Pada 14 Agustus 2018, Ponte Morandi, jembatan jalan raya di kota Genoa runtuh akibat badai. Sebanyak 43 orang tewas. Peristiwa tersebut menjadi duka bagi warga kota.
Pada laga derby yang digelar bulan November, kedua pendukung kompak memberi penghormatan sebelum laga dimulai. Tak hanya itu, masing-masing pendukung ikut serta membantu pemulihan dengan memberi bantuan kepada para korban. Sebuah momen yang indah meski kedua tim saling menyakiti di atas lapangan.
Selain itu, kedua pendukung juga berbagi stadion dan hidup bersama di kota yang sama. Pendukung Genoa dan Sampdoria juga sering bertemu di satu tempat. Di bar misalnya, pemilik yang merupakan fans Genoa sering kali menyajikan minuman untuk fans Sampdoria. Begitu pula sebaliknya. Asalkan tidak terjadi saat laga derby berlangsung, pertemuan keduanya tak akan berakhir dengan pertengkaran.
Derby della lanterna adalah sebuah contoh laga derby yang sebenarnya. Meski rivalitas keduanya kerap keluar dari stadion Luigi Ferraris, namun jarang kita mendengar kericuhan antar suporter timbul hingga menelan korban jiwa.
The Derby della Lanterna is living up to the hype 👏
Fabio Quagliarella has put @sampdoria_en 1-0 up already 🔥 pic.twitter.com/VfEtyszW3W
— Dugout (@Dugout) November 25, 2018
Meski saling menghormati dan hanya berjarak selama 90 menit, rivalitas kedua tim tetap terjaga. Salah satu buktinya, dulu sempat ada wacana agar Genoa dan Sampdoria melakukan merger demi mendongkrak prestasi kedua tim. Namun, gagasan tersebut ditolak keras.
Derby memang lazim dengan kebencian dan kekerasan. Namun, derby della lanterna berbeda. Kedua pendukung boleh saja saling ejek dan bersaing di dalam lapangan. Akan tetapi, selebihnya mereka bersahabat. Sebuah contoh bagus yang patut ditiru.
Tak disangka, rivalitas yang pada awalnya dibentuk akibat paham fasisme, kini justru berbuah menjadi rivalitas panas yang terus diwariskan masing-masing pendukung. Inilah derby della lanterna, duel Genoa vs Sampdoria yang tetap berlangsung meriah, panas, dan bergairah meski kedua pendukungnya saling bersahabat.
***
Sumber Referensi: LigaLaga 1, LigaLaga 2, Urban Pitch, Marking the Post


