Derby Copenhagen: Duel Underrated yang Tak Kalah Panas

  • Whatsapp
Derby Copenhagen Duel Underrated yang Tak Kalah Panas
Derby Copenhagen Duel Underrated yang Tak Kalah Panas

Kota Kopenhagen bukanlah kota yang bisa disebut sudut. Sebab, Kopenhagen adalah ibukota salah satu negara Skandinavia, Denmark. Di kota ini kamu bisa menemukan arsitektur bangunan yang begitu menawan dengan cat warna-warni, khas bangunan-bangunan di Eropa. Di tengahnya ada sungai yang begitu tenang dan tak menimbulkan banjir.

Di atas sungainya berlabuh perahu-perahu yang entah bagaimana tampak begitu indah. Sementara, di sudut-sudut jalan Kota Kopenhagen, kamu boleh jadi akan menemukan sebuah kenyamanan, ketenangan, dan kehangatan suasana. Melebur dengan warga Denmark yang dikenal ramah.

Nyaris tak ada polusi di Kopenhagen. Sebagian besar warganya tak akrab dengan sepeda motor. Hanya sepeda, karib perjalanan yang setia bagi orang-orang Kopenhagen. Pun tak ada yang namanya macet di sana.

Namun, jangan salahkan agen wisata kalau kamu datang ke sana persis sebelum laga antara FC Kopenhagen vs Brondby digelar. Yup, wajah Kopenhagen pun berubah. Dari yang semula tenang dan penuh kenyamanan, berubah menjadi penuh dengan kewaspadaan. Suasananya ibarat Indonesia saat kerusuhan 98.

Sudut demi sudut tampak dijaga dengan ketat. Aparat keamanan berjaga-jaga. Tak boleh satu jalan pun luput dari penjagaan. Karena tak ada yang tahu di sudut mana orang lupa kalau hari itu adalah jadwal pertandingan Brondby vs FC Copenhagen. Bisa jadi ada yang khilaf memakai jersey salah satu tim.

Derby Copenhagen antara Brondby vs FC Copenhagen adalah derby yang kerap kali dilupakan. Apalagi semenjak makin menyusutnya perwakilan Denmark di kancah Eropa, utamanya Liga Champions. Orang cenderung teralihkan dengan klub Midtjylland, yang beberapa waktu belakangan kerap wara-wiri di kompetisi Eropa, termasuk Liga Champions.

Sejarah Derby Copenhagen

Siapa menyangka, selain Inggris, di Denmark juga ada derby paling panas yang mempertemukan dua klub sekota. Derby Copenhagen yang mempertemukan antara FC Kopenhagen dan Brondby ini sudah berlangsung sejak sekitar 1992. Selain disebut Derby Copenhagen, derby kedua klub ini juga disebut “The New Firm”. Mengapa?

Derby antara dua kota Kopenhagen ini bukan sekadar perkara geografis. Tapi kedua tim, kebetulan sama-sama dari hasil merger. Mari kita mulai dari Brondby IF. Klub yang secara usia lebih tua.

Brondby IF lahir tahun 1964. Ia tidak ujug-ujug lahir dengan nama Brondby, melainkan hasil peleburan atau merger antara dua klub: Brondbyoster dan Brondbyvester. Sejak saat itu, klub bernama lengkap Brondbyernes Idraetsforening menjadi kekuatan Denmark. Ia menguasai Liga Super Denmark dengan torehan 10 gelar.

Prestasi terbaik Brondby adalah masuk semifinal Piala UEFA tahun 1991. Selain itu, tentu saja, ada prestasi lain yang tak kalah mentereng. Misalnya, menyapa fase grup Liga Champions Eropa tahun 1998. Namun prestasi Brondby terhenti sejak 2005.

Tahun 2005 adalah tahun terakhir Brondby IF menjuarai Liga Super Denmark. Saat itu, Brondby masih di bawah asuhan manajer Michael Laudrup. Sedangkan lepas 2005, prestasi Brondby justru meredup.

Lebih-lebih tahun 1992, Kopenhagen punya klub lain. Klub itu adalah FC Copenhagen yang menjadi ikon Negara Denmark. Ketika orang menyebut FC Copenhagen, maka langsung paham kalau klub tersebut berasal dari Kopenhagen, Denmark. Yang mengejutkan lagi, FC Copenhagen dan Timnas Denmark berbagi kandang, yaitu Stadion Parken.

Sama seperti Brondby, FC Copenhagen lahir atas peleburan dua klub: KB dan B1903. Kelahiran FC Copenhagen menjadi petaka buat Brondby. Setidaknya, gelar juara mereka terganggu sejak 1992. Terbukti hanya butuh waktu semusim bagi FC Copenhagen untuk memutus dominasi Brondby di Liga Super Denmark.

Mereka keluar sebagai kampiun di musim 1992/1993. Sejak saat itu, Brondby dengan segala tetek-bengeknya, tak terkecuali penggemar cemas, iri, dan sesekali boleh juga dengki pada FC Copenhagen. Mulai dari situ lahir Derby Copenhagen.

Derby Terpanas

Tak banyak yang tahu, bahwa Derby Copenhagen adalah derby terpanas sejagad Denmark. Kedua ultras acap kali terlibat cekcok, saling hujat, adu psy-war, saling adu koreografi, sampai tak lupa juga saling pukul. Konon memakai jersey kedua klub jelang Derby Copenhagen adalah pantangan.

Barang siapa yang memakai jersey, maka bukan tidak mungkin ia akan dikeroyok oleh fans klub rival. Maka dari itu, aparat dikerahkan buat berjaga-jaga, siapa tahu ada yang enggak sengaja pakai jersey salah satu tim. Mengingat ketegangan dua ultras sudah mulai muncul sejak sepekan sebelum kick off.

Jadi, rentang waktu itulah tingkat kewaspadaan di Kota Kopenhagen ditingkatkan. Mengingat kebencian kedua ultras klub ini lumayan dalam. Bagi fans FC Copenhagen, Brondby adalah klub pinggiran Kota Kopenhagen.

Brondby sudah tidak layak lagi mewakili Kopenhagen. Ia terlalu kuno dan ketinggalan zaman. Hinaan itu, tentu saja, dibalas oleh penggemar Brondby. Bagi mereka, FC Copenhagen tak lebih dari sekadar klub kemarin sore yang ngaku-ngaku mewakili Kopenhagen.

Para ultras Brondby kerap menyamakan FC Copenhagen seperti pabrik, bukan klub sepak bola. Karena yang dilakukan FC Copenhagen dianggap hanya mencari keuntungan, bukan prestasi. Meskipun pada kenyataannya prestasi FC Copenhagen lebih banyak.

FC Copenhagen sukses merengkuh 12 trofi Liga Super Denmark, unggul dua trofi dari Brondby IF. Bukan hanya itu, di kancah Eropa, FC Copenhagen lebih baik prestasinya sebab berhasil menembus babak 16 besar Liga Champions musim 2010/2011. Waktu itu, di babak 16 besar ultras FC Copenhagen mendapat kesempatan bersilaturahim dengan fans Chelsea FC.

Apa yang Terjadi?

Setiap pertandingan Derby Copenhagen, penonton layar kaca atau streaming mesti bersabar. Karena sudah tentu kick off akan ditunda. Penggemar Brondby, sebelum masuk ke stadion akan melakukan pawai dengan koreografi yang sungguh indah jika dipandang dari televisi. Tapi sungguh menegangkan ketika hadir langsung di lokasi.

Sepanjang jalan dijaga ketat oleh aparat keamanan. Bahkan aparat mesti sekuat tenaga untuk menahan terlebih dahulu pawai dari pusat kota Kopenhagen. Intinya, jangan sampai kedua ultras ketemu di luar stadion. Meskipun kerusuhan di dalam stadion beberapa kali juga tak bisa dicegah, seperti suporter yang melempar tikus mati ke lapangan.

Sementara, para penggemar FC Copenhagen membumbungkan asap warna-warni. Bom asap hitam, putih, dan biru dikeluarkan bersamaan dengan suar. Hal itu mau tidak mau membuat penonton dan tentu saja pemain mesti menunggu beberapa saat.

Di Parken, pendukung FC Copenhagen terbiasa menempati tribun B di belakang gawang. Tribun tersebut dinamai “Sektion 12”, penghuninya ultras utama FC Copenhagen, Urban Crew yang mulai ada sejak 2003. Sedangkan di Brondby, hanya ultras garis keras Brondby lah yang berhak menempati tribun selatan atau Sydsiden.

Para pendukung juga mesti cermat dalam memakai jersey. Satu hal yang dilarang adalah memakai jersey away kedua tim. Karena akan ada pertunjukan koreografi antara kedua pendukung. Kalau sampai satu orang saja warnanya beda, bisa berabe nanti.

Well, meskipun kebencian antara pendukung FC Copenhagen dan Brondby IF amat dalam, namun ketika pertandingan kadang kala berjalan tanpa kerusuhan. Sebab, pasukan pengamanan sudah lebih dulu sigap di dalam stadion. Tentu untuk mengamankan pertandingan, bukan malah ikutan memanas-manasi seperti di negara yang jaraknya ribuan kilometer dari Denmark.

Per 8 Agustus 2021, Derby Copenhagen atau The New Firm sudah digelar sebanyak 116 kali. FC Copenhagen yang paling produktif memungut kemenangan dengan catatan 54 kali. Sedangkan Brondby memetik 36 kemenangan, 26 sisanya berakhir imbang.

Biasanya tiket pertandingan Derby Copenhagen ludes terjual. Sementara, harga tiketnya dibanderol sekitar 15-30 poundsterling atau kira-kira Rp 295 ribu-Rp 590 ribuan. Jika Derby Copenhagen digelar di Stadion Parken dengan kapasitas 38 ribu penonton, pendapatan yang bisa dikumpulkan dari penjualan tiket saja paling tidak 570 ribu poundsterling atau sekitar Rp 11,2 miliar. Dari kebencian menjadi cuan. Masuk~

Sumber referensi: wikipedia.org, theawaysection.com, outsidewrite.co.uk

Pos terkait