Dear Wayne Rooney, Sudahlah Berhenti Jadi Pelatih Saja!

spot_img

Masih ingat gol Wayne Rooney ke gawang Manchester City 2011 silam? Gol salto spektakuler yang membuat bek-bek The Citizens cuma bisa melongo. Dari gol itu nama Rooney kian masyhur. Bahkan sampai hari, gol ke gawang The Citizens adalah momentum yang sulit dilupakan sekaligus sulit diulangi.

Sebagai seorang pemain, Rooney memang punya nama besar. Ia disebut legenda oleh pendukung Manchester United. Penggemar Everton juga tidak ketinggalan menyebut Rooney legenda mereka. Permainannya klinis di lini depan dan selalu menjadi mesin gol adalah ciri khasnya.

Di Manchester United. Saat berseragam tim Merseyside. Bahkan ketika bermain untuk Derby County maupun DC United. Rooney versi pemain nyaris tanpa cela. Dan untuk itulah orang mungkin akan menganggap reputasinya cocok untuk menangani sebuah tim.

Namun, menjadi pemain dan pelatih adalah dua entitas yang berbeda. Dan Rooney membuktikan kredo tersebut nyata adanya.

Dipecat Birmingham

Beberapa hari lalu, karier Rooney yang masih prematur di Birmingham harus terhenti. Klub memecatnya setelah melakoni 15 pertandingan atau selama 83 hari melatih. Ya, tidak sampai tiga bulan. Rooney awalnya ditunjuk menggantikan John Eustace.

Di tangan Eustace, Birmingham mengawali musim dengan bagus. Ia membawa The Blues merangkak ke posisi keenam Championship. Mengincar play-off promosi. Namun, imbalan yang diterima Eustace justru pemecatan. Rooney datang untuk menggantikannya.

Merekrut Rooney tentu meningkatkan penjenamaan Birmingham dalam skala global. Tom Brady, orang Amerika yang jadi pemilik Birmingham punya ambisi besar untuk itu. Namun, Rooney ditunjuk bukan hanya untuk citra klub, melainkan juga untuk membawa kembali Birmingham ke Premier League setelah 13 tahun mendekam di divisi dua.

Sebuah rencana yang betul-betul ambisius. Merekrut pelatih baru di tengah tren positif juga satu pertaruhan. Benar saja. Setelah menang meyakinkan atas West Bromwich Albion di tangan Eustace, Birmingham menelan kekalahan di laga pertama Rooney, menghadapi Middlesbrough-nya Michael Carrick.

Birmingham Hancur di Tangan Rooney

Kekalahan atas Middlesbrough menjadi titik awal kehancuran Birmingham di tangan Rooney. Laga-laga berikutnya, Rooney tidak memetik satu pun kemenangan di Championship, kecuali saat menghadapi Cardiff City dan Sheffield Wednesday.

Hanya menang dua dari 15 pertandingan, Birmingham pun melorot ke posisi 20. Rooney pun menjadi pelatih terburuk Birmingham dengan persentase kemenangan cuma 13,3%. Hanya unggul sedikit dari Gianfranco Zola (8,3%) yang melatih antara Desember 2016 hingga April 2017.

Tapi masalah tidak hanya itu. Alih-alih berkaca pada diri sendiri, Rooney justru menyalahkan para pemainnya. Mengutip The Athletic, Rooney mengkritik kemampuan, kurangnya kekuatan mental, dan harga diri para pemainnya. Situasi ruang ganti pun rusak.

Hal itu bertambah parah karena Rooney kehilangan pemain pilarnya. Rekrutan baru Ethan Laird dan Tyler Roberts cedera. Belum lagi sebagian pemain mengalami penurunan performa seperti kiper John Ruddy dan Dion Sanderson. Rooney kesulitan mencari penggantinya dan rencana dan skemanya tak berjalan lancar.

Sikap Rooney menyalahkan pemain Birmingham juga bikin dewan eksekutif Birmingham meradang. Ha gimana, saat memulai laga dengan kekalahan, klub masih percaya pada Rooney. Tapi eks pemain MU itu malah mencibir pemainnya sendiri.

Pemecatan Rooney agak ironis. Karena ia sebetulnya masih dalam tahap berusaha membangun ruang ganti yang terdiri dari pemain senior dan pemain muda. Namun memang masalahnya alih-alih membawa Birmingham makin baik, Rooney malah mendorong tim itu ke papan bawah.

Karier Awal di Derby County

Rooney pun meninggalkan jabatannya di tim Championship sekali lagi. Ya, sebelum ini, Rooney juga pernah mengalami nasib serupa di Derby County. Namun bedanya, di Derby County, Rooney tidak dipecat melainkan mengundurkan diri.

Ketika menukangi Derby County, Rooney sebetulnya cukup meyakinkan sebagai pelatih pendatang baru. Apalagi ia pernah menjadi asisten Phillip Cocu di Derby County. Setelah sempat menjadi pelatih-pemain, Rooney ditunjuk menjadi pelatih sementara.

Transisi cepat dilakukan. Setelah mengemas enam poin dalam 11 pertandingan, Derby County makin gesit dengan mengumpulkan 40 poin dari 35 pertandingan. Tim berjuluk The Rams itu pun selamat dari degradasi di akhir musim 2020/21.

Berkembang di Derby County

Cerita belum selesai. Musim kedua di Derby adalah musim di mana Rooney makin dikenal. Tapi itu bersamaan dengan The Rams yang terjerat banyak masalah. Sebelum musim dimulai, Derby terpapar masalah keuangan. Mereka tidak bisa melakukan transfer apa pun.

Hal ini bertambah buruk karena mereka dihukum pengurangan 12 poin. Nah, terkait kasus Derby County tersebut, selengkapnya bisa ditonton pada video Starting Eleven Story sebelumnya. Kasus tersebut justru menantang bagi Rooney. Di sinilah Rooney dipuji karena membawa tim memenangkan lima laga dari 10 pertandingan.

Harapan menghindari degradasi muncul. Tapi di tempat lain, Everton mulai membidik Rooney untuk menggantikan Rafael Benitez. Namun, Wazza memilih bertahan. Keputusan itu mengharukan bagi pendukung Derby. Tapi impian terhindar dari terdegradasi hilang.

Di tangan Rooney, Derby malah memudar. Pada April 2022, Derby terdegradasi ke divisi tiga setelah hanya finis posisi kedua dari bawah. Di hadapan pendukung Derby County, Rooney bilang akan membawa Derby kembali. Tapi ia mengkhianati janjinya sendiri dengan pergi pada Juni 2022.

Pindah ke MLS dan Sama Saja Hasilnya

Jika tidak dikurangi 12 poin, Derby asuhan Rooney masih selamat. Mereka akan duduk di urutan 17 dengan 55 poin. Tapi ya, itu pun terbilang bukan prestasi mengesankan. Kendati demikian, dengan modal kekacauan di Derby, ia mantap melatih DC United. Di MLS, ia mewarisi klub yang berantakan.

DC United berada di posisi paling buncit klasemen Wilayah Timur MLS musim 2022. Sebuah tempat yang cocok menguji kemampuan Rooney sesungguhnya. Masalah seorang pemain yang mengambil karier kepelatihan biasanya adalah kurangnya empati terhadap pemain yang tidak selevel dengannya.

Namun, di DC United Rooney tidak begitu. Rooney mengembangkan hubungan dekat dengan para pemain. Mempraktikkan kemampuan manajemen manusia yang diajarkan oleh Fergie. Lagi pula sebelum melatih, Rooney juga menjadi pemain DC United.

Sayangnya, Rooney malah kesulitan. Hubungannya dengan pemain memang baik. Tapi DC United tak cepat beranjak dari papan bawah. Selain itu, Rooney juga kesulitan menerjemahkan taktiknya ke para pemain DC United. Kadang bahkan terlihat kurang motivasi. Hasilnya Rooney sendiri frustrasi.

Tak ada trofi. DC United tersingkir dari play-off MLS. Mereka hanya finis di posisi 12 klasemen Wilayah Timur MLS. Namun, Rooney masih belum berkaca pada dirinya sendiri. Dengan modal ini, ia malah menerima tawaran Birmingham. 

Keseluruhan

Sebagai salah satu murid Alex Ferguson, Rooney punya kemampuan manajerial yang baik, sebagaimana yang dilakukan di DC United. Tapi dunia kepelatihan bukan cuma perkara man management, tapi juga taktik dan menjaga konsistensi.

Perkara apakah taktik Rooney canggih atau tidak, itu biar jadi pembahasan para pundit. Tapi untuk soal kedua, semua orang paham Rooney tidak bisa mempertahankannya.

Nah, melihat sepak terjangnya sejauh ini melatih Derby County, DC United, dan Birmingham, Rooney hanya mengemas 40 kemenangan dan menderita 74 kekalahan dari 154 laga.

Itu artinya persentase kemenangan Rooney sebagai manajer hanya 26%. Maka, tepat sekali Rooney memilih rehat setelah didepak Birmingham. Ini bisa dimanfaatkannya untuk introspeksi diri. Aslinya dia itu cocok tidak jadi manajer.

Sumber: TheInfromant247, TheGuardian, Goal, Goal, TheAthletic, TheAthletic

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru