Ditinggal saat sedang gacor-gacornya, begitulah nasib Brighton And Hove Albion musim ini. Baru juga awal musim, ia sudah ditinggalkan pelatihnya, Graham Potter ke Chelsea. Lalu bagaimana kelanjutan nasib Brighton berikutnya? Apakah sepeninggal Potter mereka akan meredup?
Namun jangan bersedih dahulu, ternyata manajemen sudah menyiapkan penggantinya. Ia adalah seorang Italia bernama Roberto De Zerbi. Lantas, apakah De Zerbi adalah solusi yang tepat bagi Brighton?
We are delighted to confirm the appointment of Roberto De Zerbi as the club’s new head coach! 🤝 pic.twitter.com/tNoNZfFaxQ
— Brighton & Hove Albion (@OfficialBHAFC) September 18, 2022
Daftar Isi
Brighton Way
Manajemen Brighton kita tahu selama ini smart dalam menjalankan segala perekrutan di bawah sang pemilik Tony Bloom, kepala eksekutif Paul Barber, serta direktur teknik David Weir.
Brighton owner-chairman Tony Bloom, chief executive Paul Barber and technical director David Weir met in London yesterday to review a list of head coach contenders.
There are hurdles to negotiate in selecting Graham Potter’s successor. #BHAFC https://t.co/liNazedy4k— Andy Naylor (@AndyNaylorBHAFC) September 12, 2022
Dengan beberapa operasi transfernya musim ini, mereka meraup banyak cuan. Dari penjualan Cucurella, Bissouma, Maupay, maupun Potter. Seperti diketahui Brighton ini juga menerima uang dari pemutusan kontrak Potter. Sungguh taktik bisnis yang brilian di awal musim ini dari pihak manajemen.
Alih-alih akan mencari pengganti pemain dan pelatih yang hengkang itu dengan beberapa sosok yang mahal dan bertajuk bintang, namun ternyata justru kebalikannya. Pemain yang didatangkan paling semacam Lewi Colwill, Estupinan, maupun Billy Gilmour, yang tak seberapa nilainya. Begitupun sekarang pelatihnya, yang kebetulan masih menganggur, gajinya pun tak mahal.
Sepeninggal Potter, teka-teki sosok pelatih baru Brighton pun kini akhirnya terjawab. Sosok itu akhirnya muncul ke permukaan dengan datang menemui pihak manajemen di tengah pertandingan Brighton yang bersifat tertutup di Amex Stadium. Dan tak disangka, sosok itu banyak menuai pujian dari manajemen.
“Saya benar-benar senang Roberto telah setuju untuk menjadi pelatih kepala baru kami. Tim Roberto memainkan merek sepakbola yang menarik dan berani. Dan saya yakin gaya dan pendekatan taktisnya akan sesuai dengan skuad kami yang ada,” kata Pemilik Brighton, Tony Bloom.
🚨 Brighton owner-chairman Tony Bloom has spoken about the appointment of De Zerbi. 🗣
“I am absolutely thrilled Roberto has agreed to become our new head coach. I am confident his style and tactical approach will suit our existing #BHAFC squad superbly.” 🙌 pic.twitter.com/LzkxSEIVeJ
— Seagulls Central (@SeagullsCentral) September 18, 2022
Direktur teknik David Weir dan kepala eksekutif Paul Barber pun juga menambahkan, bahwa Roberto De Zerbi telah menunjukkan kemampuannya yang tidak diragukan dengan pekerjaannya di Italia dan Ukraina. Ia tak dipungkiri sejak awal adalah target utama kami. Disamping tentu ada pilihan alternatif lainnya.
Penunjukan pelatih dengan segera oleh manajemen Brighton saat jeda internasional pertengahan September ini menjadi tepat. De Zerbi bersama stafnya bisa mempunyai waktu adaptasi lebih lama. Yakni kurang lebih dua minggu untuk menerapkan pola latihan bersama skuad Brighton. Sebelum menuju pertandingan pertamanya yakni away ke Anfield pada awal Oktober mendatang.
Pelatih berusia 43 tahun itu kini dikabarkan sudah meneken kontrak bersama The Seagulls selama empat tahun hingga 2026. Ia resmi menjadi pelatih ketiga Brighton setelah mereka promosi ke Liga Inggris sepeninggal Hutton dan Potter.
Official, confirmed. Roberto de Zerbi has been appointed as new Brighton manager. Been told contract will be valid until June 2026. 🚨🔵 #BHAFC
De Zerbi has signed the contract and replaces Graham Potter. pic.twitter.com/cf7wgyt6dq
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) September 18, 2022
Sosok De Zerbi, Pelatih Italia Yang Bernaluri Menyerang
Bicara lebih jauh sosok De Zerbi. Selain sukses bersama Sassuolo selama beberapa musim, ia juga dalam masa singkatnya bersama Shakhtar sempat menikmati kesuksesan. Di antaranya seperti gelar Piala Super Ukraina dan kesuksesan memuncaki Liga Ukraina sementara, sebelum perang melanda.
Brighton appoint Roberto De Zerbi as their new head coach.
In his last two roles, he guided Sassuolo to two consecutive eighth-place finishes in Serie A and won the Ukrainian Super Cup at Shakhtar Donetsk. He left them top of the league before leaving because of the war. 🇮🇹🔵⚪️ pic.twitter.com/N0VPqlMSAg
— The Coaches’ Voice (@CoachesVoice) September 18, 2022
Ia juga sering dilabeli sebagai sosok pelatih yang bernaluri menyerang. Permainannya yang atraktif membuatnya banyak dipuji oleh pelatih bernaluri menyerang lainnya seperti Pep Guardiola. “Jika saya melihat Sassuolo era De Zerbi di Serie A, saya merasa mereka adalah tim positif yang sangat berpikiran menyerang. Saya seperti melihat sebuah hal baru dan impresi dari sepak bola yang sangat luas,” kata Pep.
Pep Guardiola elogia De Zerbi e il Sassuolo: “Ammiro il loro calcio” – #Sassuolo #SerieA – https://t.co/XPdGhhBfcz pic.twitter.com/A7ddx8xon5
— Tutto Sassuolo (@tuttosassuolo) October 17, 2018
De Zerbi ini dikenal selalu setia dengan permainan berbasis penguasaan bola dan build-up dari belakang melawan tim mana pun. Ia pun kini telah menegaskan statusnya sebagai pelatih muda berbakat asal Italia yang idealis dalam menyerang.
De Zerbi dalam menerapkan filosofi sepakbola menyerangnya, dulunya tak malu belajar dari para pelatih senior yang juga bernaluri menyerang seperti Bielsa. Ia bahkan sempat datang langsung les privat dengan Bielsa ketika Bielsa sedang melatih Lille.
“Sueño la libertad de Bielsa, un técnico que ha decidido hacer lo que siente y sigue siendo él mismo. Ha hecho lo que ha sentido conservando la fidelidad a sus princjpios. Le envidio por la libertad que ha sabido darse”
✍️ Roberto De Zerbi (DT Sassuolo) pic.twitter.com/u2eEcbz34M
— La pizarra de Bielsa (@pizarrabielsa) July 2, 2020
Selain itu, pengalaman De Zerbi dalam bermain sebagai pesepakbola, juga dijadikan pijakan dalam karirnya melatih. Sebagai mantan seorang gelandang serang, sebagaimana dikutip The Guardian ia pernah berkata “Ketika saya tidak membawa bola, saya gugup dan tidak menikmati permainan. Jadi, sebagai manajer, saya harus selalu mengingat hal itu.”
Tak heran ketika melatih, ia sering menerapkan pola Possesion Football. Bahkan di musim 2020/21, ia mengantarkan Sassuolo dengan torehan penguasaan bola tertinggi di Serie A sebanyak 60,5%.
Taktik De Zerbi Di Brighton
Nah, ketika sudah bicara panjang lebar tentang kekuatan menyerang De Zerbi, pertanyaannya sekarang apakah ia bisa menerapkannya di Brighton dengan skuad yang ada? Brighton ditinggal Potter dengan seabrek strategi dan taktik yang berubah-ubah. Formasi yang fleksibel ketika di lapangan baik itu 4-3-3, 4-4-2 maupun 3-4-2-1 membuat Brighton sulit ditaklukan.
Kini De Zerbi diuji dengan pijakan strategi Potter yang terbukti sukses itu. Untungnya, De Zerbi juga dikenal sering menggunakan pola yang fleksibel ketika ia melatih, baik di Sassuolo maupun Shakhtar.
Ia adalah tipe pelatih yang hampir sama dengan Potter. Ia sering bereksperimen di lapangan dengan berbagai macam taktik dan formasi. Dari sistem 4-2-3-1 menjadi 3-2-4-1 ataupun 3-5-2.
Great video on Brighton’s new manager. So good to see more tactically innovative managers join the league rather than the safety-first dinosaurs of old.https://t.co/VsxyBWSOPz
— Utkarsh Dalmia (@zophar666) September 19, 2022
Kesamaan eksperimen dengan apa yang dilakukan Potter, mungkin agaknya memberi harapan Brighton untuk tetap memainkan sistem yang tak jauh berbeda. Bagaimanapun skuad yang ada di Brighton sekarang masih enjoy bermain dengan sistem yang ada. Jadi, perombakan frontal secara taktik mungkin tak diharapkan. De Zerbi harus jeli memperhatikan itu.
Konsistensi Brighton Sebagai Pembunuh Raksasa
De Zerbi ini juga harus mempertahankan ritme apik Brighton di awal musim. Inilah sebenarnya yang menjadi beban De Zerbi. Ia dituntut untuk melanjutkan ritme apa yang telah ditinggalkan Potter. Brighton yang berlabel pembunuh raksasa ketika di jaman Potter, kini mau tidak mau menjadi bayang-bayang De Zerbi.
Kemungkinan tren pembunuh raksasa Brighton itu bisa saja berlanjut. Berkaca dengan pengalaman De Zerbi ketika di Sassuolo dulu. Kini bagaimanapun Brighton masih bercokol di posisi ke 4 sementara Liga Inggris. Dengan 4 kemenangan, 1 kali seri, 1 kali kalah serta 1 partai tunda.
Partai selanjutnya mereka cenderung berat. Di sinilah peran De Zerbi benar-benar diuji. Pasalnya di bulan Oktober nanti lawan yang akan mereka hadapi berkategori raksasa seperti Liverpool, Spurs, City maupun Chelsea. Sungguh perjuangan yang tidak mudah bagi pembuktian debut seorang De Zerbi.
His first game will be at #LFChttps://t.co/u56Bbb3HvR
— Liverpool FC News (@LivEchoLFC) September 18, 2022
https://youtu.be/V6QgPn_tw5M
Sumber Referensi : theathletic, theguardian, skysports, panditfootball


