Dana 3 Triliun AC Milan yang Habis Sia-sia

  • Whatsapp
Dana 3 Triliun Milan yang Habis Sia-sia
Dana 3 Triliun Milan yang Habis Sia-sia

“We Are So Rich”, menjadi ungkapan kesombongan para penggemar Milan, tepat setelah klub diakuisisi pengusaha asal China, Yonghong Li. Kalimat itu pun tiba-tiba viral dan membuat semua mengarahkan pandangan pada klub pemegang 18 gelar liga.

Para penggemar, yang ketika itu memang tengah bersedih usai klub kesayangan mengalami krisis berkepanjangan jelas bergembira setelah Silvio Berlusconi akhirnya mau melepas saham mayoritas kepada Li. Li diketahui berhasil mengambil alih kursi kepemilikan Milan setelah mengeluarkan dana sebesar 750 juta euro pada musim panas 2017 silam.

Namun pada saat itu, beberapa dana senilai 303 juta euro yang didapatkan Li, berasal dari manajemen Elliot, yang mana bila sang pengusaha asal China tidak bisa mengembalikannya dalam waktu 18 bulan, otomatis klub akan berada di tangan Elliot. Meski mengambil pinjaman yang tergolong sangat besar, Li tetap percaya diri bisa mengembalikannya. Dia yakin bahwa di bawah kekuasaannya, Milan akan merengkuh banyak piala.

“Kami berjanji, selangkah demi selangkah, tim legendaris ini akan kembali ke puncak kejayaan,” ucap Yonghong Li (via goal)

Rekrutan Milan Senilai 240 juta Euro

Langkah yang dilakukan Li terhadap Milan ketika itu adalah melakukan perombakan besar-besaran. Melalui dana yang terbilang menyilaukan, Milan berhasil mendatangkan setidaknya sebelas pemain, yang mana bila digabungkan bisa menjadi satu tim untuk ditandingkan.

Setelah Milan yang kita tahu seringkali mendapatkan pemain dengan status bebas transfer dalam beberapa tahun belakangan, tiba-tiba dihujani dana segar yang jumlah nya sangat tidak karuan.

240 juta euro atau setara 3 triliun rupiah! Adalah dana yang dihabiskan Milan pada bursa transfer musim panas 2017. Hakan Calhanoglu, menjadi satu di antara pemain bintang yang didatangkan Milan ketika itu. Dengan dana sebesar 20 juta euro atau setara 328 miliar rupiah, Hakan direkrut dari klub asal Jerman, Bayer Leverkusen. Kemudian ada Franck Kessie, bintang muda yang diambil dari Atalanta senilai 28 juta euro atau setara 460 miliar rupiah.

Selanjutnya, Lucas Biglia muncul sebagai nama yang mengisi lini tengah Milan. Eks kapten Lazio itu rela dibayar senilai 18 juta euro atau setara 296 miliar untuk bisa bergabung dengan tim yang katanya bakal segera naik ke puncak kejayaan.

Di lini belakang, ada nama Mateo Musacchio yang dihargai 18 juta euro atau setara 296 miliar rupiah. Kemudian masih ada lagi nama Ricardo Rodriguez, pemain asal Swiss yang direkrut dengan nilai 15 juta euro atau setara 246 miliar rupiah dari Wolfsburg. Dia yang beroperasi di pos bek kiri Milan kian melengkapi kekuatan dari sisi lapangan setelah di pos bek kanan, Milan berhasil mendapatkan bintang muda Atalanta, Andrea Conti seharga 24 juta euro atau setara 395 miliar rupiah.

Maju ke lini serang, Milan menempatkan Nikola Kalinic sebagai pembelian terakhir di bursa transfer kala itu. Dengan dana sebesar 25 juta euro atau setara 411 miliar rupiah, eks penyerang Fiorentina itu akhirnya resmi berseragam Milan di musim 2017/18.

Dari seluruh pembelian yang dilakukan Milan saat itu, terdapat dua nama besar yang sampai mendapat sambutan luar biasa. Pertama adalah Andre Silva, yang pada akhirnya menjadi salah satu rekrutan termahal dalam sejarah Milan. Bintang muda FC Porto itu diboyong dengan dana sebesar 38 juta euro atau setara 625 miliar rupiah.

Silva disebut bakal jadi penerus ketajaman penyerang Milan. Dengan bentuk fisik yang oke, kualitas mumpuni, dan penyelesaian brilian ketika masih bermain untuk Porto, para penggemar menaruh harapan besar pada pundak sang pemain asal Portugal.

Lalu, ada nama Leonardo Bonucci, yang bisa dibilang sebagai transfer terbesar Milan dalam beberapa tahun terakhir. Bonucci diboyong dari Juventus dengan mahar 42 juta euro atau setara 690 miliar rupiah. Bergabung nya Bonucci ke Milan ketika itu benar-benar membuat penggemar menggila. Mereka tidak percaya bila salah satu pilar terbaik Juve ini mau membelot ke kubu rival.

Karena kedatangannya dianggap sebagai yang terbesar, dengan dirinya memang datang dengan segudang pengalaman, Milan rela memberikan ban kapten kepada penjaga lini pertahanan asal Italia itu.

Gagal Total

Pada musim 2017/18, Milan kembali merasakan kompetisi Eropa, meski bukan di level yang utama. Kehadiran Milan di kompetisi Liga Europa ketika itu jelas membuat penggemar sangat antusias. Apalagi bila melihat bursa transfer yang begitu menggelegar. Dengan pembelian yang dilakukan, para penggemar percaya bila klub yang mereka cinta akan segera kembali ke kompetisi papan atas.

Namun apa yang terjadi selanjutnya? Milan justru berada di masa yang sangat tidak diinginkan. Pembelian besar-besaran yang dilakukan bisa dibilang gagal total! Montella yang ketika itu masih jadi pelatih disebut sebagai biang dari ketidakmampuan para pemain Milan untuk berkembang. Satu kesalahan yang ketika itu sempat disorot adalah memaksa Milan bermain dengan skema tiga bek guna mengakomodasi peran Leonardo Bonucci.

Kedatangan pemain dalam jumlah banyak malah menjadi pedang bermata dua yang membuat beban nya semakin besar. Terlebih, pelatih asal Italia itu juga buru-buru melepas sejumlah pemain yang pada musim sebelumnya sukses menjadi kunci keberhasilan Milan kembali ke kompetisi Eropa.

Misalnya saja nama Mario Pasalic. Milan memilih untuk tidak memperpanjang masa bakti sang pemain yang jelas-jelas memberi kontribusi lumayan pada tim. Kemudian ada nama Gerard Deulofeu yang gagal dipertahankan. Belum lagi Juraj Kucka yang sempat jadi andalan di lini tengah, akhirnya memilih terbang ke Turki karena dianggap tak masuk ke dalam rencana.

Nama lainnya yang pada akhirnya dilepas adalah Carlos Bacca hingga Lucas Ocampos.

Pada 12 pertandingan pertama yang dijalani di semua kompetisi, Montella memang berhasil meraih 10 kemenangan. Namun, sejak 24 September 2017, Milan hanya memenangi dua dari sembilan pertandingan di Liga Italia, dimana pada laga pekan ke-14 mereka hanya bermain imbang dengan Torino 0-0 di San Siro. Laga itu kemudian jadi yang keempat dimana Milan gagal mencetak gol di kandangnya sendiri.

Setelah menelan banyak kegagalan, Montella akhirnya tumbang. Dia dipecat dan segera digantikan oleh Gennaro Gattuso.

Sayang seribu sayang, pelatih yang dulunya tampil di lini tengah Milan ini juga sempat membuat noda yang tak pernah dilupakan penggemar, yaitu ketika dia gagal membawa Milan meraih poin penuh atas tim promosi, Benevento. Pada akhir 2017 silam, Benevento berhasil meraih poin pertamanya di kompetisi Serie A usai bermain imbang dengan Milan

Pertandingan yang membuat Benevento mampu mencuri poin ketika itu kian menyakitkan usai kiper lawan, Alberto Brignoli, jadi penyelamat di menit akhir pertandingan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, gawang Milan terbobol oleh seorang kiper. Bahkan, Gattuso gagal membawa Milan menang atas Benevento usai pada pertandingan kedua, mereka justru tumbang dengan skor tipis 0-1.

Beruntung, Gattuso berhasil membawa Milan finish di posisi keenam dan mempertahankan tempat untuk bisa berkompetisi di Eropa musim berikutnya, meski pada akhirnya dia menjadi pelatih Milan selanjutnya yang harus menerima pemecatan.

Bukan Hanya Salah Pelatih

Dalam kegagalan mega proyek Milan yang begitu melegenda ini, pelatih tidak lantas menjadi satu-satunya pihak yang bisa disalahkan. Ada Yonghong Li yang kemudian gagal membayar hutang kepada Elliot dan berakhir pada pengalihan kekuasaan.

Saat itu, Milan benar-benar merasa ditipu oleh sang pengusaha asal China. Dana besar yang dikeluarkan hangus tanpa bekas. Fassone, yang sempat menjadi sosok yang duduk di kursi manajemen Milan juga mengaku menyesal pernah bekerjasama dengan Li.

Selain itu, Milan juga sempat mendapat hukuman dari UEFA usai disebut telah melanggar aturan Financial Fair Play. Pada 2019 lalu, Milan dianggap telah melanggar aturan tersebut sejak tahun 2017. Namun ketika itu banding yang dilakukan bisa diterima, hingga baru pada akhir musim 2018/19 lalu Milan harus menerima sanksi.

Hukuman yang dikeluarkan ketika itu, Milan dikeluarkan dari kompetisi Europa League 2019/20. Posisi mereka kemudian digantikan oleh AS Roma yang finish di posisi keenam pada musim sebelumnya.

Soal pemain rekrutan dari proyek Yonghong Li sendiri, siapa yang mampu bertahan hingga sekarang? Antonio Donnarumma, Leonardo Bonucci, Mateo Musacchio, Ricardo Rodriguez, Lucas Biglia, Nikola Kalinic, Fabio Borini, Andre Silva, sampai Hakan Calhanoglu, semua pemain itu pergi dengan caranya masing-masing.

Leonardo Bonucci yang gagal mempertahankan performa kala tampil untuk Milan lebih memilih untuk pulang kandang ke Juventus. Bek asal Italia itu bahkan mengungkapkan penyesalannya pernah gabung dengan Milan. Andre Silva yang tak kunjung tunjukkan kualitas juga lebih sering jalani masa peminjaman hingga akhirnya dijual. Yang tak boleh ketinggalan, adalah cara Hakan Calhanoglu yang memilih membelot ke kubu rival belum lama ini.

Pemain lainnya banyak yang dilepas tanpa timbulkan kehebohan, karena memang kebanyakan dari mereka gagal tunjukkan performa terbaiknya.

Kini, hanya tersisa Andrea Conti yang belum juga keluar dari jerat penurunan performa usai alami cedera yang terbilang parah. Kemudian ada Franck Kessie, yang nasibnya masih abu-abu. Sodoran perpanjangan kontrak tak kunjung ditandatangani hingga membuat media berspekulasi bahwa Kessie akan jadi angkatan Yonghong Li selanjutnya yang bakal cabut dari Milan.

Membuka Lembaran Baru dengan Manajemen Baru

Saat ini, Milan telah membuka lembaran baru dan menutup rapat-rapat mega proyek yang terbilang gagal. Melalui Elliot manajemen sebagai pemegang kendali, nama Paolo Maldini diundang kembali untuk mengatasi segala masalah secara rinci.

Hasilnya, penunjukkan Stefano Pioli sebagai pelatih yang sempat mendapat banyak caci, berujung pada sebuah konsistensi yang terus membuat Milan dekat dengan prestasi. Kemudian, pembelian pemain kunci yang terlihat lebih rapi, juga mampu membawa Milan kian dekat dengan jati diri.

Juara sejati, menjadi konsep yang dipegang Paolo Maldini. Perlahan tapi pasti, klub yang pernah membawa namanya terbang tinggi, tengah ditata ulang dengan lebih hati-hati untuk bisa kembalikan memori yang dulu pernah membuat Milan begitu ditakuti.

Sumber referensi: footballtransfer, the jakarta post, goal, sport detik

Pos terkait