Mengenang Keajaiban Otto Rehhagel Bersama Kaiserslautern dan Yunani

  • Whatsapp

Dua dekade silam, sebuah klub bernama FC Kaiserslautern menciptakan kisah dongeng yang sulit disamai hingga sekarang. Di musim 1997/1998, Kaiserslautern yang berstatus tim promosi mengguncang sepak bola Jerman dengan berhasil keluar sebagai jawara Bundesliga.

Mengenang Magis Otto Rehhagel Bersama FC Kaiserslautern

Dua musim sebelumnya, Kaiserslautern berhasil menjadi kampiun DFB-Pokal dan memastikan diri lolos ke Piala Winners. Sayangnya, di akhir musim 1996 mereka finish di peringkat 16 sehingga membuat mereka turun kasta ke divisi 2. Itu merupakan kali pertama bagi salah satu pendiri Bundesliga tersebut merasakan turun kasta.

Di masa kelam itulah Otto Rehhagel hadir sebagai juru taktik anyar ke dalam tim yang bermarkas di Fritz-Walter-Stadion itu. Sebelum bekerja untuk Kaiserslautern, Otto Rehhagel baru saja dipecat Bayern Munchen tepat 4 hari sebelum melakoni final Piala UEFA 1996.

Dengan berbekal skuad pas-pasan, Otto Rehhagel membuat Kaiserslautern begitu dominan di Liga 2 Jerman. Mencetak 74 gol dan hanya kebobolan 28 kali. Kaiserslautern mampu memetik 19 kemenangan dan hanya 4 kali menelan kekalahan dalam 34 pertandingan. Singkat cerita, Die Roten Teufel sukses kembali promosi ke Bundesliga musim 1997/1998.

Di sinilah awal kisah dongeng itu dimulai. Sebagai tim promosi, FC Kaiserslautern tak hanya datang untuk sekadar bertahan. Di bawah kendali Otto Rehhagel, sebagian besar pemain Kaiserslautern di musim sebelumnya sukses ia pertahankan. Sebagai tambahan, mereka mendatangkan beberapa pemain anyar seperti Ciriaco Sforza, Andreas Buck, hingga Michael Ballack.

Baru pertandingan pertama saja Kaiserslautern langsung memberi kejutan. Die Roten Teufel mengandaskan juara bertahan Bayern Munchen dengan skor tipis 1-0 di Olympiastadion Munich. Di paruh kedua lagi-lagi pasukan King Otto berhasil menumbangkan Bayern. Kali ini dengan skor 2-0 di Fritz-Walter-Stadion. Kemenangan tersebut juga merupakan pembalasan dendam yang manis bagi Otto Rehhagel yang sebelumnya dipecat dengan tidak hormat oleh FC Bayern.

Kaiserlautern sudah menempati puncak klasemen Bundesliga di pekan keempat. Hingga akhir musim, posisi Die Roten Teufel kokoh di puncak klasemen. Bahkan, mereka memastikan diri menjadi kampiun Bundesliga dengan masih menyisakan satu pertandingan. Kaiserslautern berhasil memetik 19 kemenangan, 11 hasil imbang, dan hanya 4 kali menelan kekalahan dalam 34 pertandingan.

Gelar juara di musim 1997/1998 tak hanya berarti gelar Bundesliga kedua bagi FC Kaiserslautern. Lebih dari itu, Die Roten Teufel menciptakan sejarah yang hingga hari ini sulit untuk dipecahkan. Mereka menjadi tim promosi pertama yang berhasil keluar sebagai kampiun Bundesliga Jerman.

Di musim tersebut, Kaiserslautern berhasil melangkahi juara bertahan Bayern Munchen, juara Liga Champions 1997 Borussia Dortmund, dan juara Piala UEFA 1997 Schalke. Tanpa sentuhan magis Otto Rehhagel, Die Roten Teufel tak akan mampu menciptakan kisah dongeng tersebut. Dialah yang orang paling bertanggung jawab atas kejayaan tersebut.

King Otto menyatukan skuad Kaiserslautern yang berisikan pemain tua dan muda. Dialah yang membawa Michael Ballack yang kala itu masih berusia 21 tahun dan melatihnya menjadi gelandang jempolan. Lewat racikannya, ia juga berhasil membangkitkan kembali performa Ciriaco Sforza yang sempat meredup bersama Inter Milan di musim sebelumnya.

“Dia tahu bagaimana menggunakan pemain yang dia miliki. Bersama kami, dia tahu kami harus menyerang dan memainkan sepakbola yang kuat,” kata Sforza dikutip dari UEFA.

Selain itu, King Otto juga mempertahankan pemain-pemain senior yang kenyang akan pengalaman internasional, seperti Michael Schjønberg, Miroslav Kadlec, Pavel Kuka dan kapten Andreas Brehme. Dia juga berhasil menyulap Olaf Marschall menjadi striker berbahaya. Di musim tersebut, Marschall mencetak 21 gol, hanya kalah 1 gol dari Ulf Kirsten yang menjadi top skor.

“Otto memberi kami kebebasan di lapangan. Dia memberi tahu kami susunan pemain; kami melakukan sisanya. Semua orang membantu dalam pertahanan, bahkan striker mengejar bola segera setelah kami kalah. Otto memiliki pemahaman yang luar biasa tentang bagaimana membangun sebuah tim.” kata Marschall dikutip dari DW.

Otto Rehhagel kemudian mundur dari kursi pelatih FC Kaiserslautern pada akhir musim 2000. Selesai dengan Kaiserslautern, King Otto kemudian menerima pinangan timnas Yunani pada bulan Agustus 2001. Di Negeri Para Dewa itulah ia kemudian kembali berhasil menciptakan kisah bersejarah dalam sepak bola Eropa.

Mengenang Magis “King Otto” Bersama Yunani di Euro 2004

Kita semua tahu bagaimana akhirnya. Euro 2004 adalah bukti sahih sentuhan magis Otto Rehhagel bersama Yunani. Namun, pelatih Jerman kelahiran Essen, 9 Agustus 1938 itu tak melakukan keajaiban tersebut dalam sekejap mata.

Melatih timnas Yunani adalah sebuah tantangan besar. Selama bertahun-tahun, rivalitas pemain Olympiakos dan Panathinaikos terbawa hingga membuat iklim timnas kurang kondusif. Otto juga mendapat kritik dari media karena banyak meninggalkan pemain bintang.

“Saya datang ke sini karena saya ingin mengubah mentalitas dan cara Anda bekerja. Saya membutuhkan pemain yang bermain untuk grup, yang bermain untuk tim nasional Yunani, bukan untuk diri mereka sendiri,” kata Otto Rehhagel dikutip dari FourFourTwo.

Setahap demi setahap, King Otto menunjukkan kinerja nyata. Ia membawa Yunani lolos lagi ke Piala Eropa setelah absen 24 tahun. Bahkan Yunani lolos otomatis ke Euro 2004 sebagai juara Grup 6, melangkahi Spanyol di babak kualifikasi.

Pada pengundian babak grup, Yunani tergabung ke dalam pot 4. Peringkat koefisien mereka adalah yang terendah kedua dan hanya lebih baik dari Latvia. Peluang mereka untuk juara saja hanya 150/1. Itulah kenapa Yunani menjadi tim yang tidak diperhitungkan. Apalagi, hasil undian menempatkan mereka ke dalam Grup A, bersama tuan rumah Portugal, Spanyol, dan Rusia.

Akan tetapi, Yunani justru langsung menghadirkan kejutan di awal turnamen. Mereka menundukkan Portugal dengan skor 2-1, lalu menahan imbang Spanyol 1-1 di pertandingan kedua. Meski kalah 1-2 dari Rusia di pertandingan ketiga, Yunani tetap lolos ke fase gugur Euro 2004 sebagai runner-up grup.

Di babak perempat final, Yunani berjumpa dengan juara bertahan Prancis yang lolos sebagai juara Grup B. Lagi-lagi, performa mereka mengejutkan seantero Eropa. Gol semata wayang Angelos Charisteas di menit ke-65 memastikan Yunani lolos ke babak semifinal.

Di babak semifinal, Yunani kembali meruntuhkan prediksi banyak pihak. Berjumpa Republik Ceko, mereka tampil spartan sepanjang laga. Traianos Dellas kemudian berhasil mencetak silver goal di menit ke-105 dan memastikan kemenangan Yunani.

Di partai puncak, mereka kembali bertemu Portugal yang berisikan generasi emasnya, seperti Luis Figo, Rui Costa, hingga bintang muda Cristiano Ronaldo. Sebagai tuan rumah, Portugal jelas lebih diunggulkan dan diuntungkan.

Namun lagi-lagi Yunani menunjukkan magisnya. Terus berada dalam tekanan, Angelos Charisteas berhasil mencetak gol tunggal di menit ke-57. Gol tersebut menjadi satu-satunya gol yang tercipta sekaligus memastikan Yunani keluar sebagai kampiun Euro 2004.

Di akhir turnamen, 5 pemain Yunani terpilih dalam UEFA Team of the Tournament. Sementara itu, sang kapten Theodoros Zagorakis terpilih sebagai UEFA Player of the Tournament. Hasil akhir dari Euro 2004 itu hingga hari ini jadi salah satu akhir kisah paling ikonik dalam sejarah sepak bola Eropa. Bahkan Yunani juga menjadi kampiun dengan catatan rekor tanpa kebobolan sepanjang babak gugur.

Berbeda dengan saat dirinya melatih Kaiserslautern, taktik Otto Rehhagel di Yunani kala itu cenderung defensif, bahkan boleh dibilang mereka menerapkan taktik parkir bus dengan mengandalkan jumlah pemain bertahan untuk menutup ruang. Hasilnya, Yunani hanya kebobolan 4 gol dan hanya menghasilkan 7 gol sepanjang gelaran Euro 2004.

Ciri Khas Taktik Otto Rehhagel

Meski pendekatan taktiknya berbeda, racikan skuad Otto Rehhagel di Kaiserslautern dan timnas Yunani punya beberapa kemiripan. King Otto sangat menyukai pemain yang bertipe kokoh, tinggi, dan unggul dalam duel udara. Ia akan menempatkannya di posisi penyerang tengah dan posisi libero alias sweeper.

Cara itu dianggap ketinggalan zaman. Namun, ia menjawabnya dengan pembuktian prestasi. Di Kaiserslautern tugas itu diemban oleh Miroslav Kadlec yang bertinggi badan 185 cm. Sementara di timnas Yunani, tugas libero diserahkan kepada Traianos Dellas yang punya tinggi menjulang 196 cm.

Begitu pula dengan penyerang tengah. Striker seperti Olaf Marschall di Kaiserslautern dan Angelos Charisteas di Yunani ia plot sebagai target man. Mereka kerap disuplai dengan umpan-umpan lambung dari sisi sayap. Tak jarang pula gol dari tim yang diasuh Otto Rehhagel berasal dari skema bola mati, khususnya corner kick.

Meskipun terkenal gemar memakai pemain tua, Otto Rehhagel juga dikenal sebagai pencari bakat yang hebat. Dialah yang mengorbitkan Angelos Charisteas, Theofanis Gekas, Marco Reich, Rudi Völler, hingga Miroslav Klose.

Otto Rehhagel juga dikenal sebagai seorang motivator handal. Buktinya, ia mampu menyulap tim non unggulan menjadi sebuah tim juara. Selain itu, King Otto juga dikenal ahli dalam membangkitkan kembali karier pemain tua. Olaf Marschall dan Theodoros Zagorakis adalah buktinya.

Di Jerman, King Otto dikenal sebagai pelatih eksentrik dan seorang diktator yang ramah. Ia membangun reputasi sebagai seorang yang arogan dan jarang mau mengakui kesalahan. Namun reputasi tersebut juga dibuktikan dengan catatan prestasi yang menawan. Sebelum mengukir sejarah yang sulit diulang bersama Kaiserslautern dan Yunani, King Otto pernah menguasai Liga Jerman bersama Werder Bremen di awal era 90an.

14 tahun melatih Bremen dari 1981 hingga 1995, Otto Rehhagel berhasil menyulap Bremen menjadi tim yang disegani. King Otto berhasil meraih 2 trofi Bundesliga, 2 trofi DFB-Pokal, 2 trofi Piala Super Jerman, dan 1 trofi Piala Winners.

Otto Rehhagel adalah peraih penghargaan pelatih terbaik dunia versi IFFHS tahun 2004. Ia juga memenangkan predikat pelatih terbaik Eropa di tahun tersebut. Karena reputasinya itulah situs 90min.com menempatkan Otto Rehhagel di peringkat ke-21 dalam daftar 50 pelatih terbaik dunia. Sementara majalah World Soccer menempatkannya di peringkat ke-36 sebagai pelatih terbaik dunia sepanjang masa.

Otto Rehhagel yang kini berusia 83 tahun memang telah lama pensiun dari dunia sepak bola. Hertha Berlin jadi tim terakhir yang ia latih di tahun 2012. Meski begitu, seluruh jasa, prestasi, dan catatan magis King Otto akan tetap kekal abadi dalam sejarah sepak bola dunia.
***
Sumber Referensi: DW, 90min, GiveMeSport, UEFA.

Pos terkait