Waktu melatih Chelsea kemarin, Frank Lampard bisa dikatakan gagal total. Pelatih yang satu ini bahkan layak disebut sebagai sosok pelatih yang medioker saja belum. Banyak yang mempertanyakan kemampuan Lampard sebagai pelatih atau manajer. Setelah ditelusuri, meskipun sudah melatih tim kaliber Chelsea, Lampard ternyata hanya memiliki lisensi kepelatihan UEFA A.
Itu adalah lisensi yang terbilang rendah. Sebab kebanyakan pelatih tim-tim top, terutama di Eropa minimal telah memiliki lisensi Pro UEFA. Bagaimanapun lisensi kepelatihan ini menjadi tolok ukur kualitas seorang pelatih. Dari sanalah kita bisa tahu dan mengerti sejauh mana seorang pelatih atau manajer mempunyai ilmu kepelatihan, termasuk perihal taktik.
Ironisnya, lisensi kepelatihan Lampard ini ternyata lebih rendah dari beberapa pelatih di Liga Indonesia. Jika lisensi kepelatihan menjadi salah satu indikator kehebatan seorang pelatih, para pelatih tim-tim Liga Indonesia berikut tentu saja lebih hebat dari Frank Lampard.
Daftar Isi
Stefano Cugurra – Bali United
Nama pertama adalah juru taktik Bali United, Stefano Cugurra. Meski lisensi kepelatihannya sempat bermasalah, namun menurut Sportstars, pelatih berdarah Italia ini berlisensi Pro UEFA.
Karena berangkat dari background seorang pelatih fisik di Brescia, ia belum memiliki lisensi level Pro. Namun, pada pertengahan tahun lalu, Teco akhirnya menyelesaikan kursus Lisensi A Pro di Brazil. Kabarnya, itu setara dengan Lisensi Pro UEFA. Jika kita melihat di situs resmi Transfermarkt, Stefano Cugurra tercatat memegang Lisensi Pro UEFA.
Bukan hanya lisensi saja yang lebih baik dari Lampard. Di level pelatih, trofi Teco juga jauh lebih baik dari mantan pemain Manchester City tersebut. Tercatat, pelatih asal Brazil itu berprestasi saat berkarir di Indonesia. Ia meraih tiga trofi Liga Indonesia bersama dua klub yang berbeda, yakni Persija Jakarta dan back to back juara bersama Bali United.
Jan Olde Riekerink – Dewa United
Nama berikutnya muncul dari tim kejutan musim lalu, Dewa United. Pelatihnya, Jan Olde Riekerink ternyata memiliki lisensi Pro UEFA yang lebih baik dari Lampard. Bukan hanya itu, sejak menginjakkan kakinya ke Indonesia Januari kemarin, rekam jejak pelatih yang satu ini mencuri perhatian sepak bola tanah air.
Pelatih berkebangsaan Belanda ini ternyata sudah kenyang persepakbolaan Eropa. Riekerink memulai karir kepelatihan sejak tahun 1995, dengan menangani tim muda Ajax Amsterdam. Setelah itu, ia pernah menukangi KAA Gent, Heerenveen, Galatasaray, dan FC Porto.
Riekerink paling berprestasi saat masih bersama Galatasaray. Ia meraih dua trofi, yakni Turkish Cup dan Turkish Super Cup. Dengan CV mentereng, ia berhasil menggantikan peran Nil Maizar dan membawa Tangsel Warrior melesat dari peringkat 17 menuju peringkat enam klasemen akhir Liga Indonesia musim 2022/23.
Thomas Doll – Persija
Nama Thomas Doll tentu tak boleh dilewatkan. Sepak bola Indonesia dibuat geger ketika Persija berhasil menggaet pelatih berkebangsaan Jerman ini. Bagaimana tidak? Pelatih yang memiliki lisensi Pro UEFA ini pernah menukangi tim-tim top Bundesliga macam Hannover 96, Hamburger SV, hingga Borussia Dortmund.
Karier kepelatihan Thomas Doll dimulai pada 2001 saat diangkat Hamburger SV sebagai staf pelatih tim muda. Ia kemudian diangkat sebagai manajer di tim utama pada 2004. Namun, kesuksesannya baru terlihat saat menukangi klub Hungaria, Ferencvaros.
Bersama mantan klub Marko Marin itu, Doll meraih beberapa trofi bergengsi termasuk satu trofi Liga Hungaria dan tiga trofi Piala Hungaria. Doll juga pernah membawa Hamburger SV finis di posisi tiga Bundesliga musim 2005/06 sekaligus mengantarkan tim itu ke Liga Champions musim berikutnya. Selain itu, musim lalu ia juga membawa Persija bertengger di urutan kedua dan berhak tampil di play-off Piala AFC musim depan.
Bernardo Tavares – PSM Makassar
Selanjutnya ada pelatih PSM Makassar, Bernardo Tavares. Tak kalah dengan Thomas Doll, pelatih berkepala plontos ini juga punya pengalaman di klub-klub top Eropa. Tercatat ia pernah jadi asisten pelatih di Benfica dan Sporting Lisbon. Ia juga pernah menjadi tim pemandu bakat FC Porto.
Tavares memang belum pernah jadi pelatih utama tim-tim tadi. Namun, dengan usia yang lebih muda dari Lampard, Tavares sudah mengantongi lisenso Pro UEFA. Tavares sendiri didatangkan pada April 2022 untuk menyelamatkan PSM Makassar dari jurang degradasi.
Hebatnya, PSM di tangan Tavares bukan hanya lolos dari degradasi musim 2021/22, melainkan berkembang sangat signifikan. Musim 2022/23, secara mengejutkan Tavares mengantarkan Juku Eja meraih trofi Liga 1 Indonesia. Ia membantu PSM mengalahkan Bali United, Persija, dan Persib Bandung yang juga dilatih oleh pelatih-pelatih top.
Luis Milla – Persib
Selanjutnya ada pelatih Persib Bandung, Luis Milla. Namanya tak asing bagi pecinta sepakbola tanah air karena sebelum menangani Maung Bandung, Milla pernah melatih tim nasional Indonesia periode 2017 hingga 2018. Sayangnya, pencapaian Milla dianggap kurang menggigit. PSSI pun tidak memperpanjang kontraknya.
CV Luis Milla juga tak kalah bagus dari pelatih-pelatih lain. Tercatat ia pernah menjadi pelatih tim nasional Spanyol U-17, U-19, U-21, dan timnas senior Spanyol. Di level klub, ia pernah menukangi CD Lugo, Al-Jazira, dan Real Zaragoza. Serenteng pengalamannya itu wajar kalau Milla mempunyai lisensi kepelatihan Pro UEFA.
Soal prestasi, Milla mungkin sebelas dua belas dengan Lampard. Bedanya, Milla pernah meraih trofi di level internasional dengan mengantarkan Timnas Spanyol juara di ajang EURO U-21 musim 2011. Kala itu, pemain macam David De Gea, Marc Bartra, Jordi Alba, hingga Juan Mata masih tergabung dalam skuad juara tersebut.
Leonardo Medina – Persis Solo
Pelatih Persis Solo, Leonardo Medina tak begitu berpengalaman sebagai seorang pelatih kepala. Meski demikian, pelatih berpaspor Meksiko tersebut sudah mengantongi lisensi kepelatihan yang lebih baik dari Frank Lampard, yakni Lisensi Pro UEFA.
Saat pria berusia 52 tahun itu pertama kali datang ke Persis Solo, ia dipekerjakan bukan sebagai pelatih kepala, melainkan asisten pelatih dari juru taktik Laskar Sambernyawa saat itu, Rasiman. Namun, pada tahun 2023 Rasiman dipecat. Medina pun menggantikan perannya.
Soal prestasi sebagai pelatih utama memang belum seberapa. Tapi pengalamannya sebagai asisten pelatih di Johor Darul Ta’zim begitu luar biasa. Menjabat asisten pelatih di Johor sejak 2019 hingga 2022, Medina sudah membantu tim sultan asal Malaysia itu menjuarai Malaysia Super League sebanyak empat kali berturut-turut.
Aji Santoso – Persebaya
Nama yang terakhir datang dari jajaran pelatih lokal. Ia adalah Aji Santoso, si jenius di balik sepak bola atraktif yang ditunjukan Persebaya Surabaya dalam beberapa tahun terakhir. Coach Aji merupakan pelatih yang cukup disegani di kancah sepak bola nasional. Sejumlah pengamat sepak bola bahkan menyebut Persebaya racikannya merupakan tim dengan permainan paling menghibur di Liga 1 Indonesia.
Kejeniusan Aji dalam melatih didapat saat menempuh kursus lisensi Pro AFC pada tahun 2019 lalu. Lisensi tersebut kini setara dengan Lisensi Pro UEFA. Pembedanya cuma lembaga atau konfederasi yang mengeluarkannya saja. Jadi, ketika kalian mengetik nama Aji Santoso di situs Transfermarkt, lisensi pelatih kelahiran Malang itu adalah Pro UEFA.
Meskipun bersama Persebaya belum meraih trofi, Aji Santoso tercatat pernah menjuarai Piala Presiden tahun 2017 bersama Arema Cronus. Sebelum melatih Persebaya, Aji juga pernah melatih Persela, PSIM, dan Persik Kediri. Sedangkan di level Timnas, ia sempat menangani Timnas U-23 dari 2013 hingga 2015. Well, dengan lisensi yang dimiliki Aji Santoso, mestinya Chelsea bisa menunjuknya sebagai pelatih, bukan Frank Lampard.
Sumber: SI, Transfermarkt, Sportstars, Bola Times, Suara


