Conte ke Spurs dan Fans MU yang (Dipaksa) Sayang Ole

  • Whatsapp
Conte ke Spurs dan Fans MU yang Dipaksa Sayang Ole
Conte ke Spurs dan Fans MU yang Dipaksa Sayang Ole

Isu pemecatan Ole dari Manchester United sudah seperti siklus rutinan tiap pekan. Tinggal menunggu saja, kalau Manchester United kalah, para fans yang tentu saja aktif di media sosial, akan berduyun-duyun menaikkan #oleout. Sementara, jika Setan Merah menang, jelas situasinya akan berbeda.

Seperti saat Manchester United dilibas Liverpool 0-5 di kandangnya sendiri pada Minggu (24/10), di mana setelah laga itu, isu pemecatan Ole Gunnar Solskjaer pun mengemuka. Meskipun dorongan untuk memecat Ole mulai bergemuruh, petinggi Manchester United bagaikan tak bergeming apa-apa. Ole tetap memimpin latihan jelang laga The Reds Devil berikutnya.

Padahal fans waktu itu sudah senang sekali karena eks pelatih Inter, Antonio Conte bersedia menjadi pengganti Ole. Hingga santer kabar kalau Conte akan merapat ke Manchester United. Namun, itu hanya seperti kabar burung belaka.

Nyatanya, Conte belum kunjung menandatangani kontrak bersama Manchester United. Nah, sepekan setelah kekalahan memalukan atas Liverpool itu, Manchester United sukses memetik kemenangan. MU menghajar Tottenham Hotspur 3-0 pada Sabtu (30/10). Tidak ada kabar pemecatan Ole setelah itu. #Oleout pun lenyap.

Yang mencuat justru berita soal pemecatan Nuno Espirito Santo dari Tottenham Hotspur. Yup, benar sekali, Nuno dipecat oleh Tottenham Hotspur persis setelah mengalami kekalahan dari Manchester United. Entah bagaimana, tidak ada kabar pelatih ad interim yang ditunjuk. Dan biasanya, kalau Tottenham sudah begitu, berarti akan langsung mendapat pelatih anyar.

Ajaibnya, calon pelatih Tottenham Hotspur adalah Antonio Conte. Wartawan sepak bola internasional, Gianluca di Marzio membocorkan informasi kalau Conte sudah mendarat di London, Senin (1/11) malam waktu Indonesia. Conte kabarnya siap untuk melatih Tottenham Hotspur menggantikan Nuno. Kabar itu pun juga dihembuskan oleh wartawan kenamaan, Fabrizio Romano.

Ini tentu kabar yang menghebohkan. Hal itu bahkan membuat nama “Conte” trending di Twitter hingga Senin (1/11) malam. Meskipun sebetulnya kabar tersebut juga tidak mengejutkan-mengejutkan amat. Apalagi sebelum itu, Conte juga sudah ngasih clue kalau dirinya bakal ke Inggris.

Benar saja, Antonio Conte sungguh-sungguh berlabuh ke Tottenham Hotspur. Pada Selasa (2/11) malam, akun resmi Tottenham Hotspur di Twitter mengumumkan kalau Conte akan melatih The Lily Whites. Conte dikontrak Tottenham hingga Juni 2023, tentu dengan opsi perpanjangan.

Fans MU (Dipaksa) Sayang Ole

Beredarnya kabar Conte bakal melatih Tottenham, membuat fans MU terpaksa mengubur dalam-dalam hasrat tim idolanya itu dilatih seorang pelatih, bukan guru penjaskes. Kemenangan besar atas Tottenham membuat Ole sedikit punya nafas di Manchester United. Mestinya, Ole berterima kasih pada Nuno. Berkat pelatih asal Portugal itu, Ole nggak jadi kena hujat lagi. Meski untuk sementara.

Uniknya lagi, entah kebetulan atau bagaimana, saat pertandingan menghadapi Tottenham Hotspur, Ole memakai skema yang mirip dengan formasi khas Antonio Conte. Entah kesambet apa Ole memakai formasi 3-5-2, dan untungnya manjur. Padahal sebelumnya Ole jarang memakai skema tiga bek.

Dari situ seolah Ole ingin menunjukkan ke semua pembencinya dan buzzer #oleout bahwa Manchester United tak butuh sosok seperti Antonio Conte. Pada kenyataannya, formasinya Conte yang coba diterapkan Ole pun sudah lebih dari cukup. Pria Norwegia ini sudah kayak Hatake Kakashi saja.

Ole, seolah-olah ingin memperlihatkan bahwa masalah di Manchester United itu hanya soal taktik. Kalau taktiknya tepat, hasilnya juga maksimal. Jadi, dengan memakai pakem formasi 3-5-2 khas Antonio Conte, secara eksplisit Ole mau bilang kalau taktik yang ia terapkan sebelum-sebelumnya itu nggak tepat.

Meskipun, Ole juga sedikit berimprovisasi dari formasi tersebut, dengan membuat Bruno Fernandes mengambil peran nomor 10. Yaitu sebagai penghubung lini tengah dan lini depan atau dengan kata lain sebagai gelandang serang. Hasilnya seperti apa yang kita saksikan.

Meski kalah penguasaan bola dari Tottenham Hotspur, dengan skema anyar tersebut Manchester United tampil lebih efektif. Para pemain tidak terlalu lama menguasai bola, tapi trengginas dalam menyerang dan solid dalam bertahan. Ini penting, apalagi kita tahu kalau pertahanan Manchester United sangat buruk belakangan ini.

Problem di Manchester United seolah lenyap ketika Ole menerapkan formasi 3-5-2 yang akan menjadi 5-3-2 ketika bertahan. Perubahan formasi tersebut, kendati agak sedikit aneh, justru bisa bikin Ole punya harapan. Boleh dibilang, Ole sukses membuat seluruh fans Manchester United menyayanginya. Meskipun dalam tekanan dan keterpaksaan.

Walaupun menang, terlalu naif kalau mengatakan formasi 3-5-2 tepat untuk Manchester United. Pemain-pemain sayap MU boleh jadi tak terpakai, seperti Jadon Sancho. Belum lagi, dengan kedalaman skuadnya, akan ada persaingan di lini depan Manchester United.

Bagaimana dengan Tottenham?

Sementara, bagi Tottenham Hotspur mendapatkan Conte seperti menggali harta karun yang terkubur jutaan tahun. Fans The Lily White jelas senang karena Conte sungguh-sungguh berlabuh ke Tottenham Hotspur Stadium. Namun, harta karun itu boleh jadi hanya akan bertahan beberapa saat saja. Selebihnya mungkin bakal lenyap.

Kendati mungkin, terlalu dini untuk mengatakan kalau Conte paling hanya sebentar melatih Tottenham. Tetapi diakui atau tidak, kemungkinan itu tetap ada. Terlebih kalau dilihat rekam jejaknya, Conte adalah tipikal pelatih yang ambisius.

Dia mungkin saja bakal ngotot memburu pemain yang sesuai taktiknya di bursa transfer mendatang. Sementara bos Tottenham Hotspur, Daniel Levy terkenal pelit. Baik Levy maupun Conte, jika dipertemukan sama-sama keras kepala.

Namun, andai, ini seandainya saja lho ya, saat Conte melatih Tottenham dan ia membutuhkan dana untuk membeli pemain, seperti masa-masa terakhirnya di Inter, mungkin Conte akan terlibat perdebatan dengan Levy. Dan boleh jadi Levy yang akan mengalah. Dengan catatan, hasrat Daniel Levy membuat Tottenham bangkit lebih dominan daripada keinginannya meraup cuan sebanyak-banyaknya.

Akhir kata, selamat buat Ole yang belum kunjung dipecat. Dan buat fans Manchester United atau sebangsanya, ya sudahlah, mari menyayangi Ole sebagaimana Ole menyayangi dirinya sendiri. Berdoa saja, mudah-mudahan di tangan Ole, jaring laba-laba di lemari trofi Manchester United tidak makin banyak.

Sumber referensi: thepeopleperson.com, 90min.com, gianlucadimarzio.com, YouTube Ruang Taktik

Pos terkait