Brighton & Hove Albion dan Cara Mereka Menjadi Tim Kuda Hitam

spot_img

Liverpool gagal meraih poin penuh dalam lanjutan pekan ke-10 Premier League. Bermain di Anfield, pasukan Jurgen Klopp kehilangan poin penuh kala kedatangan Brighton & Hove Albion yang berhasil memaksa laga berakhir dengan skor sama kuat.

Liverpool sejatinya berhasil memimpin cepat lewat 2 gol Jordan Henderson dan Sadio Mane di babak pertama. Namun, di babak kedua, keunggulan mereka sirna. Brighton berhasil menyamakan kedudukan lewat gol cantik Enock Mwepu dan Leandro Trossard.

Di satu sisi, dipaksa bermain imbang dan kehilangan poin penuh di kandang kala bersua tim medioker membuat The Reds diterpa kritik. Namun, di sisi yang lain, hasil laga tersebut membuat nama The Seagulls menjadi buah bibir. Mereka jadi tim yang layak diwaspadai. Sebab, satu hal yang pasti, permainan dan perlawanan yang mereka tunjukkan saat melawan Liverpol jauh lebih baik ketimbang Manchester United yang di pekan sebelumnya dibantai Mo Salah cs 5 gol tanpa balas.

Fakta-Fakta Menarik Brighton & Hove Albion di Premier League Musim Ini

Brighton and Hove Albion bukan sekadar layak diwaspadai. Seperti yang kita tahu, Anfield, markas Liverpool, adalah salah satu stadion paling angker di Premier League. Jarang tim tamu yang mampu mencuri poin dari Liverpool kala mereka bertanding di kandang.

Fakta menarik lainnya adalah posisi Brighton di papan klasemen Premier League musim ini. Tambahan 1 poin membuat koleksi poin mereka bertambah menjadi 16 poin. Dalam 10 pertandingan, mereka berhasil memetik 4 kemenangan dan baru menelan 2 kekalahan. Kini, Brighton tengah bertengger di posisi ke-8.

Inilah mengapa Brighton and Hove Albion harus diwaspadai. Meskipun baru mencetak 11 gol dalam 10 pekan, tetapi gawang mereka baru kebobolan 11 gol, lebih baik dari catatan MU dan Arsenal. Kiper mereka, Robert Sanchez juga sudah mencatat 4 cleansheet, hanya kalah dari Chelsea, Liverpool, Manchester City, dan Arsenal.

Sejauh ini, posisi mereka di papan klasemen Liga Inggris musim ini jauh lebih baik ketimbang musim lalu, di mana Brighton hanya finish di peringkat 16. Apalagi di 5 pertandingan pertama mereka musim ini, The Seagulls langsung berhasil meraih 4 kemenangan. Atas catatan tersebut, layak kiranya kita menyebut Brighton and Hove Albion sebagai tim kuda hitam.

Lalu, bagaimana cara mereka menjadi tim kuda hitam? Dan apa kunci kesuksesan mereka bertahan di kerasnya Premier League?

Kunci Sukses 1: Graham Potter

Ada 2 tokoh yang mengubah wajah Brighton menjadi tim kuda hitam yang patut diwaspadai. Yang pertama adalah sang pelatih, Graham Potter. Pelatih 46 tahun itu disebut-sebut sebagai pelatih Inggris terbaik saat ini dan digadang-gadang menjadi kandidat kuat manajer timnas Inggris berikutnya. Usai menahan imbang Liverpool, Jurgen Klopp juga menyanjung kinerja Potter yang disebutnya sebagai pelatih yang komplet.

“Dia memiliki semua yang Anda butuhkan. Dia punya ide yang jelas dan dia melakukan pekerjaan yang brilian. Dia telah membawa identitas yang jelas tentang bagaimana dia ingin timnya bermain. Dia adalah seorang inovator dan petualang. Saya pikir dia tidak perlu khawatir tentang masa depannya,” kata Klopp dikutip dari DailyMail.

Potter datang ke Falmer Stadium di musim 2019/2020 dengan durasi kontrak 4 tahun. Di musim pertamanya, ia mengantar Brighton finish di posisi ke-15 dengan total poin 41 dan mencetak 39 gol, hasil dari 9 kali menang dan 14 kali imbang. Musim tersebut, Brighton sukses mencatat poin dan gol tertinggi mereka di Liga Premier.

Di musim 2020/2021, Graham Potter kembali mengantar Brighton mengumpulkan 41 poin. Namun, kali ini mereka finish di urutan ke-16 dengan catatan 40 gol dan 12 kali cleansheet yang lagi-lagi jadi catatan rekor baru Brighton di Liga Premier.

Meski belum masuk 10 besar, tetapi performa Brighton & Hove Albion di bawah asuhan Graham Potter sangatlah menarik dan kerap memberi kejutan. Di musim debutnya saja, ia berhasil membawa The Seagulls 2 kali mempecundangi Arsenal dan sekali menundukkan Tottenham Hotspurs.

Prestasi serupa juga mereka catat di musim lalu. Bukan kali pertama mereka memetik hasil imbang kala bersua Liverpool. Musim lalu, Brighton jadi salah satu tim yang gagal ditumbangkan The Reds. Mereka sekali menahan imbang di Falmer dan memetik kemenangan tipis di Anfield. Di musim tersebut, The Seagulls adalah salah satu tim yang memberi kekalahan kepada Manchester City yang keluar sebagai juara.

Lalu, bagaimana taktik Graham Potter hingga mampu mengantar Brighton memetik berbagai hasil mengejutkan? Sebelum itu, ada fakta menarik yang perlu diketahui. Potter datang ke Falmer Stadium tak lama setelah mengukir prestasi impresif di klub Liga Swedia, Ostersunds.

Graham Potter adalah seorang mantan bek kiri Southampton dan West Bromwich Albion di era 90an. Setelah pensiun, ia kembali kuliah dan lulus dari Open University pada Desember 2005 dengan gelar di bidang Ilmu Sosial. Saat bekerja sebagai asisten pelatih di Leeds Metropolitan University, ia juga berhasil menyelesaikan master dalam bidang kepemimpinan dan kecerdasan emosional.

Potter kemudian memulai karier profesionalnya pada 2011 silam saat dikontrak oleh Ostersunds yang kala itu masih bermain di divisi 4 Liga Swedia. Singkat cerita, Potter berhasil membawa Ostersunds memenangi divisi 4 pada tahun 2011, divisi 3 pada tahun 2012, dan menjadi runner-up divisi 2 pada 2015.

Ia juga membawa Ostersunds menjuarai Piala Swedia pada musim 2016/2017 dan membawa klub tersebut lolos hingga babak 32 besar Liga Europa musim 2017/2018. Yang menarik dari Graham Potter bukan hanya capaian dan pendekatan taktiknya, melainkan bagaimana gaya melatihnya yang out of the box.

Ketika melatih Ostersunds, Potter mengajak pemain dan staffnya keluar dari zona nyaman dengan membawa mereka terlibat dalam berbagai aktivitas komunitas. Di bawah pengawasan seniman lokal Karin Wahlen, Potter membawa pasukannya tampil di teater, belajar musik rap, hingga mempelajari balet.

“Awalnya para pemain membencinya. Tapi kami akhirnya memiliki banyak kesenangan dan kenangan seumur hidup. Dan itu memberi mereka keberanian juga. Tidak selalu orang yang paling berani di lapangan yang paling berani di atas panggung,” kata Wahlen kepada Sky Sports.

Soal taktik, keampuhan racikan Graham Potter tak perlu diragukan. Buktinya, Brighton, tim yang kini ia tangani adalah salah satu tim paling taktis di Premier League. Mereka mampu bermain dalam sejumlah formasi yang berbeda, seperti 4-2-3-1, 4-4-2, 3-5-2, 3-4-2-1, dan 3-4-3. Penggunaan formasi tersebut menyesuaikan dengan calon lawan mereka. Inilah yang membuat taktik Potter sulit diprediksi dan kemudian tak jarang memberi hasil mengejutkan.

Seperti saat melawan Liverpool. The Seagulls memakai formasi 4-2-3-1. Padahal, di 3 laga sebelumnya, mereka selalu memakai formasi andalan mereka, 3-5-2. Saat bertahan, struktur formasinya menjadi 5-4-1 atau 5-2-3, sementara saat menyerang strukturnya bisa menjadi 3-2-5. Ini membuktikan betapa bagusnya adaptasi taktik mereka.

Taktik dari Graham Potter juga cenderung ofensif. Brighton dibawanya bermain terbuka dan berani menerapkan pressing di sepertiga akhir area lawan. Berbasis penguasaan bola, pasukan Graham Potter membangun serangan dengan mengalirkan bola dengan cepat, baik lewat umpan pendek kaki ke kaki atau long ball dari bek maupun kiper.

Pendekatan taktik dan gaya melatih Graham Potter itulah yang membuat Brighton and Hove Albion menjadi tim yang harus diwaspadai. Masuk musim ketiga, hasil-hasil yang dicatatkan The Seagulls di Premier League makin baik dan makin banyak tim besar yang mereka taklukkan.

Kunci Sukses 2: Tony Bloom

Hasil manis yang diraih Brighton memang tak lepas dari sentuhan Graham Potter. Namun, ia takkan mampu sebebas itu bereksperimen tanpa dukungan loyal dari sang pemilik klub, Tony Bloom. Investor properti dan pejudi profesional berjuluk “The Lizard” itu merupakan orang asli Brighton dan penggemar setia klub tersebut sejak kecil.

Tony Bloom membeli The Seagulls pada 2009 silam. Fakta menariknya, dalam survey bertajuk Fan Hope Survey yang dilakukan oleh SkyBet, sebanyak 94,4% penggemar Brighton mengaku senang dan puas dengan kepemilikan Tony Bloom.

Memang, sejak dibeli Tony Bloom, belum ada trofi mayor yang berhasil mereka menangkan. Brighton hanya menjuarai Football League One di musim 2011 dan menjadi runner-up EFL Championship 2017 yang kemudian sukses mengantar The Seagulls promosi ke Premier League untuk pertama kalinya dalam sejarah sekaligus membawa klub tersebut kembali ke kasta teratas Liga Inggris setelah absen 34 tahun.

Loyalitas, dedikasi, dan kedekatannya dengan penggemar menjadikan kepemilikan Tony Bloom aman sentosa. Ia kerap terlihat menonton pertandingan Brighton di tribun biasa yang sama dengan para penggemar. Merupakan warga asli Brighton, Tony Bloom juga menjalin kemitraan yang kuat dengan berbagai sponsor dan komunitas lokal.

Sebagai pejudi profesional dan mantan pemain poker, Tony Bloom juga menjalankan metode moneyball dalam mengelola klubnya. Ia memanfaatkan perusahaan judinya, Star Lizard, untuk mengkaji dan menganalisis pemain incaran Brighton di bursa transfer. Lewat cara itu, ia menjadikan keuangan The Seagulls sehat.

Sebagai pemilik, Tony Bloom juga tidak pelit. Dana tak kurang dari 159 juta euro telah ia gelontorkan kepada Graham Potter untuk belanja sejumlah pemain. Berkat sokongan itulah Potter punya beberapa pemain andalan yang menarik, seperti Leandro Trossard, Neal Maupay, Joel Vletman, Adam Lallana, hingga yang terbaru ada Enock Mwepu dan Marc Cucurella.

Kombinasi Tony Bloom sebagai pemilik, Graham Potter sebagai pelatih hebat, serta kehadiran beberapa pemain bagus yang tergolong underrated menjadikan Brighton and Hove Albion sebagai kuda hitam Liga Premier Inggris yang stabil dan patut diwaspadai tim-tim besar.

The Seagulls memang bukan tim yang memiliki sejarah prestasi. Capaian terbaik mereka hanyalah menjadi runner-up divisi 2 sebanyak 2 kali, runner-up Piala FA 1983, dan menjuarai FA Charity Shield tahun 1910. Jadi, menyaksikan Brighton berlaga secara rutin di Premier League dan beberapa kali menjungkal tim besar sudah merupakan capaian dan tontonan yang luar biasa.
***
Sumber Referensi: DailyMail, Transfermarkt, The Mastermindsite, The Guardian, SkySports, Kumparan, WeAreBrighton

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru