Hingga pekan ke-24 La Liga Spanyol, bintang muda Barcelona Ansu Fati sudah mencatatkan 23 penampilan. Namun sebagian besar laga yang ia lakoni dimulai dari bangku cadangan. Bahkan, dengan menit bermain yang kian menurun, Ansu sempat diisukan bakal dijual di akhir musim nanti.
Fakta memang berbicara bahwa dalam beberapa musim terakhir, pemain asal Spanyol tersebut justru kesulitan mengamankan posisi utama di skuad Barca. Padahal sejak kemunculannya pada tahun 2019 Ansu sudah disebut sebagai pewaris tahta Lionel Messi. Lantas, apa penyebab dari penurunan performa Ansu Fati?
Daftar Isi
Kemunculan Ansu Fati
Meski bakatnya ditemukan oleh Sevilla, Ansu Fati lebih terkenal sebagai lulusan akademi La Masia, dimana ia bergabung ke salah satu akademi sepakbola terbaik dunia itu pada usia 10 tahun.
Tidak butuh waktu lama bagi Ansu untuk membaur dengan budaya baru. Di usia muda, Ansu punya banyak kelebihan. Kombinasi teknik, kecepatan dan imajinasi dalam bermain menjadikannya pemain muda yang luar biasa.
Pemain yang satu angkatan dengan Takefusa Kubo itu kian terkenal setelah bersinar di UEFA Youth League musim 2018/19. Ansu jadi pemuda yang paling disorot karena masih berusia 15 tahun. Padahal UEFA Youth League biasanya diikuti oleh anak-anak berusia 17 sampai 18 tahun.
Pemahaman strategi yang baik dan mencatatkan beragam penampilan apik di usia muda membuat Ansu melesat bak meteor. Talenta emasnya membuatnya naik level ke Barcelona B pada tahun 2019. Namun, baru sebulan disana ia sudah mendapat panggilan dari tim utama La Blaugrana, yang kala itu diasuh Ernesto Valverde.
Ansu mendapatkan berkah dari cederanya Lionel Messi, Luis Suarez, dan Ousmane Dembele. Ernesto Valverde yang mulai kelabakan karena krisis pemain depan pun tak ragu menyertakan Ansu dalam skuadnya. Kesempatan berharga tersebut berlanjut dengan debut Ansu di laga kontra Real Betis, Agustus 2019.
Pewaris Nomor 10 Messi
Seminggu setelah pertandingan melawan Betis, Ansu Fati mencetak gol pertamanya untuk La Blaugrana di laga kontra Osasuna. Semenjak pertandingan yang bersejarah itu, Ansu jadi bahan pembicaraan di media-media Spanyol. Golnya ke gawang Osasuna telah merubah nasibnya. Ia bukan lagi pemain tim cadangan, melainkan permata baru Barcelona.
Bahkan, di pertandingan berikutnya kala menjamu Valencia, Ansu Fati berhasil jadi bintang lapangan dengan berkontribusi satu gol dan satu assist. Sepanjang musim 2019/20, Ansu berperan penting di setiap pertandingan Barcelona. Di akhir musim, Ansu sukses mencetak 8 gol dari 33 penampilan di semua ajang. Itu statistik yang luar biasa untuk bocah berusia 16 tahun.
Penyebab besarnya pengaruh Ansu Fati terhadap Barcelona karena dua alasan tertentu. Pertama, jelas karena kebebasan yang diberikan oleh sang pelatih. Meski ditempatkan sebagai pemain sayap, Ansu seakan tidak dituntut untuk selalu menyuplai bola ke penyerang tengah. Jadi, mengandalkan kecepatan dan mobilitasnya di lini depan membuat konsentrasi pemain belakang lawan terpecah.
Ansu sudah menjadi bagian sejarah Barcelona dengan memecahkan sejumlah rekor saat itu. Pertama, Ansu tercatat sebagai pencetak gol termuda di El Clasico dalam sejarah Barcelona saat usianya masih 17 tahun 359 hari. Selain itu, ia juga membukukan rekor sebagai pemain termuda di lima liga top Eropa yang mampu mencetak 10 gol sejak debutnya di tim senior Barca.
Jadi tak heran apabila setahun setelah melakoni debut di Barcelona, Ansu sudah mengemban beban berat dipundak. Media-media dan para fans terus menggoreng stigma bahwa Ansu lah yang akan meneruskan jejak La Pulga. Pasalnya, banyak kesamaan diantara keduanya. Sama-sama lulusan akademi dan berposisi sebagai pemain sayap. Bahkan, setelah kepergian Messi ke PSG, Ansu langsung mewarisi nomor 10 milik Messi.
Mimpi Buruk Ansu Fati
Disaat semuanya berjalan dengan baik, malapetaka justru datang pada akhir tahun 2020. Ansu mengalami cedera yang cukup parah di laga kontra Real Betis. Pada menit ke-31, Ansu yang tengah berusaha merangsak ke dalam kotak penalti lawan pun mendapat hadangan dari Aissa Mandi, bek Real Betis.
Saat Ansu coba menerobos garis pertahanan, kaki kirinya tersandung Mandi yang coba menghalau bola. Sandungan tersebut membuatnya langsung tersungkur dan mengerang kesakitan. Semua bergerak membantu, termasuk tim medis. Namun, sayang pertolongan pertama tak membantu. Akhirnya Ansu pun ditarik keluar di tengah pertandingan.
Pihak Barcelona pun mengeluarkan pernyataan resmi kalau Ansu mengalami cedera kerusakan meniskus di lutut kirinya. Meniskus sendiri merupakan tulang rawan di bagian lutut. Fungsinya untuk menjaga tulang paha dengan tulang kering agar tidak saling bergesekan. Barca awalnya memprediksi kalau sang pemain akan absen selama empat bulan. Namun perkiraan itu meleset jauh.
Dilansir Goal, Ansu akhirnya menjalani operasi pada lututnya. Namun, meski prosedurnya berhasil diselesaikan, periode pemulihan jadi molor. Itu disebabkan karena adanya gangguan di operasi pertama yang membuat Barca harus melakukan tindakan lebih lanjut. Total, Ansu absen selama 344 hari dan melewatkan 47 pertandingan bersama Barcelona.
Kali Ini Hamstring
Setelah menjalani pemulihan yang begitu panjang, Ansu Fati akhirnya kembali merumput pada September 2021. Sayangnya, baru beberapa pekan saja ia sudah kembali mengalami cedera. Kali ini, masalah tersebut menyerang otot hamstringnya. Untungnya, cedera ini tak separah meniskus.
Kembali dari cedera pada awal Januari 2022, Ansu langsung mencetak gol ke gawang Real Madrid di ajang Supercopa. Sayang, golnya tak bisa menyelamatkan Barcelona dari kekalahan. Gol tersebut berhasil meningkatkan kepercayaan sang pemain usai diterpa cedera. Namun, cedera hamstringnya justru kambuh di akhir Januari.
Pihak klub sempat meminta sang pemain untuk melakukan operasi, karena mereka takut kalau Ansu bakal bernasib sama dengan Samuel Umtiti yang tak kunjung menemukan performa terbaik karena salah penanganan. Namun, Ansu dan keluarga menolak. Mereka trauma dengan efek operasi meniskus yang justru membuat masa pemulihan kian lama.
Setelah berdiskusi dengan tim Fisioterapis pribadi, yakni Joaquin Juan, Ansu memilih jalur konvensional. Ia bekerjasama dengan tim fisioterapi untuk memulihkan cederanya secara perlahan tanpa tindakan operasi. Terlebih pada saat itu, Ansu tak ingin melewatkan kesempatan untuk tampil di Piala Dunia 2022 bersama Timnas Spanyol.
Menurut tim medis Barcelona, ketakutan Ansu terhadap cedera meniskus di lutut kirinya membuat dirinya secara tidak sadar lebih sering menggunakan kaki kanannya secara berlebihan. Efek sampingnya, otot hamstring kaki kanan Ansu menjadi kelelahan dan mudah mengalami cedera.
Mengadopsi Cara Main Cristiano Ronaldo
Rangkaian cedera tersebut membuat performa Ansu Fati kian menurun. Ia bahkan kesulitan untuk mendapatkan menit bermain yang cukup di skuad utama Barcelona. Meski musim ini ia belum menderita cedera tapi posisinya sudah tergeser dengan nama-nama baru macam Ferran Torres dan Raphinha.
Karena rangkaian cedera itu pula, kekuatan fisik Ansu sudah tak sama lagi. Xavi yang tak mau menyia-nyiakan talenta sang pemain akhirnya memberi peran baru pada Ansu. Peran Ansu sudah mulai bergeser dari pemain yang doyan dribble dan menciptakan peluang menjadi seorang finisher. Perubahan peran ini diadopsi dari Cristiano Ronaldo yang mengubah gaya bermainnya setelah mengalami cedera ACL.
Menit bermain mungkin hanya masalah waktu bagi Ansu. Yang jadi masalah adalah kemampuan sang pemain dalam menemukan kembali kepercayaan dirinya. Mampukah Ansu Fati membuktikan kalau dirinya memang pantas mengenakan jersey bernomor punggung 10, atau akan layu sebelum mekar seperti Bojan Krkic?
Sumber: Goal, The Athletic, FC Barcelona, The Flanker, Eurosport


