Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan seseorang. Bahkan diri kita sendiri, mempercayai bahwa hidup adalah misteri. Tidak ada yang bisa diprediksi. Cukup jalani dan terima kehendak Ilahi.
Kelangsungan karir seorang pemain sepak bola juga tak bisa diprediksi. Banyak sekali pemain yang tengah tampil di lapangan, namun tiba-tiba Malaikat Maut datang tanpa permisi. Kemudian juga ada pemain yang punya talenta hebat, namun harus menerima segala cobaan karena cedera yang terus menghadang.
Masalah cedera memang masih terus menjadi momok bagi sebagian besar pesohor lapangan hijau. Tercatat sudah ada banyak sekali pemain yang terganggu karirnya akibat masalah ini. Bahkan ada juga yang sampai berhenti, tak terkecuali Sebastian Deisler.
Sebastian Deisler merupakan salah satu pemain berbakat pada generasinya. Eks pemain yang kini berusia 40 tahun itu disebut sebagai salah satu produk terbaik yang dilahirkan Jerman. Ditengah tekanan yang terus datang, Deisler tetap mampu tampil dengan tenang. Ia selalu mendapat pujian dari berbagai kalangan, bahkan disebut sebagai pemain masa depan Jerman.
Hal tersebut memang tidak bisa disangkal. Ia yang datang dari generasi tandus timnas Jerman awal 2000 an, menjadi satu talenta paling diidamkan. Deisler disorot sebagai harapan utama bagi rakyat Jerman. Sekali lagi, bakatnnya benar-benar mengesankan.
Sebastian Toni Deisler dilahirkan di Jerman pada 5 Januari 1980. Sepanjang kariernya, ia beroperasi sebagai gelandang sayap, atau bahkan gelandang serang.
Pada usia lima tahun, Deisler bergabung dengan klub pertamanya, FV Turmringen. Lalu sepuluh tahun kemudian, ia digaet oleh klub Bundesliga, Borussia Mönchengladbach. Disana, ia lebih dulu meniti karir di tim junior. Tiga tahun ia habiskan untuk kembangkan bakat. Setelah itu, namanya mulai muncul dan mampu bersaing di tim utama.
Ia memulai karir profesionalnya di klub tersebut pada tahun 1998, dan membuat debut Bundesliga melawan Eintracht Frankfurt pada 8 September. Sepanjang musim 1998/99, Deisler telah membuat 17 penampilan Bundesliga dan mencetak satu gol. Namun sayang, andil besarnya tak mampu berujung bahagia. Borussia Mönchengladbach mengalami degradasi hingga membuat namanya menjadi rebutan klub Bundesliga lainnya.
Saat itu, Hertha Berlin menjadi yang sangat beruntung karena bisa mengamankan jasanya. The Berlin yang saat itu menjadi tim yang tampil di kompetisi Liga Champions Eropa berhasil memboyong pemain muda berbakat yang baru menginjak usia 19 tahun.
Bermain bersama Hertha Berlin membuat nama Deisler semakin terbang mengudara. Ia tampil sangat memukau hingga berhasil menggantikan peran Dariusz Wosz di lini tengah. Ia berhasil mendapatkan satu trofi disana, yaitu Piala Liga.
Namun begitu, masa-masa di Berlin sempat mengalami kehancuran. Pasalnya, ia mendapat cedera parah, yaitu berupa robeknya lutut sebelah kanan. Kendati mendapat cedera yang dinilai parah, Deisler tetap mampu bangkit hingga namanya berhasil diboyong oleh rakasa Bavaria. Pada Juli 2002, Deisler bergabung dengan Bayern dengan kontrak empat tahun.
Datang dengan cedera parah di lutut sebelah kanannya, Deisler tetap mampu bermain stabil disana. Namun begitu, cedera lagi-lagi menjadi masalah yang menghalanginya untuk berkembang. Cederanya terus kambuh dan hampir sulit disembuhkan.
Deisler tetap menjalani segalanya dengan kepala tegak. Apalagi setelah kepergian Michael Ballack menuju Chelsea, perannya di FC Bayern menjadi tak tergantikan. Ia terus dimainkan hingga mampu sumbangkan trofi luar biasa. Meski semuanya adalah trofi domestik, setidaknya apa yang telah dilakukannya diatas lapangan berhasil menginspirasi banyak orang.
Nahas pada tahun 2006, cederanya kembali kambuh. Deisler tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk tampil di ajang Piala Dunia sebagai tuan rumah pun ia tak kuasa. Sempat kembali pada akhir tahun, ia tampak merasa sudah lelah. Meski usianya baru menginjak 27 tahun, ia seolah sudah kehilangan kepercayaan diri.
Cedera merusak stabilitasnya dalam bermain. Ia tak bisa bermain lepas. Perasaannya hancur tak berbekas. Meski kontraknya baru berakhir pada tahun 2009, semuanya telah dibatalkan. Deisler yang sudah merasa frustasi dan tak kuat akan segala tekanan bertubi, putuskan undurkan diri dari dunia yang telah memberinya banyak pengalaman berarti.
Pada 16 Januari 2007, Deisler umumkan pensiun dari dunia sepak bola. Depresi karena terus dilanda cedera jadi alasannya pensiun walau usianya baru menginjak 27 tahun. Gelandang yang bermain di sisi kanan itu mengaku memutuskan untuk pensiun karena sudah menyerah menghadapi problem cedera lututnya.
“Aku tidak lagi punya keyakinan terhadap lututku. Sudah lama cedera ini jadi siksaan bagiku, dan aku tidak lagi bisa menikmati sepakbola. Aku akan tetap pada keputusanku,” tutur Deisler (via ChinaDaily)
Keputusan tersebut membuat banyak publik sepak bola kecewa. Uli Hoeness bahkan mengaku tidak percaya dengan keputusan yang diambil Deisler. Ia mengatakan jika keputusan tersebut akan disesalinya. Pasalnya, Uli Hoeness mengetahui betul bahwa Deisler punya kemampuan terbaik untuk menjadi seorang legenda. Sang pemain memiliki kecepatan, dribble lihai dan umpan silang akurat.
Tak hanya itu, Jurgen Klinsmann yang sempat mengharapkan kegigihan Deisler juga dibuat kecewa. Mantan pelatih timnas Jerman itu mengaku sudah menggantungkan harapan pada diri Deisler.
Namun apa mau dikata. Keputusan tetap berada pada Deisler. Dan benar saja, karir sepakbolanya berhenti total. Kembang yang belum sempat mekar sudah lebih dulu terpotong oleh cuaca yang tak bersahabat.
Ia yang sudah merasa kelelahan dan selalu diiringi emosi, tak kuasa menahan semua tekanan tinggi hingga sudah tak mampu lagi perbaiki diri. Deisler, dengan segala dedikasi tertinggi, akan selalu dikenang sebagai pesepak bola sejati.


