Uang bukanlah segalanya. Begitulah ungkapan yang tepat bagi Newcastle United saat ini. Banyak yang beranggapan bahwa meningkatnya performa Newcastle akhir-akhir ini diraih berkat kucurkan dana melimpah dari pemilik mereka.
Tunggu dulu, memang benar Toon Army dikucurkan banyak uang. Namun kenyataannya mereka tak semena-mena dalam menggunakannya. Mereka tak sok-sok bergaya seenaknya asal comot banyak pemain bintang dengan harga selangit.
Peran manajemen dan jajaran pelatih tentu berpengaruh akan hal itu. Dari segi permainan pun, kini Newcastle jauh lebih enak untuk ditonton. Tak heran jika di tahun kedua kepemilikan Arab Saudi ini, The Magpies mulai menunjukkan dirinya sebagai calon klub besar.
💰🇸🇦 #OnThisDay in 2021: Newcastle United’s Mike Ashley era came to an end as the Saudi Arabia PIF took over at St James’ Park.
What a 12 months it’s been on Tyneside… @NUFC360 | @NUFCThreatLevel
— The Sportsman (@TheSportsman) October 7, 2022
Daftar Isi
Uang Bukanlah Jaminan Kesuksesan
Setahun sudah Newcastle merayakan suntikan duit dari Arab. Mereka banyak menikmati perubahan besar yang ada dalam tubuh klub. Dari mulai perencanaan, infrastruktur, maupun dari segi komersial.
Namun gelontoran uang yang tak terhingga jumlahnya dari sang pemilik itu, tidak selalu menjamin suatu kesuksesan. Itulah kata-kata yang keluar dari mulut pelatih Newcastle, Eddie Howe ketika menanggapi pernyataan pelatih Liverpool Jurgen Klopp baru-baru ini.
🗣️ “Money doesn’t guarantee success.”
Eddie Howe says he feels his players won’t get the credit they deserve following comments from Jürgen Klopp that ‘normal clubs’ can’t compete with state owned clubs like Newcastle United. pic.twitter.com/mnSxM5nLRB
— Football Daily (@footballdaily) October 28, 2022
Klopp mengatakan bahwa Liverpool tak akan mampu bersaing dengan klub-klub yang dimiliki negara seperti PSG, City, maupun Newcastle. Murni karena suntikan finansial mereka yang tak terhingga.
Pernyataan Klopp itu sontak membuat publik Newcastle terbakar dan berusaha menunjukan bahwa mereka bisa sukses, meskipun tidak dengan uang semata. Kalau dikatakan Newcastle tampil apik karena suntikan finansial, ya itu benar tapi tidak sepenuhnya begitu.
Jurgen Klopp is right that Newcastle’s spending is a big part of their progress but he is wrong that it is the only story.
There is the reinvigoration of lost players, smart signings, superb coaching and the restoration of a club playing catch up, explains @GeorgeCaulkin
— The Athletic | Football (@TheAthleticFC) October 27, 2022
Memang benar Newcastle belanja di bursa transfer dari uang Arab tersebut. Namun peran lain seperti kerja keras jajaran manajemen, pelatih, maupun pemain juga tak boleh dinihilkan.
Terbukti banyak juga klub yang hanya jor-joran menghamburkan uang untuk beli pemain dan performanya malah jeblok. Hal itu karena jajaran manajemen maupun pelatihnya tak bisa mengelolanya dengan baik.
Operasi Transfer Ashworth
Nah, Newcastle ini paling tidak hingga saat ini dapat dikatakan sebagai klub yang pandai mengelola uang yang dikeluarkan oleh sang pemilik. Peran pertama yang terpenting dalam hal ini sebenarnya adalah penunjukan Dan Ashworth. Seorang direktur teknik bekas direktur teknik Brighton. Ia mempunyai tugas penting untuk mengatur dan mengelola dana Arab itu di bursa transfer.
🤝 #NUFC are delighted to announce that Dan Ashworth will become the club’s sporting director.
An agreement has been reached with Brighton & Hove Albion to release him from his current contractual obligations with immediate effect.
— Newcastle United FC (@NUFC) May 30, 2022
Perekrutan pemain pun malah cenderung dilakukan Ashworth dengan sederhana. Pemain yang didatangkan bukanlah nama-nama kelas wahid. Kombinasi analisis dan statistik dalam merekrut pemain dilakukan oleh Ashworth dan Howe. Hasilnya pun tepat dan sesuai dengan kebutuhan.
Di musim ini saja, Newcastle tak banyak mengeluarkan dana transfer yang tak penting. Toon Army hanya belanja pemain setengah dari pengeluaran Chelsea. Bahkan lebih sedikit dari yang dikeluarkan West Ham, Nottingham Forest, maupun Aston Villa.
🤝 Matt Targett
🧤 Nick Pope
🇳🇱 Sven Botman
🎯 Alexander Isak👇 Rate Newcastle United’s transfer window so far out of 🔟#NUFC pic.twitter.com/YVXhgMvDPN
— Mouth of the Tyne – Shields Gazette (@MouthofTynePod) August 28, 2022
Eddie Howe Dan Jason Tindall
Hasil positif yang diunduh Newcastle, selain dari kerja manajemen yang tepat, juga tentu berkat sentuhan langsung jajaran pelatihnya. Paket serasi Eddie Howe dan Jason Tindall di pinggir lapangan bagi Newcastle sangat berpengaruh. Paket yang dibawa dari Bournemouth ini memberi tuah bagi proses perkembangan Newcastle.
“I’m really pleased with what is happening – Eddie is one of the good guys in my book and Jason [Tindall] too.”
Legendary broadcaster Clive Tyldesley chats Eddie Howe, Steve Bruce, transfer and ownership. #NUFC | @ADMusgrove
https://t.co/6KuQzHxIm1 pic.twitter.com/HiTH6m16sG
— The Chronicle (@ChronicleNUFC) June 26, 2022
Di Bournemouth, mereka sudah dikenal menjadi paket pelatih dan asisten yang revolusioner dibanding para pelatih Britania Raya pada umumnya. Pendekatan permainan dengan sistem menyerang yang agresif menjadi gaya melatih mereka.
Di Newcastle, paket Howe dan Tindall ini membawa banyak perubahan taktik sesuai dengan pemain yang ada. Transformasi beberapa pemain pun banyak dilakukan. Seperti apa yang terjadi pada Joelington maupun Willock. Mereka yang awalnya biasa ditempatkan di posisi depan, di bawah Howe mereka diposisikan di tengah dengan menjadi seorang gelandang pada formasi 4-3-3 ala Howe.
𝐍𝐞𝐰𝐜𝐚𝐬𝐭𝐥𝐞’𝐬 𝐑𝐞𝐬𝐮𝐫𝐠𝐞𝐧𝐜𝐞
Newcastle have taken 12 points from their last six matches, two more than in their previous 18 combined – a dramatic turnaround.@alexkeble analyses the data to see how they’ve improved on the pitch since Eddie Howe arrived. ⬇️ #NUFC
— Opta Analyst (@OptaAnalyst) February 25, 2022
Tiga Gelandang Progresif Newcastle
Tiga gelandang Howe itu juga salah satu kunci agresivitas Newcastle sejauh ini. Tiga gelandang tersebut biasa diisi Willock, Guimaraes, Joelinton, Sean Longstaff maupun Jonjo Shelvey.
Mereka bergantian mengatur sirkulasi bola di sektor tengah Newcastle. Tipe tiga gelandang milik Howe ini selalu mobile atau saling mengisi ruang kosong. Selain itu, mereka juga sangat intens dalam melakukan high pressing maupun duel one on one.
Uniknya, ketiga gelandang yang dipakai Howe tak banyak yang bertipikal bertahan. Semuanya punya fungsi yang sama dalam bertahan maupun menyerang. Mereka juga dituntut untuk tak banyak memegang bola terlalu lama.
Turning defence into attack. ↔️🇧🇷 pic.twitter.com/6BFG8ojiLi
— Newcastle United FC (@NUFC) October 30, 2022
Bahkan ketika kalah jumlah dengan gelandang lawan, biasanya tiga gelandang ini di skip perannya. Artinya, bola dari bek lebih banyak langsung mengarah ke tiga striker cepat mereka di depan yakni Almiron, Maximin, Wilson maupun Isak dengan umpan lambung jauh.
Cara itu terbukti ampuh ketika menghancurkan Spurs yang memakai pola 3-5-2. Howe lebih cerdik dengan menggunakan umpan lambung jauh yang akurat dari keempat beknya, terutama Trippier untuk langsung menuju area pertahanan Spurs.
This season, Newcastle United’s pressing, wing-play and corner routines have caught the eye. But against Spurs, it was long passes behind the defence that gave them the edge.
Analysis of how Newcastle’s long passes caused problems for Tottenham.https://t.co/7WiTEIUJAg
— Ahmed Walid (@Walid_4) October 25, 2022
Pola Pertahanan Dan Penyerangan Ala Newcastle
Dari segi pertahanan, dengan pola empat bek sejajar sejauh ini The Magpies terbukti solid. Koordinasi zona marking mereka dalam bertahan juga cukup ampuh. Selain peran bek dalam bertahan, seringkali tiga pemain tengah maupun dua winger mereka mampu track back jauh ke belakang dan terlibat dalam zona pertahanan ketika diserang lawan.
Hasilnya, kini sampai pekan ke 14 Liga Inggris mereka secara catatan hanya pernah kalah sekali. Kekalahan itu pun terjadi ketika melawan Liverpool yang golnya jatuh dari langit di menit 90 plus.
Dari segi kebobolan pun mereka kini tercatat sebagai klub dengan kebobolan paling sedikit di Liga Inggris yakni dengan 10 gol. Mereka juga mampu menciptakan 6 clean sheet dalam 13 pertandingan yang sudah dijalani. Selain peran empat bek mereka, peran kiper baru mereka Nick Pope juga jangan dilupakan.
⛔️ @NUFC have conceded the fewest #PL goals so far (10), and no goalkeeper has kept more clean sheets than Nick Pope (6)#NEWAVL pic.twitter.com/5rCiDwVPKf
— Premier League (@premierleague) October 29, 2022
Sedangkan dari segi penyerangan, selain tiga penyerang cepatnya di depan yang agresif, tiga pemain tengahnya pun juga sering silih berganti agresif terlibat dalam penyerangan. Termasuk juga bek kanan mereka Trippier yang sering overlap jauh ke depan untuk melakukan umpan crossing akurat.
Hasilnya memang sejauh ini terbukti. Total golnya sejauh ini yakni 24 gol. Total Expected Goals (xG) mereka tercatat sebesar 22,8. Yang artinya menjadi terbaik kedua di bawah Manchester City. Dengan hasil yang terus berkembang positif hingga sekarang, finish di zona Eropa menjadi sebuah mimpi dan harapan besar bagi publik Newcastle musim ini.
Attacking stats:
•xG – 22.8 (2nd)
•Shots – 201 (3rd)
•Woodwork hit – 11 (1st)
•Key passes – 152 (3rd)
•Corners – 92 (2nd)
•Crosses – 258 (2nd)
•Touches in opp. box – 395 (3rd)
•Outside box goals – 7 (1st)
•Direct attacks – 30 (2nd)
•Goals from turnovers – 4 (1st) pic.twitter.com/3Dx3higNi4— ToonDeepDive (@ToonDeepDive) October 30, 2022
Sekali lagi, bahwa peran jajaran manajemen, jajaran pelatih, maupun pemain, menjadi bukti bahwa apa yang dikatakan Howe sebagai “uang bukanlah jaminan kesuksesan” adalah nyata adanya.
THIS TEAM 😍 pic.twitter.com/KBzRsm2Gbb
— Newcastle United FC (@NUFC) October 23, 2022
https://youtu.be/N-aGCYGhbHU
Sumber Referensi : theathletic, theathletic, chroniclelive, dailymail


