Bubarnya Proyek Triliunan PSG

spot_img

“Sepak bola bukan sekadar bisnis kecil-kecilan, tapi juga buruk,” kata Simon Kuper, salah satu penulis sepak bola paling masyhur di Inggris dan penulis buku Soccernomics.

Berangkat dari perkataan Kuper. Bisnis sepak bola bisa disebut bisnis yang buruk boleh jadi karena punya resiko yang lebih gede. Resiko paling nyata adalah kegagalan.

Itu yang sedang dihadapi Nasser Al-Khelaifi di Paris Saint-Germain. Proyek triliunan klub raksasa Prancis itu terancam bubar, mengingat Kylian Mbappe, satu-satunya pemain bintang dan termahal akan meninggalkan Parc des Princes.

Perginya Mbappe

Tinggal menunggu waktu bagi Kylian Mbappe untuk benar-benar pergi. Sebelumnya, peraih Piala Dunia 2018 itu mengatakan tidak akan lagi berseragam Les Parisiens musim depan.

Keinginan Mbappe untuk membela Real Madrid sudah mendarah daging. Bahkan kesepakatan sudah terjalin dan tinggal menunggu waktu transfer Mbappe ke Real Madrid sampai pada kata “selesai”. Fabrizio Romano memperkirakan 1 Juli 2024 mendatang itu akan sungguh terwujud.

Hasrat Mbappe untuk menemui pintu keluar Parc des Princes agaknya sulit terbendung. Meskipun semalam, sebelum naskah video ini dibuat, Presiden Prancis, Emmanuel Macron kembali turun gunung. Seperti yang pernah terjadi, Macron akan berupaya menahan Mbappe untuk tak hengkang dari PSG.

Akan tetapi, dalam berbagai laporan, tidak ada upaya Macron untuk nggondeli Mbappe. Macron hanya bilang, “Anda akan membuat kami mendapat masalah lagi” kepada pemain keturunan Aljazair itu.

Perpisahan Mbappe dengan Paris sepertinya tak dapat dihindari. Radio Spanyol, Cadena SER bahkan memberitakan bahwa itu adalah jamuan makan malam terakhir. Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Emir Qatar dan tentu saja Nasser Al-Khelaifi tersebut, Mbappe bahkan sudah mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang.

Perjalanan Proyek PSG

Kepergian Mbappe akan mengakhiri proyek PSG yang sudah dilakukan sejak kedatangan Nasser Al-Khelaifi. Selama bertahun-tahun konglomerat Qatar Sports Investment itu membangun PSG. Nasser jumpalitan mendatangkan para pemain mahal demi menaikkan marwah Les Parisiens.

Tekad awalnya adalah merebut kembali supremasi di tanah Raja Louis. Demi hal itu, Nasser menuangkan dana besar dari dompet Qatar Sports Investment untuk mendatangkan pemain mahal.

Jika Real Madrid yang sistem pendanaannya urunan saja bisa memboyong pemain sekelas Luis Figo dan Zinedine Zidane, mengapa uang minyak yang licin itu tak mampu melakukan hal yang kurang lebih serupa?

Uang dari Qatar akhirnya dipakai untuk membeli pemain-pemain berharga tinggi. Di musim-musim pertamanya, para pemain seperti Javier Pastore (37,8 juta euro), Thiago Silva (37,8 juta euro), Edinson Cavani (64 juta euro), David Luiz (49,5 juta euro), hingga Zlatan Ibrahimovic (21 juta euro) didatangkan.

Setelah mendatangkan banyak pemain mahal, kedigdayaan PSG di kancah domestik berhasil dikembalikan. Adalah Carlo Ancelotti, pelatih pertama yang berkontribusi menuntun PSG menuju kejayaan domestik. Akan tetapi, dominasi level domestik saja tentu tidak cukup.

Makin Menggila Karena Mengincar Liga Champions

Sebelum kedatangan Qatar Sport Investment, PSG tak hanya babak belur di level lokal. Di kancah internasional, Les Parisiens juga sering basah kuyup. Bahkan setelah meraih kekuatan di level lokal, PSG masih saja gagal di kompetisi paling bergengsi di Eropa, Liga Champions.

Sekalipun pelatih yang memimpin mereka adalah orang yang pernah mengantarkan AC Milan juara di ajang tersebut. Maka Nasser mengucurkan uang lebih banyak lagi demi bisa berjoget di atas podium Liga Champions. Proyeknya jelas, membentuk “Galacticos” versinya sendiri.

Angel Di Maria (63 juta euro), Julian Draxler (36 juta euro), Kylian Mbappe (180 juta euro), Abdou Diallo (32 juta euro), hingga Achraf Hakimi (66,5 juta euro) diboyong. Para pemain tadi memperlihatkan adanya peningkatan pengeluaran untuk transfer. Mengapa? Karena tak ada satu pun dari pemain mahal tadi yang harganya di bawah 30 juta euro (Rp509,4 miliar).

Transfer Neymar yang Fenomenal

Dari semua pemain mahal, penandatangan Neymar yang paling diingat. Mungkin sampai PSG dipimpin oleh cucunya Nasser Al-Khelaifi, kedatangannya akan selalu menjadi kisah yang fenomenal. Lha bejimane? Nilai transfernya saja angka cantik.

Tahun 2017, PSG sukses memboyong Neymar dari Barcelona seharga 222 juta euro dan menjadikannya pembelian paling fantastis kala itu. Kalau disesuaikan ke kurs hari ini sekitar Rp3,7 triliun. Namun, 222 juta euro sebenarnya bukan harga jual maupun nilai pasar Neymar. Karena yang dilakukan PSG bukan membeli Neymar, melainkan menebus klausul rilis sang pemain.

Transfernya pun menimbulkan pergolakan. PSG dan Barcelona pernah bertikai karena transfer ini. Tak hanya melahirkan perseteruan kedua klub, kedatangan Neymar ke PSG bagai ledakan dahsyat yang membentuk alam semesta dalam teori Big Bang.

Setelah transfer Neymar, industri sepak bola berubah 180 derajat. Harga pemain di pasaran makin kurang ajar. Alhasil cuma tim-tim besar yang bisa bersolek. Tim-tim kecil hanya dapat remahannya saja. Maka jangan kaget kalau dalam beberapa tahun ke depan, kisah seperti Steaua Bucuresti menjuarai Liga Champions 1986 tak terulang lagi.

Masih Saja Gagal di Liga Champions

Apakah setelah memoles tim dengan pemain mahal, PSG meraih Liga Champions? Berdandan dengan kosmetik termahal tak menjadikan seorang perempuan seketika mudah dicintai oleh lelaki, apalagi jika ternyata yang berdandan adalah seorang pria.

Begitulah PSG. Di balik kemewahan skuadnya tersimpan mental medioker di dalamnya. PSG selalu belepotan di Liga Champions. Satu-satunya kesempatan terbaik adalah di musim 2019/20. Karena di musim itulah PSG mencapai final. Namun, Kingsley Coman yang mengerti caranya balas dendam memupus harapan PSG. 

Malangnya, PSG tidak hanya bapuk di Liga Champions, tapi juga di Liga Eropa. Bahkan Les Parisiens tak pernah sekali pun lolos ke perempat final kasta kedua Eropa tersebut. Prestasi terbaik mereka adalah terhenti di 16 besar Liga Eropa musim 2010/11.

Ruang Ganti Kacau

Pemilik PSG tak menyadari kalau mengumpulkan banyak pemain bintang dalam satu tim bisa mengakibatkan kekacauan di ruang ganti. Lihat saja misalnya ketika Neymar datang. Kala itu, Neymar yang menjadi pemain termahal berstatus megabintang. 

Dengan status itu, ego akan lebih sulit dikontrol. Kehadiran Neymar pun menimbulkan prahara dalam rumah tangga PSG. Salah satu yang paling sensasional adalah perseteruannya dengan Edinson Cavani. Awal musim 2017/18 kedua pemain pernah adu mulut di lapangan.

Masalahnya padahal cuma perkara siapa yang akan menendang penalti. Tetapi karena Unai Emery, pelatih kala itu tak dapat mengendalikan ego para bintangnya, hal semacam itu tak terhindarkan. Peristiwa yang sama juga pernah terjadi tatkala Lionel Messi datang ke PSG.

Ya, PSG pernah menampung Messi dari Barcelona. Kedatangan Si Kutu juga bagian dari upaya merebut titel Eropa. Tapi alih-alih demikian, hadirnya Messi makin memperkeruh ruang ganti.

Mengutip Mundo Deportivo, Messi pernah memercikkan api perseteruan dengan Kylian Mbappe. Keduanya berselisih paham tentang Neymar. La Pulga mau Neymar bertahan, sedangkan anak kesayangan Macron berpendapat sebaliknya.

Melihat apa yang sudah ada, kehadiran pemain bintang tak cukup meningkatkan level PSG di Eropa. Messi yang begitu hebat di Piala Dunia bersama Argentina dan Liga Champions saat berseragam Barcelona malah seperti pedagang asongan saat bermain untuk PSG.

Bintang-Bintang Bepergian

Les Parisiens belum bisa meraih Liga Champions atau trofi Eropa apa pun, tapi para pemain bintang sudah bergiliran angkat kaki. La Pulga memutuskan berseragam Inter Miami. Neymar yang pembeliannya menggegerkan memilih “mendekat” ke Ka’bah. Mbappe sebentar lagi bareng Florentino Perez menertawakan PSG.

Praktis kalau Mbappe pergi, di skuad PSG tak ada lagi pemain yang harganya di atas 90 juta euro. Kecuali PSG mendatangkan pemain baru. Tapi sepertinya PSG sudah kapok. Lagian, membeli pemain mahal saja tanpa filosofi dan prinsip hanya akan membuat tim jalan di tempat.

Ketimbang coba membangun filosofi bermain, PSG malah hobi memecat para pendekar taktik. Carlo Ancelotti, Unai Emery, Laurence Blanc, Thomas Tuchel, Christophe Galtier, hingga Mauricio Pochettino korbannya.

Dengan bubarnya proyek, PSG tak hanya gagal memperoleh trofi yang diinginkan, tapi juga membuang percuma triliunan rupiah. Padahal demi membangun proyek “Galacticos”-nya, PSG telah menghabiskan biaya hampir 2 miliar euro atau sekitar Rp34 triliun untuk membeli pemain.

Duh! 

Besok lagi kalau mau memulai proyek, Nasser Al-Khelaifi tak hanya perlu menyiapkan uang, tapi juga rencana yang matang. Jangan lupa untuk memperbanyak dzikir, suluk, dan shalat malam. Karena mengembangkan klub bukan hanya butuh restu dari FIFA dan UEFA, tapi juga ridho dari Yang Maha Kuasa.

Sumber: AllFootballApp, Goal, TheAthletic, Goal, GameOfThePeople, MundoDeportivo, PanditFootball, CadenaSER

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru