Presiden Real Madrid, Florentino Perez menghadiri bincang-bincang dalam program El Chiringuito. Ia mengatakan bahwa tidak ada pengkhianatan mengenai transfer Kylian Mbappe. Real Madrid yang oleh banyak orang disebut kena PHP, ternyata dari presidennya sendiri, sebagaimana mengutip Football Espana tidak merasa demikian.
Namun, tentu masalah tidak bisa selesai begitu saja. Permasalahan bahkan bukan hanya berkubang di transfer Kylian Mbappe yang justru memperpanjang kontraknya di PSG, tapi melebar ke dugaan pelanggaran aturan financial fair play (FFP) yang dilakukan oleh PSG.
Bahkan bukan cuma PSG yang kena. Manchester City juga ikut terseret. Karena Presiden La Liga, Javier Tebas melaporkan kedua klub itu dengan kasus yang serupa: dugaan pelanggaran FFP.
Daftar Isi
La Liga Laporkan City dan PSG
Sebelumnya La Liga telah mengajukan keluhan ke UEFA soal Manchester City. La Liga dalam sebuah laporan Reuters sebagaimana dikutip Yahoo News, menuduh kalau finansial Manchester City bermasalah. Tentu maksudnya bukan bermasalah karena miskin, tapi disinyalir terjadi pelanggaran financial fair play.
La Liga mengklaim bahwa Manchester City terus-menerus melakukan itu. Dan tentu saja hal semacam ini tidak bisa dibenarkan dari segi hukum Kepulauan Solomon sekalipun. Laporan La Liga ini menjadi makin luas setelah penandatanganan Erling Haaland ke Manchester City dari Borussia Dortmund.
Bomber Norwegia itu sebelumnya adalah target dua raksasa La Liga, Barcelona dan Real Madrid yang gagal merapat. Sementara, untuk PSG juga kurang lebih sama. Mengutip Independent, Javier Tebas menuding bahwa PSG telah berlaku ‘curang’ soal Mbappe.
Tebas juga menuduh kalau PSG sudah berkali-berkali melanggar aturan FFP. Bagi Tebas sangat tidak logis sebuah tim bisa memperbarui kontrak Mbappe dengan nominal yang tinggi. Apalagi kerugian dan beban upah PSG jadi jauh lebih banyak dari Barcelona dan Real Madrid.
“Tidak mungkin tidak ada kecurangan sponsorship atau kontribusi modal di level yang lebih tinggi yang ditetapkan UEFA,” kata Tebas seperti dikutip Independent.
Sebelumnya, Paris Saint-Germain telah memperpanjang kontrak Mbappe hingga tahun 2025. Melansir laporan Marca, Mbappe akan mendapatkan bayaran sekitar 50 juta euro (Rp781 miliar) per tahun. Bukan hanya itu, ada pula biaya penandatanganan yang mencapai 100 juta euro (Rp1,5 triliun). Uang sebanyak itu digelontorkan PSG hanya untuk satu pemain saja.
🚨| Official: La Liga has filed a fresh complaint with UEFA alleging PSG and Man City are continually breaching financial fair play regulations. #fcblive pic.twitter.com/VLFkIoFS5M
— BarçaTimes (@BarcaTimes) June 15, 2022
Sejak Lama
Dugaan pelanggaran aturan financial fair play bukan baru-baru ini saja terjadi. Pada tahun 2017 dan 2018, La Liga juga pernah mengajukan keluhan serupa. Ketika itu laporan La Liga berhasil masuk ke UEFA. Manchester City dan PSG pun mendapat sanksi.
Namun, yang terjadi baik PSG maupun Manchester City, keduanya berhasil lolos dari sanksi setelah mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). CAS memenangkan banding City dan PSG. Keputusan ini membuat La Liga terpaksa gigit jari dan menganggap keputusan CAS untuk meloloskan banding City dan PSG adalah keputusan aneh.
PSG win legal battle with Uefa over financial fair play investigation: • Uefa cannot reopen previously closed FFP investigation • Judgment separate from investigation into 2017-18 finances Paris Saint-Germain have… https://t.co/tDpsFXpMpD #ParisSaintGermain #Financialfairplay pic.twitter.com/l5xXXxpTpX
— JPDAILYSPORTS (@JCPGATA) March 19, 2019
La Liga hanya segelintir pihak yang menuduh PSG dan Manchester City melanggar financial fair play. Sebuah lembaga independen yang memang sering menguak sisi gelap sepakbola, Football Leaks bersama Der Spiegel dan MediaPart juga berkali-kali menuduh City dan PSG telah mengakali aturan untuk menghindari peraturan financial fair play.
Tidakkah Ada Upaya Investigasi?
Kalaupun tuduhan ini benar adanya, harusnya ada semacam upaya investigasi dari pihak-pihak yang berwenang. Ya jika memang nggak becus melakukannya, niat saja sudah baguslah. Dosen kebijakan olahraga dan spesialis hukum Eropa, Borja Garcia dalam wawancaranya dengan situs olahraga Goal, mengatakan bahwa UEFA adalah lembaga yang semestinya melakukan penyelidikan.
Sebagai badan sepakbola tertinggi di Eropa, UEFA punya mandat untuk menegakkan hukum yang mereka buat sendiri. Garcia mengatakan, UEFA sendiri punya aturan, punya regulasi tentang financial fair play, jadi mereka yang wajib melakukan investigasi kalau-kalau ada dugaan pelanggaran.
Upaya untuk melakukan investigasi dari UEFA sebenarnya memang ada. Presiden UEFA, Aleksander Caferin berkali-kali menurunkan tim investigasi untuk menyisir kemungkinan adanya pelanggaran aturan financial fair play. Namun, soal berhasil tidaknya itu urusan lain.
BREAKING: UEFA open Financial Fair Play investigation into PSG over ‘recent transfer activity’ pic.twitter.com/K9ibAERght
— B/R Football (@brfootball) September 1, 2017
Well, bukan hanya UEFA yang bisa melakukan penindakan dan investigasi. Barangkali kalau UEFA terlampau lemah dan tak becus, lembaga lain juga bisa melakukan investigasi yang serius. Walaupun nggak semua lembaga benar-benar bisa melakukannya.
Seperti Premier League. Liga yang menaungi Manchester City tidak bisa tergopoh-gopoh turut melakukan investigasi. Apalagi tidak ada tuduhan kalau The Citizen melanggar aturan financial fair play dalam skala lokal. Kendati sejatinya Premier League bisa melakukan penyelidikan awal. Namun yang bisa Premier League lakukan sekadar ‘mengamati situasi’.
Pakar keuangan sepakbola, Rob Wilson dalam kasus ini mengatakan bahwa kemungkinan bagi pemerintah Inggris turut ikut campur juga terbuka. Pemerintah Inggris bisa saja menyerukan penyelidikan. Tapi Wilson juga mengatakan belum tentu juga penyelidikan dari pemerintah Inggris beneran terlaksana.
UEFA Bermain
Bola panas itu makin bergulir, karena sebetulnya pernah muncul laporan yang mengindikasikan bahwa UEFA ternyata juga cawe-cawe dalam menutupi pelanggaran aturan financial fair play oleh Manchester City dan PSG.
Dalam sebuah dokumen yang ditemukan dan dianalisis oleh 80 jurnalis anggota Kolaborasi Investigasi Eropa (EIC), seperti dikutip France 24 pada 2018, menemukan bahwa UEFA secara sadar telah membantu klub yang bersangkutan untuk menutupi pelanggaran FFP.
UEFA ‘knowingly helped’ PSG and Man City get around financial fair play rules https://t.co/nQ3qkkwo9Q pic.twitter.com/D5mlLXGfAX
— FRANCE 24 (@FRANCE24) November 3, 2018
Para jurnalis menduga UEFA melakukan itu demi kepentingan politik. Terutama yang melibatkan Michel Platini dan Gianni Infantino. Klaim Football Leaks menunjukkan bahwa Qatar dan Abu Dhabi menyuntikkan dana senilai 4,5 miliar euro (Rp70,3 triliun). Dari angka itu 2,7 miliar euro (Rp42,1 triliun) telah diinvestasikan ke Manchester City oleh pemiliknya di Abu Dhabi, dari kesepakatan sponsor yang disinyalir berlebihan.
Sementara itu, PSG menjalin kerja sama berdurasi lima tahun dengan Qatar Tourism Authority (QTA) senilai 215 juta euro per tahun (Rp3,3 triliun). Lucunya dari kesepakatan yang totalnya senilai 1 miliar euro (Rp15,5 miliar) lebih itu, oleh auditor independen UEFA menilai kontraknya hanya di angka 2,8 juta euro (Rp43,6 miliar) per tahun.
Diserang Balik
Di lain sisi, Manchester City dan PSG, dua klub tertuduh melanggar aturan FFP menampik segala kemungkinan pelanggaran. Kedua klub tersebut pada tahun 2017 dan 2018 bahkan bisa menang banding. Sebaliknya, PSG dan Manchester City menyerang balik pihak-pihak yang menudingnya.
Javier Tebas tak bisa mengelak dari serangan balik yang dilontarkan kubu PSG maupun Manchester City. Dalam laporan The Guardian menyebut, kedua klub itu mengomentari kebijakan keuangan yang kacau dari La Liga. Keduanya berdalih La Liga telah menyangkal kesalahan yang mereka buat sendiri.
Mereka mencontohkan soal Barcelona. Bagaimana mungkin Blaugrana yang masih ada lubang 500 juta euro (Rp7,7 triliun) dalam neraca keuangannya, bisa mendatangkan kesepakatan 55 juta euro (Rp857 miliar) Ferran Torres dari Manchester City?
Ferrán Torres to Barcelona, done deal confirmed and here we go! The agreement has been completed for €55m plus €10m add ons to Manchester City. 🤝🇪🇸 #FCB
Ferrán will sign a five year deal as new Barcelona players in the coming hours. He’s always been the priority for Xavi. pic.twitter.com/n1LsaHmISQ
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) December 22, 2021
Bukan itu saja. Melansir Daily Mail, Ketua Ligue 1, Vincent Labrune justru blak-blakan menyerang Javier Tebas. Labrune mengatakan, La Liga diuntungkan oleh bantuan dari negara ilegal dan menghabiskan uang serta biaya transfer mereka sendiri. Meskipun Labrune tak menyebut negara ilegal mana yang dimaksud.
Alih-alih disebut sebagai pelanggaran FFP oleh PSG dan Manchester City, kasus ini malah lebih mengarah kepada perseteruan antara La Liga, PSG, dan Manchester City. Kasus ini bahkan melahirkan ketegangan di tubuh UEFA. Apalagi baik Tebas dan Nasser Al-Khelaifi keduanya memiliki jabatan di UEFA.
Apa pun itu, sebagai pihak yang hanya bisa melihat orang-orang tadi ‘berdansa’, kita bisa mengambil hikmah luar biasa dari masalah ini. Betapa kasus ini mengingatkan kita pada sebuah pepatah kuno Kepulauan Madagaskar yang berbunyi, “Semakin kaya seseorang, maka semakin berat godaannya”.
https://youtu.be/WYBo3kI4cb0
Sumber referensi: Yahoo, Goal, France24, Dailymail, TheGuardian, Indepndent, Marca


