Bisa Apa Gabriel Jesus di Klub Medioker Seperti Arsenal?

spot_img

Potret Gabriel Jesus mengenakan jersey bernomor sembilan dan berlatarkan Emirates Stadium sudah terpampang di segala platform media sosial Arsenal. Mereka resmi mengumumkan kepindahan pemain asal Brazil itu, dengan kesepakatan 45 juta pound atau sekitar Rp800 miliar serta kontrak berdurasi lima tahun.

Gabriel Jesus jadi pemain keempat yang didatangkan Arsenal pada musim panas kali ini, sebelumnya klub london tersebut sudah mendatangkan Marquinhos, Matt Turner, dan Fabio Vieira. 

Mengingat The Gunners yang tengah mengalami krisis striker, mendatangkan Gabjes merupakan transfer yang dinanti-nanti. Namun, apa benar mantan pemain Manchester City itu adalah jawaban yang tepat bagi lini serang Arsenal?

Tak Menjadi Favorite di City

Talenta Gabriel Jesus tersia-siakan di Manchester City. Setelah bergabung dengan City pada tahun 2017, mantan pemain Palmeiras itu tak selalu menjadi pilihan utama Pep Guardiola di lini depan. Ia kalah bersaing dengan Sergio Aguero yang selalu tampil konsisten bersama The Citizens.

Selepas Aguero bergabung Barcelona, City tak memiliki striker murni. Namun, tetap saja. Performa Gabjes tak sedikit pun membuat Pep Guardiola terkesan. Gabjes dihadapkan dengan kefrustrasian lantaran Pep lebih gemar memainkan Raheem Sterling, Phil Foden, hingga Bernardo Silva sebagai penyerang tengah ketimbang dirinya.

Musim lalu, Gabriel Jesus hanya memainkan 28 pertandingan Premier League. Itu angka yang cukup bagus, namun hampir semua laga yang dimainkannya, dimulai dari bangku cadangan. Ia hanya memainkan 1800 menit di liga, jika dirata-rata Gabjes hanya bermain sekitar 60 menit per laga.

Tak selalu menjadi andalan lini depan City, bukan berarti Gabjes bermain buruk. Ketika diberi kesempatan untuk bermain 90 menit penuh, pemain bernomor punggung 9 itu menunjukan bahwa ia sangat berguna di lapangan. Pergerakan tanpa bola, umpan-umpan progresif, dan gol-golnya seringkali menjadi pembeda di setiap pertandingan.

Mungkin situasi Gabriel Jesus yang tak jadi favorite lini depan City, hanya soal kepercayaan Pep yang tak kunjung tumbuh padanya. Pasalnya Gabjes ini nggak jelek-jelek amat. Ketika dimainkan, ia selalu memberikan yang terbaik di lapangan.

Bermain di Arsenal Adalah Penurunan Karir?

Pindah dari klub yang mendominasi liga dalam beberapa tahun terakhir menuju klub medioker macam Arsenal memang memberikan kesan bahwa transfer ini adalah sebuah penurunan level bagi pemain sekelas Gabriel Jesus. Performa Arsenal memang sedang angin-anginan di liga. Bahkan untuk sekadar mengamankan posisi empat besar saja, mereka cukup kesulitan.

Tapi jangan salah dulu, dengan gesitnya pergerakan The Gunners di bursa transfer, bukan tidak mungkin, mereka tengah menyiapkan proyek baru guna kembali bersaing untuk mengamankan posisi empat besar musim depan.

Terlebih dengan datangnya striker kaliber Gabriel Jesus, lini depan Arsenal akan sangat terbantu. Dengan sedikit sifat egois, Gabjes merupakan sosok striker haus gol. Dan Arsenal memang tengah membutuhkan sosok seperti itu di lini depan.

Tak dapat dipungkiri, secara level klub, Arsenal jauh apabila dibandingkan City, karena Arsenal bukan klub penantang gelar macam Manchester City atau Liverpool. Tapi kalau soal kemanfaatan di lapangan, talenta Gabjes tak akan disia-siakan Arsenal. 

Gabriel Jesus akan lebih berguna di Arsenal. Atributnya sebagai striker komplit akan membantu Mikel Arteta untuk mendongkrak performa tim musim depan. Mengingat, target Arsenal musim depan adalah kembali berlaga di kompetisi tertinggi di antarklub Eropa, Liga Champions. 

Gabjes Adalah Tipikal Pemain yang Disukai Arteta

Sebagai seorang penyerang, Gabjes punya banyak keunggulan. Ia bukan striker yang malas gerak macam striker-striker pemantul bola. Kalau malas, Pep Guardiola mungkin tak akan pernah mendatangkannya ke Etihad Stadium. Gabriel Jesus memiliki kecepatan yang cukup mumpuni, entah untuk merusak bentuk pertahanan maupun menekan lawan.

Gabriel Jesus juga memiliki atribut yang disukai Arteta. Musim lalu, Arteta menggunakan Lacazette sebagai pemain yang mau turun untuk menjemput bola dan menciptakan ruang bagi pemain lain. Nah, Jesus juga sangat nyaman memainkan peran tersebut. Ia tak keberatan bergerak lebih ke dalam untuk menjadi opsi umpan apabila diperlukan.

Pergerakan tanpa bola Jesus juga terbilang mengesankan. Ketika konsentrasi bek lawan sedang tertuju pada si pemegang bola, Gabjes sering menempatkan diri di titik buta pemain bertahan lawan. Posisi ini menguntungkan Gabjes untuk menyelinap ke ruang terbuka dan meningkatkan peluang tim untuk mencetak gol.

Pergerakan tanpa bola Gabjes akan memudahkan Martin Odegaard atau Fabio Vieira di lini tengah. Pergerakan Gabjes yang liar akan menarik perhatian bek lawan sehingga menciptakan ruang dan waktu lebih bagi Odegaard dan Vieira untuk mengkreasikan peluang.

Bagaimana dengan ketajamannya di depan gawang? Tentu tak perlu diragukan lagi. Gabjes memiliki nilai expected goal (xG) berada di angka 0,49 per 90 menit. Itu sedikit lebih unggul daripada Lacazette dengan 0,40 per 90 menit pada musim lalu. 

Gabjes Adalah Pemain Versatile

Selain itu, Gabriel Jesus juga menawarkan servis sebagai pemain depan yang serba bisa. Ia mampu bermain di mana saja asal itu posisi menyerang. Hal itu dibuktikan dengan eksperimen Pep Guardiola di penghujung musim 2021/2022. Pep seakan-akan memberi tahu Mikel Arteta, bahwa calon pemain barunya itu mampu bermain di berbagai posisi.

Hasilnya sangat memuaskan, ketika Pep Guardiola memainkan Gabjes sebagai seorang sayap kanan atau kiri dalam skema 4-3-3, Ia mampu mencetak 4 gol serta 7 assist dalam 17 pertandingan bermain di posisi tersebut.

Bermain sebagai sayap, Gabjes mengandalkan kecepatan, etos kerja dan sesekali melakukan gocekan khas Samba yang menipu pemain lawan. Kepiawaian Gabjes dalam mengolah si kulit bundar dibuktikan dengan data yang dikemukakan oleh Fbref bahwa dribble sukses milik Gabjes berada di angka 65,6% musim lalu. 

Berkat eksperimen ini, Gabjes memiliki daya tarik lebih sebagai seorang striker. Kelebihan ini bisa menjadi opsi yang berguna bagi Mikel Arteta untuk mengarungi kalender kompetisi yang kian padat. Gabjes mampu menggantikan Bukayo Saka apabila cedera atau sebatas untuk variasi lini depan. 

Pembelian Tepat?

Di atas kertas, perekrutan Jesus adalah jawaban buat Arsenal. Usianya belum tua-tua amat, yaitu masih berusia 25 tahun, yang mana itu masih masuk dengan visi Arsenal untuk bermain mengandalkan pemain-pemain muda musim depan. 

Belum lagi kecocokannya dengan gaya main Arteta. Sedikit banyak Arteta juga sudah paham dengan gaya main Gabriel Jesus. Itu karena mereka sempat bekerja sama saat membela City. Saat itu Arteta menjadi asisten Pep Guardiola sejak 2016 hingga 2019.

Namun, butuh waktu untuk membuktikan itu, setidaknya sampai Gabriel Jesus benar-benar nyetel dengan permainan Mikel Arteta. Siapa tahu Gabjes memang benar-benar jawaban atas kepergian Pierre-Emerick Aubameyang dan Alexandre Lacazette.

https://youtu.be/Y-HDbNtuxj8

Sumber: The Mastermind, Total Football Analyst, The Flanker, Football Faithful

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru