Berpesta di Old Trafford! Keperkasaan Arsenal Juara Liga Inggris 2001/02

spot_img

Mengenang sebuah kejayaan sebuah klub kesayangan, sering menjadi obat penenang bagi sebagian besar fans. Masa-masa indah itu tentu tak akan luput dari catatan sejarah. Bagi sebuah klub besar di Inggris, seperti Arsenal. Mereka yang sudah lama merindukan gelar juara, pasti akan teringat betapa perkasanya Arsenal pada periode awal tahun 2000-an.

Banyak yang mengingat masa kejayaan Arsenal hanyalah ketika “Invincible” di musim 2003/04. Namun, banyak juga yang sering lupa, jika dua musim sebelumnya, yaitu musim 2001/02, mereka juga pernah berkuasa di Liga Ratu Elizabeth tersebut.

Berada Di Bawah Keperkasaan MU

Musim 2001/02 merupakan musim kelima Arsene Wenger setelah datang ke tanah Inggris pada tahun 1996 silam. Di musim kelimanya tersebut dirinya masih dibayang-bayangi oleh kekuasaan MU bersama Sir Alex Ferguson.

Sempat menghentak di musim penuh pertamanya 1997/98, Wenger dipaksa melongo menyaksikan hegemoni sang rival meraih treble bersejarah di 1998/99, dan mempertahankan gelar juara Liga Inggris di musim 1999/00 dan 2000/01.

Namun, bukan Wenger namanya kalau tidak mencari keributan. Kedatangannya ke Inggris saja sudah mengusik banyak klub, termasuk Manchester United. Wenger tentu tak hanya diam di musim itu. Ia berupaya keras sesegera mungkin menggusur hegemoni United.

Transfer Tepat Sol Campbell

Pembenahan pun dilakukan oleh Wenger. Salah satunya menambah amunisi di beberapa posisi. Di sektor lini belakang, ketika itu pemainnya dalam kondisi makin menua. Di kiper masih ada David Seaman. Di bek tengah masih ada Tony Adams, Martin Keown, maupun Lee Dixon.

Menyadari kekurangan di lini belakang, Wenger sekali lagi melakukan kebijakan sensasional yang mengundang keributan. Ketika pemain andalan rivalnya, yakni Spurs, Sol Campbell direkrutnya dengan status bebas transfer. Polemik antarfans pun tersulut ketika itu.

Namun terbukti, kokohnya tembok Arsenal yang semakin menua itu tertutupi oleh hadirnya sosok Campbell yang sempat dijuluki “Judas” oleh para pendukung Spurs. Posisi Lee Dixon di bek kanan pun juga perlahan bisa ditutupi oleh meningkatnya performa Lauren.

Di sektor bek kiri, meskipun mendatangkan Giovanni Van Bronckhorst dari Rangers, posisinya itu malah ditempati reguler oleh pemuda bernama Ashley Cole yang terbukti mampu tampil konsisten.

Di sektor lini tengah dan depan, Wenger sedikit melakukan perubahan. Kerangka tim sebelumnya yang sudah kuat, macam Vieira, Pires, Ljungberg, Henry, Bergkamp maupun Wiltord tetap dipertahankan.

Rekor Tak Terkalahkan Partai Tandang Arsenal Musim 2001/02

Hasilnya memang spektakuler. Beberapa pembenahan tersebut berbuah hasil. Di paruh musim pertama Liga Inggris hingga Desember 2001, The Gunners hanya mengalami kekalahan tiga kali ketika melawan Leeds, Charlton Athletic, dan Newcastle. Uniknya, kekalahan tersebut terjadi di Highbury markas mereka.

Berbanding terbalik ketika Arsenal memainkan laga tandang. Mereka perkasa saat bertandang. Dari 19 pertandingan tandang yang dijalani, Arsenal tak terkalahkan. 14 kali menang, dan hanya 5 kali imbang. Catatan itu adalah rekor fantastis sebuah tim di Liga Inggris dalam satu musim.

Skuad racikan Wenger tersebut tampaknya diprediksi akan melaju mulus hingga pertandingan akhir musim. Menjelang pekan ke-37, kondisi Arsenal di atas angin. Mereka mampu unggul 7 poin dengan Liverpool di peringkat kedua, setelah Michael Owen dan kawan-kawan takluk di tangan Spurs pada pekan ke-36.

Lho kok di peringkat dua bukan MU? Ya, ketika itu adalah musim yang kompetitif, di mana tim-tim seperti Liverpool, Newcastle, bahkan Leeds pun bisa saling tukar posisi di papan atas klasemen.

MU yang notabene “incumbent” juara tiga kali berturut, musim itu bak tertidur. Meski menambah amunisi macam Forlan, Van Nistelrooy, Veron, maupun Laurent Blanc, namun hasilnya tak maksimal. MU hanya finish di posisi ke-3 dan tak meraih gelar satu pun musim itu.

Juara Di Theater Of Dreams

Ketika kondisi United sedang terpuruk, justru sang rival, Arsenal jelang pekan ke-37 bersiap untuk bertandang ke Old Trafford. Dengan keunggulan 7 poin atas Liverpool, hasil imbang pun cukup bagi pasukan Wenger untuk mengunci gelar Liga Inggris kedua mereka. Mengingat Liga Inggris ketika itu hanya menyisakan dua pertandingan saja.

Momen bersejarah pun datang. Tepat pada tanggal 8 Mei 2002. Publik “Theater Of Dreams” tentu tak rela markasnya dijadikan tempat pesta pora rivalnya. Berjuang sekuat tenaga agar tidak menanggung malu, namun akhirnya pasukan Fergie pun menyerah atas keperkasaan Arsenal.

Arsenal yang tanpa Henry, Pires dan Bergkamp, di luar dugaan mampu membungkam Old Trafford yang penuh gemuruh itu. Gol semata wayang striker Prancis, Sylvain Wiltord ke gawang Fabian Barthez di menit 56 menjadi gol kemenangan Arsenal.

Pesta pun tak terelakan, Old Trafford menjadi saksi Arsenal meraih mahkota juara untuk kedua kalinya. Para penggemar United pun mesti rela melihat David Seaman dan kawan-kawan berpesta di tanah suci mereka.

Double Winners dan Musim Sempurna Wenger Kalahkan Ferguson

Sungguh musim yang sempurna bagi Wenger. Misinya menggerogoti hegemoni Ferguson di United akhirnya kembali tercapai. Ini adalah kedua kalinya Wenger di atas Fergie sejak pertama kali di musim 1997/98.

Gelar juara yang diraih di Old Trafford tersebut, juga melengkapi gelar yang diraih Arsenal di Piala FA ketika mengalahkan Chelsea 2-0 pada 4 Mei 2002. Arsenal “sah” menyandang sebagai Double Winner di musim itu. Seperti apa yang Wenger raih di musim penuh pertamanya 1997/98. Ketika itu Arsenal juga merusak hegemoni MU dengan meraih Double Winner.

Tentu beberapa kesuksesan Wenger merebut hegemoni MU itu tak luput dari beberapa para pemain pilar yang menggila performanya. Thierry Henry, Robert Pires, maupun Freddie Ljungberg adalah bagian penting skuad Wenger mencapai kesuksesan di musim itu.

Henry menyelesaikan musim dengan 24 gol dan menjadi top skor. Sementara Pires mencatat 15 assist. Itu adalah angka assist tertinggi di beberapa liga top Eropa ketika itu.
Ljungberg, mencetak 12 gol hanya dalam 25 pertandingan. Legenda Swedia itu pun diganjar penghargaan pemain terbaik musim itu versi Barclaycard.

Jadi, tidak mengherankan jika musim 2001/02 adalah musim yang sangat spesial bagi The Gunners dan para pendukung setianya. Bagi para fans di jaman sekarang, tentu saja akan merindukan saat-saat spesial itu, mengingat sudah terlalu lama The Gunners puasa trofi gelar Liga Inggris.

Sumber Referensi : premierleague, planetfootball, bbc, arsenalinsider, thesefootballtimes

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru