Musim ini untuk menjadi juara Liga Inggris, sepertinya Manchester City harus bekerja lebih keras. Pertengahan musim, tepatnya sebelum jeda Piala Dunia, The Citizen gagal memuncaki klasemen. Justru kekuatan baru Arsenal yang kedinginan di puncak klasemen. Manchester City ketinggalan lima poin dari Arsenal.
Keadaan itu mengingatkan kita kembali dengan apa yang terjadi pada musim 2018/19. Namun, dasar Manchester City. Ketinggalan poin bukan masalah. Sebab di musim 2018/19, Manchester City pernah sempat tertinggal poin, tapi di ujung musim tetap menjadi juara.
Manchester City were 10 points behind Liverpool on 29th December.
They then won 18 of the last 19 games of the season, including the final 14.
The 2018-19 Premier League champions. pic.twitter.com/RPFqXDynSt
— bet365 (@bet365) May 12, 2019
Daftar Isi
Desember Kelabu City
Tak dipungkiri, gelar juara City di musim 2018/19 lahir berkat kerja keras untuk bangkit dari periode kelam. City di bulan Desember 2018, masih tertinggal 7 poin atas Liverpool di puncak klasemen.
Pasukan Anfield di awal musim benar-benar tancap gas. Tak terkalahkan sampai pekan ke 20, dengan 17 kemenangan dan hanya 3 hasil imbang. Namun, City sebagai sang juara bertahan tampaknya tak mau merelakan begitu saja gelarnya hinggap ke Anfield.
Selisih 7 poin yang didapat Liverpool bukan berkat performa Manchester City yang melempem di awal musim. Pasukan Pep juga sebenarnya tancap gas sejak awal musim. Dengan catatan 13 kali kemenangan dan hanya 2 kali imbang sampai pekan ke-15.
Nah, problem terbesar City terjadi di periode yang sering diingat sebagai Periode “Desember Kelabu”. Di mana City mengalami banyak kekalahan di sepanjang Desember 2018.
#OnThisDay in 2018: @ChelseaFC 2-0 @ManCity.@nglkante scored for the first time since the opening day of that season, whilst @DavidLuiz_4 bagged his first goal of the campaign, as Chslea easily defeated Man City at Stamford Bridge. #COYB 🔵 pic.twitter.com/VJdqksqZGC
— On This Day in the Premier League (@OTD_PL) December 8, 2021
Kekalahan City berawal pada 8 Desember 2018 ketika menjamu Chelsea di Stamford Bridge. Kalah 2-0 City benar-benar terpukul. Di satu sisi Liverpool mampu meraih kemenangan telak di kandang Bournemouth 0-4.
Periode Boxing Day bagi The Citizens menjadi mimpi buruk. Tatkala mereka dipecundangi Crystal Palace di kandang sendiri 2-3 dan menyerah atas The Foxes selang beberapa hari kemudian 2-1 di King Power Stadium.
A fully deserved win against the @PremierLeague champions 😀
COME ON! 🦊#LeiMci pic.twitter.com/AmUA2xVDWl
— Leicester City (@LCFC) December 26, 2018
Kehilangan poin sangat berarti bagi City, terlebih Liverpool masih tanpa cela. The Reds mampu sapu bersih laga Boxing Day di Anfield dengan melibas Newcastle 4-0 dan Arsenal 5-1.
Salah satu faktor yang jadi penyebab “Desember Kelabu” selain penyakit City yang sering “deadlock” dalam menciptakan gol, juga dipengaruhi oleh underperform dari salah satu pemainnya, yakni Fabian Delph. Pemain yang musim sebelumnya sukses disulap jadi bek kiri tersebut, membuat kesalahan dalam kekalahan atas Palace dan Leicester.
Akhirnya, Liverpool sementara mengoleksi 51 poin, dan City 44 poin. Hal yang membuat kepanikan di kubu Etihad pun seketika terjadi. Karena di awal tahun, partai akbar nan menentukan perjalanan kedua tim akan tersaji. Pertemuan kedua City vs Liverpool kala itu akan dihelat di Etihad pada 3 Januari 2019.
Kronologi Pengejaran Poin City Atas Liverpool, Hanya Dalam Sebulan!
Tampil dengan kekuatan penuh dari kedua tim, gol Aguero dan Leroy Sane akhirnya mengantarkan City memangkas poin atas The Reds menjadi 4 poin. Kemenangan 2-1 atas Liverpool adalah sebuah tonggak utama bagi kebangkitan City musim itu.
“it’s fine” 😅 pic.twitter.com/JDJikLIRks
— Manchester City (@ManCity) January 3, 2019
Sebaliknya, bagi Liverpool itu adalah kekalahan pertama yang mencoreng muka mereka. Dengan kekalahan itu, otomatis pasukan Klopp mentalnya terganggu. Meskipun mereka masih punya jarak poin atas rivalnya tersebut.
🗓| #OnThisDay in 2019, @ManCity defeated @LFC 2-1 at the Etihad Stadium!
⚽️ @AgueroSergioKun (40′)
⚽️ @Leroy_Sane (72′)WHAT A GAME! 😍#ManCity | #MCFC
— City Chief (@City_Chief) January 3, 2022
Periode kelabu bagi City kembali terjadi. Setelah mereka kembali kalah di pekan 24 akhir Januari 2018 atas Newcastle 2-1. Namun kali ini, Liverpool gagal memanfaatkan kekalahan City lagi. Mereka hanya mampu bermain imbang lawan Leicester.
Di awal bulan Februari 2019, City yang menggilas Arsenal 3-1 akhirnya mampu balik memanfaatkan hasil Liverpool yang hanya bermain imbang melawan West Ham 1-1.
City kemudian memaksimalkan laga pekan 27 yang dimajukan karena akan bermain di final Piala Liga, dan akhirnya City mampu menang 2-0 atas Everton. Poin mereka pun akhirnya jadi sama dengan Liverpool, dan City mampu unggul dalam selisih gol. Kronologi pengejaran poin itu terjadi hanya dalam sebulan setelah kemenangan City atas Liverpool.
1 – Manchester City will end the day top of the @premierleague for the first time since December 15th 2018, when they were top after a win over Everton. Pattern. #EVEMCI pic.twitter.com/RQnu4AMqAa
— OptaJoe (@OptaJoe) February 6, 2019
14 Kemenangan Beruntun City
Faktor lainya yang membuat City mengejar ketertinggalan poin atas Liverpool adalah “comeback” mereka di sisa 14 pertandingan terakhir. Tak tanggung-tanggung, setelah terakhir kalah melawan Newcastle, City tak pernah kalah lagi maupun seri. Mereka meraup 3 poin di 14 pertandingan terakhir.
📆 #OnThisMinute in 2019:
🔥 #ManCity won their 14th consecutive #PremierLeague game to win the title!
🤯 The final 14 games:
✅ 14 Wins
🤝 0 Draws
❌ 0 Defeats
⚽️ 32 Goals Scored
🥅 4 Goals Conceded😍 Mentality Monsters.#MCFC | @ManCity | #OTD2019pic.twitter.com/MCqSNrv9Zm
— City Xtra (@City_Xtra) May 12, 2020
Hal itulah yang menjadikan mereka tetap kokoh di puncak klasemen meskipun Liverpool terus mengejarnya. Di sisi lain, The Reds kala itu sepertinya apes ketika mereka tertahan oleh dua rivalnya yakni MU dan Everton dengan hasil imbang 0-0. Alhasil Liverpool pun harus berbalik tertinggal oleh City dalam perolehan poin.
Momen Penting Gol Tunggal Kompany ke Gawang Leicester
Faktor lain yang menjadikan City akhirnya juara yakni momen spesial di 6 Mei 2019. Tepatnya di laga pekan ke-36 Liga Inggris ketika menjamu Leicester City. Kondisi poin yang hanya berselisih 1 poin di atas Liverpool, membuat partai tersebut harus dimenangkan oleh City apabila tak ingin terkejar.
Penyakit “deadlock” kembali menyelimuti pasukan Pep. Keheningan pun sempat menghinggapi Stadion Etihad karena gol tak kunjung tiba. Namun, akhirnya tendangan ala roket sang kapten Vincent Kompany dari luar kotak penalti yang meluncur deras menghujam jala Leicester di menit 70.
Kemenangan 1-0 City tersebut bermakna. Jarak satu poin atas Liverpool pun tetap terjaga. Suntikan semangat mental juara juga mampu terjaga hingga partai akhir melawan Brighton di Amex Stadium. Benar saja, kemenangan 4-1 atas Brighton, membuat gelar Liga Inggris pun akhirnya mampu dipertahankan The Citizens.
Gelar Juara yang Menciptakan Rekor
Gelar juara itu sekaligus merupakan gelar “Back To Back” bagi City. City pun kembali juara dengan rekor poin terbanyak kedua sepanjang sejarah Liga Inggris yakni dengan 98 poin. Setelah mereka di musim sebelumnya 2017/18 juara dengan 100 poin.
🏆🔵 Manchester City are celebrating their fourth Premier League title in eight seasons!
🏟️ 38 games
🙌 32 wins & 2 draws
⚽️ 95 goals, 23 conceded#MCFC pic.twitter.com/xUMy7qywOm— Sporting Life 🎯🔴🎾⛳️🥊🏏🏉 🏈 (@SportingLifeFC) May 12, 2019
Gelar itu adalah gelar keenam bagi City di Liga Inggris, sekaligus melengkapi gelar “Treble Mini” mereka di musim itu dengan juga meraih gelar FA Cup dan Piala Liga. Bagi Liverpool yang mengoleksi 97 poin di akhir musim adalah suatu prestasi tersendiri.
The Reds hanya kalah sekali dalam satu musim, sedangkan City kalah empat kali. Namun, tujuh kali hasil imbang yang diperoleh The Reds menjadi kendala utama mereka gagal juara. Dan jangan lupa kebangkitan City memangkas poin dari ketertinggalan, itu adalah catatan sejarah yang patut untuk dikenang bagi publik Manchester Biru.
2012 🏆
2014 🏆
2018 🏆
2019 🏆🔵 #mancity pic.twitter.com/CW4M8J3OfR
— Manchester City (@ManCity) May 12, 2019
Sumber Referensi : theguardian, sportinglife, forbes, en.as, 90min


