Berkat Trio Gelandang Ini, Klub Yang Dibela Sukses Kuasai Dunia

3 min read

Dalam sebuah permainan sepak bola, ada beberapa posisi yang kerap menjadi sorotan, seperti bek dan penyerang. Dalam hal ini, peran para pemain tengah juga sangat dibutuhkan. Mereka yang beroperasi di wilayah ini biasanya menjadi penyeimbang tim. Aliran bola dari belakang hingga ke depan akan selalu melewati area tengah, dimana peran para gelandang sangat dibutuhkan.

Dalam sejarah sepak bola, ada perpaduan gelandang yang sukses kesankan penggemar di dunia. Tak hanya dua, tiga pemain sekaligus bahkan sering menciptakan sebuah harmoni sempurna dalam sebuah permainan. Dan berikut kami sajikan trio gelandang terbaik dalam sejarah sepak bola.

Makelele, Lampard & Essien

Claude Makelele, Frank Lampard dan Michael Essien menghabiskan tiga musim bersama, dan sukses membentuk trio gelandang tangguh di Chelsea. Dibawah asuhan pelatih Jose Mourinho. Makelele adalah poros. Ia memiliki peran untuk menghentikan permainan dan menuntaskan serangan lawan. Lampard menjadi pemain yang sangat produktif, dimana ia mengantongi 20 gol di masing-masing musim bersama dengan rekan duetnya di lini tengah. Ia bisa dibilang telah memainkan sepakbola terbaik dalam karirnya.

Nama terakhir adalah Michael Essien. Ia merupakan perpaduan sempurna dari keduanya. Kehadiran nya begitu kuat di lini tengah. Ia sukses membawa energi, dinamika, dan kualitas nyata. Antara tahun 2005 hingga 2008, trio gelandang ini layak disebut sebagai yang terbaik di dunia.

Casemiro, Kroos & Modric

Sulit untuk menyingkirkan pencapaian yang telah diraih Casemiro, Kroos dan Modric, di jantung lini tengah Real Madrid. Casemiro adalah pemain yang berada agak kedalam dari ketiganya. Ia adalah pemain Brasil dengan karakteristik tangguh dan energik. Dengan segala bakat yang dimiliki, Casemiro berhasil menjadi tumpuan bagi el Real.

Kemudian ada Toni Kroos yang merupakan pemain sangat berkelas. Menjadi salah satu gelandang tengah terbaik dalam sepak bola dunia, pemain Jerman itu jarang sekali tampil tergesa-gesa. Ia akan membuka ruang dan mengendalikan permainan sebagai seorang playmaker tangguh. Lalu sampailah kepada Luka Modric. Mengawali kepopuleran di Inggris, Modric sukses menjadi pemain sepakbola yang sangat lengkap di ibukota Spanyol. Dia menjadi mesin sempurna, memiliki teknik fantastis, dan otak sepakbola yang begitu langka.

Dalam kurun waktu beberapa tahun bersama, mereka telah memenangkan empat gelar Liga Champions.

Gattuso, Pirlo & Seedorf

Trio gelandang Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, dan Clarence Seedorf pernah menjadi tonggak dari era keemasan AC Milan. Ketiganya punya kemampuan yang begitu hebat. Dari masing-masing individu, semua punya karakter kuat. Mereka ditugaskan untuk menopang Ricardo Kaka yang bermain di belakang Andriy Shevchenko.

Yang pertama, Gattuso, adalah gelandang bertahan yang tak kenal lelah dan merupakan pemimpin yang brilian. Ia akan menghajar siapapun yang berani masuk ke wilayahnya. Sementara Pirlo adalah playmaker kelas dunia yang memiliki kecerdasan sepakbola dan kemampuan passing yang hampir tak tertandingi. Ia merupakan seorang seniman lapangan hijau yang akan membuat semuanya terlihat mudah. Lalu yang terakhir ada Seedorf yang punya jiwa kepemimpinan tinggi dan juga dedikasi yang amat luar biasa.

Ketiganya berhasil memenangkan sembilan trofi dalam sembilan tahun bersama, termasuk dua Liga Champions Eropa.

Davids, Deschamps & Zidane

Trio lini tengah Davids, Deschamps dan Zidane pernah begitu berjaya di Juventus. Kombinasi ketiganya begitu brilian di akhir 1990-an.

Deschamps menjadi pemain yang tidak terlalu mahir secara teknis dari ketiganya. Ia merupakan seorang gelandang bertahan yang rajin dan dijuluki sebagai pemain pegangkut air oleh Eric Cantona. Namun jangan salah, Deschamps juga layak disebut sebagai pemain kelas dunia. Deschamps adalah pemimpin fantastis dengan permainan defensif nya yang begitu brilian.

Lalu di sebelahnya ada Edgar Davids. Sensasi pria Belanda yang tidak bisa dijabarkan secara rinci. Davids memiliki energi yang sangat kuat. Ia menggabungkan kecepatan, kekuatan dan keuletan dengan teknik yang baik. Kemampuannya jelas tidak bisa dianggap remeh.

Terakhir adalah Zinedine Zidane, seorang pria yang tampak dilahirkan dengan bola di kakinya. Zidane, seperti diketahui, merupakan salah satu maestro dalam sepak bola. Ia memiliki teknik bak dewa serta kharisma yang begitu agung. Zidane merupakan pemain terbaik pada zamannya. Kemampuannya dalam membawa bola seolah mengingatkan kita jika seorang dewa ternyata juga gemar bermain bola.

Van Hanegem, Neeskens & Jansen

Ketika orang berbicara tentang era kejayaan Belanda tahun 1974, fokusnya cenderung pada Johan Cruyff, dan itu menjadi hal yang bisa dimengerti. Namun, dalam variasi ramuan Rinus Michels dan revolusioner dari 4-3-3, ada pemain lain yang layak mendapat tempat istimewa. Pemain tersebut adalah legenda Feyenoord Willem van Hanegem dan Wim Jansen, serta bintang Ajax Amsterdam, Johan Neeskens .

Van Hanegem dan Neeskens memainkan peran yang sama untuk tim. Mereka mampu bekerja sama dengan cemerlang. Ketiganya memiliki energi yang fantastis dan etos kerja yang begitu tinggi. Van Hanegem adalah pemain luar biasa, Jansen pandai membaca pola permainan, sedangkan Neeskens adalah pencetak gol terbanyak dari lini tengah.

Kombinasi ketiganya sukses mencapai final Piala Dunia 1974. Akan tetapi lebih dari itu, mereka berhasil meninggalkan bekas istimewa yang tak tergoyahkan pada satu generasi sepakbola.

Matthaus, Littbarski & Hassler

Matthaus, Littbarski & Hassler juga tak kalah hebat kala berkombinasi di lini tengah dalam sebuah permainan.

Dimulai dengan Matthaus, yang merupakan gelandang bertahan paling terkenal, dan juga menjadi gelandang bertahan terpopuler di zaman modern. Matthaus bisa bermain di mana saja di lini tengah. Dia sangat fleksibel dan cerdas, seorang tackler yang brilian, pemain yang hebat dan pelari yang tak kenal lelah.

Untuk Pierre Littbarski, dia menghabiskan sebagian besar karirnya dengan bermain lebih jauh ke depan. Ia bermain bersama Hassler dan Matthaus di lini tengah ketika Jerman memenangkan Piala Dunia pada tahun 1990. Dia adalah seorang jenius dengan bola di kakinya. Littbarski merupakan dribbler yang sensasional dan seorang pesepakbola yang sangat kreatif. Ia menghabiskan sebagian besar karirnya di Koln.

Thomas Hassler adalah pemain lengkap dari kedua rekan duetnya. Mungil, lincah, sangat baik secara teknis, master penggiring bola dan spesialis tendangan bebas.

Ketiga kombinasi pemain tersebut layak disebut fenomenal. Mereka hebat dan mampu memberi trofi bergengsi bagi timnas Jerman.

Xavi, Iniesta & Busquets

Xavi, Iniesta, dan Busquets, semuanya berada di antara pemain terbaik dari generasi mereka. Mereka bertiga merupakan pemain yang menjadi simbol kesuksesan timnas Spanyol maupun FC Barcelona.

Busquets adalah poros, Iniesta merupakan seorang jenius di sisi kiri lini tengah tengah, sementara Xavi akan terus berkeliaran di sekitar lapangan, terus-menerus mendaur ulang permainan, dan meregangkan seluruh komponen demi menunggu celah yang diberikan tim lawan.

Xavi dan Iniesta mungkin akan memenangkan penghargaan Ballon d’Ors jika mereka bermain di luar era Messi-Ronaldo. Sementara Busquets terlalu jenius untuk menerima penghargaan seperti itu, tetapi dia adalah salah satu dari sepuluh gelandang bertahan terbaik di dunia.

Secara individual, ketiganya sama-sama punya kemampuan terhebat untuk menjadi seorang gelandang berkualitas.

5 Duet Fullback Terbaik Sepanjang Masa

Dalam sepakbola, ada sejumlah peran yang begitu disorot dalam sebuah pertandingan, satu diantaranya adalah fullback. Sampai saat ini sudah banyak sekali fullback yang tak...
Garin Nanda Pamungkas
3 min read

Pemain Yang Berhasil Temui Kesuksesan Berkat Diasuh Pep Guardiola

Pep Guardiola menjadi salah satu pelatih terbaik dalam sepuluh tahun terakhir. Kontribusinya bagi tim-tim yang dibesutnya sudah sangat terasa. Mulai dari FC Barcelona, FC...
startingeleven
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *