Sudah jadi rahasia umum, kalau Indonesia punya pemain keturunan yang melimpah. Para anak bangsa yang memiliki garis darah Merah Putih ini tersebar di seluruh semesta raya. Memang yang paling banyak terdapat di Belanda, namun di negeri lain pun ada. Mereka tersebar di berbagai negara Eropa.
Puluhan pemain sudah resmi kembali mendapatkan status WNI secara penuh. Namun masih banyak juga pemain yang belum dinaturalisasi. Bahkan saking banyaknya pemain keturunan, PSSI bisa menjadikan mereka satu skuad tersendiri. Lantas siapa sajakah mereka? Apakah para pemain ini hanya selevel dengan para talenta lokal?
Formasi dan Starting XI Pemain yang Belum Dinaturalisasi
Starting Eleven telah menyaring 11 nama pemain keturunan yang belum dinaturalisasi. Mulai dari kiper sampai dengan striker. Mari kita berandai-andai membentuk skuad alternatif, di mana Patrick Kluivert tetap sebagai pelatih.
Juru taktik yang merupakan legenda hidup Timnas Belanda ini, kemungkinan bakal memakai formasi 4-3-3. Pasalnya, Kluivert sendiri mengaku doyan dengan pola bermain menyerang. Sang pelatih meyakini, formasi yang identik dengan gaya Total football ini merupakan cara terbaik untuk memenangkan pertandingan. Lantas bagaimana susunannya?
Penjaga Gawang
Kita mulai dari penjaga gawang. Selama ini masih banyak yang belum tahu Daniel Klein. Jika para pendekar di bawah mistar lainnya memiliki darah Belanda dan Italia, maka yang satu ini blasteran Jerman.
Keberadaan Maarten Paes dan kini masuknya Emil Audero membuat nama Daniel Klein tersisihkan dari perbincangan. Namun sang penjaga gawang kabarnya pernah masuk radar Shin Tae-yong.
Daniel Klein yang saat ini berkiprah di Liga Jerman bersama FC Augsburg II pun sempat angkat suara. Kiper yang baru berusia 23 tahun ini mengaku siap membela Timnas Indonesia.
Jebolan akademi Hoffenheim ini mengaku pernah dikontak langsung oleh Fardy Bachdim selaku agen pemain yang rajin membantu PSSI. Ketika namanya diketahui publik sebagai putra nusantara, Daniel Klein mengaku bangga. Bahkan pemain berdarah Bali ini menawarkan diri untuk diseleksi agar PSSI bisa melihat dengan jelas kualitas hebatnya.
“Jika kesempatan itu membela Timnas Indonesia datang, saya pasti tertarik. Sebuah kehormatan mewakili negara ibu saya. Saya terbuka untuk mengikuti seleksi terlebih dulu untuk menunjukkan kemampuan saya kepada Timnas Indonesia,” ucap Klein saat diwawancarai oleh Okezone.
Padahal Transfermarkt mencatat, kiper kelahiran Heidelberg ini sudah memperkuat Timnas Jerman kelompok umur. Klein pernah menjaga mistar gawang Der Panzer muda, mulai dari usia 15 hingga 19 tahun. Namun hati terdalam kiper yang pernah bawa Hoffenheim melaju ke semifinal UEFA Youth League ini nggak bisa bohong. Klein sangat ingin berseragam Merah Putih.
Jika kelak PSSI membutuhkan kiper muda berbakat, maka nama Klein patut masuk dalam daftar prioritas. Sebab Gen Z setinggi 193 cm ini sudah pasti mau pulang ke Tanah Air untuk memperkuat Timnas Indonesia.
Bek Tengah
Masih jadi pertanyaan besar, kenapa pemain keturunan Indonesia sejauh ini paling banyak berposisi bek? Di skuad utama Garuda, para bek bersaing ketat memperebutkan satu posisi. Patrick Kluivert mungkin akan semakin bingung jika ketambahan para bek yang belum dinaturalisasi ini.
Di posisi bek tengah ada sosok Pascal Struijk dan Jenson Seelt. Duet penggawa Leeds United dan Sunderland ini bakal memberikan rasa aman bagi lini belakang Skuad Garuda. Sebab, baik Pascal maupun Jenson sama-sama jadi andalan di klub masing-masing.
Sejauh musim ini, bersama The Whites, Pascal sudah memainkan 30 laga. Bahkan dalam beberapa kesempatan pemain kelahiran Antwerpen ini dipercaya sebagai kapten tim. Jebolan Timnas Belanda U-17 ini juga cukup produktif.
Pascal sudah menggemas 5 gol yang turut membantu Leeds United memimpin divisi Championship. Musim depan, kita mungkin akan melihat Pascal kembali berlaga di pentas Premier League.
Di lain sisi, sosok Jenson Seelt juga tak kalah menarik. Bek tengah muda berdarah Ambon ini bisa jadi aset jangka panjang untuk Skuad Garuda. Pasalnya, Timnas Indonesia yang kerap kecolongan lewat gol-gol bola udara, butuh sosok pemain jangkung yang handal.
Musim lalu, Jenson yang tingginya mencapai 193 cm bermain dalam 17 laga dan menyumbang 1 gol untuk The Black Cats. Hal ini jadi bukti sahih kalau jebolan PSV Eindhoven ini layak diandalkan.
Bek Sayap
Sementara itu, di sektor bek sayap kiri ada nama Ian Maatsen. Jika ia mau bergabung, Timnas Indonesia tentunya bakal ketiban Durian runtuh. Bintang Aston Villa di Premier League ini dinilai punya kualitas dua jempol. Hampir setiap pekan, Ian Maatsen berhadapan dengan para penyerang ganas nan lincah seperti Mo Salah, Son Heung-Min, Bukayo Saka, dan banyak nama besar lainnya.
Eks Borussia Dortmund yang bermain di Final UCL 2023 kontra Real Madrid ini punya kecepatan dan stamina ganda. Selain itu, kemampuan tekel dan umpan silang Maatsen juga tak perlu diragukan lagi. Bayangkan, jika pemain yang punya nilai pasar 556,21 miliar rupiah ini jadi bagian dari Timnas Indonesia. Amboi, betapa megahnya Skuad Garuda.
Apalagi Maatsen tipikal pemain yang serba bisa. Selain bek kiri, dirinya juga bisa beroperasi sebagai gelandang. Semakin versetile maka akan semakin dibutuhkan bukan? Kemampuan serba bisa Maatsen ini pernah dipuji oleh Mauricio Pochettino selaku pelatih yang pernah menanganinya di Chelsea.
“Dia adalah pemain bagus di skuad kami, anak muda yang hebat, memiliki kualitas untuk bermain di berbagai posisi,” ucap juru taktik asal Argentina ini saat diwawancarai situs resmi Premier League.
Sementara itu, di sektor bek kanan diisi oleh Tristan Gooijer. Penggawa Ajax Amsterdam yang tengah dipinjamkan ke PEC Zwolle ini sebenarnya sudah lama didekati oleh PSSI. Kala itu, Tristan diproyeksikan untuk main di Piala Dunia U-20 2023 yang akhirnya batal digelar. Ya, pemain yang memiliki DNA Maluku ini harusnya satu angkatan dengan Justin Hubner masuk Timnas.
Namun saat itu, Tristan yang sudah membuka komunikasi dengan PSSI masih belum luluh. Kabar baiknya, kini Tristan disebut siap dipanggil kembali.Kode keras bahkan dibocorkan oleh Eliano Reijnders melalui story eksklusif di Instagram. “Tristan come to Indonesia,” tulis Eli dengan emot hati yang memperlihatkan Tristan.
Trio Lini Tengah
Beralih ke sektor lini tengah, ada Mitchell van Rooijen yang sangat cocok mengisi pos CDM alias gelandang bertahan. Penggawa TOP Oss ini jago melindungi lini belakang, menghentikan serangan lawan, dan membantu tim mempertahankan penguasaan bola.
Tugas ini bisa dijalani dengan baik oleh pemain keturunan Maluku dan Papua ini. Mitchell sendiri berharap bisa bermain untuk Timnas Indonesia di masa mendatang. Harapan itu sempat melambung lantaran pemain 26 tahun ini pernah dipantau langsung oleh Shin Tae-yong. Momen ini diceritakan oleh Mitchell dalam wawancara eksklusif dengan Kumparan.
“Saya ingin bermain bagus untuk Timnas Indonesia, saya ingin membuat kenangan indah, saya berharap STY memanggil saya dan kita bisa bertemu segera. Biarkan nanti sepatu saya yang bicara,” ucap Mitchell pada 2023 yang lalu.
Berikutnya ada nama Julian Oerip yang bisa mengorkestrasi lini tengah agar permainan lebih hidup. Central Midfielder berusia 18 tahun ini memiliki akurasi umpan yang ciamik. Kehebatan Arek Suroboyo ini dalam mengatur ritme permainan, mengalirkan bola, dan membuka ruang, sudah dirasakan langsung oleh AZ Alkmaar di semua level kelompok umur
Bayangkan saja, Julian telah mencetak 27 gol dan 11 assist dari total 87 penampilan laga. Pemain yang disebut bersahabat dengan Ivar Jenner ini bakal jadi pilihan yang menarik bersama dengan Mitchel Bakker.
Pesepakbola keturunan Maluku dari jalur kakek ini merupakan pemain yang versatile. Hal ini membuatnya bisa beradaptasi dengan banyak skema permainan.
Tak heran kalau LOSC Lille sangat bergantung pada Gen Z 24 tahun ini, baik di League 1 maupun di Liga Champions. Bakker punya visi bermain yang sangat baik. Kaki kidalnya kerap menghasilkan umpan-umpan matang yang berbahaya bagi pertahanan lawan, baik lewat open play, ataupun tendangan bebas, juga sepak pojok.
Terbukti pemain berdarah Maluku yang musim lalu menjuarai Liga Europa bareng Atalanta ini, sudah menggemas 3 gol dan 3 assist bersama Los Dogues. Alhasil, komposisi trio lini tengah muda nan membara ini bakal membuat Skuad alternatif Garuda semakin mengerikan.
Trisula Penyerang Tajam
Adapun sebagai juru gedor, terdapat trisula penyerang keturunan yang ketajamannya sudah teruji. Fakta ini sekaligus jadi kabar baik, lantaran selama ini, lini depan Timnas Indonesia masih dinilai kurang greget. Andai saja ada ketiga sosok ini maka besar kemungkinan bakal lain cerita.
Kita mulai dari penyerang tengah yang diisi oleh Mauro Zijlstra. Meskipun sudah beberapa kali dirumorkan bakal berseragam Merah Putih. Namun status naturalisasi striker murni ini masih belum menemui kejelasan.
Padahal Ziljstra sudah sangat ngebet ingin memperkuat Timnas Indonesia. Sang pemain sudah pamer sana sini kalau akan membela tanah leluhurnya. Bahkan Ziljstra sudah mendapat dukungan penuh dari keluarga besarnya. “Keluarga besar ayah sangat senang, dan tak sabar bisa melihat saya pakai jersey Timnas Indonesia nanti,” ucapnya saat ngobrol dengan Yusa Nugraha.
Zijlstra memiliki postur tubuh yang sangat ideal sebagai ujung tombak, yakni 1,88 meter. Naluri striker 20 tahun ini begitu buas, terutama saat di akademi AFC Amsterdam.
Pada musim 2021-2022, Ziljstra menggemas 18 gol dan 11 assist. Capaian ini jugalah yang membawa pemuda keturunan Bandung ini diboyong oleh tim senior FC Volendam.
Lalu di sektor winger kanan, ada sosok yang disebut-sebut punya gaya main mirip dengan Arjen Robben. Dialah Miliano Jonathans yang saat ini memperkuat FC Utrecht.
Jauh sebelum berseragam klub papan atas Eredivisie itu, Milliano mengaku sudah diincar oleh PSSI sejak masih berusia 16 tahun. Namun saat itu, remaja Depok ini masih mau fokus main di klub. Miliano yang kala itu masih berseragam Vitesse Arnhem kepengen permainannya matang lebih dulu. Apalagi saat itu kemampuannya juga dipakai oleh The Oranje muda.
“Saya sudah beberapa kali didekati agar bisa bermain untuk Timnas Indonesia. Saat itu Piala Dunia, mereka menginginkan saya untuk itu. Saya sedang bersama tim Belanda U-18 saat itu, jadi saya belum ingin membuat pilihan,” ucap sang pemain
Sang juru gedor membuktikan omongannya dengan performa mengkilap. 11 gol dan 4 assist saat di Vitesse lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa sangarnya Milliano sebagai winger. Miliano pun kini disebut sudah semakin dekat berseragam Merah Putih. Cepat atau lambat, proses naturalisasinya diyakini bakal digarap segera.
Adapun nama terakhir yang melengkapi trisula maut ini adalah Adrian Wibowo. Tanpa harus fafifu menjelaskan asal usulnya, nama sang pemain sudah sangat jelas menunjukan dari mana dirinya berasal.
Namun agaknya, Wibowo masih relatif asing di telinga rakyat bola Indonesia. Karena memang sang pemain nggak berkiprah di liga top Eropa seperti yang lainnya. Tapi bukan berarti kemampuannya ecek-ecek. Walau cuma main di MLS alias Liga Amerika Serikat, pemuda blasteran Los Angeles-Surabaya ini punya bakat spesial.
Buktinya, Wibowo yang sejak usia belia digembleng di akademi LAFC sudah bisa tembus tim senior. Kini, sang pemain berada satu tim dengan nama-nama besar seperti Hugo Lloris dan Olivier Giroud. Capaian ini nggak lepas dari prestasinya saat masih di LAFC II, di mana Wibowo tampil gacor dengan 11 gol dan 9 assist. Kehebatan winger serba bisa ini pun membuat Timnas Amerika Serikat U-17 kepincut.
Alhasil, Wibowo yang belum dilirik PSSI sementara waktu unjuk gigi dengan negri Paman Sam. Sang pemain sudah mengantongi 1 gol dari 3 laga. Jika tak mau menyesal di kemudian hari, PSSI harus cepat-cepat mengamankan Wibowo.
Andai benar-benar jadi kenyataan, maka skuad mewah ini bakal jadi tim yang mengerikan jika disatukan. Bahkan kalau mau diadu dengan para pemain keturunan yang sudah resmi jadi WNI, boleh jadi tim imajinasi ini memberikan perlawanan sengit.
Bagaimana menurutmu football lovers, apakah masih ada nama yang terlewat dari daftar pemain keturunan yang belum dinaturalisasi ini?


