Kekalahan atas Arsenal menambah rekor buruk Aston Villa di Liga Inggris. Anak asuh Steven Gerrard kembali melukis hasil minor. The Villans setelah kekalahan atas Arsenal bahkan duduk di peringkat 19. Posisi yang, tentu saja sangat mengkhawatirkan.
Pasalnya, itu adalah zona degradasi. Hasil minor yang diraih, tentu saja membuat publik Villa Park kecewa. Steven Gerrard yang didaulat untuk mengembalikan muruah Aston Villa, justru membuat tim itu tampil acak-acakan.
Padahal, pihak Aston Villa sudah mempercayai sang legenda Liverpool sepenuhnya. Tidak kekurangan dana, dan tidak ada kesulitan dalam hal rekrutmen pemain. Belum lagi, Gerrard diberi ruang yang cukup luas untuk mengembangkan formasi, susunan pemain, dan formula tim.
Namun, yang terjadi di luar perkiraan. Badai kekalahan melanda Aston Villa. Hingga pekan kelima, The Lions hanya menang satu kali dan menelan empat kali kekalahan. Jika Chelsea adalah singa yang ompong, Aston Villa ibarat singa yang sama sekali kehilangan giginya.
Daftar Isi
Steven Gerrard Sukses di Rangers
Sejatinya, harapan Aston Villa menggelora usai mereka mendatangkan Steven Gerrard. Sosok manajer yang sudah terlanjur terbangun reputasinya. Gerrard adalah seorang manajer yang mengangkat derajat tim Skotlandia, Rangers.
Steven Gerrard menyangga Rangers. Ia membawa klub Skotlandia itu kembali merusak dominasi Celtic di Liga Skotlandia. Bahkan bolehlah kita mengatakan, Gerrard juga sedikit banyak berperan dalam perkembangan Rangers yang sekarang bisa masuk Liga Champions, di bawah pelatih Giovanni van Bronckhorst.
Gerrard sebelum di Aston Villa, berhasil menggembleng pemain Rangers. Ia datang ke Rangers, sepenuhnya untuk meningkatkan penampilan tim. Menciptakan iklim yang baru dan meningkatkan standar kinerja pemain di klub.
Steven Gerrard, once a Ranger , always a Ranger. #55 #Gerrard pic.twitter.com/KGfQGx8tgK
— NaeBull (@NaeBull) August 28, 2022
Pengaruh Gerrard Terbatas di Aston Villa
Seorang penulis olahraga dari The Football Faithful, Vishnu Anandraj menulis, situasi di Rangers dan Aston Villa sangat berbeda. Jika Gerrard bisa memiliki pengaruh besar di Rangers, di Aston Villa tidak. Ketika datang ke Rangers, Gerrard punya misi untuk menggembleng anak asuhnya.
Fokus Gerrard adalah untuk meningkatkan performa Rangers agar bisa menggusur dominasi Celtic. Maka, ia punya pengaruh untuk menanamkan idiom-idiomnya. Sementara, di Aston Villa pengaruh Gerrard terbatas pada kepelatihannya di lapangan.
Selain itu, Gerrard hanya menjadi ikon klub dan manajer. Ia bukan sosok yang memiliki kapasitas untuk mendorong peningkatan klub secara keseluruhan. Sederhananya, Gerrard tidak punya ruang yang bikin ia bisa memberi dampak luas pada Aston Villa, berbeda ketika melatih Rangers.
If Aston Villa lose their next 2 games then Steven Gerrard is statistically the WORST manager in #AVFC history since 1874 and will be sacked.
Aston Villa face Arsenal away and Man City at home next. #EPL pic.twitter.com/83UQNjPM9G
— T. J. Brosnan (@TJBrosnan3) August 29, 2022
Perbedaan Taktikal
Hal itu pula yang menyebabkan Gerrard harus memutar otak. Situasi yang berbeda memaksa Gerrard mengubah taktiknya. Selama melatih Rangers, Gerrard memasang skema 4-2-3-1 atau 4-4-2. Ia selalu menciptakan fluiditas posisi yang signifikan. Gerrard juga membebani area tengah untuk memberikan opsi tim.
Itulah mengapa, Rangers di tangan Gerrard sangat cerdas dalam menguasai bola. Sementara di Aston Villa situasinya tidak demikian. The Lions, meski salah satu klub bersejarah, tapi mereka bukan tim penantang gelar. Posisi mereka bahkan lebih sering berada di zona tengah.
Di liga, Aston Villa lebih sering diserang. Mereka acap kali bukanlah sebagai tim yang cakap dalam menguasai bola. Jadi, mau atau tidak, Aston Villa harus menerapkan seni bertahan yang agresif. Dengan kemungkinan melakukan serangan balik.
Di tangan Gerrard, Aston Villa mencoba tampil lebih menyerang. Catatan Sky Sports menunjukkan, bahwa tim asuhan Gerrard sering bisa menguasai sepertiga akhir pertahanan lawan, yaitu 280 kali. Angka itu bahkan hanya kalah dari Manchester City (321) dan Liverpool (330).
Steven Gerrard: “There were a lot of good things tonight, but just not enough quality in the final third.” 🗣️ pic.twitter.com/RhCEZNgRox
— Aston Villa (@AVFCOfficial) May 19, 2022
Tidak hanya itu, nilai expected goals The Villans mencapai 4,24. Namun, lihat apa yang terjadi! Sampai pekan kelima, Aston Villa terseok-seok di peringkat 19. Mereka hanya mampu mencetak 4 gol dan kebobolan 9 gol dari 5 pertandingan.
Itu menandakan ada yang salah dari Aston Villa. Beberapa laporan termasuk dari Breaking The Lines menyebut, Aston Villa kekurangan kreativitas di lini depan. Ollie Watkins dan Danny Ings yang dipasangkan bersama, justru tidak efisien. Sebab keduanya selalu bergerak di posisi yang sama.
Keterbatasan Taktik
Gerrard tampaknya menjadi pelatih yang sangat dogmatis. Itulah salah satu kelemahan taktik Gerrard. Ia kurang kemauan untuk bisa melakukan perubahan dalam permainan jika itu sungguh diperlukan. Padahal dalam Premier League, seorang manajer harus bisa mengembangkan taktiknya saat pertandingan berlangsung.
Aston Villa punya pemain yang bagus. Kekuatan mereka cukup untuk memenuhi perubahan-perubahan yang dibutuhkan manajer. Namun, Gerrard masih ragu. Investasi pemain Aston Villa, belum dimanfaatkan dengan apik oleh Gerrard. Sebab ia terpaku pada sistemnya.
Jadi kekuatan-kekuatan Aston Villa ini belum cukup bisa diakomodir oleh sistem Steven Gerrard. Beberapa kali Gerrard memaksa sisi sayap untuk mengambil posisi tinggi dan melebar. Dengan membiarkan jalur melebar itu, justru sangat riskan terkena serangan balik lawan.
Steven Gerrard tactics pic.twitter.com/X8UsRX300o
— VTID (@VTID123) August 28, 2022
Saat tim lain mencoba menggunakan lima bek atau bek sayap untuk melindungi diri, Steven Gerrard tidak melakukannya. Gerrard terikat pada sistemnya sendiri dan mengorbankan keamanan pertahanan yang luas.
Apalagi ketika melakukan transisi untuk memaksa keunggulan penguasaan bola. Taktik Gerrard sepertinya memang terbatas. Ia tidak sanggup mengembangkan taktiknya dan barangkali ini sudah mencapai batasnya.
Kehilangan Sosok Beale
Banyak yang menduga, lemahnya taktik Gerrard karena tidak ada sosok Michael Beale di sana. Beale adalah sosok asisten pelatih yang sebelumnya mendampingi Gerrard. Namun, kini ia pindah ke Queens Park Rangers dan menjadi pelatih kepala di sana.
Meski sebagai asisten, Beale juga turut mendampingi Gerrard, baik ketika menukangi Rangers maupun awal kedatangan ke Villa Park. Beale ini adalah murid Carlo Ancelotti, Jose Mourinho, dan Guus Hiddink. Ia sangat cakap dalam mengalihkan pengetahuan ke eksekusi dalam gaya bermain.
Kehilangan Beale berdampak dalam taktik Steven Gerrard. Meski The Athletic menyebut, performa buruk tidak ada kaitannya dengan kepergian Beale. Toh, musim lalu, saat Beale masih berada di Villa Park, Aston Villa hanya menang 2 kali dari 11 pertandingan. Apalagi Steven Gerrard juga sudah menunjuk mantan manajer Blackpool, Neil Critchley untuk mengambil peran Beale.
Pendekatan Gerrard yang Konfrontatif
Aston Villa memang kehilangan sosok Diego Carlos yang mengalami cedera. Namun, pemain lain seperti Callum Chambers, Philippe Coutinho, sampai Lucas Digne yang ditambahkan pada Januari lalu bisa menjadi amunisi untuk meraih hasil yang baik. Aston Villa juga memiliki Leon Bailey, Emiliano Buendia, sampai Boubacar Camara.
Anomali jika hasilnya justru buruk. Bisa jadi ada yang salah dengan cara Gerrard melatih Aston Villa. Dikutip The Football Faithful, Gerrard dikabarkan melakukan pendekatan yang konfrontatif dengan para pemain. Bahkan ia kabarnya memusuhi anggota skuad tertentu.
Sanksi Denda Internal Aston Villa:
£1 = Rp. 18.000,-*Jika mendapat Red Card = Traktir makan tim selama 4 Minggu 😬 pic.twitter.com/rx41n1ce2h
— Siaran Bola Live (@SiaranBolaLive) July 27, 2022
Tidak jarang itu ia sampaikan secara terbuka dalam konferensi pers. Selain itu, Gerrard mencopot ban kapten dari Tyrone Mings. Gerrard juga memberikan larangan-larangan pada pemain Aston Villa. Meski boleh saja, tapi itu bisa jadi berbahaya dan mengganggu keharmonisan pasukan The Lions. Alih-alih memudahkan, pendekatan konfrontatif justru akan menyulitkan Gerrard sendiri.
Ia akan kesulitan mendapatkan dukungan jangka panjang. Belum lagi performa Aston Villa belakangan sangat mengecewakan. Ujungnya, bukan tidak mungkin Gerrard akan mengemasi barangnya dan pergi dari Villa Park. Namun begitu, di satu sisi, Gerrard sangat ingin memperbaiki situasi ini. Itu jika para pemainnya juga punya keinginan yang sama.
https://youtu.be/yf_QrKfms28
Sumber: SkySports, BreakingTheLines, TheAthletic, TheFootballFaithful


