Apa yang Bisa Dilakukan Polisi dan Media Massa dalam Mafia Sepak Bola?

spot_img

Program Mata Najwa bertajuk “PSSI Bisa Apa Jilid 2” pada 19 Desember 2018 yang berniat mengusut kasus mafia sepak bola di Indonesia ternyata tak cuma mendapat apresiasi positif.

Akun twitter @GIBOLofficial misalnya, mereka merespon sarkas acara tersebut dengan mencuit “Mata Najwa Bisa Apa? Bisa bikin panas dan bikin orang makin negatif tentang sepak bola Indonesia, karena apa? karena tidak ada solusi cuma mengejar rating tv.” Lebih lanjut, akun tersebut mencuit, “Mafia bola itu kayak kentut di keramaian, ramai menuduh tapi tidak ada bukti. KOSONG!!”

Sontak, cuitan bernada keras ini mendapat banyak kontra-argumen dari netizen, termasuk beberapa jurnalis kenamaan. Namun, cuitan tersebut terlanjur mengutarakan pertanyaan serius, apa sebenarnya yang bisa dilakukan media massa dalam kasus mafia sepak bola? apa pula yang bisa dilakukan aparat kepolisian?

Satu hal yang pasti, media punya kekuatan berupa kemampuannya menyebar pemahaman ke benak publik. Baik koran, televisi, situs berita, maupun channel Youtube punya segmen peminatnya masing-masing. Jadi, jika ingin menciptakan gema yang besar akan sebuah kasus, akan lebih baik jika media massa turut dilibatkan.

Menurut Declan Hill, peneliti dan jurnalis investigasi, sebagaimana dilansir Panditfootball, peran media dapat dikategorikan menjadi tiga, yakni:

  1. Investigasi media, di mana jurnalis juga ikut andil dalam menginvestigasi kasus.
  2. Pengakuan pelaku, di mana pelaku mengaku kepada media.
  3. Pengakuan pihak luar, di mana pihak luar yang mengetahui hal tersebut mengaku kepada media.

Ada beberapa contoh untuk peran nomor satu. Liputan investigasi Tirto.id tentang struktur kepemilikan klub pada awal 2018 berhasil menguak tabir bahwa pemilik Persija Jakarta ternyata adalah Joko Driyono, wakil ketua umum PSSI saat ini. Liputan investigasi juga dilakukan Jawa Pos dalam edisi cetaknya pada awal Desember 2018 berhasil mengusut skandal pengaturan skor di Liga 3 antara klub asal Sulawesi Barat dengan klub asal Jawa Timur. Yang paling populer mungkin program Mata Najwa, yang disiarkan langsung di televisi swasta nasional, yang berhasil menyeret nama beberapa exco PSSI.

Contoh nomor dua bisa diambil dari pengakuan Bambang Suryo di Mata Najwa. Bambang yang merupakan mantan eksekutor judi bola di Liga Indonesia membeberkan semua yang ia ketahui di hadapan Najwa Shihab dan pemirsa nasional.

Contoh nomor tiga bisa dicontohkan munculnya Mr. X di program Mata Najwa, yang ditutupi identitasnya demi keamanan. Mata Najwa juga mendatangkan Akmal Marhali, koordinator Save Our Soccer, serta Andi Darussalam Tabussala, sosok yang dijuluki Godfather sepak bola Indonesia. Ada pula beberapa korban seperti pemain OTP 37 FC di Jawa Pos. Mereka semua bukan pelaku, tapi mengetahui sumber bau busuk dalam persepakbolaan Indonesia.

Singkatnya, media mungkin tak punya peran menghukum atau mempidanakan. Namun, media bisa berandil dalam pengungkapan atau deteksi tindak menyalahi aturan, lalu mengumumkannya untuk diketahui publik.

Peran mengeksekusi ada di tangan kepolisian. Terobosan Kapolri Tito Karnavian untuk membentuk Satgas Mafia Bola perlu dikawal pengoperasiannya. Kapolri benar dengan menggunakan UU No. 11 Tahun 1980 untuk menjerat pelaku pengaturan skor. Undang-Undang tersebut mengizinkan aparat untuk menjerat pelaku pengaturan skor tanpa mengharuskan adanya kerugian negara.

Ada pun untuk para mantan pelaku seperti Bambang Suryo atau korban seperti manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indriani, menurut @MafiaWasit, bisa diajak bekerja sama mengusut kasus pengaturan skor dengan peran sebagai whistleblower atau justice collaborator.

Selama sepak bola masih menjadi daya tarik bagi masyarakat umum, kepolisian berhak menindak siapa pun yang terbukti melakukan tindakan melawan semangat sportivitas.

Di luar itu, pihak federasi juga punya peran penting. PSSI harus proaktif untuk turut memberantas skandal ini. Jika dengan semua bukti yang ada PSSI bersikukuh mengaku bersih, maka tak ada pilihan lain kecuali bahwa PSSI turut menjadi bagian dalam mafia sepak bola tersebut.

Jadi, jika kita berperan sebagai penonton yang turut meramaikan linimasa, maka media punya peran sebagai investigator awal dan pelantang kasus-kasus ini agar mendapat perhatian menyeluruh. Polisi, di sisi lain, bertugas memastikan siapa pun yang terlibat agar mendapat hukuman.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru