Ada kegirangan dari pendukung Tottenham Hotspur usai manajemen menunjuk Antonio Conte sebagai manajer. Asa untuk melihat Tottenham mengakhiri paceklik gelar terlihat. Mengingat Conte punya track record impresif sebagai pelatih.
Sayang, asa para fans Spurs tampaknya harus ditahan. Conte belum bisa membawa kebahagiaan dan senyum kepada manajemen dan fans Tottenham secara instan. Sebab, start Conte tidaklah mulus di awal kedatangannya di Spurs. Lantas, Apa yang menyebabkan itu semua?
Pertahanan yang Rapuh
Start buruk Antonio Conte di Spurs yang terakhir adalah rentetan tiga kali kalah secara beruntun oleh Chelsea, Southampton, dan Wolves di Premier League yang membuat The Lilywhites kian terpuruk di papan tengah klasemen.
Antonio Conte saw his side lose three league games in a row for the first time since 2009.
It was a day to remember for Wolves…#BBCFootball #TOTWOL
— BBC Sport (@BBCSport) February 13, 2022
Kita tahu salah satu kehebatan Conte ketika menangani sebuah klub adalah membuat tim yang ia tangani sulit ditembus lawan. Dengan cara bertahan yang rapat dan agresif serta menjadikan lawan sulit untuk menyerang dan mengembangkan permainan.
Namun, Conte sejauh ini belum bisa menularkan cara bertahan seperti itu di Spurs. Intensitas pressing Tottenham pun juga tak begitu tinggi. Selama Conte berada di Spurs lini pertahanannya dibobol 21 kali dari 19 pertandingan yang dijalani di semua kompetisi.
Format tiga bek sejajar ala Conte juga kerap membuat kesalahan yang menguntungkan lawan. Mereka acap membuat kesalahan individu. Selain itu, cara mereka memposisikan diri menghadapi tekanan lawan juga masih buruk, termasuk duel one on one.
Kerapuhan lini belakang Conte adalah salah satu faktor besar hasil minor Spurs. Tampaknya, PR Conte untuk menata skuadnya makin susah. Karena tidak didukung juga oleh keberadaan lini tengah mereka untuk melindungi tiga bek Conte.
Dua gelandang Spurs macam Hojbjerg ataupun Harry Winks dan Oliver Skipp belum bisa dikatakan sebagai pemain top. Mereka juga kerap naik turun performanya dalam menjaga kedalaman lini tengah Spurs.
Kombinasi rapuhnya tiga bek dan dua pivot di tengah ini tak jarang dimanfaatkan oleh lawan sehingga lini belakang Spurs justru sering tereksploitasi, dan malah jadi kesusahan membangun serangan dan mengembangkan permainan.
PR skuad yang cenderung rapuh di belakang ini disadari oleh Conte di awal kedatangannya di Spurs. Ia mengatakan komposisi skuadnya di Spurs sekarang yang dimilikinya memang tidak merata.
Bahkan Conte secara terang-terangan pernah menyebut sendiri bahwa skuad Spurs hari ini adalah “kelas medioker”. Ia juga mengatakan bahwa skuadnya “tak punya mental pemenang”.
“The problem is that you cannot buy the winning mentality.”
Antonio Conte says it is “impossible” for a team hoping to fight for the Champions League places to lose games the way Spurs have recently.
— BBC Sport (@BBCSport) February 14, 2022
Beberapa cara mungkin sudah dilakukan Conte dalam menggembleng skuad mediokernya ini, terutama saat dia menyuruh pemain tetap berlatih di hari libur dan menambah porsi jam latihan.
Kerja keras Conte juga terlihat pada salah satu match di mana ia sempat terlambat melakukan konferensi pers jelang pertandingan, karena sedang melatih pemain Spurs.
Permasalahan rapuhnya lini belakang Spurs inilah yang menyebabkan Conte sampai sekarang sulit menemukan kunci permainan terbaiknya dalam menyerang dengan pola khasnya 3-5-2 atau 3-4-3.
Conte Belum Menemukan Permainan Terbaiknya
Selain karena skuadnya yang medioker, strategi yang diterapkan Conte di awal kepelatihannya di Spurs kurang berjalan. Strategi andalan Conte adalah bermain direct football dengan pakem tiga bek.
Pola tiga bek Conte ditopang selalu oleh dua wingback yang menjadi kunci sukses permainan Antonio Conte. Kita tahu selama ini wingback adalah hal yang selalu menjadi prioritas Conte dalam membangun tim. Selain bertugas menjadi penyuplai bola, imbang dalam bertahan dan menyerang, wingback Conte juga harus produktif dalam mencetak gol.
Selama Conte melatih sebuah tim, peran seorang wingback yang menunjang performa timnya. Seperti di Juventus ia memiliki Stephan Lichtsteiner dan Kwadwo Asamoah. Kemudian di Chelsea ia memilih Victor Moses dan Marcos Alonso. Dan yang terakhir di Inter Milan, ia memilih Achraf Hakimi dan Ivan Perisic atau Kolarov.
Ketika di Spurs ia hanya memiliki stok wingback yang terbatas. Kemampuan mereka juga tipis, seperti Sergio Reguilon di kiri dan Emerson Royal di kanan. Pelapisnya seperti Matt Doherty pun terlihat kurang dalam memahami pola wingback kemauan Conte.
Sergio Reguilon shows Emerson Royal still has work to do under Antonio Conte at Tottenham https://t.co/7idSXPSFYE pic.twitter.com/YzyL9T2Akf
— Lukáš Klastersky (@LukasKlastersky) December 24, 2021
Seiring dengan belum menemukannya problem skuad yang rapuh dan tidak merata, Kemudian belum menemukan wing back yang cocok, membuat Conte harus melaporkan hasil pengamatannya itu kepada manajemen klub.
Apa saja yang perlu dibenahi demi cepatnya progres permainan, agar tidak semakin terpuruk. Jalan satu-satunya adalah aktif di bursa transfer Januari 2022.
Conte Mengeluh Atas Kebijakan Transfer
Ketika bursa transfer musim dingin 2022 dibuka, Conte diiming-imingi angin segar untuk memilih kebutuhan pemain mana yang akan direkrut. Pihak manajemen yang diwakili oleh pemilik mereka Daniel Levy, dan Direktur Olahraga asal Italia, Fabio Paratici sedang berusaha mendatangkan pemain yang dibutuhkan Conte.
Awalnya Spurs mengincar Adama Traore dari Wolves dan Luis Diaz dari Porto. Keduanya diinginkan Conte. Conte ingin menjadikan Adama Traore khusus untuk memperkuat wingback kanan sebagai senjatanya. Sedangkan Luis Diaz akan digunakan di lini serang sayap untuk menopang variasi serangan Harry Kane dan Son Heung Min.
BREAKING: Tottehnam are considering a new offer for Wolves winger Adama Traore this month. Antonio Conte plans to use him as a wingback in his system.⚪ (@TheAthleticUK) pic.twitter.com/BSSXk3U2NU
— Scoreboard Digest (@scoreboarddg) January 6, 2022
Keduanya sudah resmi ditawar oleh Spurs, tapi Traore dan Diaz lebih memilih klub lainnya ketimbang Spurs. Ini adalah bukti satu langkah yang gagal dari manajemen Spurs dalam kebijakan transfer.
Mengingat tidak banyak stok pemain di pasaran pada jendela transfer Januari yang cocok dengan Antonio Conte, manajemen membuat langkah “kepepet” yakni dengan peminjaman pemain di “Deadline Day”. Yang malah menunjukan lemahnya kebijakan transfer Spurs. Alhasil, Spurs mendapatkan dua pemain pinjaman yakni Rodrigo Bentancur dan Dejan Kulusevski dari Juventus.
Kedua pemain terbilang masih muda dan kualitasnya juga terbilang biasa-biasa saja. Namun, Conte mau tidak mau hanya mendapatkan dua pemain pinjaman itu di Januari 2022. Padahal di sisi lain ia juga banyak kehilangan pemain yang dilepas manajemen.
Ambil contoh beberapa pemain yang pergi seperti Tanguy Ndombele ke Lyon, Giovani Lo Celso ke Villareal, Bryan Gil ke Sevilla, sampai Dele Alli ke Everton.
Tottenham in the January transfer window…
In:
‣ Rodrigo Bentancur
‣ Dejan KulusevskiOut:
‣ Dele Alli
‣ Bryan Gil
‣ Giovani Lo Celso
‣ Tanguy Ndombele pic.twitter.com/0oVSGxCxd9— Sporting Life Football & Infogol (@InfogolApp) February 17, 2022
Masalahnya, kedalaman skuad Conte berkurang, apalagi jika sewaktu-waktu cedera, akumulasi, sampai covid. Hal inilah yang akhir-akhir ini dikeluhkan oleh Antonio Conte. Conte tampaknya mulai geram kepada manajemen klub.
Keinginan dia dalam membangun tim ternyata tidak didukung penuh oleh manajemen. Conte juga bahkan berkata bahwa Spurs ternyata lebih mengutamakan membeli pemain muda yang bisa dikembangkan, daripada membeli pemain yang “sudah jadi” alias bintang. Conte sudah mulai menyadari hal itu, bahwa itulah filosofi transfer Spurs.
Selain mengeluhkan kebijakan transfer Spurs, Conte juga sering menyindir klubnya sendiri akibat ketidaksadaran pemilik akan kemauan dirinya. Hal inilah yang membuat posisi dirinya terlihat tidak nyaman di Spurs.
Conte sendiri dikontrak Spurs sampai akhir musim 2022/2023. Akan tetapi, ia sering tidak memberikan jawaban pasti ketika ditanya media soal keberlanjutannya di Spurs.
Antonio Conte’s contract with Tottenham will be until June 2023 with the option to extend the agreement for one more season. ⚪️🤝 #THFC pic.twitter.com/DnFhHsKQ2l
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) November 2, 2021
Imbas dari keluhan Conte tersebut bukan tidak mungkin akan berefek nyata pada klub. Tak jarang Conte selalu gagal dan bahkan mundur apabila visinya tidak sesuai dengan klub.
Sebagai contoh, ketika Conte di Chelsea pada musim setelah meraih juara, ia meminta manajemen Chelsea untuk membeli Lukaku dan Van Dijk guna mempertahankan gelar. Namun, yang didatangkan manajemen klub adalah pemain macam Zappacosta, Bakayoko, dan Drinkwater.
🗣💷 Chelsea working on transfer deals to appease angry Antonio Conte after summer of discontent | ✍️@sjstandardsport https://t.co/3BrAOixWW8
— Standard Sport (@standardsport) July 31, 2017
Apa yang dilakukan Conte di awal kedatanganya di Spurs tampaknya sudah sesuai track-nya. Akan tetapi, dengan skuad yang masih rapuh terutama lini belakang, ia belum menemukan kunci permainan di wingback serta kebijakan transfernya yang belum didukung sepenuhnya oleh manajemen klub.
Antonio Conte wasn’t happy with Tottenham’s January transfer window 🗣️ pic.twitter.com/sHBLo4L0u1
— B/R Football (@brfootball) February 16, 2022
Hal itu membuat kerja Conte sangat terganggu. Sekarang, semua sudah terjadi, semua tanggung jawab keberlangsungan Spurs mau tidak mau terletak pada pundak sang pelatih, Antonio Conte.
https://youtu.be/HA0ldoUU084
Sumber Referensi : eurosport, skysports, footballitalia, footballlondon, dailypost, si.com


