Apa Kesalahan Terbesar Juventus Selalu Gagal Di Champions League ?

spot_img

Si Nyonya Tua dari Italia ini benar-benar sudah tua. Kegagalan Juventus melaju ke babak perempat final Champions League setelah dikalahkan Villareal 3-0 di kandang sendiri bukan tanpa alasan. Juventus telah beberapa kali gagal di fase knockout Champions League dari musim ke musim termasuk melawan Porto musim lalu dan Lyon di musim sebelumnya.

Beberapa tahun terakhir memang target mereka sudah bukan di Serie A lagi melainkan Champions League. Namun kenyataanya, kegagalan demi kegagalan dialami Juventus. Mengapa Juventus selalu gagal di Champions League?

Peninggalan Transfer Pemain

Salah satu kegagalan Juventus dalam beberapa tahun terakhir di Champions League karena komposisi perekrutan pemain. Meskipun gagal di Champions League, Marotta bersama Juventus setidaknya pernah mencapai kejayaan secara skuad baik bersama Conte maupun Allegri di musim pertamanya.

Dengan beberapa gelar domestik dan dua kali final Champions League. Juventus ketika itu diisi oleh beberapa rekrutan ciamik Marotta, seperti Pirlo, Pogba, Vidal, sampai Tevez.

Rekrutan dengan harga dan gaji yang terjangkau, selain membuat keuangan Juve terjaga rekrutan seperti Pirlo dan Pogba terbukti berhasil mengangkat performa tim. Pirlo dengan masterpiece umpan akuratnya sebagai jendral lini tengah maupun Pogba dengan penetrasi serta tendangan jarak jauhnya yang akurat mampu mengantarkan Juve ke Final Champions League musim 2014/15 melawan Barcelona.

Masterplan yang sudah dibuat Marotta dengan skema transfer efektifnya itu seketika berubah ketika ia pergi. Marotta harus pergi setelah mengalami gesekan dengan presiden klub, Agnelli soal transfer Ronaldo ke Juve yang tidak sepengetahuan Marotta. Sementara Fabio Paratici yang menggantikan Marotta punya pendekatan lain.

Ia lebih suka menghamburkan uang untuk pemain bergaji selangit. Jika kualitasnya sesuai tak masalah, hanya saja ia menggaji pemain tinggi namun tak melihat kapasitas pemain yang dibutuhkan tim.

Pemain seperti Ramsey, Rabiot, Arthur, didatangkan dengan gaji yang mahal. Performanya pun sering naik turun bahkan Ramsey sekarang sudah dilepas ke Rangers. Ditambah keputusan kontroversial Paratici ketika mendatangkan Cristiano Ronaldo untuk merengkuh Champions League justru berbalik 180 derajat.

Kedatangan Ronaldo justru menjadi beban tim, apalagi dari segi keuangan. Juventus memang punya uang untuk menggaji mahal Ronaldo ketika itu, namun sisa uang Juve pun menjadi sedikit.

Alhasil mereka kekurangan dana untuk membeli pemain di posisi lain yang berkualitas. Keputusan Paratici itu membuat keadaan Juventus menjadi seperti sekarang. Meskipun dia sudah keluar, tetapi Juve harus mulai dari nol lagi.

Cherubini yang ditunjuk sebagai direktur olahraga yang baru menggantikan Paratici harus berproses membenahi keuangan dan perekrutan Juve. Sayangnya, Cherubini juga tak mampu berbuat banyak. Pemain yang ia datangkan seperti Vlahovic, Zakaria, sampai Locatelli belum cukup. Terlebih pemain-pemain tersebut bukan kelas Liga Champions.

Bagaimanapun peninggalan beberapa transfer pemain terlanjur carut marut. Hal itu membuat langkah dan target Juventus berprestasi lebih jauh di Champions League kembali mengalami kegagalan.

Regenerasi Pertahanan

Kegagalan lainnya yakni beberapa transfer dan pembenahan di berbagai lini dari zaman Conte hingga Allegri sekarang, jarang berfokus di lini pertahanan. Padahal, justru lini belakanglah yang harus serius dibenahi.

Juventus harus segera lepas dari bayang-bayang Chiellini dan Bonucci sebagai tembok pertahanan mereka. Juventus harus mencari beberapa regenerasi bagi defender-nya.

Meskipun sudah membeli mahal Matthijs De Ligt dari Ajax, namun performanya sering naik turun lantaran sering menjadi bayang-bayang Chiellini dan Bonucci selama beberapa musim terakhir.

Juventus butuh pelapis sepadan. Keberadaan duo pelapis De Ligt dan Rugani sudah tepat. Akan tetapi, menit bermain mereka juga harus terus ditambah. Duet itu tercatat melakukan clean sheet terakhirnya di partai Serie A melawan Spezia 1-0, di 7 Maret 2022 setelah sebelumnya pernah juga meraih clean sheet di partai melawan Udinese dan AC Milan di Januari 2022.

Duet Rugani-De Ligt sudah dicoba beberapa kali oleh Allegri termasuk di beberapa match terakhir seperti saat kalah dari Villarreal. Namun hasilnya negatif.

Setelah kebobolan tiga gol atas Villareal, bek Juve di pertandingan berikutnya diubah komposisinya menjadi De Ligt-Chiellini dan berhasil lagi meraih clean sheet melawan Salernitana 2-0. Artinya masih banyak PR yang harus dikerjakan De Ligt maupun Rugani.

Di sektor fullback juga masih bermasalah. Keberadaan De Sciglio, Danilo, Luca Pellegrini dan Alex Sandro harus ditambah pemain pelapis lain yang kualitasnya di atas mereka.

Satu hal lagi kesalahan terbesar Juventus selama beberapa musim terakhir ini di Champions League adalah posisi kiper. Semenjak ditinggalkan sang legenda Buffon, Juventus hampir belum menemukan penggantinya yang sepadan. Isu Donnarumma yang digadang-gadang akan menjadi suksesor malah pergi ke PSG.

Wojciech Szczęsny yang diplot sebagai kiper nomor satu hanya semacam ironi. Apalagi ia yang notabene kiper buangan dari Arsenal. Kiprahnya dalam menjaga gawang Juve di liga domestik sepertinya berjalan baik. Namun, jangan samakan juga Serie A dengan kompetisi Champions League. Keberadaan kiper asal Polandia yang sering blunder itu, sering diabaikan manajemen untuk segera bergerak mencari kiper baru.

Gonta – Ganti Pelatih dan Gaya Permainan

Juventus juga sering gonta-ganti pelatih. Dari Conte, Allegri, Sarri, Pirlo dan sekarang Allegri lagi. Gonta-ganti pelatih memang wajar, tetapi seiring perubahan yang terjadi harus memiliki benang merah yang sama. Misalnya, Inter yang berganti pelatih dari Conte ke Simone Inzaghi yang sama secara formasi permainan.

Perubahan pelatih berpengaruh pada skema dan filosofi Juventus. Perubahan itu akan sulit dicapai ketika keberadaan pemain tidak cocok dengan arus perubahan tersebut. Apalagi di bawah Allegri sekarang, skuadnya tidak semewah dulu ketika Conte maupun Sarri.

Juventus sekarang terombang-ambing dalam proses instan yang diharapkan presiden Agnelli dan fans. Penunjukan pelatih dan cara main yang baru bagi Juventus dipikirnya akan merubah nasib Juventus di Champions League.

Rotasi Pemain Dan Taktik Pelatih

Rotasi pemain Juventus juga sering menjadi kunci kegagalannya di Champions League. Dengan tidak hadirnya satu pilar penting, mereka akan kesulitan. Apalagi taktik beberapa pelatih seperti Allegri sering mengandalkan kemampuan individu pemainnya bukan sebuah sistem.

Rotasi pemain dari pelatih yang sering gonta-ganti itu menyebabkan Juventus kesulitan. Beberapa pemain sering tidak mampu dioptimalkan pelatih ketika di pertandingan Champions League. Karena sebagian besar pemain inti sudah berjuang penuh di Serie A memperbaiki kemerosotan Juve di beberapa musim terakhir.

Juventus juga tak punya visi yang jelas. Kadang melakukan teknik menyerang, namun lain kesempatan bertahan sangat ketat. Maka dari itu, Juventus juga sangat jarang membantai musuh-musuhnya. Bahkan lebih dari setengah dari 24 kemenangan Juventus musim ini diraih dengan satu gol.

Lucunya, masih belum ada upaya serius untuk memperbaiki segala masalah-masalah tadi. Padahal fans sangat ngebet agar Juventus bisa meraih Liga Champions. Mereka juga tak pernah memikirkan proyek jangka panjang.

Yang dilihat adalah jangka pendek, pokoknya menang, menang dan menang. Akibatnya mereka lalai dan selalu menyalahkan sepihak biang kegagalan Si Nyonya Tua sesaat. Padahal itu semua adalah sebuah akumulasi penyebab kegagalan yang diabaikan mereka sendiri.

Sumber Referensi : theathletic, bleacherreport, dailymail 

 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru