Apa Itu Taktik Parkir Bus?

Kita semua tahu bila tujuan bermain sepakbola adalah mencetak gol sebanyak-banyaknya. Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika lini pertahanan mulanya kurang diperhatikan dalam permainan ini, mulai banyak pelatih yang menganggap bila bertahan adalah salah satu cara terbaik dalam bermain bola.

Dengan bertahan, sebuah tim bisa meraih kemenangan meski skor yang dihasilkan nantinya tidaklah besar. Ada banyak cara untuk menjaga lini pertahanan agar tetap aman, seperti memilih taktik dengan lebih memanfaatkan pemain belakang daripada para penyerang.

Italia, menjadi satu dari beberapa tim yang kerap mengusung gaya ini. Catenaccio, merupakan istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan permainan sepakbola Italia dengan menggunakan lini pertahanan grandel. Pemain belakang dengan kekuatan terbaik yang dimiliki Gli Azzurri memang banyak diandalkan banyak pelatih untuk memainkan taktik ini.

Selain catenaccio, dunia juga mengenal taktik dengan menumpuk pemain di lini belakang pertahanan atau yang biasa disebut dengan parkir bus.

Sebenarnya, darimana istilah parkir bus itu berasal? Kemudian, tim mana yang pertama kali menggunakan taktik ini?

Apa itu Parkir Bus?

Definisi dari parkir bus adalah ketika sebuah tim banyak menempatkan pemain di lini pertahanan mereka ketika tidak menguasai bola. Sistem ini cenderung tidak memikirkan serangan atau bahkan mencetak gol. Tim yang menggunakan taktik parkir bus akan menyebabkan para lawan frustrasi karena para pemain yang banyak ditempatkan di lini belakang diminta untuk menciptakan pagar di sekitar gawang dengan tidak meninggalkan sedikitpun ruang untuk dieksploitasi lawan.

Namun begitu, dalam hal ini, tetap ada segelintir pemain yang ditugaskan untuk mencuri bola dan membawanya ke depan ketika pemain lawan mulai lengah atau kehilangan konsentrasi dalam melakukan serangan. Karena biasanya, tidak ditemukannya celah bagi pemain lawan untuk melakukan serangan kerap membuat mereka melakukan tembakan jarak jauh.

Disitulah peran pemain tertentu yang diminta untuk mencuri bola akan menjadi sangat krusial.

Dari Mana Istilah ini Berasal?

Kemudian tentang dari mana istilah ini berasal, nama pelatih Jose Mourinho sering dianggap sebagai biangnya. Istilah parkir bus muncul ketika Mourinho yang melatih Chelsea membawa klub hanya bermain imbang 0-0 melawan Tottenham Hotspurs pada 2004 silam.

Ketika itu, Jose Mourinho dibuat kesal dengan sistem permainan Spurs yang hanya menempatkan kebanyakan pemain nya di belakang. Pelatih asal Portugal tersebut mengecam Tottenham Hotspurs dengan umpatan, “estacionar o autocarr”, atau yang bermakna “mereka bawa bus, tapi ditinggal di depan gawang.”

“Seperti yang kami katakan di Portugal, mereka (Spurs) membawa bus dan meninggalkan bus tersebut di depan gawang mereka,” kata Mourinho.

“Aku akan sangat frustrasi jika aku adalah suporter yang membayar 50 paun (sekitar Rp 1 juta dengan konversi saat ini) untuk menonton pertandingan karena Spurs datang hanya untuk bertahan.”

Ketika itu, Mourinho yang merasa kesal menganggap kalau Spurs memang hanya berniat untuk tampil tanpa kebobolan. Lebih dari itu, pelatih yang kini membesut AS Roma itu mengatakan bila pertandingan Chelsea melawan Spurs hanya menempatkan satu tim saja yang ingin bertanding dan menghibur penonton.

Mourinho Justru Kental dengan Taktik Parkir Bus

Namun ironisnya, ketika Jose Mourinho disebut sebagai sosok pertama yang mengeluarkan istilah parkir bus akibat kekesalannya dengan sebuah tim yang terus bermain bertahan sepanjang laga, dia justru berubah jadi pelatih yang begitu lekat dengan taktik ini.

Pada pentas Liga Champions Eropa musim 2009/10 silam khususnya, Jose Mourinho yang melatih Inter Milan harus berhadapan dengan FC Barcelona di babak semifinal. Di leg pertama, dia berhasil membawa Inter menang dengan skor 3-1. Kemudian di leg kedua, Mourinho hanya berpikir kalau dia cuma perlu mempertahankan keunggulannya agar tetap menjaga asa lolos ke babak final.

Jadilah ketika Barcelona ingin mencetak gol sebanyak-banyaknya di leg kedua, Mourinho meminta para pemainnya untuk bertahan demi menjaga skor agar tetap aman.

“Aku mengatakan kepada anak-anak, pegang bola untuk menang tapi kita tetap harus rapat menutup ruang,” kata Mourinho.

Saat itu, Mourinho sadar betul bila Barcelona asuhan Pep Guardiola sangat mengandalkan sepakbola atraktif nan menyerang. Maka, fokus Inter adalah menjaga ruang aliran bola dan pergerakan Lionel Messi yang memang masih berada dalam performa terbaiknya sebagai pemain. Tugas menutup pergerakan Lionel Messi dari sisi kanan yang dinilai bisa menjelajah kemana saja, digalang secara kolektif oleh pemain Inter terdekat.

Hasilnya, Barcelona hanya bisa mencuri satu gol saja lewat Gerard Pique pada menit ke 83. Skor yang pada akhirnya tidak mampu mengungguli Inter secara agregat pun membuat tim asuhan Jose Mourinho melenggang ke partai final hingga sukses keluar sebagai juara.

“Kami ‘menang’ di Barcelona, tapi semua orang bilang sebaliknya karena kami hanya parkir bus. Padahal kami tidak parkir bus, tapi pesawat,” ujar Mourinho beberapa hari setelah laga.

Banyak Dibenci Namun Juga Harus Dihargai

Karena parkir bus dianggap sebagai taktik yang relatif tidak enak ditonton, banyak pecinta bola yang banyak mengkritiknya. Seperti apa yang diungkapkan oleh Mourinho saat bermain melawan Tottenham beberapa tahun silam, penonton menjadi pihak yang dirugikan karena dipaksa menonton pertandingan yang sama sekali tidak bisa jadi hiburan.

Namun di balik itu, semua juga harus memahami bila taktik ini cukup efektif digunakan ketika sebuah tim tengah mengincar kebutuhan tertentu seperti misalnya mempertahankan keunggulan, atau ketika sebuah tim memang hanya mengincar hasil imbang.

Faktanya, selain Jose Mourinho bersama Inter Milan, ada tim lain yang juga berhasil menyelesaikan pertandingan dengan hasil memuaskan ketika mereka memilih untuk menggunakan taktik fenomenal ini.

Diantaranya adalah Chelsea yang sering disebut sebagai tim yang kerap menggunakan taktik ini. Dengan strategi negatif football, klub London itu sukses menyingkirkan nama-nama besar seperti FC Barcelona hingga FC Bayern di kompetisi Liga Champions Eropa.

Selain itu ada juga Atletico Madrid yang memakai pola permainan ultra defensif hingga berujung hasil yang diinginkan, ketika melawan Liverpool, di babak 16 besar Liga Champions Eropa 2020 lalu. Di balik kemenangan tipis 1-0 mereka, Simeone yang mendapati anak asuhnya mampu mencuri gol cepat pada menit ke 4 lewat Saul Niguez, langsung tampil bertahan.

Dengan strategi parkir bus, anak asuh Simeone berhasil membuat Liverpool tak melepaskan satu pun shots on target ke gawang Atletico.

“Kami memainkan permainan yang harus kami mainkan untuk mempertahankan hasil,” kata Diego Simeone.

Bila melihat fenomena parkir bus dalam dunia sepakbola, berada di pihak mana kalian? Setuju atau sama sekali tidak menyukai taktik tersebut? Kami tunggu jawaban serta alasan kalian di kolom komentar ya!

Sumber referensi: goal, kompas, boladunia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru