Alasan di Balik Keengganan Pele Tampil di Liga Eropa

  • Whatsapp
Alasan di Balik Keengganan Pele Tampil di Liga Eropa
Alasan di Balik Keengganan Pele Tampil di Liga Eropa

Ketika seorang Hwang Hee-Chan mencetak gol perdananya di Liga Inggris kala bermain untuk Wolverhampton, bukan hanya dia yang melambung namanya. Sosok Evan Dimas Darmono, mantan gelandang atraktif Timnas Indonesia U-19 juga ikutan jadi bahan pembicaraan. Bedanya, jika Hee-Chan banyak disoroti kualitasnya yang makin ranum, sedangkan Evan Dimas disoroti karena melempem.

Evan Dimas yang kini bermain di liga paling masyhur dari Sabang sampai Merauke itu adalah pencetak hattrick di laga Kualifikasi Piala Asia U-19 di GBK, Oktober 2013 lalu. Kala itu, Indonesia mempecundangi Korea Selatan 3-2. Saat itu pula Timnas Korea Selatan diperkuat Hee-Chan.

Bacaan Lainnya

Kini banyak yang mencibir kenapa malah Hee-Chan yang kualitasnya makin menjadi, bukan para mantan punggawa Timnas Indonesia kala itu? Spekulasi paling mainstream adalah karena Hee-Chan tampil di Eropa, sedangkan Evan Dimas hanya tampil di Liga Indonesia atau liga tetangga. Performanya pun mudah ditebak.

Akan tetapi, kita tidak bisa ikutan mengamini bahwa pemain sepak bola yang tak tampil di Eropa kemampuannya seujung kuku. Juga tak perlu terlalu yakin kalau para pesepakbola andal pasti ke klub Eropa. Sebab, seorang Edson Arantes do Nascimento atau kita mengenalnya Pele, tak pernah sekalipun tampil di kancah Eropa.

Meski begitu, siapa yang tak mengenal penyerang paling produktif yang pernah dilahirkan Brazil tersebut? Jelas tidak ada. Penggemar sepak bola paling cupu sekalipun akan mengenal sosok Pele. Ia boleh dibilang rajanya pencetak gol.

Pele masuk ke deretan pemain dengan pencetak gol terbanyak di level timnas. Ia mencetak total 77 gol. Meski jumlah golnya masih di bawah Ali Daei, Cristiano Ronaldo, atau Mohamed Mokhtar Dahari. Pele juga bersinar di level klub, walaupun tidak di Eropa.

Sepanjang kariernya Pele hanya bermain di tiga klub: Bauru AC di level junior; Santos dan New York Cosmos di level senior. Penampilan paling mempesona Pele adalah ketika ia tampil bersama Santos dan Timnas Brazil. Saat membela Santos, Pele tampil sebanyak 638 kali dan mengemas 619 gol. Jumlah gol yang nyaris sama dengan total penampilannya.

Pele juga mempersembahkan tiga gelar Piala Dunia untuk Brazil, yaitu tahun 1958, 1962, dan 1970. Berkat kemampuan menawannya itu, tidak sulit sebenarnya bagi Pele untuk tampil di liga-liga top Eropa. Tanpa perlu mengorbankan harga diri, Pele bisa saja tampil di klub raksasa Eropa. Bahkan klub-klub tersebut yang mengejar-ngejar Pele. Namun Pele hanya membalas tawaran itu dengan senyuman.

Tawaran Klub-klub Besar Eropa

Raksasa Spanyol, Real Madrid yang kerap melahirkan legenda sepak bola berkualitas tercatat pernah memburu tanda tangan Pele. Namun, menurut laporan Marca, Pele menolak tawaran dari Real Madrid. Ia mengaku lebih senang bermain di Santos FC. Bagi Pele, Santos adalah klub yang hebat atas kemauannya sendiri.

Tawaran bukan hanya datang dari Real Madrid. Tim-tim raksasa Eropa lainnya pernah membujuk Pele. Sebut saja seperti Napoli, Juventus, AC Milan, sampai Manchester United. Pele juga hampir saja bermain dengan Backenbauer di Bayern Munich. Tawaran-tawaran itu datang ketika Pele berusia antara 15-30 tahun.

Namun, saat pemain-pemain muda seperti Vinicius Junior hingga Richarlison memilih tampil di Eropa, Pele muda tetap bertahan di Santos FC. Lagi-lagi Pele menegaskan hubungannya dengan Santos baik-baik saja dan enggan pergi dari sana. Barangkali klub-klub besar Eropa mulai bosan sendiri karena kalau menawarkan kontrak ke Pele, pasti ditolak. Lantas apa yang membuat Pele tak pernah tampil di Eropa?

Penetapan Pele sebagai Harta Nasional Brazil

Sosok Pele boleh jadi membuat semua orang mengerti kalau sepak bola adalah sesuatu yang berharga bagi Brazil. Lantaran jasanya untuk Brazil di dunia sepak bola, Pele bahkan seperti satwa langka, dilindungi pemerintah Brazil. Brazil merasa harus melindungi Pele.

Terlebih pada saat konflik politik pada tahun 1961. Kekacauan politik saat itu entah bagaimana membuat Presiden Brazil kala itu, Janio Quadros memaksa parlemen meloloskan undang-undang untuk menjadikan Pele sebagai harta nasional dan aset berdaulat.

Undang-undang tersebut secara khusus juga mencegah Pele pergi dari Brazil di tengah konflik politik, setidaknya dalam kurun waktu 10 tahun. Boleh jadi Pele punya hasrat untuk tampil di Eropa. Tapi karena situasi politik, ia tak berkesempatan hijrah ke Eropa.

Nyaman

Selain faktor politis, nyaman mungkin menjadi alasan yang paling manusiawi kenapa Pele tidak pernah hijrah ke Eropa. Di Brazil, ia sudah sangat akrab dengan lingkungannya. Ditambah lagi keluarganya tinggal di Brazil. Ia senang bisa makan masakan orang tuanya kapan pun. Saat diwawancarai Daily Telegraph, Pele mengatakan hanya Brazil dan Santos tim dalam hidupnya.

Ketika pemain-pemain hebat Eropa banyak yang pindah ke klub di benua lain, misal Amerika dan Asia untuk menghabiskan masa tuanya, Pele tidak. Saat usianya 35 tahun dan sudah terlalu lapuk untuk bermain di Santos, Pele justru masih diburu klub-klub Eropa.

Meskipun pada saat itu pula dirinya sedang mengalami krisis keuangan, Pele tetap menolak tawaran klub Eropa. Padahal mungkin saja dengan bermain di Eropa, ekonominya akan pulih. Alih-alih ke Eropa, Pele justru menerima tawaran New York Cosmos di usia tersebut.

Keputusannya itu didasari karena Pele ingin mengenalkan sepak bola ke publik New York. Ia membela New York Cosmos tahun 1975-1977. Di klub inilah Pele akhirnya memutuskan gantung sepatu dengan meninggalkan catatan 1363 pertandingan dan 1281 gol sepanjang kariernya. Pele pun dijuluki O Rei atau Sang Raja.

Bukan Soal Rasisme

Keengganan Pele bermain di Eropa acap kali memunculkan dugaan rasisme di Eropa. Namun, Pele menegaskan bahwa di Eropa tidak ada rasisme.

Kendati tak pernah membela satu pun klub di Eropa, ia pernah tampil atau sekadar datang ke Benua Biru. Pele bilang kalau di Eropa tidak mungkin ada rasisme karena tim-tim Eropa juga banyak dihiasi pemain berkulit hitam.

Sewaktu tampil di final Piala Dunia 1958 di Swedia, Pele tidak mengalami perlakuan rasisme. Kala itu hanya Timnas Brazil yang dipenuhi pemain berkulit hitam. Pele mengatakan, rasisme di Eropa hanya sebuah kontroversi untuk memenuhi kebutuhan surat kabar.

Media dan teknologi lah yang membesar-besarkan isu rasisme di Eropa. “Saya kira pemain harus berbicara, agar pers melaporkan. Sekarang hal kecil apa pun dianggap rasisme. Mereka (pers) sangat menekankan hal ini,” kata Pele seperti dikutip The42.

Soal sepak bola, Eropa boleh menjadi kiblatnya. Tapi bukan berarti semua pemain hebat berada di sana dan menikmati gaji yang tentu saja lebih banyak dari pemain di Liga BRI. Sosok Pele itu nyata, bukan fiktif bagai keadilan di Indonesia.

Sumber referensi: futbolretro.es, sportskeeda.com, primetimesportstalk.com, aljazeera.net, the42.ie.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *