Akhir Buruk Wakil Italia di Final Seluruh Kompetisi

spot_img

Bercerita tentang nasib para wakil Italia di kompetisi Eropa musim ini miris adanya. Bagaimana tidak? Sudah menempatkan tiga wakilnya sekaligus hingga partai puncak, eh malah kena PHP semua.

Tak hanya sampai di situ, di level timnas usia muda mereka pun keok di partai final. Disamping gagal, ternyata terselip juga lho beberapa masalah dari para wakil Italia tersebut di musim depan? Apa saja masalahnya?

AS Roma di Europa League

Yang pertama ada AS Roma. Pasukan Jose Mourinho musim ini sejak awal mengikuti kompetisi Europa League. Artinya, mereka bukan lungsuran dari Liga Champions seperti Sevilla. Namun yang perlu diingat, Giallorossi mengawali kompetisi ini dengan hasil yang tak terlalu spesial.

Buktinya, mereka sudah menderita dua kali kekalahan di fase grup yakni ketika melawan Ludogorets dan Real Betis. Mereka juga hanya menjadi runner up di bawah Real Betis.

Namun Mourinho membuktikan dirinya si raja knockout kompetisi Eropa. Roma pun diantarkannya hingga ke final Liga Eropa. Tentu saja lewat negative football yang dimainkan The Special One. Malang, taktik pragmatis yang diandalkan Mourinho tidak berkutik di hadapan Sevilla yang punya mental juara.

Keunggulan di babak pertama lewat Paulo Dybala tak mampu dipertahankan. Adu penalti pun tak terhindarkan. Dua bek Roma gagal menuntaskan tugasnya. Keperkasaan Yassine Bounou mengantarkan Sevilla merengkuh gelar Liga Eropa lagi. AS Roma terkapar tak berdaya.

AS Roma Masih Dilatih Mourinho?

Kegagalan Roma ini menjadi pertanyaan di musim depan. Apakah Roma musim depan masih bisa menjaga performanya seperti musim ini bersama Mourinho? Pasalnya, ada desas-desus Mourinho akan mencari tantangan di klub lain pasca final.

Musim depan mereka akan tetap tampil di Europa League berkat finish di papan 6 Serie A musim ini. Materi pemain Roma saat ini akan tetap solid jika The Special One yang memegang. Kalaupun dilatih pelatih lain belum jaminan hasilnya. Kini pemain baru pun sudah mulai didatangkan oleh sang pemilik. Gelandang Lyon, Houssem Aouar contohnya.

Fiorentina Di Conference League

Selain Roma, harapan wakil Italia lainnya datang dari Fiorentina. Penampilan La Viola di Conference League musim ini mampu menyita perhatian. Meski di Serie A mereka juga inkonsisten sama seperti AS Roma.

Perlu diketahui La Viola ini tampil di Conference League berkat menang di partai playoff terlebih dahulu melawan Twente. Di babak grup, La Viola pun hanya menjadi runner up di bawah Istanbul Basaksehir. Akan tetapi, di fase knockout performa mereka jauh lebih baik.

Mereka terbukti menjadi tim terproduktif di kompetisi ini secara gol, yakni dengan 37 gol. Tapi sayang, ketika di partai puncak seketika mimpi meraih trofi pupus di menit-menit akhir. La Viola kecolongan gol dari Jarrod Bowen di menit 90. Hal itu sekaligus menjadi malapetaka bagi La Viola.

Fiorentina Tak Masuk Liga Eropa Lagi

Kegagalan Fiorentina di dua final musim ini yakni Coppa Italia dan Conference League menjadi luka. Gelar yang sudah di depan mata itu lepas begitu saja. Inilah pelajaran berharga bagi mereka.

Mental juara mereka masih patut dipertanyakan. Maklum, tahun ini adalah awal yang baru bagi mereka untuk tampil di level teratas. Pasalnya, sudah terlalu lama klub ini tertidur untuk tampil di level teratas. Lalu, apakah musim depan mereka masih bisa mengulanginya lagi?

Kalau masih bersama pelatih mereka Vincenzo Italiano dan para pemain yang sudah dibangunnya, optimisme itu tetap ada. Tapi beratnya, tim-tim besar di Serie A pasti akan berlomba berbenah. Jadi, persaingan akan semakin sulit.

Terlebih mereka harus mulai dari nol lagi. Pasalnya, mereka tak akan lagi bermain di kompetisi Eropa musim depan. Karena, mereka hanya finish di peringkat 8 Serie A musim ini.

Inter Milan Di Champions League

Apa boleh buat, dua wakil Italia sudah hancur. Harapan yang tersisa tinggal Inter di final Liga Champions. Langkah Nerazzurri sampai ke partai puncak musim ini banyak yang tak menduga. Mereka mengejutkan sejak lolos dari grup neraka yang dihuni Barca dan Munchen.

Setelah lolos sebagai runner up grup, mereka beruntung mendapatkan undian lawan yang tak terlalu berat seperti Porto, Benfica, maupun AC Milan. Ketika sudah sampai final, mereka harus bertemu dengan tim yang sedang superior saat ini, Manchester City.

Benar saja, dengan keterbatasan yang dimiliki Inter, bisa menahan hingga hanya berakhir dengan skor 1-0 saja, itu sudah sebuah prestasi tersendiri bagi mereka. Walaupun kalah, paling tidak pasukan Inzaghi pulang ke Milan dengan kepala tegak.

Kesempatan Inter dengan Pemain Tuanya yang Susah Terulang

Di sisi lain, kekalahan Inter itu pasti menimbulkan kekecewaan. Selain tak bisa mewakili supremasi wakil Italia, mereka juga kehilangan kesempatan terbaiknya. Bagaimana tidak? Skuad yang dipunyai Inter sekarang ini sudah tergolong uzur.

Belum tahu juga di musim depan mereka akan ada di pick performance seperti sekarang ini atau tidak. Lebih-lebih kalau mereka melakukan peremajaan skuad. Transisinya pun belum tentu bisa menjadi jaminan langsung nyetel dengan tim.

Asal tahu saja, di Serie A musim ini penampilan mereka tergolong tak terlalu spesial. La Beneamata hanya finish di posisi ke-3. Itu pun beruntung karena kalau Juventus tak dikurangi poin, mereka hanya berada ranking 4. Jadi, PR yang amat besar segera harus mereka selesaikan musim depan.

Timnas Italia di Piala Dunia U20

Sudah gagal tiga wakilnya di final kompetisi Eropa, kegagalan Italia disempurnakan oleh Timnas Italia di Piala Dunia U-20. Mimpi timnas U-20 melaju ke final, sebenarnya baru terwujud di 2023 ini. Karena sebelumnya, mereka hanya sampai babak semifinal yakni di 2017 dan 2019.

Hanya menjadi runner up grup di bawah Brasil, langkah pasukan Carmine Nunziata di babak knockout berakhir manis. Mereka mampu menang dramatis melawan tim kuat Inggris di babak 16 besar. Menghadapi Kolombia di perempat final, mereka justru mampu mendominasi laga dan berakhir dengan kemenangan.

Di semifinal, mereka juga mampu menaklukan tim kejutan Korea Selatan. Tapi sayang, ketika sudah sampai final, cerita menjadi lain. Harapan meraih trofi pun akhirnya pupus, setelah harus kecolongan gol di menit akhir oleh Uruguay. Kekalahan 1-0 atas Uruguay ini bagaimanapun telah menyempurnakan penderitaan publik Italia di musim ini.

Regenerasi Timnas Italia yang Masih Jadi Pertanyaan

Kekalahan timnas Italia di Piala Dunia U-20 2023 kali ini sekaligus menjadi catatan besar bagi regenerasi mereka. Asal tahu saja, regenerasi selama ini menjadi masalah bagi Gli Azzurri. Absennya mereka di Piala Dunia 2022 lalu juga salah satunya berkat faktor regenerasi.

Lalu apa yang bisa diharapkan dari regenerasi timnas Italia di level U20 ini? Pemain yang punya prospek cerah mungkin hanya ada Cesare Casadei. Wonderkid yang ditebus mahal oleh Chelsea dari Inter, namun malah dipinjamkan ke Reading.

Selain Casadei, yang digadang-gadang menjadi pemain timnas Italia masa depan masih berada di level tim medioker Serie A. Seperti gelandang Tomasso Baldanzi asal Empoli, maupun Simone Pafundi dari Udinese. Inilah PR besar regenerasi yang harus segera diselesaikan Gli Azzurri.

Sumber Referensi : uefa, en.as, uefa, uefa

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru