Arsenal, Manchester United, hingga AS Roma jadi kandidat paling kuat untuk menjuarai Liga Europa. Namun, Europa League nyatanya bukan hanya tentang mereka saja. Beberapa tim yang tak diperhitungkan justru mampu tampil meyakinkan di dua laga awal babak penyisihan Grup.
Tentu fenomena macam ini bukanlah hal yang aneh dalam sebuah kompetisi sepakbola, apalagi Europa League. Barangkali ketika bercermin pada Europa League musim 2021/2022, kita disuguhkan dengan beberapa tim yang menawarkan kejutan-kejutan luar biasa. Contohnya Eintracht Frankfurt dan Rangers yang pada awalnya dianggap sebagai tim non-unggulan justru secara mengejutkan bisa lolos ke partai puncak.
Nah, fenomena tersebut juga bisa terjadi di musim ini. Berikut ini Starting Eleven sajikan daftar klub yang berpotensi jadi tim kejutan di Europa League musim 2022/2023. Siapa saja mereka?
Daftar Isi
SC Freiburg
Freiburg memiliki awal musim yang luar biasa di Bundesliga. Hingga pekan ketujuh, mereka telah meraih empat kemenangan, dua hasil imbang, dan hanya sekali kalah. Hasilnya, Freiburg bercokol di posisi 3 klasemen sementara Bundesliga di bawah Union Berlin dan Borussia Dortmund. Selaras dengan performa di liga, Freiburg juga belum terkalahkan di dua laga awal penyisihan grup Europa League.
🇯🇵 @Doan_Ritsu‘s start to life at @SCFreiburg is everything and more. 🔥
Watch his best #Bundesliga moments as he joins his Japanese team-mates for a Friday friendly against the US in Düsseldorf. 👀 pic.twitter.com/aUHT7oDXKg
— Bundesliga English (@Bundesliga_EN) September 23, 2022
Ada peningkatan nyata dalam gaya permainan dan kinerja Freiburg selama awal musim 2022/23. Musim ini sang pelatih, Christian Streich mengubah skema permainan yang tadinya menggunakan 3 bek menjadi 4-2-3-1. Ketika membangun serangan, Streich biasanya menginstruksikan para bek sayap untuk naik sejajar dengan pemain tengah. Itu membuat Freiburg unggul jumlah pemain dalam penguasaan bola.
Sedangkan di lini depan, Streich mengandalkan sosok Michael Gregoritsch, Vincenzo Grifo, dan pemain asal Jepang, Ritsu Doan. Ketiga pemain depan ini sudah mencetak 13 gol di semua kompetisi sejauh ini.
Pergerakan transfer Freiburg juga dirasa pas. Salah satunya dengan mendatangkan bek berpengalaman macam Matthias Ginter membuat Freiburg solid dalam bertahan. Itu dibuktikan dengan tim yang baru kebobolan 5 gol dari 7 pertandingan liga. Terendah kedua setelah Union Berlin.
Real Sociedad
Selanjutnya ada wakil Spanyol, Real Sociedad. Tim yang mengalahkan skuad Erik Ten Hag di matchday pertama Europa League ini, jadi salah satu tim yang diperkirakan bakal mendobrak klub-klub papan atas macam Arsenal dan AS Roma.
Mungkin Sociedad hanya berada di urutan kedelapan di klasemen La Liga. Tapi di kompetisi Eropa, anak asuh Imanol Alguacil jadi pemuncak klasemen sementara grup E dengan berhasil meraih 6 poin dalam dua pertandingan pembuka.
Sociedad cukup baik menggunakan skema sepakbola adaptif. Ketika melawan tim kuat macam Atletico Madrid atau Manchester United, Alguacil menggunakan skema 4-3-1-2. Namun apabila melawan tim yang lemah macam Omonia Nikosia, Sociedad tak ragu bermain menggunakan 3 striker.
Real Sociedad meraih kemenangan krusial atas Mallorca dalam laga tunda LaLiga 💫 Gol dari David Silva dan Mikel Marino bawa La Real menang 2-0 dan hanya terpaut 1 poin dari 4 besar.
Berikut cuplikan laganya!#beINLaLiga pic.twitter.com/QsPkIFsvzY
— beIN SPORTS (@beINSPORTSid) March 3, 2022
Kekuatan utama Sociedad sebetulnya berada di lini tengah. Mereka memiliki kuartet solid yang dimotori oleh veteran Timnas Spanyol, David Silva. Mantan punggawa Manchester City itu membangun koneksi apik dengan Martin Zubimendi, Mikel Merino, dan Brais Mendez. Kuartet ini kerap menampilkan perpaduan passing kreatif guna membongkar pertahanan lawan.
Untuk menghadapi raksasa-raksasa La Liga, mungkin Sociedad masih membutuhkan beberapa peningkatan. Tapi jika kelasnya Europa League, Sociedad bisa jadi tim pembeda antara tim-tim unggulan lain. Hal itu sudah ditandai dengan kemenangan atas tim kuat Manchester United.
Ferencvaros
Klub yang pernah ditangani oleh Thomas Doll ini bahkan sudah memberikan kejutan-kejutan kecil sejak peluit kick off pertandingan pertama penyisihan grup dibunyikan. Bagaimana tidak? Pemuncak klasemen Liga Hungaria ini berhasil menyapu bersih dua laga awal penyisihan Grup H.
Kemenangan yang mereka raih juga tak bisa dianggap remeh. Skuad racikan Stanislav Cherchesov bahkan mengalahkan sang juara Liga Turki, Trabzonspor dengan skor 3-2 dan tim kuat AS Monaco dengan skor tipis 1-0. Padahal kedua tim tersebut bertabur pemain bintang Eropa.
Menariknya, Green Eagle meraih dua kali kemenangan bukan sebagai tim yang mendominasi jalannya laga. Rata-rata penguasaan bola mereka hanya berada di angka 35,5%. Tapi di situlah strategi Cherchesov bekerja. Pemain Ferencvaros tak akan berlama-lama ketika berhasil merebut bola. Mereka langsung menyasar Adama Malouda Traore dan Tokmac Chol Nguen yang menunggu di depan.
Bola daerah yang dikirimkan oleh lini tengah Ferencvaros selalu menyasar Traore dan Nguen yang melakukan lari silang di sepertiga area bertahan lawan. Proses yang sama juga terjadi ketika Nguen mencetak gol pembuka kontra Trabzonspor. Kecepatan dan skill individu pemain depan Ferencvaros sangat diandalkan dalam skema yang diusung Cherchesov.
Union Saint-Gilloise
Royal Union Saint-Gilloise muncul sebagai nama lain yang diprediksi bakal menebar ancaman kepada klub-klub langganan Europa League. Klub yang sempat terlupakan di sepakbola Belgia ini perlahan mulai menancapkan cakarnya lagi sebagai klub papan atas Liga Belgia.
Kehadiran St-Gilloise di kompetisi Eropa jelas menimbulkan tanya. Pasalnya, klub ini tidak pernah sebegitu menakutkannya. Bahkan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, mayoritas waktu yang mereka habiskan adalah untuk bermain di kompetisi kelas dua saja.
Beda dengan Ferencvaros, St-Gilloise cukup percaya diri untuk tampil menguasai bola. Dalam dua laga penyisihan grup, klub asal Belgia ini memiliki rata-rata penguasaan bola di angka 54% dan memiliki persentase umpan sukses cukup tinggi yaitu 86%. Sejauh ini, St-Gilloise berani mengambil inisiatif dan menguasai jalannya pertandingan.
Mengusung formasi 3-5-2, anak asuh Karel Geraerts masih belum terkalahkan di babak penyisihan Grup Europa League. Dalam formasi tersebut, Karel menitikberatkan serangan pada area sayap. Fokusnya adalah memanfaatkan lebar lapangan sebaik mungkin. Hasilnya, Teddy Teuma Cs berhasil membungkam sang pemuncak klasemen Bundesliga Union Berlin dengan skor 1-0, dan mengalahkan klub kuat Swedia, FC Malmo dengan skor 3-2.
PSV Eindhoven
Terakhir ada PSV Eindhoven racikan Ruud Van Nistelrooy. Meski Nistelrooy terbilang baru untuk melatih tim utama kelas Eropa, pengalaman dan filosofi melatihnya tak bisa diragukan lagi. Gaya permainan PSV di era Nistelrooy sedikit banyak dipengaruhi oleh Guus Hiddink dan Marcelo Bielsa. Karena Ruud banyak belajar dari kedua mastermind legendaris itu.
PSV sekarang lebih gemar menguasai bola daripada hanya menunggu kesalahan lawan. Ruud berkeyakinan bahwa kekuatan fisik dan penguasaan bola bisa meningkatkan persentase mencetak gol. Dan sebagai mantan penyerang kelas kakap, Ruud paham betul bagaimana cara memaksimalkan penyerang yang ia punya.
Cody Gakpo
1⚽️
3🅰️ pic.twitter.com/cHjzz5RY7p— BA1W3 (@Ba1W3) September 18, 2022
Lihat saja Cody Gakpo yang kian moncer dengan mencetak 10 gol di semua kompetisi sejauh ini. Lalu ada Xavi Simons, pemain buangan dari PSG ini disulap menjadi pemain sayap yang memiliki naluri mencetak gol tinggi. Ia telah mencetak 7 gol dari 11 pertandingan di semua kompetisi.
PSV memang baru memainkan satu pertandingan, dan tergabung bersama Arsenal di Grup A. Tapi itu tak bisa menampik fakta bahwa pemilik satu gelar Champions League tersebut jadi tim yang bisa memberikan warna baru di Europa League.
https://youtu.be/AgbkvS8hR3Y
Sumber Referensi: UEFA, Totalfootballanalys, Transfermarkt, Bundesliga, The Athletic


