Manchester United Sekarat? Tak Punya Uang, Tak Punya Harapan

spot_img

Laksana raja tua, Manchester United duduk di singgasana berdebu, tak lagi bertenaga, ditinggal pelayan, bahkan tikus pun ogah mendekat. Dulu mereka dielu-elukan, dijunjung seperti dewa di lapangan hijau, namun sekarang, jangankan berjaya, untuk hidup pun susah.

Uang mereka tak lagi banyak, tak lagi cukup. Sementara harapan, entahlah, barangkali sudah dititipkan pada sejarah. Setelah musim yang penuh derita, MU menatap musim depan seperti WNI menatap negaranya sendiri: gelap.

Saat tim-tim lain, termasuk para rival lincah di bursa transfer, MU bergerak seperti bekicot. Apa yang membuat MU begini? Mungkinkah tak ada lagi harapan untuk bangkit?

Ditolak Sana-Sini

Kehilangan pesona. Demikianlah Manchester United. Setan Merah sebetulnya tidak malas di bursa transfer. Mereka aktif menawar. Tim pencari bakat mereka bukan anggota dewan yang hanya duduk menahan kantuk. Mungkin hampir tiap hari mereka mencari pemain dan memasukkannya ke daftar.

Ruben Amorim juga punya keinginan, punya selera, punya daftar pemain yang ingin dibeli. Tapi apa yang terjadi? Hampir seluruhnya bertepuk sebelah tangan. Mas Ruben ingin Viktor Gyokeres. Penyerang Sporting CP itu berkembang berkatnya. Dekat dengan Amorim, logikanya untuk mendatangkan Gyokeres bukan perkara rumit.

Namun persetan dengan kedekatan. Gyokeres tetap memilih Arsenal. Bahkan demi Arsenal, Gyokeres rela putus dengan pacarnya, saat masih banyak laki-laki di luaran sana sulit dapat pacar. Selain Gyokeres, MU juga menginginkan Liam Delap. Tapi Delap memilih Chelsea.

MU juga ingin Hugo Ekitike. Kalau yang ini harapan mendapatkannya lebih besar karena Ekitike penggemar Setan Merah. Seperti Kylian Mbappe yang akhirnya berlabuh ke tim favoritnya, Ekitike juga bisa melakukan hal yang sama. Tapi MU tak sadar bahwa mereka bukan Real Madrid.

Alih-alih merapat, Ekitike justru bikin fans MU memekik “keparat”. Betapa tidak? Bukan Theatre of Dreams yang dituju, melainkan Anfield. Berikutnya, United juga ditolak oleh Jorrel Hato. Sang pemain hanya menginginkan gabung Chelsea. Pertanyaannya kemudian, kenapa banyak yang gagal didatangkan, yu Emyu?

Berbagai Faktor, Tapi Finansial yang Utama

Selain karena ogah bermain di klub papan bawah, sejumlah pemain punya alasan masing-masing kenapa enggan menandatangani kontrak bersama United. Liam Delap misalnya, yang tak melihat ada cahaya kebangkitan di Setan Merah. Markasnya MU tak lagi dianggap Theatre of Dreams tapi Theatre of Nightmare.

Wajar kalau Delap tak tertarik. Setelah membentangkan jersey Liverpool, Hugo Ekitike juga bilang kalau sebetulnya, ia tak tertarik berkarier di Manchester United. Tapi persoalan tak sesederhana itu. Bukan sekadar tiadanya ketertarikan sang pemain, tapi juga faktor finansial.

Setan Merah kini tak suka ngotot untuk terus menaikkan banderol ketika tawaran ditolak. Ambil contoh pada kasus Hugo Ekitike. Eintracht Frankfurt meminta sekitar 97 juta euro untuk Ekitike, demikian laporan Football Insider. Tapi United hanya mampu membayar 90 juta euro menurut laporan Goal. Dan setelah itu, MU memilih nyerah.

Ini cukup aneh. Biasanya United tetap akan membayar pemain berapapun yang diminta. Tapi melihat mereka hanya mengeluarkan sekitar 135 juta euro untuk Matheus Cunha dan Bryan Mbeumo, United sepertinya sedang mode akhir bulan. Pengiritan mesti dilakukan karena finansial mereka terombang-ambing seperti sampan di tengah laut. Kenapa bisa begini?

Tidak Bisa Jual Pemain

Manchester United tak bisa menjual pemain. Tak menjual pemain artinya tak punya modal. Tak punya modal berarti tak bisa membeli pemain baru. Memang ada beberapa pemain yang akan dijual oleh United. Nama-nama itu antara lain Antony, Alejandro Garnacho, Jadon Sancho, hingga Andre Onana.

Masalahnya tidak ada yang melirik pemain United. Para pemain MU dianggap tidak layak beli. Performa hancur-hancuran dan permintaan gaji yang seringnya tinggi, membuat klub lain enggan melakukan PDKT pada pemain MU. Kepindahan Marcus Rashford ke Barcelona itu pun sepertinya sekadar belas kasihan Barca pada Rashford.

Hansi Flick itu nggak butuh Rashford. Yang menginginkan pemain Inggris itu adalah Deco. Nah, Rashford pun tidak dibeli bukan? Ia hanya dipinjam dan untung sudi gajinya diturunkan. Kita geser ke pemain lain, Antony. Sang pemain mengaku betah di Real Betis, tapi klub ini tak sanggup mempermanenkannya. Betis hanya sanggup menambah durasi peminjaman.

Kenapa tak sanggup? United memasang harga Antony cukup tinggi bagi Betis, yakni 50 juta euro. Belakangan ini memang si gasing juga menarik minat Bayern Munchen dan tim Arab Saudi, tapi apa ia mau pindah ke klub selain Real Betis? Permintaan harga yang kadang tinggi dari United juga jadi alasan mereka sulit menjual pemain.

MU sepertinya masih belum menyadari harga pemainnya banyak yang jatuh. Atau, mereka menyadari, tapi karena harga-harga pemain sudah nggak ngotak, MU butuh uang lebih. Bagaimanapun mereka perlu menjual pemain dengan harga yang tidak kelewat rendah dari harga yang dikeluarkan sebelumnya.

Kendala Finansial

Jangan dikira cuma Barcelona yang keuangannya sedang bermasalah, MU juga tak kalah bermasalah. Bahkan mungkin lebih parah. Kalau kita bisa menyebut Barca klub miskin, MU pun juga bisa disebut demikian. Kalau Barca miskin karena satu orang, MU miskin karena sistem yang mereka terapkan sendiri.

Kata pakar keuangan, Kieran Maguire, Manchester United menjalani gaya hidup Liga Champions dengan pendapatan Liga Eropa. Beberapa tahun terakhir, United terlalu banyak mengeluarkan duit. Membeli pemain dengan harga selangit dan menggajinya tinggi. Lihat saja, gaji para pemain MU sanggup membuat orang Wonosobo iri.

Dari sini kita akhirnya tahu, Surah Al-Isra’ ayat 27 benar belaka. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Orang bilang, sebanyak apa pun MU mengeluarkan uang, pendapatan mereka jauh lebih banyak, jadi nggak usah khawatir. Ah, kata siape? Nyatanya sifat boros berakibat fatal buat United itu sendiri. Tagihan gaji, pajak, hingga bunga pun membengkak. 

Mengutip The Athletic, MU bahkan perlu menyeimbangkan pembukuan keuangan. Sebab jumlah uang yang dibayarkan klub dengan uang yang mereka terima tidak selamanya sebanding. MU juga dipaksa menghadapi situasi “besar pasak daripada tiang” yang baru terasa jelang musim 2025/26.

Dihantui FFP

Sama seperti klub-klub lain, United juga sedang diawasi financial fair play. Itulah yang juga membuat daya beli mereka menurun. MU dituntut menyeimbangkan neraca keuangan, tapi masalahnya, masih banyak cicilan yang ternyata belum dibayar.

Mengutip laporan The Athletic, MU masih punya cicilan biaya transfer pemain yang telah direkrut. Nominalnya tak kecil, yaitu sekitar 364 juta euro. Kurang lebih separuh dari total cicilan bersih itu harus dibayar dalam kurun waktu setahun. Itu baru cicilan biaya transfer, belum utang yang diwariskan keluarga Glazer saat membeli United pada 2005.

Ketika membeli saham United, Glazer pakai uang pinjaman. Malang bagi MU, uang pinjaman itu punya bunga yang tak kurang dari 41 juta euro. Usai membayar sejumlah cicilan yang itu pun belum sepenuhnya lunas, MU cuma punya saldo di akhir musim kemarin sebanyak 84 juta euro saja.

Pasar Pemain Pinjaman

Saldo segitu tak cukup untuk belanja di bursa transfer. Tak hanya harus memutar otak untuk mendapatkan pemain baru, MU juga mesti cermat soal siapa yang akan direkrut. Makanya yang dibeli Cunha dan Mbeumo. Setidaknya MU tak perlu berjudi karena dua pemain ini sudah akrab dengan iklim Premier League.

Nah, yang jadi soal berikutnya, MU butuh seorang striker baru, sedangkan kondisi keuangan tidak mendukung. Salah satu cara yang coba disiasati adalah masuk pasar pemain pinjaman. MU memang tak bisa membeli, tapi kalau sekadar meminjam, pengeluaran bisa dikeret.

Belakangan ini, MU tertarik untuk meminjam striker Al-Hilal, Aleksandar Mitrovic. Tapi belum tahu, apakah berhasil atau tidak. Jika berhasil, puji Tuhan, tapi jika tidak, MU mungkin akan bermain tanpa penyerang baru musim depan. 

Di tengah para rival seperti Liverpool yang getol mendatangkan pemain baru, Arsenal yang udah dapetin Gyokeres, hingga Chelsea yang udah punya Delap dan Joao Pedro, MU akan sulit bersaing di papan atas. MU mungkin hanya akan bisa bersaing di papan tengah.

Tapi itupun harus menghadapi kekuatan tim kelas menengah seperti Newcastle maupun Nottingham Forest, ditambah para tim promosi. Kalian tahu apa yang ironis? Tim-tim promosi seperti Sunderland, Burnley, dan Leeds United lebih aktif di bursa transfer daripada MU. Kalau gitu MU akan bersaing di papan bawah dong?

Sumber: TheAthletic, Goal, FootballInsider, ESPN, NewIndianExpress, TheAthletic, Transfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru